My Little Prince

My Little Prince
Dibalik Sebuah Gunung Es yang Dingin


__ADS_3

"Yuko, menurutmu ... Apakah aku harus membuka lembaran baru?" tanya Sora sambil merebahkan tubuhnya di atas ranjangku.


"Tentu saja!" jawabku bersemangat dan merubah posisiku, yang tadinya berbaring kini tengkurap. "Kau juga pasti akan segera menemukan kebahagiaanmu kok." hiburku kepada Sora.


"Hhm. Tapi aku belum menemukannya ..." sahut Sora dengan tawa kecil.


"Tenang saja. Dia pasti akan segera menemukanmu." hiburku lagi. "Bagaimana rencanamu selanjutnya? Apa kau jadi untuk kerja part time?"


"Tentu saja! Besok pulang kuliah aku akan mencari pekerjaan."


"Semangat ya, Sora!"


"Thanks, Yuko."


"Hhm ... Ngomong-ngomong kenapa kak Ave bisa melakukan semua itu ya?" tanyaku sedikit bingung. "Kau tau sendiri kan, Kak Ave itu untouchable. Dia paling anti melakukan kontak fisik dengan lawan jenis. Tapi dia sepertinya biasa saja saat kau menyentuhnya. Saat kau meriasnya malam itu pun dia juga biasa saja. Dan lagi ... kemarin dia malah menciummu begitu saja ..."


"Please, Yuko! Jangan bahas dia! Aku masih sangat kesal padanya ..." ucapnya dengan wajah memelas.


"Tapi Sora, ini sangat aneh. Apa jangan-jangan dia menyukaimu?" tebakku menatap Sora dengan serius. Dan Sora juga menatapku dengan bingung, lalu dia mengganti posisinya dan terngkurap disebelahku.


"Kak Ave menyukaiku?" ucapnya tak percaya. "Itu tidak mungkin, Yuko! Pria seperti dia hanyalah menganggapku sebagai junior bahkan anak anjingnya." sahutnya dengan ekspresi kesal.


"Hhm. Menurutku tidak seperti itu deh, Sora. Sebenarnya saat malam itu ... Saat malam perayaan penerimaan mahasiswa baru. Saat itu aku rasa dia tidak sepenuhnya marah padamu saat kalian membuat perjanjian."


"Maksudmu, Yuko?"


"Aku sempat melihat ekpresi dia menahan tawa saat kau tidak menatapnya malam itu." kataku hati-hati.


"Hah?" Sora mengerutkan keningnya dan menatapku tak percaya. Dan aku hanya menganggukkan kepalaku.


"Jadi selama ini dia hanya mempermainkanku ya! Padahal aku benar-benar ketakutan sudah merusak coat itu. Tapi dia malah menindasku dengan alasan itu! Sungguh menyebalkan!"


Tiba-tiba saja ponsel Sora berdering dan dia segera meraihnya. Matanya membulat menatap ponselnya. Karena penasaran aku sedikit mendekat padanya untuk melihat siapa yang sedang menghubunginya.


Pangeran Ave yang Dingin


Terpampang dengan jelas nama itu di layar ponsel Sora.


"Aku tidak mau angkat!" kata Sora kesal.


Beberapa saat panggilan itu berakhir, dan tak lama kemudian ponselnya kembali berdering. Ternyata Kak Ave masih mencoba untuk menghubunginya.


"Bagaimana ini, Yuko?" tanya Sora kebingungan.


"Angkat saja! Siapa tau ada yang sangat penting." sahutku.


Dengan terpaksa akhirnya Sora menjawab panggilan itu.


"Halo ..." sahutnya malas. Aku mendekatkan diriku kepada Sora untuk mendengar pembicaraan mereka.


"Turunlah. Aku di luar!" kata Ave dari seberang.


"Aku sedang tidak di rumah!" sahut Sora ketus.


"Aku tau. Aku sedang di luar kontrakan Yuko."

__ADS_1


"Apa?" tanya Sora sedikit terkejut mendengar ucapan kak Ave.


"Jadi turunlah! Ada yang ingin aku sampaikan."


"Bagaimana jika aku tidak mau?"


"Kalau kau tidak mau turun maka aku yang akan kesana!"


"Oh. Ok Ok. Aku akan turun!"


"Pilihan yang bagus!"


Setelah itu Sora mematikan ponselnya dan segera bersiap untuk turun.


"Mau aku temani?"


"Boleh!"


Setelah itu akhirnya aku mengantar Sora untuk turun ke bawah. Namun aku menunggu tak jauh dari mereka.


"Sora. Aku kesini untuk melihatmu dan aku ... Ingin meminta maaf padamu." ucap Kak Ave dengan nada rendah. Tidak seperti biasanya deh.


"Tidak usah membahas itu lagi kak! Anggap saja hal itu tak pernah terjadi." ucap Sora sedikit menunduk. "Mulai besok aku akan mencari pekerjaan part time. Dan aku akan menyicilnya setiap bulan semua hutangku, Kak."


"Sudah aku bilang aku tidak butuh uangmu! Jadi jangan mencari pekerjaan!" kata kak Ave mulai meninggikan suaranya kembali.


"Lalu bagaimana lagi aku harus membayarnya, Kak?"


"Aku tidak menginginkan kau untuk menggantinya." ucap Kak Ave pelan. "Aku ..."


Di saat Sora mulai mundur beberapa langkah, kak Ave menghentikkan tangannya dan mengurungkan niatnya.


Dia mengambil nafas dan membuangnya dengan kasar.


"Sora. Apa kau takut padaku?"


"I-Iya ..." jawab Sora pelan dan hati-hati.


"Apa aku begitu menakutkan untukmu?"


"I-Iya ..."


"Apa yang membuatmu takut, Sora?"


"Semuanya ..."


"Semuanya?"


"Ya, Bahkan mata kakak yang seperti ini sangat membuatku takut!"


Kak Ave terlihat sedikit kesal dan mengeraskan rahangnya.


"Mataku memang sudah seperti ini dari lahir!" sahutnya datar.


"Kakak juga menyiksa burung malang itu!"

__ADS_1


"Kau salah sangka, Sora! Aku menemukan burung itu sudah terluka. Jadi aku membawanya dan mengobatinya."


"Kakak bahkan memalak seorang mahasiswa!"


"Itu kan memang milikku! Aku nitip karena malas pergi ke kantin!"


"Tapi aku juga melihat kakak berkelahi dan menghajar seorang mahasiswa."


"Dia sudah menindas anak angkatan baru. Jadi aku memberinya pelajaran. Kalau kau tidak percaya, kau bisa menemuinya dan mencari tau sendiri. Namanya Keiji, anak fakultas Agriculture."


"Dan barusan kenapa kakak mengepalkan tangan dan seperti ... Mau memukulku?" ucap Sora pelan dan hati-hati.


Kak Ave menunduk dan melihat kedua tangannya yang masih mengepal.


"Sebenarnya aku sempat mengalami kecelakaan kecil kemarin dan tanganku baru lepas dari gips." kata kak Ave dengan intonasi yang sangat rendah dan masih melihat tangannya sendiri.


Sora hanya memperhatikannya dengan ekspresi masih waspada.


"Sebaiknya kakak pulang saja. Bukannya kakak bilang telah mengalami kecelakaan kecil kemarin. Seharusnya kakak memulihkan diri dulu!"


Mendengar ucapan Sora kak Ave sedikit tersenyum. Aneh. Selama ini dia selalu bersikap dingin sekali. Bahkan hanya tersenyum saja rasanya sangat jarang sekali terlihat di wajahnya.


"Terima kasih ..." ucap Kak Ave pelan dan kali ini suaranya terdengar sedikit lembut. Apa dia benar kak Ave? Dia sangat berbeda sekali malam ini.


"Untuk apa?" tanya Sora kebingungan.


"Karena sudah mengkhawatirkanku."


"Aku hanya tidak mau menjadi penyebab memburuknya kondisi kakak."


"Sora ..." kali ini kak Ave mengangkat tangan kanannya lagi yang masih sedikit mengepal. Perlahan tangan itu mendekati wajah Sora, dan Sora hanya menyaksikannya sedikit waspada.


Pluuukk ...


Tangan besar itu menepuk dan mengelus kepala Sora membuat Sora sedikit menundukkan kepalanya.


"Jangan takut lagi padaku ..."


"Tapi mata kakak ini menakutkan."


"Sudah aku bilang mataku sudah begini dari dulu. Apa aku harus operasi mata?"


"Eh, Bukan seperti itu maksudku, Kak! Setidaknya kalau kakak sedikit saja bisa tersenyum. Maka aura kakak akan sedikit berubah!"


"Tersenyum? Aku masih sering tersenyum kok ..."


"Tidak! Senyuman tulus itu sangat berbeda dengan senyuman yang sering kakak perlihatkan."


"Ah, harus bagaimana lagi sih? Intinya kan semua hal buruk yang kau pikirkan tentangku itu semua adalah salah." kata Kak Ave mulai kesal.


"Ya setidaknya jangan membuat orang salah berasumsi donk, Kak. Kalau kakak terus seperti itu maka semua orang akan takut kepada kakak."


"Aku tidak peduli dengan pandangan orang lain."


"Lalu kenapa kakak peduli saat aku takut kepada kakak?" ucapan Sora kini membuat kak Ave terdiam beberapa saat.

__ADS_1


Seketika mereka berdua saling terdiam dan hanya melakukan kontak mata untuk beberapa saat.


__ADS_2