
Sorot lampu dari mobil itu sudah mulai menyilaukan mataku, membuatku menutup pelipis kiriku dengan tanganku. Namun aku masih tetap berlari hingga akhirnya tanganku sudah berhasil mencapai kereta bayi itu.
Aku hendak mendorong kereta bayi itu tetapi tiba-tiba cahaya yang begitu menyilaukan itu sudah sangat dekat dan dekat. Aku kembali menutupi pelipisku dengan tanganku. Dan tiba-tiba saja dunia seperti sedang berputar dan sedikit gelap.
Bruuughhh ...
Sesaat aku tidak menyadari apa yang sudah terjadi. Namun aku mendengar teriakan-teriakan histeris dari orang-orang di sekitarku.
Aku membuka mataku perlahan. Dan aku sudah jatuh tersungkur di atas aspal. Aku melihat seorang ibu yang sedang menangis dengan memeluk dan menggendong bayi. Tenyata aku masih hidup, aku segera berdiri dan wanita tadi membantuku untuk berdiri.
"Syukurlah bayi anda selamat ..." ucapku tulus kepada wanita tadi.
"Maaf, Nona. Gara-gara menyelamatkan bayi saya kekasih anda jadi tertabrak mobil itu." kata wanita tadi yang sempat membuatku sedikit bingung.
Kekasih? Siapa? Bukannya aku berlari sendirian tadi.
Aku masih mendengar teriakan-teriakan histeris dari belakangku yang tepatnya adalah jalan raya. Aku segera berbalik menebarkan pandanganku. Banyak sekali orang berkerumun, dan aku segera mendatangi kerumunan itu.
Aku berjalan dengan dada bergemuruh dan perasaan tak karuan mendekati kerumunan itu. Berharap situasi terburuk tidak sedang terjadi.
__ADS_1
Mataku membelalak menyaksikan seorang pria sudah terbaring di atas aspal dengan darah segar yang mengalir di beberapa tubuhnya. Seketika tubuhku gemetaran dengan hebatnya.
Aku segera berlari dan mendekatinya. Dan aku meraih tubuhnya. Matanya terpejam, padahal beberapa menit yang lalu aku masih melihat senyumnya yang sangat hangat. Kini air mataku sudah mengalir begitu saja menyaksikan dia yang sedang terbaring.
"Kak Zen, Bangun!" aku mengelus pipinya pelan dan wajahku kini sudah beruraian air mata. "Bangun, Kak!" ucapku histeris. "Kakak harus bertahan!"
Aku meraih tangannya dan mengecek pergelangan tangan kak Zen. Masih bisa aku rasakan denyut nadinya. Aku bernafas sedikit lega mengetahuinya.
"Kakak harus bertahan!" ucapku pelan.
Beberapa saat ambulance sudah datang dan segera membawa kak Zen ke rumah sakit. Dan aku ikut bersamanya. Aku menemaninya ke rumah sakit malam ini. Dan aku juga menghububungi Sora untuk meminta nomor ponsel Kak Ave. Setelah itu aku menghubungi kak Ave dan memberitahukan semua kepada kak Ave. Karena dialah orang yang paling dekat dengan kak Zen.
Tak lama kemudian kak Ave sudah datang saja ke rumah sakit. Dia menghampiriku yang sedang duduk di depan ruang IGD.
"Masih di dalam, Kak." ucapku pelan.
Kak Ave memegang pelipisnya dan terlihat sangat khawatir.
Setelah menunggu beberapa saat beberapa perawat dan Dokter keluar dari ruangan itu. Dan kak Ave segera mendekati Dokter itu.
__ADS_1
"Bagaimana kondisi teman saya, Dok?" tanya kak Ave yang terlihat sangat khawatir.
"Untuk saat ini dia masih belum sadarkan diri. Benturan yang terjadi di kepalanya membuatnya cedera kepala berat dan mengakibatkan gangguan kesadaran pada fungsi otaknya." ucap Dokter itu pelan.
Rasanya seperti ada petir yang menyambarku saat ini. Kak Zen koma? Tak terasa air mataku sudah kembali membasahi pipiku saja. Tubuhku kembali terduduk lemas sekali.
"Maksud Dokter Zen koma?" ucap Kak Ave lagi.
"Benar sekali."
Kak Ave yang mendengar ucapan Dokter itu juga merasa sangat terpukul sekali.
"Lalu kira-kira berapa lama semua ini akan terlewati, Dok?" tanya Kak Ave lagi.
"Kita tidak bisa memprediksinya. Mungkin bisa dua hari, seminggu, sebulan, dua bulan, atau bahkan bisa tahunan. Kita hanya bisa berusaha melakukan yang terbaik. Selebihnya kita hanya serahkan kepada sang pemberi Hidup." kata Dokter tadi.
"Dimana pihak keluarganya? Kita harus segera melakukan operasi untuk mengurangi pembengkakan di otaknya." ucap dokter itu lagi.
"Kemungkinan besok pagi orang tuanya akan segera sampai. Mereka sedang berada di luar kota." ucap kak Ave.
__ADS_1
"Hhm. Baiklah ..."
...***...