My Little Prince

My Little Prince
CHAPTER 3 : Memories Of (Masson)


__ADS_3

"Apa-apaan ini?"  Pekik seorang wanita berambut merah yang baru saja masuk ke dalam sebuah ruangan.


Wanita itu menutup hidungnya dengan telapak tangannya yang lentik.


Suara sepatu heels miliknya menggema di penjuru ruangan ketika dia melangkah masuk lebih jauh lagi ke dalam ruangan yang terlihat sangat kacau.


Dia mengibaskan tangannya ketika aroma yang menyengat ke dalam hidung, mulai mereda saat dirinya sudah berada di sudut ruangan. 


Ia menghela napasnya. 


Menatap kekacauan yang terjadi dalam ruangan itu. "Dia benar-benar menjengkelkan. " gerutu wanita itu.


Ruangan itu dipenuhi dengan cairan yang menggenang di lantai. Genangan itu yang menyebabkan aroma tidak sedap di dalam ruangan. Beberapa barang juga berserakan di lantai. 


Sebagian kertas yang berserakan di lantai telah hancur karena terkena cairan tersebut. Terdapat pula kerusakan pada barang-barang yang lainnya.


Namun, yang membuat wanita itu memekik bukanlah itu semua.


Melainkan sebuah tulisan berwarna hitam yang ditulis pada dinding ruangan berwarna pastel.


Di sana tertulis sebuah peringatan yang membuat wanita itu merasa kesal karena terkejut dengan isi peringatan itu.


Dia menarik laci meja, membukanya untuk mengambil sebuah senapan. Kemudian menarik pelatuknya setelah senapan itu diarahkan pada lemari di sudut ruangan untuk memastikan apakah disana ada orang yang sembunyi atau tidak.


Seseorang menyergap wanita itu dengan melompat dari atas setelah bersembunyi di sana cukup lama.


Laki-laki yang tiba-tiba muncul tersebut mengambil alih senapan milik wanita tadi. Dia membuangnya jauh, menahan wanita itu agar tidak berontak.


"Cukup lama, ya." 


Wanita itu hanya tertawa pelan. Dia terlihat kesal pada laki-laki yang menyergapnya. 


"Dasar,pengkhianat. Mereka tidak akan pernah mengampunimu." 


Geram wanita itu. Dia menghentak-hentakkan kakinya, berusaha untuk lepas.


"Apa kau yakin?"


"Kau yakin jika aku telah mengkhianati kalian? Bukankah kalian sendiri yang membelot dan menyalahi aturan."


Laki-laki tersebut tersenyum, menunjukkan senyumnya yang menawan namun sungguh mematikan. 


Dia beranjak ketika beberapa pria datang untuk membantunya. 


Wanita tadi dibawa oleh para pria itu untuk di serahkan pada atasan mereka.


Dengan senyum puas, laki-laki itu berjalan pergi meninggalkan ruangan tersebut. 


><><><><><


"Kau sudah mengirim surat-surat yang terbaru?"


"Sudah tuan. Saya juga telah mengirim cadangannya agar kita tidak perlu mengirimnya lagi."


"Baiklah."


Laki-laki tersebut mengangguk-anggukkan kepalanya.

__ADS_1


Dia beranjak, berjalan pergi meninggalkan ruangan itu. Mata elangnya menatap nyalang pada bingkai foto yang masih terpajang di atas meja, berada di antara pajangan antik lain. Dia berdecak malas menatap foto yang terbingkai indah tersebut.


Tangan kekarnya mengambil bingkai foto itu. Dia melemparnya ke tempat sampah setelah memanggil pelayannya.


"Jangan lupa bersihkan sisa barangnya."


Kelima pelayan yang dipanggilnya mengangguk paham. Segera mereka membersihkan sisa barang yang masih tertinggal di rumah itu.


Masson membuka baju setelah masuk ke dalam kamarnya.


Dia menghela napas, duduk di pinggiran ranjang.


Membuka lilitan perban di lengan kirinya.


"Kalau saja aku turut campur." Gumamnya dengan raut wajah kesal.


Masson mengganti perbannya.


Setelah itu dirinya pergi ke ruang makan sesudah berganti pakaian.


Di sana, sekretaris dan tangan kanannya telah menunggu dirinya.


Mereka menyambut Masson yang baru saja datang.


Ketiganya kemudian duduk.


"Besok kita harus kembali. Aku tidak mau terlalu lama."


"Segera akan saya atur jadwal penerbangan anda."


Masson mengangguk. Dia menatap makanan yang telah terhidang di atas meja.


Laki-laki tersebut hanya duduk menatap makanannya. Membuat kedua pria yang duduk di depannya turut diam karena menunggu Masson memulai makannya.


"Maaf, tuan. Apakah anda tidak tertarik dengan hidangan hari ini."


"Bukan."


Masson beranjak, kedua pria itu mengikuti.


"Kalian duduk dan makan saja. Aku sedang tidak ingin makan siang. Mungkin nanti."


Laki-laki tersebut melangkah pergi meninggalkan ruang makan.


Hatinya merasa gelisah.


Pikirannya terganggu.


Dia berdiri di tengah-tengah rooftop. Membiarkan sinar matahari yang menyengat mengenai dirinya.


"Siapa dia, yang membocorkan datanya dan memintaku untuk melakukan hal itu. Siapa dia yang membuatku bertanya-tanya. Siapa dia, saksi yang seharusnya dilindungi."


"Siapa?"


Siang hari itu, Masson tidak bisa berbuat apapun selain memikirkan dia.


><><><><><

__ADS_1


"Lempar!"


Seorang pria dengan pakaian serba putih yang sedang berlari sendirian di tengah malam segera melempar sebuah benda miliknya ketika mendengar perintah yang diucapkan oleh orang berbaju santai yang juga berlari.


Laki-laki dengan pakaian santai itu menarik pelatuknya, mengarahkannya pada sebuah mobil van putih yang berhenti dan menguasai jalanan.


Dengan rasa kesal pemilik mobil van tersebut membalas kiriman peluru melalui tembakan laki-laki tadi.


Dia segera meloloskan pelurunya dan ditujukan pada semua orang yang mengejarnya.


Kemudian kembali menaiki mobilnya, melaju menguasai jalanan yang sepi.


Sebuah mobil kemudian berhenti di hadapan laki-laki yang memakai pakaian santai sebagai samarannya. Dia masuk ke dalam mobil dan menembakkan pelurunya ke arah van yang melaju dengan cepat.


Ketika mereka sampai di tengah-tengah hutan, mobil van tersebut tiba-tiba berhenti mendadak. Membuat mobil yang dikendarai oleh laki-laki tadi bersama rekannya, nyaris menabrak mobil van tersebut.


Mereka semua keluar dari dalam mobil.


Di tangan mereka masing-masing terdapat senjata yang siap digunakan kapan saja.


"Jadi, Masson."


"Apa kau mau menyerah di sini saja?"


"Kau yakin, menawarkan diriku untuk menyerah?" Masson bersiap menarik pelatuknya.


Namun, seseorang dari arah belakang membekap mulutnya. Masson hanya bisa tertawa dalam hatinya.


Dia bisa menerima hal ini.


Pria yang membekap mulut Masson menendang kaki laki-laki tersebut.


Masson berusaha untuk melawan. Dia memutar tangan pria yang membekapnya. Memiting leher pria itu.


"Aku terima ini, kau tidak perlu repot untuk menyusup."


Pria yang dipiting lehernya oleh Masson, dia pria yang mengantar dan membawa Masson ke tengah hutan mengikuti mobil van tadi.


Pria itu tertawa sinis.


"Kau belum mengerti skenarionya."


Pria yang mengemudikan mobil van tadi memukul punggung Masson. Membuat Masson melepaskan pria yang membekap mulutnya tadi.


"Semua orang di sini bukan orang-orang di pihakmu."


Satu persatu para pria itu menyerang Masson.


Laki-laki tersebut hanya bisa melawan semampunya. Hingga dirinya benar-benar babak belur karena para pria itu juga memukul dirinya dengan sebuah benda keras yang menyebabkan cedera pada beberapa bagian tubuh Masson


Masson memegang kepalanya yang pening. Dia harus segera mundur. Tidak memungkinkan jika harus melawan sendiri tanpa pasukan yang imbang. Dengan kaki yang terluka parah dan kepala yang mulai berdarah, Masson berjalan masuk ke dalam hutan. 


Sedangkan para pria tadi membiarkan Masson untuk pergi. Mereka cukup puas dengan luka fisik yang telah mereka berikan pada Masson. 


Masson semakin berjalan ke dalam hutan. Dia terbaring lemas di atas tanah.


Matanya terpejam.

__ADS_1


Semuanya menjadi gelap.


><><><><><


__ADS_2