My Little Prince

My Little Prince
CHAPTER 2 : Memories Of (Rubby)


__ADS_3

"Hai, selamat datang." 


"Terima kasih, maaf membuatmu menunggu." 


"Tidak sama sekali." 


Pria dengan arloji emas yang melingkari pergelangan tangannya itu menghembuskan napasnya. Dia menunjuk kursi di hadapannya yang hanya berbatasan dengan meja bundar.


Mengisyaratkan supaya gadis dengan rambut yang dikuncir kuda tersebut duduk. 


Gadis tersebut mengangguk sekali kemudian duduk.


"Jadi, kau benar-benar ingin keluar?" 


Gadis tersebut mengangguk, ia menunduk tanpa ingin menatap lawan bicaranya karena menghormati pria itu.


Sesekali tangannya saling menggenggam karena merasa gugup.


"Kau sudah menandatanganinya?"


Gadis tersebut mengangguk. Dia semakin tertunduk karena perasaan gugupnya.


"Baiklah. Apa boleh buat, kau bisa pergi." 


Gadis tersebut mengangkat kepalanya.


"Terima kasih tuan Herisle." 


Pria itu mengangguk. 


Gadis itu beranjak dari tempat duduknya, dia membungkuk pada pria yang sangat diseganinya.


"Permisi." 


Gadis tersebut berjalan pergi meninggalkan tempat tersebut. Ia menarik napas lega ketika dirinya sudah berdiri di luar gedung.


Awal baru dan dirinya yang berbeda. Semuanya akan dia mulai pada titik ini.


Sore ini, setelah semua urusan yang menjeratnya selesai. Rubby merasa bebas tanpa ada beban.


Misinya kali ini adalah melanjutkan perjalanan hidupnya sendiri. 


Dia akan mencari pekerjaan lalu akan menikah. Setidaknya itu yang sedang terpikir dalam benaknya.


Gadis tersebut pergi ke halte bus, menuju perjalanan pulang ke rumahnya. 


Sesampainya dia di rumah, Rubby langsung disambut hangat oleh pelukan wanita yang selalu menjadi penyemangat dalam hidupnya. 


"Apa kau sudah mendapat pekerjaan pengganti?" 


"Belum kak. Aku masih mencari dan semoga aku segera mendapatkannya."


"Um, baiklah. Pergilah istirahat, kau terlihat lelah."


Rubby  mengangguk sembari berjalan pergi masuk ke kamar. Dia melepas pakaiannya, berganti dengan pakaian yang lebih santai. Dirinya bernapas lega setelah semuanya telah dianggap berakhir. 


><><><><><


"Kau tidak akan mengerti tentang hal ini."


"Baiklah, terserah padamu. Aku akan pergi karena aku harus mencari pekerjaan."


Dengan kesal Rubby pergi meninggalkan wanita yang tampak marah kepadanya. 


Sudah dua minggu Rubby hanya menganggur di rumahnya. Tanpa ada pemasukan sama sekali.


Gadis itu menaiki bus yang berhenti di halte. Masih banyak kursi kosong karena sekarang masih pukul 5 pagi. Dia duduk di kursi yang kosong di dekat jendela. Dia menaiki bus tanpa tahu tujuannya untuk berhenti.  Rubby menatap keluar jendela sembari merenungkan kekesalannya pada saudarinya. 


Rubby tersadar dari lamunannya ketika seorang pria tua menyapanya. 


Dia melempar senyum pada pria yang telah lama dikenalnya. 


"Oh hai,tuan Shelvorn. Bagaimana kabar anda?"


"Baik, sangat baik. Kau akan kemana, gadis muda?"


"Entahlah, aku sebenarnya sedang mencari pekerjaan untukku." 


Pria yang duduk di kursi depan gadis itu diam, seolah sedang berpikir dan berdebat dengan pikirannya. 


"Em, aku punya seorang kenalan. Dia membutuhkan orang untuk merawat seseorang."


"Tapi apakah kau mau?" 

__ADS_1


Rubby tampak berpikir. Dia menarik napas dalam dan menatap serius pada pria tersebut. 


"Merawat seseorang? Hanya itu?"


"Sepertinya kau tertarik dengan tawaranku. Jika begitu, ikutlah denganku pada pemberhentian selanjutnya. Biar aku jelaskan secara rinci."


Bus berhenti pada pemberhentian, Rubby dan tuan Shelvorn turun di pemberhentian tersebut. Keduanya berjalan meninggalkan tempat itu, menuju ke suatu tempat. Rumah sederhana milik tuan Shelvorn. 


Di teras rumah itu, berdiri seorang pria dengan pakaian rapi dan raut wajah terlihat cemas. 


Pria itu menggeleng pelan ketika tuan Shelvorn datang sambil menyapanya dengan anggukan.


"Apa kau masih belum menemukannya?"


"Sudah, aku akan menjelaskan padanya. Dan kebetulan kau datang." 


Rubby diminta untuk duduk bersebrangan dengan pria berusia akhir dua puluhan tersebut. 


"Jaden. Dia tuan Jaden Arshon." 


"Saya Rubby. Hai." 


Jaden Arshon mengangguki sapaan Rubby.


Tuan Shelvorn tersenyum pada keduanya. 


"Jadi, nona muda. Dia adalah orang yang aku bicarakan tadi." 


"Karena Jaden berada di sini, hal yang merinci akan diberitahukan oleh Jaden sendiri." 


Jaden mengangguk, mengambil alih pembicaraan. 


"Mungkin tuan Shelvorn sudah memberi tahu perihal pekerjaan apa itu." 


"Namun, ada persyaratan yang harus kau penuhi terlebih dahulu." 


"Seperti ucapan Shelvorn, tugasmu adalah merawat seseorang. Orang itu aku rahasiakan sampai kau benar-benar menandatangani kontraknya."


"Yang bisa aku katakan adalah selama kau bekerja maka kau harus tinggal di tempatmu bekerja. Kau tidak boleh meninggalkan rumah itu kecuali ada hal yang mendesak. Dan kau tidak perlu khawatir perihal keluargamu, kami akan menjamin keluargamu." 


"Kau bisa membaca beberapa persyaratannya dalam kontrak ini." 


Jaden Arshon mengambil selembar kertas dari dalam tasnya. Dia menunjuk tempat yang harus ditandatangani oleh Rubby.


"50.000 dollar?" bisik Rubby, namun tuan Shelvorn yang duduk di sampingnya bisa mendengar hal itu.


"Itu karena kau harus menjaga rapat rahasianya." Ucap tuan Shelvorn berbisik.


"Namun, jika kau tidak bisa menjaga rahasianya maka kau akan di denda sebanyak 1 juta dolar." Tambah tuan Shelvorn sembari menghela napas.


"Pada intinya, ini perihal rahasia."  Tegas Jaden Arshon. 


Rubby menarik napas dalam. Dia mengangguk, menandatangani kontraknya. 


"Baguslah. Mulai sekarang kau adalah tanggung jawab kami. Kau bisa ikut dengan kami, besok pagi kami akan menjemputmu."


Rubby tertunduk ketika Jaden Arshon beranjak dan berpamitan pergi. 


Tuan Shelvorn tersenyum sembari menepuk bahu Rubby. Paham dengan apa yang sedang dipikirkan gadis itu. 


Rubby beranjak sambil menghela napasnya panjang. Dia berpamitan pada tuan Shelvorn serta berterimakasih pada pria itu. 


Rubby berjalan dengan perasaan yang sedikit gundah. Memikirkan saudarinya yang mungkin akan kesal padanya. Atau, tidak.


Gadis itu masuk ke dalam bus. Lagi-lagi pikirannya kembali hanyut. 


Ketika bus berhenti pada halte yang tidak jauh dari tempat tinggal Rubby, gadis itu baru tersadar. 


Dia segera menuju rumahnya. 


Gadis itu melirik saudarinya yang sedang membaca buku di teras. Dia berjalan masuk ke rumah seolah tak peduli.


Gadis itu mengemasi barangnya. 


Menatanya rapi.


Hingga suara saudarinya terdengar memanggilnya lemah. Membuat gadis itu menghentikan gerakan tubuhnya.


"Kemana kau akan pergi?" 


"Aku mendapat pekerjaan." 


"Benarkah? Aku ikut senang mendengar hal itu. Omong-omong, aku minta maaf soal tadi pagi."

__ADS_1


Rubby mengangguk. Dia menurunkan tasnya dari atas ranjang.


"Besok aku akan pergi ke tempat kerja."


"Kau pergi?" 


"Ya, aku terikat kontrak." 


Wanita yang duduk di atas kursi roda itu diam, berusaha untuk berpikir jernih. Dia menggulirkan rodanya, pergi meninggalkan kamar Rubby.


Rubby mengulum bibirnya, merebahkan tubuhnya kemudian memejamkan matanya. 


Sore itu, Rubby merasa kalut. Dia berusaha meyakinkan diri bahwa keputusannya untuk pergi bekerja adalah hal yang tepat.


><><><><><


Hari ini, tiga mobil terparkir di depan rumah Rubby. Seorang pria yang kemarin di temui Rubby di tempat tuan Shelvorn, datang untuk menjemput Rubby.


Pria itu datang tidak sendirian. Dia datang membawa beberapa orang lain.


Rubby terlihat cemas pada saudarinya yang duduk di kursi roda menatapnya. 


"Nona, dia Glenca. Dia yang akan mengurus keluargamu sedari sekarang." 


"Hai." Glenca menjabat tangan Rubby. 


Keduanya kemudian mendekati wanita yang tampak lesu itu. 


Rubby menarik napasnya, berlutut di hadapan saudarinya. 


"Hai, Olivia. Aku minta maaf perihal pertengkaran kita. Aku harus pergi bekerja, aku akan pasti akan mengunjungimu." 


Olivia menatap Glenca dengan senyumnya yang ramah.


"Maaf, boleh kami bicara berdua?" 


Glenca mengangguk,  dia kemudian menunduk dan pergi menjauhi keduanya. 


"Apa kau yakin dengan pekerjaanmu? Apa kau tahu pekerjaanmu?" 


"Ya, aku harap ini bisa membantu kita." 


"Semoga kau berhasil." 


Rubby mengangguk. Keduanya berpelukan sebelum Rubby beranjak untuk pergi.


"Aku harap kalian bisa berteman dengan baik." 


Glenca mengangguk. Wanita itu berucap terima kasih pada Rubby karena telah memberikan kepercayaan pada dirinya. 


"Nona. Kita harus pergi, jarak tempuhnya memerlukan waktu yang lama." 


Rubby melambaikan tangannya pada Olivia. Dia kemudian masuk ke dalam mobil. 


Dua mobil melaju pergi, sedangkan satu lainnya sengaja ditinggalkan di sana. 


Sepanjang perjalanan, Rubby hanya menatap jalanan. Menikmati rute perjalanannya yang panjang.


Malam hari tiba, mobil mereka telah masuk ke dalam sebuah pekarangan rumah. Bagi Rubby, itu bukanlah rumah. Melainkan sebuah istana. 


Mobil berhenti di depan pintu yang akan membawa mereka masuk ke dalam rumah.


Ketika Rubby turun, seorang pelayan wanita menyambutnya dengan hangat. 


Wanita itu menunduk pada Jaden Arshon yang memintanya mengantar Rubby ke kamarnya. 


"Nyonya, mari saya antar anda." Wanita tersebut berjalan memandu Rubby. 


Gadis itu terkagum pada isi dari rumah tersebut. 


Namun, rasa kagum itu dia hilangkan mengingat tugasnya di sana sebagai pekerja.


"Ini kamar anda, anda bisa beristirahat sekarang."


"Terima kasih." 


Wanita itu tersenyum, berpamitan untuk pergi. Setelah kepergian wanita itu, Rubby masuk ke kamarnya.


Gadis itu ditunjukkan sebuah kamar yang sangat luas baginya. Nuansa kamar itu seperti kamarnya. Hanya luasnya yang berbeda. Terdapat rak buku di sudut ruangan, meja dan sofa tunggal yang dekat dengan jendela. Ranjang  queen size, nakas, lemari pakaian dan sebuah kamar mandi di dalam. Memasuki kamar mandi, terdapat lemari berisi handuk bersih serta perlengkapan mandi.


Rubby kembali ke kamarnya. Dia membuka lemari pakaian, melihat beberapa pakaian yang telah tersedia di sana. 


Setelah berganti pakaian, Rubby merebahkan tubuhnya. Bersiap untuk tidur agar besok dia bekerja dengan baik.

__ADS_1


__ADS_2