My Little Prince

My Little Prince
CHAPTER 3 : I Don't Want To


__ADS_3

Pembaruan kontrak dan perpindahan kami ke rumahku sendiri juga berpengaruh pada agendaku yang menjadi patokan Rubby dalam bekerja.


Banyak hal dan kegiatan yang dicoret dari dalam agenda. Pengurangan tugas itu bukan tanpa alasan. Kondisi kesehatanku sudah mulai membaik, sehingga Rubby tidak perlu terlalu banyak membantuku dalam melaksanakan beberapa hal. Dia hanya perlu membantuku untuk tugas-tugas yang penting.


Sore ini semuanya berjalan lancar dan sesuai. Namun, beberapa hal tidak berjalan dengan baik.


Rubby tampak murung sendirian di pinggiran kolam.


Beberapa hari ini dia kurang fokus pada pekerjaan yang dia lakukan.


Tidak lama kemudian, Agatha datang kesana. Keduanya saling berbincang, entah apa yang mereka bicarakan. Agatha juga ikut murung bersama Rubby.


Mereka seolah sedang merencanakan sesuatu. Aku menghela napas, membiarkan apapun yang dilakukan oleh mereka.


Jaden Arshon beranjak dari tempatnya duduk. Dia berjalan ke arahku kemudian menunjukkan selembar kertas padaku.


"Tuan, ada beberapa hal yang harus dilakukan. Sehingga pembaruan kontrak diharuskan untuk nona Rubby. Apakah anda menyetujuinya?"


"Atur saja yang terbaik." Aku mengedikkan bahu, membiarkan mereka melakukan tugasnya.


Aku beranjak dari kursi roda, membuat semua yang berada di ruangan itu segera mendekatiku.


"Santai saja. Aku sudah bisa bergerak beberapa langkah."


"Damian bilang jika anda tidak boleh terlalu lelah." Ucap Laurent yang sudah bersiap tidak jauh dariku kalau-kalau aku jatuh.


Aku hanya mengangguk sambil terus berjalan menjauhi jendela.


"Jaden, jangan terlalu keras padanya. Dia punya hati yang lembut, jika kau terlalu keras itu bisa membuatnya merasa tidak nyaman."


Aku berjalan menuju rak buku yang terletak tidak jauh dari tempatku tadi.


Mencari buku yang hendak aku baca.


Mengalihkan perhatianku dari yang lain dengan membaca.


Aku tidak mau tahu perihal apapun untuk hari ini, aku hanya akan menghabiskan waktuku sendirian tanpa mengurus hal lain.


Jika dipikirkan, aku sebenarnya masih bingung dengan sesuatu.


Kenapa aku sangat peduli pada Ruby.


Dan kenapa ada perasaan ingin melindungi gadis itu.


Sejak awal, Jaden Arshon mengatakan jika dia tidak menelusuri latar belakang Rubby.


Dia hanya mencari seseorang yang akan bekerja bersamaku melalui rekannya.


Pada akhirnya Rubby adalah pilihan rekan Jaden Arshon. Dan sangat direkomendasikan olehnya.


Rekomendasi dari rekan Jaden Arshon juga tidak keliru. Gadis yang lugu itu selalu siap membantu dan selalu tampil ceria.

__ADS_1


Dia sangat manis, namun dia selalu menyembunyikan tangis.


Entah apapun itu, aku tidak pernah berpikir lebih jauh lagi. Karena masih ada banyak tanggungan yang harus aku selesaikan.


"Di mana Damian?" Aku mengarahkan pandanganku pada Laurent yang menanyakan keberadaan Damian pada Dave.


Pria bernama Dave itu mengedikkan bahu.


"Tadi dia bersama rekannya, membahas apalah itu."


Aku kembali membaca, meski samar-samar terdengar obrolan mereka.


Semakin aku membaca, aku merasa sedikit jenuh.Aku menatap tulisan dalam buku tersebut, kembali larut dalam pikiranku.


Jika bukan karena insiden itu, aku tidak akan bisa bertemu dengan gadis yang unik dan misterius tersebut.


Tapi, siapa sebenarnya gadis itu. Haruskah aku menelusuri latar belakang Rubby hingga ke akarnya?


><><><><><


Hari ini, tidak sama seperti hari-hari sebelumnya. Semuanya menjadi sunyi.


Sejak awal kami berada disini, Rubby hanya melamun. Dia menjadi sosok yang bungkam ketika menemaniku untuk berjemur di bawah sinar matahari.


Dia yang biasanya selalu berusaha untuk mengajakku bicara, kali ini kami saling diam.


Dia terlihat kecewa berat pada sesuatu. Raut wajahnya seolah mewakili perasaannya. Dia seperti baru saja dibohongi dan telah dikhianati oleh seseorang.


Mungkin ini ada kaitannya dengan kontrak baru yang diberikan oleh Jaden Arshon. Sepertinya dia keberatan dengan isi dari kontrak yang telah dibuat oleh Jaden Arshon. Apa yang mereka perbarui sampai-sampai Rubby memikirkannya ketika sedang bertugas?


Karena pada dasarnya, aku memang tidak suka pada aturan dan sesuatu yang memaksa orang lain.


"Mungkin kamu tidak mau berbicara dengan diriku. Tapi, kali ini aku ingin memaksamu untuk bicara."


Gadis itu angkat suara setelah lama menciptakan kesunyian di antara kami.


Dia beranjak dari tempat duduknya kemudian berlutut di hadapanku.


Dia mengungkapkan isi hatinya yang telah membuatnya terganggu.


Dia menarik tanganku, menggenggamnya dengan erat.


Rubby menunduk, terpancar dari matanya perasaan yang tidak sabar dan tidak mau menyerah.


Jika diperhatikan dari nada bicaranya, dia menaruh sebuah harapan padaku.


"Bisakah kamu merubah kontraknya? Kamu bisa, aku tahu itu." Ucapnya agak berbisik.


Dia melanjutkan kalimatnya dengan nada yang bergetar.


Rubby semakin menunduk hingga dahinya bersentuhan dengan jari-jemariku.

__ADS_1


Dengan lembut aku mengusap puncak kepala Rubby.


Aku tersenyum ke arahnya, pada akhirnya gadis itu bisa membagi perasaannya pada orang lain.


Dengan mata yang berkaca-kaca, dia mendongak dan menatapku tidak percaya.


Air mata pilu yang semakin membuatku merasa semakin iba dan membuatku ingin menghapus air mata itu.


Dia melepaskan tanganku yang digenggamnya sejak tadi.


Terdiam dan tidak memberi respon apapun selain sebuah tatapan aneh untukku.


"Maaf." Aku semakin tersenyum kepada gadis dengan air mata yang menggenang di pipi tersebut.


"Aku tidak bermaksud untuk menyusahkanmu."


Gadis itu terdiam, seolah tidak percaya pada apa yang sedang dia lihat.


"Rubby."


Aku memanggilnya sekali lagi untuk memecahkan keheningan diantara kami.


Aku tersenyum pada gadis itu.


"Apa kamu benar-benar bicara padaku?"


Rubby mengusap air matanya dengan kasar sembari bicara. Dia terlihat kesal padaku.


"Kenapa kamu baru bisa diajak bicara sekarang?"


Gadis itu agak merengek. Dia semakin menunjukkan perasaan kesalnya.


"Bisa bawa aku kedalam?" Rubby mengangguk pelan.


Gadis muda itu benar-benar membuatku khawatir.


Aku memintanya untuk pergi kembali ke kamarnya dan beristirahat. Dengan tatapan kosong gadis itu pergi ke kamar.


Aku akan membiarkan saja dia untuk menenangkan diri.


Selanjutnya adalah mengurusi kontrak milik Rubby.


Mungkin lebih dari itu, aku harus memeriksa kontrak para pekerja yang lainnya.


Aku meminta Dave untuk memanggil Jaden Arshon supaya datang menemuiku di ruang kerja.


Pria berperawakan garang itu datang dengan sebuah tas yang berukuran kecil.


"Apa sudah membuahkan hasil? Bagaimana dengan yang lainnya?


Jaden Arshon mengeluarkan beberapa barang dari dalam tas itu. Menunjukkan sesuatu yang berharga padaku. Petunjuk yang aku cari sebagai kunci menemukan seseorang yang seharusnya berada dalam pengawasan kami.

__ADS_1


Tapi semuanya masih abu-abu, seolah ditutup-tutupi oleh pihak lain.


><><><><><


__ADS_2