
(Rubby's Point Of View)
Aku masih mengantuk ketika mendengar suara pintu yang diketuk dengan keras.
Dengan segera aku beranjak dari atas ranjang, pergi mendekati pintu untuk membukanya dengan wajah yang masih mengantuk.
Aku melihat seorang wanita yang terlihat resah ketika melihatku.
Dia segera memintaku untuk mengikuti dirinya.
Wanita itu terlihat masih muda.
Kami kemudian pergi ke kamar yang berada di lantai atas.
Di dalam kamar tersebut, ada beberapa orang yang berdiri mengelilingi ranjang.
Entah apa yang dilakukan, aku sendiri juga merasa bingung.
Terlihat seorang wanita yang terbaring lemah di atas ranjang. Wanita itu tampak anggun, wajahnya masih dipoles make up meskipun dia hanya tidur di sana.
Mungkinkah wanita itu yang akan aku rawat?
Namun, wanita itu terlihat selalu di rawat.
"Tuan akan segera datang kemari."
Ketika mendengar itu, semua orang di sana berjalan keluar.
Aku masih berada di sana sendiri bersama wanita berusia kisaran 30 hingga 35 tahun yang terbaring di atas ranjang.
Aku mengamati wajah wanita itu. Ada rasa aneh yang datang menyapaku ketika sesuatu yang lama terkubur kembali menyapa pikiranku, aku teringat pada sesuatu yang masih buram.
Wanita yang mengetuk pintu kamarku tadi memanggilku dengan sebutan 'nyonya' dan memintaku untuk pergi meninggalkan wanita yang terbaring itu.
"Hai, aku Rubby."
"Saya Agatha. "
Agatha, nama wanita yang memasang wajah resah ketika mengetuk pintu kamarku.
Kami berjalan meninggalkan kamar itu. Berjalan melewati jalan yang berbeda dengan yang tadi.
"Siapa wanita tadi?" "Apa tugasku merawatnya?"
"Bukan, nyonya. Tugas anda adalah merawat orang lain."
"Siapa?"
Belum sempat Agatha menjawab, seorang pria datang dengan wajah tenang. Namun dari sorot matanya, dia terlihat cemas akan sesuatu.
"Agatha, dimana Damian?"
"Tuan Damian berada di kamarnya."
Pria itu mengangguk, segera berlari menaiki tangga. Mungkin dia akan memanggil pria yang dipanggil Damian.
Agatha memberikan senyuman hangat padaku, dia berpamitan untuk kembali ke kamarnya. Dan memintaku untuk kembali beristirahat.
Aku belum sempat menanyakan, kenapa dia resah ketika memanggilku.
__ADS_1
Aku berjalan mengelilingi area luar rumah.
Ketika aku berada di taman, ada seorang laki-laki dengan perban yang melingkar di kepalanya. Laki-laki tersebut duduk diatas kursi roda. Dia berwajah datar tanpa berekspresi. Dia seperti terurus dengan baik.
Namun, aku merasa lucu melihatnya. Entah kenapa, sepertinya laki-laki itu manis.
Jaden Arshon juga berada di sana, bersama laki-laki itu. Selain Jaden Arshon, aku juga melihat dua pria lain. Mereka seolah sedang membujuk laki-laki yang duduk di kursi roda.
Aku segera berjalan pergi karena tidak ingin mencampuri urusan mereka.
Sebenarnya, aku sendiri ingin menemui Jaden Arshon.
"Apakah aku mengenal wanita tadi?" Aku bergumam sambil berjalan.
Aku kembali ke dalam rumah yang besar itu.
Namun ketika aku akan masuk ke kamar, terdengar suara Jaden Arshon yang memanggilku. Aku berhenti di depan pintu kamar, menengok pada Jaden Arshon yang berjalan ke arahku.
Dia datang dan memintaku untuk mengikutinya.
Kami pergi ke taman, dia menunjuk laki-laki yang duduk di kursi roda. Laki-laki tadi, laki-laki yang membuatku merasa bahwa ada sesuatu di dalam hatiku.
Kami mendekati laki-laki itu.
"Ini tuan R… Masson R. Nizcholn. "
Aku membungkukkan tubuhku ke arah tuan Nizcholn.
Kemudian memperkenalkan diri padanya.
"Nona, anda akan merawat Tuan Nizcholn. Jika ada yang diperlukan, anda bisa menghubungi saya atau siapapun di mansion ini."
Aku berdiri di samping laki-laki itu, tidak tahu harus berbicara apa. Karena ketika aku mengucapkan sesuatu, dia masih diam.
"Matahari mulai terik, apakah anda mau kembali ke dalam?"
Dia tidak menjawab. Laki-laki itu masih menatap lurus ke depan seolah tidak ada siapapun di sekitarnya.
Aku masih berusaha agar dia mau buka suara. Tapi dia yang tadinya manis, mendadak jadi menyebalkan.
Aku berlutut di dekatnya, masih berbicara pada tuan Nizcholn meskipun dia tidak menjawab setiap perkataanku.
Seorang pria mendekati kami dan mengajakku untuk berbicara.
"Permisi." "Ini sudah pukul delapan, saatnya tuan menyantap sarapannya. "
Aku mengangguk kemudian aku dan pria tadi membawa tuan Nizcholn untuk kembali ke dalam rumah, ke ruang makan yang di atas mejanya telah tersaji berbagai hidangan.
Jaden Arshon dan beberapa orang lain yang telah ada di sana berdiri dari duduknya.
"Ini merupakan menu sarapan tuan hari ini. Kami mohon permisi, dan tolong ketika tuan sedang istirahat di siang hari anda temui saya di ruang baca."
Mereka membungkuk ke arah kami, ke arah aku dan tuan Nizcholn sebelum pergi.
Ruang makan menjadi sepi, hanya aku dan tuan Nizcholn di sana.
Aku mendorong kursi roda tuan Nizcholn mendekat ke arah meja, kemudian mengambil semangkuk sup ayam sebelum menyuapkan sesendok sup pada tuan Nizcholn.
Namun, aku tidak tahu. Apakah dia memang sulit jika diminta untuk makan atau karena dia tidak menyukaiku yang bekerja padanya.
__ADS_1
Dia, laki-laki itu menutup mulutnya dengan rapat. Menolak untuk memakan sarapannya. Pandangannya pun masih sama, kosong dan terfokus lurus ke depan.
Aku diam sebentar, berpikir keras tentang bagaimana caranya agar tuan Nizcholn mau makan.
Aku mencoba cara yang paling sering aku gunakan ketika saudariku sakit dan menolak untuk makan.
Aku menarik napas dalam, membuka mulutku membentuk huruf A. Dan itu tidak berhasil.
Aku yang sejak tadi berlutut di hadapan tuan Nizcholn merasa pegal di kakiku.
"Bagaimana jika kita melakukan tanya jawab."
Aku mengangguk anggukkan kepalaku.
"Apa sebutan untuk abjad pertama? Sebelum huruf B?"
Aku lagi-lagi membuka mulutku membentuk huruf A. Dan hasilnya sama, tidak berhasil.
"Bagaimana agar anda mau menyantap sarapan anda?"
Aku menghela napas, terbesit sebuah ide. Namun bagiku itu terlalu nekat.
"Permisi, maafkan aku atas tindakanku yang kurang ajar ini." Ucapku sembari menempelkan sesendok sup pada bibir tuan Nizcholn.
Bibir itu membuatku gemas, tidak mau terbuka sama sekali.
Seorang pelayan kemudian masuk ke ruang makan, dia terlihat iba padaku. Entah apa sebabnya dia memasang ekspresi wajah seperti itu.
Dia memberitahuku jika ini adalah waktunya tuan Nizcholn untuk pergi jalan-jalan di sekitar rumah.
Ketika aku mengatakan jika tuan Nizcholn belum menyantap sarapannya, wanita itu hanya menyunggingkan senyum sembari mengangguk dan memintaku untuk membawa tuan Nizcholn pergi jalan-jalan.
Setelah memberitahuku tentang itu, wanita paruh baya tersebut berpamitan pergi.
Aku mendorong kursi roda milik tuan Nizcholn.
Membawanya berkeliling di sekitar rumah, sesekali kami singgah untuk menikmati hangatnya sinar matahari di musim panas ini.
Kami menghabiskan waktu dengan hal ini. Aku diam sambil mendorong kursi roda, tuan Nizcholn juga masih diam seperti sebelumnya.
Sesekali aku mengajak dia berbicara, membahas hal-hal yang tiba-tiba muncul di pikiranku.
Waktu untuk istirahat siang Tuan Nizcholn tiba. Aku membawanya masuk ke dalam, menanyakan kamar tuan Nizcholn padanya. Namun, karena dia masih diam aku bertanya pada salah satu pelayan yang sedang membersihkan pajangan di atas meja.
Baiklah, ternyata kamar kami berseberangan. Dan mungkin itu di sengaja agar aku bisa selalu siap ketika dipanggil.
Aku segera membawa tuan Nizcholn ke kamarnya. Aku membantunya berpindah dari atas kursi roda, memindahkan laki-laki tersebut ke atas ranjang.
Jangan tanya, apakah itu berjalan dengan mudah. Ibaratkan saja dengan tiga banding satu. Tentu saja aku berusaha dan berhati-hati.
Aku menutupi kaki tuan Nizcholn dengan selimut.
"Selamat istirahat."
Pintu ruangan diketuk, Agatha memberitahu bahwa Jaden Arshon menungguku di ruang baca. Aku ingat, tadi Jaden Arshon sudah bilang jika aku harus menemuinya.
Aku berpamitan pada tuan Nizcholn, kemudian aku pergi bersama Agatha.
Ketika aku berjalan menuju ruang baca, semuanya terasa agak aneh bagiku. Sedikit menyeramkan dan entahlah.
__ADS_1
><><><><><