
"Kau belajar apa dari Ken, Haku?" tanyaku penasaran.
"Seharian ini Ken telah banyak mengajariku sesuatu. Strategi menjadi anak menantu yang baik yang harus diketahui. Jadi aku juga sedikit terlambat tadi." Haku menyilangkan kedua tangannya di depan dadanya dan sedikit menatap ke arah jalanan.
"Aku penasaran. Bagaimana jika aku tidak datang hari ini ya?" Haku mengalihkan pandangannya padaku dan tersenyum menatapku.
"Uhm ... Aku tidak pernah berpikiran seperti itu. Hatiku mengatakan kau tidak akan mengecewakanku." kataku pelan dam sedikit menunduk.
"Aku sudah menantikan lama untuk hari ini ..." Haku berbicara dengan suaranya yang jernih dan sedikit berat. Dia juga tersenyum menatapku.
"Uhm ... Ngomong-ngomong Ken memberitahumu beberapa strategi. Kalau aku boleh tau strategi apa itu, Haku?" tanyaku sedikit penasaran.
"Uhm ... Seperti hadiah yang akan dibawa dan cara berbicara dengan generasi yang lebih tua dari kita."
Aku sedikit menunduk dan perasaanku kini mulai campur aduk. Aku kira Haku tulus melakukan semua itu kepada keluargaku. Namun ternyata dia sedang menjalankan ajaran dari Ken dan seperti sedang berakting.
"Jadi itu semua adalah akting dari seorang kekasih?" tanyaku sedikit cemberut. Tiba-tiba hatiku menjadi sedikit terpuruk dan terasa sedikit nyeri. Perasaan depresi kini mulai melanda diriku. Dan dunia di sekitarku seakan menjadi meredup saat ini.
Haku tiba-tiba terkekeh dan menatapku lekat-lekat. Kemudian dia mengangkat tangannya dan menyisir rambutku lalu mengistirahatkat kedua tangannya di leherku. Kemudian dia sedikit menunduk dan menempelkan keningnya padaku. Ujung jemarinya terasa begitu hangat saat menyentuh leherku. Aku juga bisa merasakan hembusan nafasnya yang hangat.
Telingaku tiba-tiba terasa sedikit memerah karena malu.
Bayangan kita merentang panjang terkena cahaya lampu malam. Dan tak jauh dari kita terdengar orang-orang yang sedang merayakan kembang api kecil yang meluncur ke langit.
Aku dan Haku masih beberapa saat dalam posisi yang sama.
"Apa semua itu begitu mengganggumu?" ucap Haku pelan.
Aku tidak berani menatap matanya. Aku hanya sedikit menunduk menatap ke bawah.
Aku hanya terdiam tak menjawabnya. Kemudian Haku tertawa kecil kembali. Aku merasakan hembusan nafasnya yang bertiup melalui rambutku dengan hangat.
"Di masa depan ... Aku akan memberikan semua yang aku punya untuk tetap bersama denganmu. Aku akan selalu menjagamu. Dan aku akan selalu mencintaimu. Dan semua itu adalah nyata dan asli. Bukan sekedar sebuah akting atau strategi." katanya lembut.
"Aku serius. Dan aku hanya mengatakan ini padamu, Yuko." lanjutnya dengan lembut.
Aku memejamkan mataku dan menghirup nafas lalu mengeluarkannya perlahan. Perasaanku menjadi lebih lega dan tenang sekarang.
"Kau percaya itu?" tanya Haku setengah berbisik.
"Hhm .. Aku percaya padamu, Haku."
Haku tersenyum lalu perlahan mengecup keningku dengan hangat. Dan kita kembali berdiri saling berhadapan.
"Yuko ... Aku lupa mengatakan sesuatu ..."
"Ya ..."
"Malam ini kau sangat cantik dengan Qipao ini ..." dia tersenyum dan menarik kedua jemariku. Lalu dia mengecupnya perlahan.
Aku tersenyum dan menunduk karena malu.
"Aku pulang dulu ya ..."
"Hhm ... Hati-hati. Dan kabari jika sudah sampai ..."
__ADS_1
"Hai ... Segera beristirahatlah! Besok kan harus kuliah pagi."
"Yeap."
Haku melambaikan tangannya lalu mulai memasuki mobilnya. Aku menunggunya hingga dia berlalu baru masuk ke dalam rumah lagi.
Aku melihat Ibu, Bibi dan Ayana yang sibuk merapikan sisa makanan. Lalu aku segera membantu mereka. Aku membawa beberapa piring kotor dan hendak mencucinya.
"Sudah, Biar Ibu saja yang mencucinya. Istirahatlah, Sayang. Besok kan kamu harus kuliah pagi." kata Ibu sambil merebut sponge cuci piring dariku.
"Tidak, Ibu. Biar Yuko saja yang mencucinya. Ibu istirahatlah. Pasti lelah." kataku sambil merebut sponge cuci piring itu lagi dari Ibu.
"Aduh, anak gadis satu ini!" celutuk Ibuku. Dan aku hanya tersenyum lebar lalu mulai mencuci piring-piring itu.
"Kapan Ayah dan Ibu kembali ke Sapporo?"
"Mungkin lusa. Ayahmu tidak punya banyak cuti."
"Cepat sekali!" rengekku, "Apa aku cuti kuliah saja ya? Aku masih mau bersama Ayah dan Ibu. Kita bisa berlibur dulu di Tokyo!" ucapku membulatkan mata dan sangat bersemangat.
"Kamu baru saja mau jalan semester 2 sudah mau cuti kuliah! Tidak boleh!" ucap Ibu dengan tegas.
"Tapi, Bu ..."
"Kau tetap akan kuliah. Besok sepulang kuliah, kita akan berjalan-jalan. Bagaimana?" usul Ibuku.
"Wah. Boleh ..."
"Apa kita berkunjung ke rumah Haku ya? Sudah lama juga kita tidak bertemu dengan keluarga Mizaki."
"Benar, Kita akan kesana besok! Ayahmu pasti akan setuju!"
"Tapi, Bu ... Saat pagi Haku akan bekerja. Sedangkan sorenya dia harus kuliah."
"Tidak masalah. Kita kan hanya ingin berkunjung!" sahut Ibuku saat berbinar.
Aku hanya diam dan sedikit meringis saja.
"Coba nanti kau kabari Haku ya. Besok malam kita akan kesana!"
"Baik, Bu."
Setelah selesai mencuci semua piring kotor, aku segera le kamar Ayana. Malam ini aku akan tidur bersama Ayana. Ayah dan Ibu memakai kamar tamunya.
"Yuko ... Ternyata Haku lebih keren dari yang di foto ya ..." kata Ayana sambil memainkan ponselnya.
Aku tertawa kecil mendengarnya.
"Kau beruntung sekali. Aku yakin dia adalah pria yang baik. Dan dia juga sangat tulus padamu! Aku bisa melihat dari matanya ..." kini Ayana duduk bersila di atas ranjangnya dan menatapku yang sedang duduk di depannya.
"Ya ... Aku sangat beruntung, Ayana ..." kataku pelan dan menerawang jauh.
"Yeap. Susah lo mencari pria seperti itu! Apalagi dia juga keren dan mapan!" sahutnya bersemangat. "Tapi kenapa saat di Sapporo aku sama sekali tak pernah melihatnya ya?" Ayana mengerutkan dahinya karena sedikit bingung.
"Karena kawasan rumah kita berbeda. Makanya kamu tidak pernah melihatnya. Dan lagi, dia juga pindah ke Tokyo saat berusia 5 tahun. Tentu saja kau tidak pernah melihat dan bertemu dengan Haku."
__ADS_1
"Benar juga ya ..."
Tiba-tiba ponsel Ayana berdering, "Yuko. Aku angkat telpon dulu ya ..."
"Hhm ..."
Ayana segera bergegas meninggalkanku dan mengangkat panggilan itu.
"Ya. Hallo, Senior. Maaf acara makan malamnya baru selesai ..."
Aku masih mendengar sedikit percakapan mereka sebelum Ayana benar-benar meninggalkan kamarnya menuju balkon belakang kamar.
Ponselku kini juga berdering. Dan aku segera mengangkatnya dengan bersemangat.
"Haku, Kau sudah sampai di rumah?" tanyaku.
"Baru saja aku sampai dan langsung mandi tadi. Kau belum mengantuk?"
"Sedikit ... Uhm, Haku ... Besok malam Ayah dan Ibuku mengajakku untuk berkunjung ke rumahmu. Bagaimana dong?"
"Berkunjung ke rumah?"
"Iya. Tiba-tiba saja Mereka ingin berkunjung selagi sedang di Tokyo. Karena lusa mereka akan segera kembali ke Sapporo."
"Baiklah. Aku akan bilang ke Ayah dan Ibuku."
"Jadi tidak apa-apa?"
"Tentu saja. Ayah dan Ibuku pasti juga akan merasa sangat senang!"
"Baiklah." sahutku lega. "Tapi bukankah kau harus kuliah sore besok, Haku?"
"Aku akan mengambil cuti sehari."
"Cuti mendadak?"
"Bukan masalah besar kok. Dosenku juga nggak terlalu ribet kok."
"Oh, Syukurlah ..."
"Ngomong-ngomong besok adalah pertemuan pertama pertama keluarga kita setelah kita pacaran ..."
"Uhm ... Iya. Kau benar sekali, Haku. Dan aku sedikit gugup."
"Aku juga ... Tapi tenang saja. Semua pasti akan baik-baik saja dan berjalan dengan baik."
"Hhm ... Iya ..."
"Sekarang istirahatlah! Besok kamu harus bangun pagi untuk kuliah."
"Iya. Kau kan juga istirahatlah, Haku."
"Yeap. Oyasuminasai, Yuko."
"Oyasuminasai ..."
__ADS_1
...***...