
Hari ini adalah hari Kamis. Tidak berbeda dengan hari lainnya. Sama seperti biasanya. Setiap pagi aku selalu disibukkan dengan kuliah di Todai. Hampir setiap hari aku berangkat bersama Jessica dan Ken, karena mereka juga lebih sering mengambil kuliah pagi.
"Sora. Pulang kuliah kau mau kemana? Aku bosan nih sendirian di kos terus ..." kataku sebelum dosen memasuki kelas.
"Aku sudah ada job nih, Yuko. Maaf ..." katanya dengan raut wajah meminta maaf padaku.
"Kamu bekerja sambilan, Sora?" tanyaku sedikit keheranan.
"Bukan. Tapi kak Ave memintaku menemaninya pergi ke toko sport."
"Wah, kalian jadi sering bersama ya. Sudah seperti pasangan kekasih saja!" aku sedikit tertawa, tapi Sora malah cemberut saja.
"Pasangan kekasih apaan! Aku cuma dijadiin kacung sama dia tau. Nemenin dia, bawa belanjaan dia, pokoknya selalu mengekor seperti anak anjingnya saja!" Sora mendengus kesal.
Aku yang mendengar ucapan Sora sedikit terkekeh. Lucu sekali membayangkannya. Tapi kasihan juga Sora.
Beberapa saat seseorang mulai memasuki kelas. Kak Zen? Apa yang dia lakukan disini? Masa dia mengulang mata kuliah? Atau jangan-jangan ...
"Selamat pagi ..." ucap kak Zen ramah sambil memandangi seluruh mahasiswa yang berada di ruangan ini.
"Pagi ..." balas kita serempak.
"Karena dosen kalian sedang berhalangan hadir. Maka hari ini saya yang akan menggantikan beliau." kata kak Zen ramah dengan senyuman khasnya.
__ADS_1
"Jadi ini asisten dosennya? Keren ya. Dan juga masih muda!" bisik seorang mahasiswi.
"Kau belum pernah melihat kakak ini sebelumnya ya? Sebenarnya dia adalah senior kita. Tapi merangkap menjadi asisten dosen. Dia sedang mengambil Fakultas Sastra semester 5." bisik siswi yang lainnya lagi.
"Oh begitu. Aku pernah melihatnya sih. Dia sangat menonjol juga. Hihi ... Dan dia juga sangat dekat dengan kakak yang dingin itu."
"Siapa?"
"Kakak senior fakultas sastra yang selalu dingin itu. Yang sedikit kebulean itu loh!"
"Kak Ave?"
"Iya. Mereka sangat keren ya!"
"Hihi, Benar. Tapi kak Zen ramah kok. Cuma aku dengar dia masih menutup diri. Belum bisa move on dari cinta pertamanya."
"Sayang sekali. Padahal dia tampan dan baik. Gadis manapun pasti akan menyukainya."
Aku masih bisa mendengar percakapan pelan para mahasiswi itu karena mereka duduk di belakangku.
"Apa sudah bisa kita mulai kelas hari ini?" tanya kak Zen ramah.
"Sudah bisa, Kak!" sahut mereka kompak.
__ADS_1
Akhirnya kak Zen memulainya. Dia terlihat sangat cerdas dan cekatan. Penjelasan yang dia berikan lebih mudah diterima dan dipahami menurutku.
"Kak Asisten Dosen!" seseorang mengangkat salah satu tangannya.
"Ya ..." sahut kak Zen ramah.
"Cabang-cabang linguistik kan ada banyak kak." kata mahasiswa tadi.
"Ya. Benar sekali." sahut Kak Zen.
"Bisa jelaskan apa saja itu kak?"
"Nanti kita akan membahasnya satu persatu." kata Kak Zen lalu berjalan beberapa langkah ke depan. Aku juga mendengarkan dan menatap penjelasan kak Zen dengan seksama.
"Ada dua cabang linguistik. Yang pertama adalah Mikrolinguistik. Dan yang kedua adalah Makrolinguistik. Setiap cabang tersebut juga memiliki bidang. Dan hari ini kita akan memulai dengan cabang Makrolinguistik. Cabang ini memiliki bidang interdisipliner yang mencangkup fonetik, Stilistika, Filsafat Bahasa, Psikolinguistik, Sosiolinguistik, Etnolinguistik, Filologi, Semiotika, Epigrafi dan Revitalisasi Bahasa. Sedangkan bidang terapannya adalah Pengajaran Bahasa, Penerjemahan, Leksikografi, Fonetik terapan, Sosiolinguistik Terapan, Pembinaan Bahasa, Linguistik Forrensik, Linguistik Medis, Grafologi, dan Mekanolinguistik." kak Zen kini sudah berada di sampingku.
"Sedangkan cabang Mikrolinguistik memiliki bidang Teoretis. Bidang ini juga memiliki beberapa bagian seperti umum yang mencangkup Teori Linguistik, Linguistik Deskriptif, dan Linguistik Historis Komparatif. Sedangkan untuk bidang bahasa tertentu mencangkup Linguistik Deskriptif dan Linguistik Historis."
Kini kak Zen sudah mulai berjalan ke depan kembali.
"Bagaimana? Apa penjelasan kakak membingungkan?" tanya Kak Zen ramah dengan senyuman khasnya.
"Penjelasan kakak keren sekali! Sekeren orangnya!" celutuk seorang mahasiswi.
__ADS_1
"Huu ..." mereka menyoraki mahasiswi tadi serentak.