My Little Prince

My Little Prince
Memasak Sup Gomtang


__ADS_3

Keesokan harinya aku bangun paling awal. Dan aku segera merapikan bekas makanan semalam dan merapikan dapur dan ruang tengah yang sedikit berantakan karena semalam.


Setelah itu aku memutuskan untuk segera mandi saja. Kini aku memakai T-Shirt Peach dengan bawahan celana jeans panjang. Tak lupa aku memakai syall juga untuk kulilitkan pada leherku.


Aku memutuskan untuk membuat soup pereda mabuk untuk mereka. Aku belum pernah memasaknya sebelumnya sih. Jadi aku melihat resep itu melalui internet. Semoga saja rasanya bisa enak.


"Sedang memasak apa, Yuko?" tiba-tiba saja ada yang memelukku dari belakang.


Aku sedikit tersentak kaget, lalu menolehnya sedikit. Dia sudah mendaratkan dagunya di atas pundakku saja.


Kenapa Haku bangun terlalu cepat? Ah, aku masih sedikit kikuk dan merasa malu ...


"Kenapa diam saja, Sayang?" tanyanya lagi.


"Aku sedang membuat sup pereda mabuk ..." kataku lalu kembali menyibukkan diri mengiris daging sapi yang ada di hadapanku.


"Kau bisa membuatnya?"


"Sebenarnya tadi aku melihat resep itu di internet ..."


"Tidak semua yang ada di internet itu rasanya enak lho."


"Benarkah?"


"Yeap. Kita harus pandai memilihnya." kini Haku melepaskan pelukannya dan mulai membantuku. Dia menyiapkan beberapa bumbu. Dan aku hanya melirik gerakan tangannya yang begitu cepat.


"Kau mau membuat sup gomtang bersamaku?" tanyanya lalu melirikku sebentar.


"Ah, Iya. Sup buatanmu saat itu bahkan sangat enak sekali!"


Haku yang mendengar ucapanku malah tersenyum lebar sementara kedua tangannya masih sibuk meracik bumbu.


Kenapa dia begitu mahir dalam segala hal ya? Dia sangat cerdas, tampan, mahir berselancar dan juga pandai memasak. Apa lagi yang belum aku ketahui tentang dia ya? Hhm, Sepertinya masih banyak sekali.


"Apa yang sedang kau lihat, Yuko?" katanya dengan sedikit tawa. Ternyata daritadi aku sudah terdiam mematung menatapnya lama. Oh My!


"Apa kau sedang sakit, Yuko?"


"Tidak. Kenapa?"


"Ini kan musim panas. Kenapa pakai syall?"


Ah, ini kan gara-gara kau semalam, Haku! Masa kau tidak menyadarinya sih ...


Tiba-tiba Haku menyentuh keningku.


"Aku tidak sakit kok." kataku cepat-cepat lalu menarik tangan Haku dari keningku. Aku segera melanjutkan memotong daging kembali.


Bukannya melanjutkan memasaknya, Haku malah menatapku lama dan sedikit bingung.


"Yuko. Ada apa? Kau sedang kesal padaku?"


"Tidak kok!" sahutku tanpa menatapnya sama sekali. Aku masih fokus mencincang daging dengan cepat-cepat. Tapi tiba-tiba aku malah terkena pisau daging itu.

__ADS_1


"Argh ..." rintihku pelan lalu menghentikkan aktifitasku.


"Hati-hati, Yuko ..." Haku segera mendekatiku dan menarik tanganku. Kemudian dia mengisap jariku yang sedang terluka.


Mataku terus menangkap sosoknya. Pandanganku hanya pada dia seorang. Dia terlihat begitu khawatir. Matanya hanya fokus dengan luka di tanganku itu.


Sinar mentari yang menyelinap masuk ke dalam kamarku menyinari Haku, dia sangat bersinar. Rambutnya yang hitam lurus sangat indah sekali terkena sinar itu.


Haku menarikku menuju ruang makan. Lalu dia mengambil kotak P3K dan segera mengobati luka itu dengan sangat hati-hati.


Kini mataku hanya di penuhi oleh sosoknya. Bahkan aku tak mampu memalingkan pandanganku darinya.


"Sudah selesai." Haku mengecup pelan jemariku yang salah satunya sudah ia perban tadi. "Katakan ada masalah apa? Kalau kau tiba-tiba seperti ini biasanya ada sesuatu yang sedang mengganggumu." katanya sangat lembut.


"Tidak ada ..." jawabku pelan lalu menunduk malu.


"Kau sungguh tidak mau berbagi padaku? Ah, baiklah ..." katanya yang terdengar sedikit kecewa.


Aku tak menjawab ucapannya. Aku masih menunduk tak berani menatap matanya.


Namun tiba-tiba saja Haku menggenggam jemariku.


"Apa kau masih menganggapku orang lain, Yuko? Ah, aku sedih sekali!"


"Malam itu ... Apa kau mengingat semuanya, Haku?" tanyaku pelan dan hati-hati. Kini aku memberanikan diri mendongak menatapnya.


"Hhm, aku ingat semuanya." jawabnya tersenyum menatapku.


"Tenanglah, Yuko!" Haku tertawa kecil menatapku. "Aku menyukainya kok."


Bukan masalah kau menyukainya atau tidak Haku. Tapi itu membuatku merasa sangat malu sekali!


"Sudah, Jangan pikirkan yang macam-macam ... Kau sangat manis kok saat itu! Aku jadi tau sesuatu. Jadi seperti itulah yang terjadi saat aku sedang mabuk nanti ..." Haku berkata pelan sambil menutup mulutnya dengan salah satu tangannya. Dan dia tertawa kecil.


"Aku tidak seperti itu, Haku ..." rengekku.


"Iya, Maaf. Aku hanya bercanda, Yuko!" kata Haku sambil tertawa kecil. "Jangan ngambek lagi ya ..."


"Iya. Tapi awas saja kalau berani mengerjaiku lagi!" ancamku.


"Tidak akan lagi kok." Haku memelukku gemas. "Harum sekali. Kau sudah mandi, Yuko?"


"Iya, Sudah." jawabku singkat.


"Baiklah. Kau disini saja. Aku yang akan membuat supnya deh."


"Aku juga mau membantu!"


"Tidak! Tanganmu masih terluka. Serahkan saja padaku!" Haku mengedipkan salah satu matanya padaku lalu kembali ke dapur.


Tak beberapa lama Sora, Ken dan Jessica juga sudah bangun.


"Wah, kepalaku masih sakit ..." keluh Sora.

__ADS_1


"Aku juga." sahut Jessica.


"Ah, Aku mandi dulu deh." kata Sora lalu ngeloyor pergi ke kamar mandi.


"Aku turun dulu ya. Mau mandi dan ganti pakaian." kata Ken lalu bangkit dari duduknya.


"Setelah mandi kesini lagi ya. Kita sarapan sup bersama." kataku sebelum Ken pergi.


"Oke!" sahutnya lalu pergi.


"Aku juga akan pulang dan mandi dulu ya." kata Jessica.


"Segera kembali untuk sarapan bersama ya, Jessy! Haku sudah memasak sup gomtang." kataku.


"Hai ..." sahut Jessica lalu meninggalkan kamarku.


Kini tinggal aku dan Haku di sini. Haku masih di dapur dan sedikit terlihat kerepotan. Jadi aku memutuskan untuk membantunya.


Dia melirikku sebentar dan tersenyum lalu kembali sibuk dengan aktifitasnya.


"Ada yang bisa kubantu, Haku?" tanyaku sambil mencari-cari sesuatu untuk aku lakukan.


"Aku sudah hampir selesai kok." jawabnya ramah dengan senyuman khasnya.


"Bunga-bunga itu sangat indah." aku menatap bunga-bunga yang sedang tumbuh di samping rumah melalui jendela.


Haku melihat sebentar ke arah bunga-bunga itu.


"Begitu juga dengan ikatan kita. Di masa depan akan selalu seperti ada bunga yang menghiasinya dengan indah." kataku tanpa sadar dan masih menatap ke arah bunga matahahari dan bunga lavender.


Bunga musim panas panas yang sangat cantik dan indah. Aroma lavender yang harum akan menenangkan pikiran saat tengah melihat bunga di hamparan bunga berwarna keunguan.


"Seperti yang kau katakan, Yuko. Di masa depan akan selalu ada bunga. Tetapi juga akan selalu ada duri." kata Haku pelan. Kini aku mengalihkan pandanganku menatapnya.


"Apa kau siap?" tanya Haku pelan dan menatapku lurus-lurus.


Aku mengangguk pelan dan tersenyum padanya. Wajahnya sangat bersinar dan begitu hangat, seperti matahari di musim panas.


Haku membalas dengan senyuman hangatnya lalu kembali menyelesaikan memasak sup itu. Sementara aku masih terus menatapnya.


"Kenapa menatapku terus seperti itu, Yuko? Apa ada yang salah di wajahku?" Haku berusaha mengelap wajahnya dengan lengannya.


"Tidak. Tidak, Haku! Aku hanya sedang berpikir tentang Haku yang sedang serius melakukan sesuatu terlihat begitu tampan ..." kataku menggodanya dan aku tertawa kecil.


Haku tersenyum dan wajahnya terlihat sedikit memerah.


"Jangan menggodaku, Yuko ..." katanya lalu mematikan kompor. "Kalau aku membalasnya nanti, kau tidak akan sanggup lari dariku lho!" kini Haku tersenyum nakal menatapku.


"Aku tidak akan lari! Aku akan menghadapinya!" timpalku yang masih tertawa.


"Bener ya!"


"Tentu saja ..." aku masih tertawa kecil.

__ADS_1


__ADS_2