
"Jangan pernah berfikiran yang macam-macam ... Karena aku tidak seperti itu ... Cukup percaya saja padaku! Okay?" ucap Haku dengan senyuman yang begitu manis.
Seketika suasana hatiku kini berubah menjadi lebih tenang dan damai. Dan aku hanya tersenyum dan mengangguk pelan.
Tiba-tiba tedengar kembali dering ponsel Haku yang memecah kehangatan saat ini. Haku segera meraih benda pipih yang tergeletak di atas meja itu. Dia melihat nama si pemanggil, lalu meletakkan kempali benda pipih itu di atas meja.
Aku sempat melihat nama si pemanggil yang ternyata adalah Anzu.
"Kenapa tidak diangkat?" tanyaku sangat ingin tau. Jujur saja, meskipun aku sangat mempercayai Haku namun aku sangat khawatir soal Anzu. Gadis itu terlihat begitu menyukai Haku. Bahkan dia sampai banyak memahami tentang Haku.
"Ini bukan jam kerja lagi. Saatnya aku beristirahat ..." Haku menyauti dengan suara yang begitu santai dan lembut.
"Tadi dia sudah berusaha untuk menelponmu. Dan ini dia mencoba menghubungimu lagi. Mungkinkah ada sesuatu yang sangat penting, Haku?" ucapku sangat penasaran.
"Entahlah. Aku tidak tau soal itu. Sudah ... Biarkan saja!"
Belum sempat aku menjawab ucapan Haku, kini ponsel Haku kembali berdering kembali. Dan ternyata Anzu lagi yang berusaha menghubunginya.
"Angkat saja. Takutnya ada sesuatu yang sangat penting." ucapku akhirnya walaupun sangat berat untuk mengatakannya.
"Baiklah. Aku akan mengangkatnya sebentar." sahut Haku lalu menerima panggilan itu dan menempelkan benda pipih itu pada telinganya.
"Ya, Anzu ... Ada apa?" sapa Haku masih dengan ramah.
Aku hanya duduk di sebelahnya dan memperhatikan Haku saat dia sedang menerima panggilan itu. Sebenarnya dadaku sedikit berdesir saat ini, dan rasanya sedikit sakit.
"Maaf Anzu, tapi aku tidak bisa ikut. Aku harus menjaga tunanganku saat ini. Yuko sedang sakit." ucap Haku lalu meraih jemariku. Seperti dia sedang memahami apa yang aku rasakan saat ini. Aku hanya tersenyum samar menatapnya.
"Akhir pekan? Baiklah, aku akan mengusahakan untuk ikut bersama kalian. Baiklah, kalau begitu selamat malam!" setelah itu Haku segera mengakhiri panggilan itu.
Apa itu? Akhir pekan depan mereka akan pergi bersama? Oh ... Apa lagi ini?! Haku kenapa dengan mudah menerima ajakan dari Anzu?! Jelas-jelas dia tau jika Anzu menyukainya.
"Ada apa dia menghubungi selarut ini?" tanyaku sedikit murung.
Jemari Haku yang masih bertaut pada jemariku kini diangkatnya dan dia mengecupnya dengan hangat. Aku merasakan sentuhan bibirnya yang hangat dan lembut mencapai punggung telapak tanganku.
Lalu perlahan dia menurunkannya kembali dan tersenyum manis padaku.
__ADS_1
"Mereka sedang minum bersama, dan mereka berusaha mengundangku." jawab Haku dengan santai. "Dan aku menolaknya kok ... Karena aku mau menjagamu malam ini."
"Hhm ... Iya. Lagian besok pagi kan kamu juga masih harus bekerja bukan? Lebih baik kalau ada waktu gunakan untuk beristirahat saja, Haku. Agar kamu tidak drop lagi."
"Iya, Yuko ..." sahutnya dengan senyum manis menatapku.
"Lalu ... Apa akhir pekan Anzu juga akan mengajakmu pergi?" tanyaku dengan mengkerutkan keningku menatap Haku.
"Ehm ... Iya. Dia mengajak nonton dan makan bersama."
"Dan kau menerima ajakannya?" tanyaku sedikit tak percaya.
"Aku belum menerimanya, Yuko. Tapi jika aku menerima ajakannya, maka aku akan mengajakmu kok." sahut Haku dengan mengelus lembut rambutku.
"Oh ... Iya ..." sahutku sedikit bingung. Aku memang percaya sepenuhnya kepadamu, Haku. Tapi, tentu saja aku juga khawatir saat mengetahui ada seorang gadis yang menyukaimu. Terlebih kalian selalu bersama hampir setiap hari.
"Kamu benar-benar sudah merasa lebih baik?" kini Haku menyentuh keninggku dengan telapak tangannya. Seketika mataku sedikit melebar menatapnya, merasa canggung kembali.
"Syukurlah. Tidak demam seperti tadi pagi lagi." ucapnya tersenyum lega.
"Huum ... Iya ..." ucapku lalu segera mengalihkan pandangan berpura-pura untuk menonton acara TV.
"Aku sangat mempercayaimu kok ..."
"Benarkah itu?"
"Tentu saja benar!"
Tring ...
Tiba-tiba terdengar bunyi sebuah bunyi notifikasi yang berasal dari ponselku. Dan Haku segera meraih ponselku yang juga tergeletak begitu saja di atas meja.
Haku mulai mengusap layar ponselku dan ekspresinya kini menjadi sedikit berubah.
"Ada apa?" tanyaku sangat penasaran.
"Siapa Ran?" tanya Haku tiba-tiba.
__ADS_1
"Ran?" aku berusaha mengingat siapa Ran itu. Siapa ya? Aku lupa ...
"Aku tidak ingat, Haku. Memang dia mengirim pesan apa?"
Haku segera menyodorkan ponselku dengan wajah yang sedikit tak bisa digambarkan. Antara murung dan sedikit kesal. Dengan segera aku melihat pesan dari seseorang yang bernama Ran itu karena sedikit penasara.
📱Yuko! Ini aku Ran! Aku mendapatkan nomormu dari Jessica. Besok bisakah kita bertemu setelah kuliah? Aku ingin memberikan sesuatu yang aku pinjam kemarin saat di Disney Sea. Tadi aku menunggumu, tapi ternyata kau tidak berangkat kuliah. Kata Sora kau sedang sakit. Get well soon ya. Semangat ... Ran.
Oh ...Ternyata Ran yang itu. Aku hampir saja lupa. Padahal kita satu fakultas.
"Siapa dia, Yuko? Dia seorang pria bukan?" tanya Haku lagi.
"Oh, Iya. Kita satu fakultas. Dan saat di Disney Sea dia meminjam earphone-ku, Haku."
"Kenapa nggak nitip sama Jessica saja kalau mau mengembalikannya. Kenapa malah mengajak bertemu?"
"Entahlah. Aku juga tidak tau ..."
"Padahal satu fakultas. Bukankah kalian seharusnya bertemu hampir setiap hari. Kenapa harus bertemu di luar jam kuliah?"
"A-Aku tidak tau, Haku. Aku juga baru saja mengenal Ran. Saat di Disney Sea itu aku baru mengenalnya. Dan kita berkeliling bersama Jessica juga."
"Dia tidak menyukaimu kan, Yuko?" kali ini Haku memicingkan matanya menatapku dan membuatku tertawa kecil. Namun aku tau ekspresinya saat ini sedang dalam keadaan hati tidak senang.
"Tentu saja tidak! Aku dan Ran hanya teman satu fakultas yang baru saja kenal! Dan dia lebih akrab dengan Jessica kok. Dan sepertinya dia jarang kuliah pagi kok. Karena aku jarang melihatnya saat kuliah pagi." jelasku.
"Awas saja kalau dia berani mendekatimu ya ..."
"Haa? Tidak akan kok ..." sahutku dengan tertawa renyah.
"Karena kau hanya milikku!" perlahan Haku mulai mendekatiku dan melayangkan begitu saja kecupannya pada bibirku.
Semua itu terjadi begitu cepat dan singkat. Namun aku tak bisa menutupi kegugupanku saat ini.
"Jangan pernah sebut nama pria lain di hadapanku!" ucapnya ketika kecupan singkat itu berhenti. Suaranya yang sedikit berat namun jernih membuat jantungku kembali berdebar seperti drum.
Apakah dia begitu cemburu dengan Ran? Padahal kita tak hubungan apa-apa selain teman satu fakultas.
__ADS_1
Aku tidak tau harus berkata apa, aku hanya terdiam menatap manik-manik indah di hadapanku yang hanya berjarak beberapa inchi saja.
Perlahan Haku kembali mengecup bibirku dengan begitu lembut.