My Little Prince

My Little Prince
CHAPTER 3 : My New Partner


__ADS_3

(Masson's Point Of View)


"Tuan, anda baik-baik saja?"


Kalimat itu terdengar samar di telingaku. Aku kembali memejamkan mataku dengan penglihatanku yang masih buram.


Aku kembali tidak sadar.


Namun, aroma menyengat yang khas ini membuat mataku kembali terbuka.


Nuansa yang khas, rumah sakit.


Ya, aku sekarang terbaring di atas ranjang rumah sakit.


Aku masih lemah untuk menggerakkan beberapa anggota tubuhku. Namun, pria yang berdiri tidak jauh dari tempatku berbaring segera berlari mendekatiku ketika melihatku terbangun.


Dia tampak lega melihatku.


Pria itu, dia kadang menyebalkan. Tapi dia juga yang selalu membantuku.


"Apa anda merasa lebih baik?"


Aku mengangguk pelan.


Mataku tertuju pada kedua kakiku.


Laurent yang berdiri di sampingku menarik napas dalam sambil mengucapkan kembali apa yang diberitahukan oleh dokter tadi.


Aku mengalami cedera kaki yang membuatku harus duduk di kursi roda sampai sekitar enam bulan kedepan. Tergolong lama bagiku yang tidak suka duduk santai sepanjang hari.


Laurent membantuku duduk, ini benar-benar mengesalkan.


"Laurent, panggil Jaden Arshon kemari."


Dia mengangguk kemudian berpamitan pergi keluar dari ruang inap rumah sakit tempatku sekarang.


Aku menatap kedua kakiku.


Lama, hingga Laurent kembali ke kamar inap bersama Jaden Arshon sekretaris ku.


"Jaden, aku ingin seseorang untuk menemaniku setiap jamnya."


"Seorang perawat?"


"Ya, seperti itu. Namun, aku tidak mau seseorang yang bekerja di rumah sakit. Kau mengerti maksudku, bukan." Aku menggertakkan gigi ku.


Jaden Arshon mengangguk cepat. Dia langsung berpamitan pergi meninggalkan kami.


"Pengemudi mobil itu, apa yang kalian lakukan padanya?"


Laurent menunduk, seolah mengingat-ingat dan mencari selembar kertas berisi jawaban yang tertumpuk di antara kertas lain.


"Kami menindaknya tanpa persetujuan anda, serta untuk keluarganya, kami sudah memberikan nominal yang kami rasa cukup."


Aku berdecak kemudian bergumam."Sayang sekali dia terpengaruh."


Laurent segera pergi ketika aku memintanya untuk meninggalkanku sendiri. Aku ingin menenangkan diri.


Sendirian.


><><><><><


Udara segar di luar membuatku nyaman. Sudah beberapa hari aku berada di tempat membosankan ini.


Hah, sekarang aku bisa meninggalkan tempat ini.


Laurent mendorong kursi rodaku, yang harus aku pakai selama beberapa bulan kedepan.

__ADS_1


Aku tidak ingin pulang dahulu. Aku ingin mencium aroma kantor.


Aroma tinta mesin fotokopi, aroma kopi milik rekan timku.


Dan, suara bising itu.


Suara bising yang sangat aku rindukan.


Terlebih ketika boss jahat memberikan tugas pada para staf dengan tenggat waktu yang singkat.


Benar-benar membuatku rindu karena lama tidak mengunjungi kantor.


"Di mana Jaden Arshon?" Aku mendengar Laurent berbicara pada salah satu staf yang baru saja kembali dari istirahat makan siang.


Dia meninggalkanku sendirian di atas kursi roda, di tengah-tengah lobi kantor.


Padahal di sana sedang berlalu-lalang ratusan pegawai kantor yang baru saja datang seusai makan siang.


Bukankah itu sedikit ceroboh?


Salah seorang pria berpakaian hitam segera mendorong kursi rodaku ke tempat yang lebih aman lagi.


Dia kemudian kembali berdiri tidak jauh dariku sambil memposisikan dirinya seolah siap dengan keadaan apapun.


"Laurent."


Pria itu berlari ke arahku yang agak kesal. Dia menyunggingkan senyumnya yang khas, meminta maaf padaku.


Aku hanya menggeleng pelan, membiarkannya saja.


"Aku mau berkeliling saja, bawa aku untuk berkeliling."


Laurent mengangguk, mendorong kursi roda ini. Membawaku mengelilingi kantor.


Semua orang menyapaku dengan ramah, entah itu benar atau hanya sesuatu sebagai formalitas.


"Permisi."


Jaden arshon datang sambil membawa sebuah kabar untukku.


Itu terlihat jelas dari raut wajahnya.


"Sudah?"


Jaden Arshon mengangguk. Dia mengatakan jika seorang partnerku atau lebih tepatnya perawatku, bisa mulai bekerja besok pagi.


Sebelum kandidat Jaden Arshon yang sekarang ini, beberapa waktu lalu dia membawa lima sampai enam seorang wanita untuk dia wawancara. Tapi pria itu menolaknya langsung tanpa membiarkan aku sendiri melihat resume mereka.


Dia pria ketiga setelah Laurent.


Mengesalkan, namun aku tidak bisa marah karena keterikatan akan prosedur kerja.


Dan hari ini, akhirnya dia menemukan seseorang yang menurutnya tepat untuk bergabung bersama kami.


Setidaknya itu yang dia katakan.


Aku penasaran, siapa orang itu dan apakah dia sesuai dengan kriteria pekerja yang aku beritahukan pada Jaden Arshon tempo hari lalu.


><><><><><


Hari ini cukup cerah untuk berjemur di halaman rumah. Aku sudah setengah jam berada di sini sambil menikmati sinar matahari yang hangat.


Semuanya terasa menenangkan.


Sebenarnya hal ini membuatku bosan.


Setiap pukul tujuh, aku diharuskan untuk minum obat. Kemudian pada pukul dua siang, aku lagi-lagi harus minum obat. Lalu pada pukul tujuh malam. Belum termasuk vitamin serta paksaan dari mereka yang membuatku ingin pergi saja dari rumah ini.

__ADS_1


Aku tidak pernah mempermasalahkan apapun tentang mereka.


Tapi ini benar-benar membuatku semakin pusing.


Mungkin karena harus diminum tepat waktu. Tetap saja itu tidak bisa dijadikan alasan untuk memaksaku.


Dan sekarang, ketiga pria itu berada di dekatku.


Memintaku untuk memakan sarapan dan minum obat. Lagi, meskipun ini belum pukul delapan.


Aku menggeleng. Meminta mereka meninggalkanku, namun hanya Jaden Arshon yang berjalan pergi setelah melihat pekerja baru yang telah dipilihnya.


Sepertinya pekerja baru itu baru saja datang, atau dia sudah datang tapi aku tidak mengetahui hal itu.


"Tinggalkan aku sendiri. Setelah ini biarkan pekerja baru itu yang mengurusku."


Kedua pria yang masih berdiri tidak jauh dari tempatku mengangguk.


Mereka segera berpamitan pergi.


Tak berselang lama, Jaden Arshon sekretaris ku yang terlewat rajin datang bersama seorang gadis.


Seorang gadis.


Bagus, aku tahu kenapa Jaden Arshon merekrut gadis itu sebagai pekerja baru di sini.


Itu jelas terlihat. Sangat.


Setelah gadis itu diberi arahan oleh Jaden Arshon, kami berdua ditinggal pergi olehnya.


Dan semuanya menjadi sepi, gadis itu terlihat sedang menyusun kalimat di dalam pikirannya.


"Matahari mulai terik, apakah anda mau kembali ke dalam?"


Oh Tuhan, gadis itu sangat lucu.


Aku diam menatap lurus tanpa menoleh sekalipun.


Aku ingin tahu, seberapa besar usahanya dalam bekerja pada orang sepertiku.


Seorang pelayan datang, memberitahu jika sarapan sudah disiapkan.


Baguslah, dia bisa melakukan tugas pertamanya.


Dia membawaku ke ruang makan, beberapa orang sudah ada di sana.


Aku mengedipkan mataku pada mereka, mengizinkan mereka untuk pergi meninggalkan kami berdua dan biarkan aku yang menilai apakah dia memang baik dalam melaksanakan tugasnya.


Aku masih tetap diam membisu, memberikan tatapan kosong pada sekitarku. Pandanganku tetap lurus kedepan tanpa mau memperhatikan yang lain.


Aku menghargai usahanya ketika dia membujukku untuk makan. Lumayan, meskipun aku merasa diperlakukan seperti seorang anak kecil yang menolak untuk makan.


Gadis itu tampak frustrasi dan diam seolah sedang berpikir.


Seorang wanita kemudian datang dan memberitahu jika waktuku untuk jalan-jalan telah tiba. Dan tentu saja, gadis manis itu membawaku pergi jalan-jalan. Dia berusaha mengajakku bicara meskipun aku tetap tidak meresponnya.


Selesai dengan jalan-jalan itu, aku dibawa kembali ke kamarku.


Dia membantuku untuk naik ke atas ranjang.


Terdengar suara ketukan pintu.


Agatha datang meminta agar gadis manis yang menemaniku ini pergi menemui Jaden Arshon. Entah apalagi yang akan dibahas oleh Jaden Arshon.


Dia berpamitan pergi dan tentu saja aku diam.


Entahlah sampai kapan aku akan diam tidak merespon gadis itu. Biarkan saja dulu. Mungkin nanti aku akan berubah pikiran tentang dia.

__ADS_1


><><><><><


__ADS_2