
Aku menatap sebuah gedung yang lumayan besar di hadapanku. Bangunannya sedikit mewah dan ada sekitar 10 lantai.
Wah, besar juga ya ...
Aku segera melangkahkan kakiku memasuki perusahaan itu dan menuju ke front office.
"Selamat siang. Ada yang bisa saya bantu, Nona?" tanya seorang front officer dengan sangat ramah.
"Siang. Saya ingin bertemu dengan Haku Mizaki." kataku pelan.
Gadis cantik tadi terdiam beberapa saat dan terlihat sedang berpikir.
"Maksud Nona Tuan Haku? Direktur baru itu?" tanya gadis itu padaku.
"Ah, Iya. Dia maksud saya ..." kataku sedikit salah tingkah.
"Apa Nona sudah membuat janji dengan beliau sebelumnya?" tanya petugas itu ramah.
"Ah, Iya. Sudah. Dan dia menyuruhku untuk ke ruangannya." sahutku sambil terseyum pada petugas itu.
"Baik. Nona bisa menaiki lift itu." petugas tadi memperlihatkan sebuah lift di sebelah kanan. "Dan turun di lantai 3. Ikuti lorong sebelah kanan saja. Ruangan Tuan Haku berada di paling ujung." kata petugas tadi dengan senyuman ramah.
__ADS_1
"Uhm. Baiklah. Terima kasih!" kataku sambil membungkukkan sedikit badanku.
Setelah itu aku berjalan menuju lift. Beberapa saat aku menunggu, akhirnya lift itu terbuka. Dan aku segera memasukinya bersama dengan beberapa karyawan lain. Aku tidak memencet tombol tujuan, karena salah satu dari mereka sudah ada yang memencet lantai 3.
Beberapa saat pintu lift terbuka saat kita sudah sampai di lantai 3. Aku dan seorang karyawan keluar dari lift. Aku melihat sekitar. Dan ada lorong kanan kan kiri. Jadi aku segera mengambil lorong kanan. Aku mulai berjalan menyusuri lorong itu. Ada beberapa ruangan disini.
Tiba-tiba aku melihat di depan ada Haku yang sedang berbincang dengan salah satu petugas wanita. Wanita itu sangat cantik. Aku segera bebelok untuk bersembunyi. Takut akan mengganggu mereka. Dan aku memutuskan untuk menunggu terlebih dahulu.
"Aku sungguh tidak menyangka sebelumnya kalau kita akan bertemu kembali disini, Haku." kata gadis itu.
"Tolong panggil saya Pak, Anzu! Karena kita sedang berada di perusahaan." kata Haku pelan tapi tegas.
"Baiklah Pak. Maaf atas kelancangannya." kata gadis itu.
"Oh iya saya membawakan kopi untuk anda, Pak. Seperti biasa, kopi hitam yang tidak terlalu manis. Seperti kesukaan anda, Pak." gadis tadi menyodorkan secangkir kopi untuk Haku. Dan Haku segera menerimanya.
Sepertinya gadis itu sangat memahami Haku. Bahkan dia tau kebiasaan dan selera Haku. Bahkan takaran kopi Haku.
"Terima kasih, Anzu!" jawab Haku pelan tapi tegas.
"Kalau boleh tau apa anda mau keluar untuk makan siang?" tanya gadis tadi kembali ceria.
__ADS_1
"Tidak. Aku akan menyeduh ramen saja. Aku sudah membawanya dari rumah tadi." sahut Haku ramah.
"Tidak baik terlalu sering mengkonsumsi junk food seperti itu. Kebetulan sekali saya tadi memesan sesuatu dari luar. Dan ini ada lebih. Jadi makanlah, selagi hangat." kata gadis itu sambil menyodorkan sebuah kotak makanan untuk Haku.
"Tidak usah. Aku akan makan ramen saja ..." tolak Haku ramah.
"Ayolah. Jarang-jarang kita bertemu selama ini. Biarkan sekali saja saya melakukannya."
Haku sedikit terdiam dan berpikir.
"Hhm. Baiklah. Tapi hanya kali ini ya." kata Haku lalu menerima kotak makanan itu.
"Okay ... " sahut gadis tadi sangat berbinar. "Makanlah sekarang selagi masih hangat ..."
"Okay ..."
"Kalau begitu saya pergi dulu, Pak!" sahut gadis tadi lalu pergi meninggalkan Haku di lorong. Sementara Haku mulai memasuki ruangannya.
Aku melihat gadis itu yang berjalan melaluiku yang sedang berada di balik tembok. Gadis yang sangat manis dan cantik. Dia juga tinggi seperti seorang model saja. Siapa dia?
Aku terus menatapnya lama hingga dia menghilang dari pandanganku. Aku mulai menatap kue yang aku beli di toko kue tadi. Ada rasa sedikit minder dalam hatiku. Apa lebih baik aku pulang saja ya?
__ADS_1