My Little Prince

My Little Prince
Puding Untuk Haku


__ADS_3

Kini aku dan kak Zen sudah sampai di depan ruangan dimana Haku dirawat. Dan aku mulai menggedor pintu kamar Haku.


Tok ... tok ... tok ... tok ...


"Masuk ..." ucap seseorang dari dalam ruangan.


DRRRKKK ...


Kini aku mulai menggeser pintu itu dan mulai memasukinya bersama kak Zen. Terilihat Haku sedang duduk di atas brankarnya, sementara ibu Haku terlihat sedang mengemasi barang-barangnya.


"Yuko. Kebetulan sekali datang. Ibu harus menemui seseorang di rumah. Bisakah kamu menjaga Haku?" tanya ibu Haku yang kini mulai melenggang mendekatiku.


"Tentu saja, okaa-san." jawabku dengan tulus. "Aku akan menjaga Haku dengan lebih baik dan lebih berhati-hati." imbuhku dengan senyum lebar.


Ibu Haku tersenyum dan mengusap kepalaku dengan lembut, lalu dia menatap kak Zen yang sudah berdiri di sampingku.


"Hallo. Perkenalkan, saya adalah Zen. Senior Yuko di Todai, Tante." ucap kak Zen dengan ramah dan membungkukkan badannya.


"Oh, iya. Tante pernah mendengarnya dari Haku. Senior tampan yang begitu cerdas dan dewasa bahkan menjadi assisten dosen." ucap ibu Haku sambil tersenyum menggoda Haku.


Kak Zen hanya tersenyum mendengar ucapan dari ibu Haku.


Sedangkan wajah Haku kini menjadi sedikit merona karena mendengan ucapan dari ibunya. Ahaha ... mungkinkah selama ini Haku sering bercerita tentang segala hal kepada ibunya? Lucu dan menggemaskan sekali. Tidak aku sangka dia akan berbagi hal seperti itu dengan ibunya.


"Ibu. Bukankah ibu bilang tadi sedang terburu-buru?" ucap Haku tiba-tiba.


Ibu Haku tertawa kecil mendengar ucapan Haku, "Baiklah. Ibu akan pulang dulu. Nanti malam ayahmu akan tiba dan akan langsung datang ke rumah sakit."


"Iya-iya. Sudah sana ibu berangkat saja ..." ucap Haku lagi sedikit kesal.


"Baiklah. Ibu pergi dulu." ucap Ibu Haku lalu mengelus pundakku dan segera melenggang meninggalkan ruangan ini.


Kini aku dan kak Zen mulai melenggang mendekati brankar Haku.


"Haku ... apa kabar? Aku dengar ada kecelakaan sampai kamu tak sadarkan diri, jadi aku ingin menjengukmu." ucap kak Zen sambil meletakkan sebuah bingkisan di atas meja.


"Aku baik-baik saja, Kak. Sebenarnya hanya luka dalam saja ..." sahut Haku dengan ramah.

__ADS_1


"Hhm. Syukurlah ... aku lega sekali mendengarnya."


"Terima kasih sudah meluangkan waktunya untuk datang kesini, Kak." ucap Haku sambil tersenyum manis.


"Tidak masalah kok. Kebetulan sore ini tidak ada jadwal kok. Jadi aku memutuskan untuk datang menjengukmu. Dan kebetulan sekali aku melihat Yuko tadi. Jadi kita berangkat bersama."


"Hhm. Kebetulan sekali ya ..."


"Oh ya. Aku bawa puding untukmu, Haku. Kamu mau kan? Aku membuatnya dengan sepenuh hati lo ..." ucapku sambil membuka sebuah bingkisan yang aku bawa dari rumah.


"Tentu saja aku mau, Yuko." Haku menyauti dengan senyum lebar dan terlihat begitu bersemangat.


"Aku suapi ya ..." ucapku sambil mengambil sepotong puding itu.


"Uhm ... tidak usah, Yuko! Aku akan memakannya sendiri!" ucap Haku dengan cepat lalu merebut puding itu dariku. "Aku makan ya ..." imbuhnya lalu mulai menyantap puding itu.


"Kebetulan kakak juga membawa beberapa kue untukmu Haku karena Yuko pernah bilang kau suka makanan manis dan segala jenis kue."


"Wah terima kasih banyak kak, Zen. Tapi aku tidak ingin merepotkan kakak."


"Kakak suka membuat kue kok. Dan kakak juga merasa tidak direpotkan. Bahkan dari kecil kakak sudah suka sekali membuat kue." ucap kak Zen tersenyum ramah menatap Haku.


Entah mengapa ucapan dari kak Zen seketika membuatku menjadi teringat sesuatu. Dan tentu saja membuat hatiku merasa tak enak kembali.


"Habiskan pudingnya dulu, baru makan kuenya." ucapku.


"Hhm. Tentu saja. Tapi jangan salahkan aku jika berat badanku bertambah ya ..." canda Haku dengan tawa kecil.


"Mau bertambah berat badanpun itu tidak masalah untuk Yuko. Benar begitu, Yuko?" ucap kak Zen yang seketika membuatku malu.


"Kakak benar sekali. Haku tetaplah Haku. Mau bagaimanapun dia, dia adalah Haku." sahutku.


Sedangkan mereka berdua hanya tersenyum saja mendengarku.


Tok ... tok ... tok ... tok ...


Tiba-tiba mulai terdengar suara ketukan yang begitu teratur dari pintu.

__ADS_1


"Masuk ..." perintah Haku dengan suara pelan.


DDRRKK ...


Pintu terbuka dan terlihat Mirae dan Anzu mulai melenggang memasuki ruangan.


"Dimana ibu, Kak?" tanya Mirae yang mulai melangkah mendekati brankar.


"Ada tamu di rumah. Jadi ibu pamit pulang dulu." jawab Haku seadanya.


"Kalau begitu biar aku yang menjaga Haku!" ucap Anzu cepat-cepat. "Ehm ... maksudku ... Mirae kan besok masih sekolah, Yuko besok juga kuliah bukan?" imbuh Anzu.


"Bukankah besok kamu juga harus bekerja, Anzu?" tanya Haku.


"Aku bisa meminta ijin untuk cuti bukan? Aku akan mengambil cuti saja ..." ucap Anzu terlihat begitu bersemangat.


"Tidak bisa. Aku saja sedang berhalangan untuk bekerja. Jadi kamu tidak boleh sembarangan mengambil cuti, Anzu." jawab Haku masih dengan ramah.


"Lagipula bukankah Yuko sudah mengambil cuti kuliah untuk beberapa hari ini?" sela kak Zen. "Dan lagi ... Yuko adalah tunangan dan calon istri dari Haku. Dia yang lebih berhak untuk merawat dan menjaga Haku. Karena sebentar lagi mereka juga akan segera menikah." imbuh kak Zen tersenyum ramah menatap Anzu.


Wow ... kata-kata kak Zen sangat ramah dan lembut. Namun tentu saja itu akan terasa seperti sebuah tamparan untuk Anzu.


Ternyata memang benar! Kini Anzu menatap sinis kak Zen dan terlihat begitu kesal. Sangat terlihat dengan jelas dari raut wajahnya.


"Baiklah. Aku hanya sangat mengkhawatirkan Haku kok ..." kilah Anzu yang terlihat begitu murung, namun tiba-tiba dia menyunggingkan senyuman. "Semoga kejadian seperti ini tidak akan pernah terulang lagi ya. Andai aku ada disana ... pasti aku tak akan membiarkan Haku untuk nekat memasuki teater itu. Karena itu akan mengingatkan ..."


"Sudah cukup, Anzu ..." potong Haku dengan pelan namun penuh penekanan. "Jangan bahas soal itu lagi!"


"Tapi aku hanya membicarakan kebenaran, Haku. Kamu kan mempunyai trauma kebakaran." ucap Anzu masih kekeh. "Seharusnya Yuko tidak memintamu untuk mengambil kalung itu. Karena nyawa itu lebih berharga!"


"Bukan Yuko yang memintaku untuk mengambil kalung itu! Tapi itu karena keinginanku sendiri!" ucap Haku kini lebih tegas.


"Ya ...seharusnya Yuko tidak membiarkan kamu memasuki teater yang sudah terbakar itu!" ucap Anzu masih berkilah.


"Anzu ... Yuko tidak tau apa-apa soal traumaku. Jadi ini bukan salah dia. Dan aku mohon padamu jangan mengungkit masalah ini lagi." ucap Haku berusaha menenangkan nada bicaranya.


"Ehm? Ba-baiklah ... maaf ... aku hanya terlalu khawatir padamu ..." Anzu menyauti dengan sangat pelan kali ini.

__ADS_1


Huft ... syulurlah Haku bisa lebih tegas menghadapi Anzu. Aku merasa sedikit lega kali ini. Semoga Anzu tidak mencari masalah denganku lagi kelak. Semoga dia bisa mundur dan melepaskan Haku. semoga saja ...


__ADS_2