
Beberapa saat akhirnya Haku datang dan langsung menghampiri dan duduk bergabung dengan kita.
" Haku, kau tak apa-apa? Kau terlihat seperti habis maraton saja." goda Ken yang melihat Haku datang dengan nafas tersenggal. "Tenang saja, Tuan putrimu aman bersama kami." candanya lagi.
Haku langsung menatapku terheran-heran. Sedangkan aku hanya meringis padanya.
" Kita sudah tau semuanya." tambah Sora tertawa kecil. "Sangat kelihatan tau kalian ini! Apalagi semenjak kau bergabung dengan kelompok kita saat itu." Sora tertawa kecil kembali.
Haku tersenyum sambil menggaruk-garuk kepalanya yang sama sekali tidak gatal.
" Ahaha.. Begitukah..?"
" Minumlah dulu..!" aku menyodorkan sebotol minuman dingin pada Haku.
" Ah.. Iya.. Aku juga haus sekali..." kata Haku lalu meminumnya.
" Jadi darimana saja kau, Haku?" tanya Ken.
" Aku dari kampus." sahutnya.
Jadi Haku berada di kampus selama itu? Sedangkan ospek sudah selesai dari tadi.
Hhm.. Apa yang dia lakukan dengan gadis itu?
Mengapa aku jadi tidak tenang?
" Wah.. Wah... Sebegitu cintanya kah kamu sama Kampus kita sehingga betah banget disana." canda Ken.
Haku tersenyum manis mendengar ucapan Ken.
" Tentu saja aku mencintai Todai. Oh iya kau sudah dapat kontrakan itu, Yuko?" kini Haku menatapku.
" Ah.. Iya aku sudah mendapatkannya." aku tersenyum menatap Haku.
" Syukurlah. Maaf ya aku tak bisa menemanimu tadi." katanya terlihat menyesal.
" Tidak apa-apa kok. Kan ada Sora dan Ken." kataku ramah.
" Makasih ya Ken, Sora. Udah nemenin Yuko." kata Haku sambil menatap Sora dan Ken secara bergantian.
" Yeap!" sahut Ken.
" Kalian udah seperti suami istri saja deh. Aku iri deh sama kalian." kata Sora menggoda kita dengan senyum manisnya.
" Ah.. Sora kau bisa saja." kataku malu.
" Nah itu ada Ken yang lagi nganggur tuh." kata Haku asal.
" Ah.. Si cowok narsis satu ini mana bisa romantis?" kata Sora asal.
" Kau benar, Sora. Aku memang bukan pria romantis. Ternyata kau benar-benar seorang peramal ya." balas Ken.
" Sudah kubilang aku bukan peramal deh!"
" Dan sudah kubilang jangan panggil aku dengan sebutan itu!"
__ADS_1
" Tapi memang kau seperti itu kok." kata Sora tak mau kalah dari Ken.
" Sudah-sudah. Jangan terlalu benci. Nanti jadi cinta lho." candaku.
" Aku? Sama dia?" kata Sora sambil menunjuk Ken.
" Hhm.." aku mengangguk dan menatap Sora.
" Tidak!" kata Sora memelas.
" Memang aku kenapa? Aku kan juga tampan dan lumayan cerdas."
" Aku tidak suka pria tampan tau! Lagian kalau aku sama kamu pasti bakalan perang terus deh, Ken." kata Sora memelas.
" Ahaha.. Kau benar sekali, Sora." kata Ken terbahak.
Tapi kenapa Sora bilang dia tak suka pria tampan ya? Apa dia pernah ada kenangan buruk dengan pria tampan? Hhm...
" Kita pulang yuk, Yuko." ajak Haku padaku.
" Sekarang?" tanyaku.
" Aku mau mengajakmu ke suatu tempat. Jadi..." Haku melirik Sora dan Ken.
" Ah baiklah. Kau boleh membawa Yuko kok." sahut Sora antusias. "Aku juga harus segera pulang kok."
" Baiklah. Kalau begitu kita pamit ya." kata Haku.
" Well.. Oke..!" sahut Ken.
" Oke. Lain kali tak perlu khawatir lagi ya kalau tuan putrimu sedang bersama kami." canda Sora.
Aku dan Haku hanya tersenyum mendengar ucapan Sora. Lalu Haku menggandengku mengajak pergi.
" Ja matte ne ( sampai jumpa kembali ) Sora, Ken." kataku.
" Ja matte ne." sahut mereka bersamaan.
...***...
" Kita pulang dan mandi dulu ya. Aku ingin mengajakmu makan malam di luar." kata Haku saat di dalam subway.
" Hhm.." aku mengangguk pelan.
Setelah beberapa saat kita saling terdiam.
" Yuko.." / " Haku.."
Kita saling memanggil satu sama lain di saat bersamaan. Ini membuat kita sangat kaget dan bingung. Kita saling terdiam beberapa saat lagi Lalu...
" Kau duluan..!" kata kita bersamaan lagi.
Kita tertawa kecil bersama. Bagaimana ini bisa terjadi ? Lucu sekali.
" Ehm.. Baiklah.. Kau duluan, Yuko!" kata Haku sambil tersenyum manis padaku.
__ADS_1
" Ehm, Haku. Sebenarnya tadi aku melihatmu di ruangan itu bersama seorang gadis." kataku pelan.
" Hhm ya. Aku sedang dihukum saat itu." jawabnya pelan.
" Dihukum? Tapi kenapa?" tanyaku penasaran.
" Saat ospek tadi ada tugas. Kita disuruh menulis surat pernyataan cinta untuk senior. Tapi aku malah tak membuatnya." kata Haku pelan.
Aku menatap Haku dan mendengarkan ceritanya dengan seksama.
"Aku dibilang telah melawan senior. Jadi aku dihukum untuk menulis surat pernyataan cinta 100 lembar. Dan dia tak akan mengijinkan aku pulang sebelum aku menyelesaikannya." kata Haku sedikit termenung. "Makanya aku sama sekali tak bisa membalas pesanmu tadi bahkan tidak sempat menghubungimu, Yuko. Harusnya hari ini aku menemanimu. Maaf."
Ah, Tidak kuduga ternyata seperti itu kejadiannya. Kasihan sekali Haku menerima hukuman seperti itu. Apa tidak sakit tangannya itu? 🥺
Tapi aku malah berburuk sangka kepadanya. Maafkan aku, Haku.
" Maaf, Haku. Aku tadi telah berpikiran yang macam-macam." kataku menyesal. "Apa tanganmu terasa sakit?" aku segera meraih tangan kanannya dan menggenggamnya.
" Tidak setelah kau menggenggamnya." sahutnya sambil tersenyum manis padaku.
" Aku serius, Haku." 🥺
" Tidak, Sayang. Aku tidak apa-apa." dia mengelus kepalaku gemas.
" Oya. Apa yang mau kau katakan padaku, Haku?"
" Ehm, Aku hanya ingin mengatakan kalau aku sangat merindukanmu, Yuko. Seharian ini kita tidak bertemu tadi."
" Haku, Kau sungguh menggemaskan..." kataku tertawa kecil.
" Aku serius, Yuko." katanya lalu menyandarkan kepalanya di bahuku dengan manja.
" Ah, Baiklah. Sekarang kita sudah bersama lagi kok."
" Aku ingin selalu bersamamu." katanya lagi sambil memejamkan matanya.
" Hhm, Tentu saja. Kita akan selalu bersama." kataku.
Tapi tiba-tiba saja dia malah sudah tertidur di bahuku. Dasar Haku.
☺
Aku membiarkannya saja. Pasti dia sangat lelah telah menerima hukuman dari seniornya hari ini.
Tapi kenapa dia tidak mengerjakan tugas itu sejak awal ya? Bukannya Haku adalah seseorang yang baik, rajin dan teladan. Bagaimana dia bisa melakukan itu? Sekalipun saat ospek. Apa yang membuatnya tidak mengerjakan tugas itu?
Apa dia belum pernah menulis surat cinta sebelumnya?
Atau apakah dia sedang memikirkanku saat itu? Dan merasa tak enak padaku? Sehingga mengabaikan tugas itu?
Jika memang seperti itu... Berarti akulah yang salah. Maaf Haku. Seharusnya kau mengerjakannya saja tadi. Agar mereka tidak menghukummu saat itu.
Kasihan sekali Haku-ku.🥺
Aku meraih tangannya dan menggenggamnya dengan erat. Tangannya begitu hangat aku rasakan. Tangan yang selalu membuatku bahagia selama ini. Tangan yang selalu menghangatkanku selama ini. Tangan yang selalu meraihku dan selalu menggenggam erat tanganku. Dan selalu memberi kekuatan untukku. Kini aku tak akan pernah melepaskannya kembali.
__ADS_1