
Setelah telpon itu berakhir aku segera bergegas untuk pergi ke rumah paman Ishida. Aku pergi dengan menaiki taxi kali ini. Rumahnya tidak terlalu jauh sih dari kontrakanku.
Sopir taxi menghentikkan mobilnya di depan sebuah rumah. Dan aku segera turun. Aku memperhatikan rumah itu dengan seksama.
Apa benar ini rumah paman ya? Rumahnya terlihat masih sangat baru. Kalau aku melihat dari map harusnya memang benar deh. Aku mencoba memasuki halaman rumah itu lalu memencel bel rumah itu.
Setelah beberapa saat pintu terbuka. Aku melihat seorang gadis muda berambut sebahu tersenyum lebar menatapku.
"Yuko!" teriaknya histeris lalu memelukku singkat.
"Ayana! Bagaimana kabarmu?" kataku bersemangat.
"Baik. Kau sendiri bagaimana kabarmu?" aku melihat wajah cerianya yang sangat terlihat bahagia.
"Aku baik. Kau ya, pergi ke Tokyo nggak pamit dulu sama aku! Untuk aku nggak ngambekan deh!" candanya dengan tawa kecil.
"Maaf deh. Saat itu aku buru-buru berangkatnya ..." ucapku memelas.
"Aku hanya bercanda kok. Masuk yuk! Mereka semua di dalam." Ayana segera menarikku memasuki rumahnya.
Di dalam ada paman, bibi, bahkan aku melihat ada ibu dan ayahku. Aku sedikit terkejut karena mereka tidak memberitahuku sama sekali soal ini. Mereka tidak bilang akan datang ke Tokyo.
"Ayah! Ibu!" aku segera berlari untuk memeluk mereka. Rasanya kangen sekali. Sudah beberapa bulan tidak bertemu dengan mereka. Mereka juga memelukku dengan hangat
"Yuko kangen sekali dengan Ayah dan Ibu! Kenapa tidak bilang kalau mau datang ke Tokyo?" tanyaku sambil menatap mereka berdua bergantian.
"Ini semua ide Ibumu. Katanya dia mau memberi kejutan untuk anak gadisnya." kata Ayah dengan sedikit tawa dan melirik sedikit ke arah Ibu.
"Ibu! Harusnya Ibu bilang dong!" rengekku sambil memeluk kembali Ibuku. Aku sungguh merindukan pelukan ini. Begitu hangat dan menenangkan hati. Aroma Ibuku juga sangat khas. Aku bahkan juga merindukan itu.
"Maaf, Sayang ..." Ucap Ibuku sambil mengusap pelan kepalaku.
"Kapan Ayah dan Ibu datang ke Tokyo?"
"Kemarin malam baru tiba kok." sahut Ibu.
"Eh, keponakan tante yang cantik udah datang ya ..." ucap bibi dengan senyum lebar. Aku melepas pelukan Ibu dan segera mendekati bibi.
__ADS_1
"Bibi apa kabar?" kataku lalu memeluk singkat bibiku. Saat di Sapporo keluarga paman Ishida sangat dekat sekali dengan keluargaku. Tidak seperti dengan paman-bibiku yang lain.
"Baik, Sayang. Kau datang sendirian? Dimana kekasihmu?" tanya Bibi sambil celingukan mencari seseorang.
"Dia akan datang nanti malam. Bukankah bibi mengundangnya untuk makan malam bersama?"
"Iya sih. Bibi penasaran sekali. Karena bibi belum pernah melihat dan bertemu langsung dengannya." kata Bibi tersenyum sambil mencubit pipiku pelan.
Memang benar. Keluarga Paman Ishida tidak mengenal Haku. Walaupun sama-sama pernah tinggal di Sapporo. Tapi daerah rumah kita berbeda. Bibi dan keluarganya tinggal di kawasan dekat perkotaannya.
"Dia sangat tampan, Ibu. Aku sudah melihatnya di social media!" celutuk Ayana dengan tawa kecil.
"Benarkah? Yuko, Jangan hanya melihat pria karena dia tampan saja! Banyak pria tampan yang suka bertingkah. Kau harus lebih berhati-hati! Pokoknya malam ini bibi dan pamanmu akan mengintrogasinya habis-habisan! Bibi nggak mau kamu salah pilih." ucap bibi panjang lebar.
"Haku anak yang baik kok." kata Ibuku dengan senyuman hangatnya.
"Baik saja tidak cukup! Kan harus menimbang bibit, bebet dan bobotnya terlebih dahulu. Kau harus mencari tau semua tentangnya sebelum menjadikannya menantumu, Matsuo!" ucap Bibi menceramahi ibuku.
Beginilah bibiku, dia memang sedikit cerewet. Tapi aku menyukainya.
"Itulah sebabnya kau menikah denganku, Sayang? Aku bahkan dulu hanya pegawai kontrak lho ..." ucap Pamanku yang baru datang.
Paman hanya tertawa kecil mendengar semua itu lalu dia mulai mendekatiku.
"Keponakan paman sudah besar ya. Padahal baru saja beberapa bulan tidak bertemu." ucap Pamanku sambil sedikit menunduk menatapku.
"Ahahaha ... Iya, Paman. Oh iya. Tadi Yuko bawa ini. Sampai lupa." aku memberikan bingkisan yang aku bawa tadi kepada bibiku. Aku membeli beberapa buah dan kue saat dalam perjalanan kesini tadi.
"Terima kasih, Sayang. Padahal tidak perlu repot-repot lho ..." kata bibiku.
"Tidak repot kok." kataku tersenyum menatap bibiku.
"Oya bagaimana kuliah di Todai? Apakah menyenangkan?"
"Iya, Bi. Sangat menyenangkan! Todai sangat keren! Kampusnya juga sangat megah dan besar. Aku merasa beruntung sekali bisa melanjutkan study di Todai!" kataku sangat bersemangat.
"Wah benarkah itu, Yuko?" tanya Ayana antusias.
__ADS_1
"Yeap. Benar sekali, Ayana!" sahutku menatap Ayana dengan senyum lebar. "Kalau Ayana kuliah dimana?"
"Aku belum mulai masuk kuliah tahun ini. Mungkin tahun depan saja. Apa aku coba daftar ke Todai saja ya?" guman Ayana.
"Iya! Sebaiknya kamu masuk ke Todai juga deh. Kamu kan juga sangat cerdas!"
Percakapan ringan terjadi beberapa saat untuk saling melepas kerinduan. Setelah itu aku membantu bibi dan Ibu untuk memasak. Ayana juga ikut membantu.
...***...
Semua orang mulai bersiap. Begitu juga denganku. Aku segera mandi dan berganti pakaian. Malam ini aku mengenakan Qipao berwarna putih dengan kombinasi bunga. Aku juga sedikit menggulung rambutku kali ini.
Setelah itu aku merias diri dengan dandanan tipis. Lalu aku bergabung dengan mereka sebentar di ruang tengah.
"Wah, keponakanku cantik sekali!" kata Bibiku menatapku dengan senyum lebar.
"Anak gadisku memang sudah cantik dari dulu seperti ibunya ..." sahut Ibuku dengan tawa kecilnya.
"Iya, Matsuo. Dia memang mirip sekali denganmu saat engkau masih muda." sahut Bibi.
"Dan Ayahmu ini langsung jatuh cinta pada Ibumu saat pandangan pertama, Yuko." celutuk Ayah ikut-ikutan.
Semua yang ada di ruang tengah kini tertawa bersama.
"Uhm ... Yuko akan menunggu Haku di depan ya ..." ucapku .
"Iya, Sayang." sahut Bibiku.
Setelah itu aku bergegas untuk ke ruang tamu. Aku menunggu Haku di ruang tamu. Sementara yang lainnya masih berada di ruang tengah. Tak beberapa lama mereka segera pindah ke ruang tamu.
Aku sudah sering melakukan makan malam bersama Haku sebelumnya. Tapi ini adalah pertama kalinya dia datang ke rumah keluargaku untuk makan malam bersama sebagai kekasihku.
Membayangkan semua itu membuat jantungku berdegup seperti drum. Dan aku merasa sedikit nervous saat ini. Jemariku saling menggenggam satu sama lain.
Ini sudah jam 6 Pm. Harusnya Haku sudah dalam perjalanan kesini. Bahkan seharusnya dia sudah hampir sampai. Aku terus memandangi pintu berharap dia segera datang.
Kini sudah jam 6.15 Pm. Dan Haku juga masih belum datang. Apakah telah terjadi sesuatu dengannya?
__ADS_1
Kini aku mencoba untuk menelpon Haku, tetapi ponselnya tidak aktif. Kemana ya Haku? Kenapa ponselnya tidak aktif?
"Kenapa ponselnya mati? Apakah dia baik-baik saja?" gumamku sendiri.