
Aku membuka jendela kamarku. Sinar mentari mulai menyinari dunia dan terasa sedikit hangat. Namun udara yang berhembus masih terasa begitu dingin pagi hari ini. Aroma manis dari buah kesemek yang berbaur dalam kesejukan musim gugur melayang ke dalam ruangan bersama dengan sinar matahari.
Akhir pekan sore ini Haku akan mengajakku untuk pergi makan malam dan menonton bersama rekan kerjanya lagi. Jadi pagi ini aku akan membersihkan dan merapikan seluruh rumah terlebih dahulu.
Namun tiba-tiba saja Haku memberiku sebuah pesan, bahwa dia akan datang ke kontrakanku untuk membantuku. Haku yang sedang libur di akhir pekan dan tidak memiliki kegiatan akan datang untuk membantuku merapikan rumah.
Setelah membersihkan diri tak lama Haku sudah sampai dan mengetuk pintu kontrakanku.
Tok ... Tok ... Tok ...
Ritme teratur yang terdengar dari arah pintu itu seketika membuatku tersenyum lebar dan dengan bersemangat segera melangkahkan kaki untuk membukakan pintu.
Ceklekkk ...
Senyumku tiba-tiba membeku begitu saja, ketika melihat tamu yang datang itu bukan Haku, melainkan Ran. Apa yang Ran lakukan disini? Dan aku melihat dia menyembunyikan sesuatu di balik badannya.
"Hallo, Yuko ..." sapa Ran dengan senyum lebar.
"Eh ... ha-hallo ..." sahutku dengan sedikit canggung.
"Apa kau sedang menunggu seseorang, Yuko?" tanya Ran seolah bisa membaca pikiranku.
"Ehm. Iya ... Aku sedang menunggu seseorang saat ini." sahutku seadanya.
"Oh. Aku hanya pergi ke rumah Jeccisa dan mampir sebentar kesini sih ..." ucap Ran sedikit kikuk. "Dan tadi aku melihat ada penjual bunga yang cantik ... jadi ... aku membelikannya untukkmu ..." kini Ran menyodorkan rangkaian bunga baby breath lilac yang sangat cantik. Dan dari tadi dia menyembunyikan bunga itu di balik badannya.
"Wah ... ini cantik sekali ..." gumamku takjub dan menerima bunga itu.
"Kau menyukainya, Yuko?"
"Hhm. Ini cantik sekali!" jawabku dengan jujur.
"Ah, syukurlah jika kamu menyukai baby breath ..." sahut Ran sedikit lega.
"Tapi kenapa tiba-tiba membelikannya untukku?" tanyaku sedikit penasaran.
"A-aku juga tidak tau. Tapi begitu melihat bunga itu, tiba-tiba saja aku teringat sama kamu. Jadi aku beli saja, sekalian mampir dan memberikannya untukmu." sahut Ran sambil mengusap tengkuknya.
"Oh. Terima kasih, Ran." ucapku dengan tulus.
__ADS_1
"Sama-sama ..." balas Ran yang masij mengusap tengkuknya.
"Ehem ..." Tiba-tiba saja Haku sudah datang dan berdiri di sisi samping Ran.
"Hai, Haku ..." sapaku dengan senyum lebar menatapnya.
"Hai, Yuko ..." sahut Haku menatapku sebentar lalu kembali menatap Ran penuh curiga.
"Hai, Haku ... apa yang kau lakukan disini?" tanya Ran kepada Haku.
"Aku ingin membantu Yuko membersihkan kontrakannya." jawab Haku dengan datar.
"Oh, begitu ya ... aku juga bisa membantumu, Yuko!" kata Ran dengan bersemangat dan semakin membuat wajah Haku terlihat begitu kesal.
"Tidak, Ran! Aku tidak mau merepotkan kamu juga. Dan tidak banyak kok yang mau dibersihkan." tolakku dengan sopan.
"Oh ... baiklah. Kalau begitu aku akan pamit dulu. Bye, Yuko. Bye, Haku ..." ucap Ran dengan ramah lalu berlalu meninggalkan kita berdua.
"Hhm ... bye ..."
Kini Haku menyandarkan tangan kanannya pada tembok dan menatapku sedikit tajam. Ada apa ini? Mengapa baru datang dia sudah terlihat begitu dingin? Aku hanya menatapnya kebingungan sendiri.
Haku menatapku tajam lalu beralih menatap rangkaian bunga baby breath lilac yang sedang aku genggam. Kemudian Haku merebutnya dariku.
"Bunga dari teman laki-laki bernama Ran tadi?" tanya Haku sedikit dingin.
"Ehm. Iya. Bunga dari Ran ..." jawabku sedikit menunduk.
Haku sedikit mendengus karena kesal, "Bunga ini untukku saja! Nanti akan aku ganti dengan yang lebih besar!" ucapnya lalu berjalan melaluiku dan memasuki kontrakanku.
"Baiklah ..." sahutku lalu berjalan mengikuti Haku untuk masuk. Dan dia segera duduk di sofa dan meletakkan bunga itu di atas meja begitu saja.
"Haku ... kamu mau minum apa?" tanyaku padanya.
"Tidak usah. Nanti aku akan ambil sendiri." sahutnya tanpa menatapku sama sekali. Dia terlihat sedang sibuk dengan ponselnya. Jadi aku berinisiatif untuk membuatkannya americano coffe saja sesuai kesukaannya.
Aku segera pergi ke dapur untuk membuatkan americano coffe untuk Haku. Setelah beberapa saat aku segera kembali membawakan americano coffe untuk Haku.
"Karena aku tidak tau kau sedang ingin minum apa ... jadi aku membuatkan ini untukmu." ucapku pelan sambil meletakkan secangkir kopi di atas meja.
__ADS_1
"Ehm ... iya. Nanti aku akan meminumnya." sahut Haku tanpa menatapku sama sekali. Dan dia masih sibuk dengan ponselnya, dan jujur saja ini sedikit membuatku merasa kesal.
"Huft ... aku akan memasak dulu!" kataku sedikit kesal dan beranjak pergi meninggalkannya lagi.
Lagi-lagi Haku hanya diam saja tanpa memberikan respon sama sekali. Menyebalkan! Mengapa tiba-tiba saja Haku berubah menjadi sedikit cuek seperti ini? Ini sungguh tidak seperti biasanya. Rasanya kesal sekali!
Aku memasak sup dan kini hingga selesai, namun Haku tetap saja tidak menyusulku. Huft ... sungguh menyebalkan.
Tok ... Tok ... Tok ...
Tiba-tiba terdengar ketukan teratur dari arah pintu, dan aku segera bergegas untuk membukakan pintu. Ternyata seorang kurir yang sedang mengantarkan sebuah rangkaian bunga baby breath soft blue yang cukup besar.
Hah? Kiriman bunga dari siapa lagi kali ini? Tumnen dalam sehari aku mendapat 2 bunga?
"Dengan nona Yuko Matzuo?" tanya pria itu sambil membaca alamat yang tertera dalam kertas itu.
"Ya. Saya sendiri." jawabku sedikit bingung.
"Silakan tanda tangan disini ..." pria itu menyodorkan sebuah kertas dan aku segera menandatanganinya.
Setelah memberikan serangkaian baby breath yang sangat cantik itu, pria itu segera bergegas pergi. Aku dengan cepat melihat secarik kertas untuk melihat nama si pengirim. Aku sedikit terkejut setelah membaca nama si pengirim.
Your Little Prince, Haku.
Begitulah isi dari secarik kertas itu. Senyumku mulai mengembang melihat bunga baby breath soft blue yang begitu indah itu. Haku sangat menggemaskan dan lucu. Dia membeli baby breath untukku hanya karena melihat Ran tadi memberiku bunga. Jadi dia sedang cemburu rupanya. Ah, menggemaskan sekali!
Aku segera bergegas masuk ke dalam kontrakanku dan menghampiri Haku. Ternyata Haku sedang tertidur di atas sofa. Aku mulai berjalan mendekatinya dan sedikit menundukkan badanku.
"Haku ..." kataku pelan. "Apakah kau sedang tidur?"
"Ehm ..." sahut Haku yang masih memejamkan matanya.
"Tidurlah di kamar jika mau beristirahat ..." ucapku dengan pelan.
"Tidak. Aku mau disini saja. Dan ... tidurlah bersamaku, Yuko." Haku menarik tanganku dan membuatku terbaring di sebelahnya.
"Tap-Tapi ..." sergahku. "Ehm ... Baiklah. Aku akan menemanimu." jawabku akhirnya.
"Gadis pintar ..." Haku membuka matanya sedikit dan mengusap kepalaku.
__ADS_1