
Entah kenapa tiba-tiba saja aku menjadi begitu murung saat ini. Kenapa Anzu begitu memahami dan mengetahui kesukaan Haku? Ini aku baru saja melihatnya sekilas saja. Lalu bagaimana sehari-hari saat mereka sedang bekerja bersama?
Ah! Aku tidak tau lagi ... Rasanya sedikit sedih dan sakit hatiku saat ini membayangkan semua itu. Dan tidak sadar aku menjadi begitu murung.
"Jadi Pak Haku dan Nona Yuko ini sudah dari kecil saling mengenal?" tanya salah satu pria rekan kerja Haku.
"Benar sekali." sahut Haku dengan seulas senyum lalu menatapku. "Kita sudah akrab dan dekat dari kecil. Dan Yuko sudah banyak merubahku saat itu ..." imbuhnya begitu lembut. Tatapannya juga sangat hangat menatapku saat ini.
"Memang dulu anda seperti apa, Pak? Apakah anda seorang murid yang bandel?" seorang rekan kerja pria bertanya ingin tau.
"Bukan ... Tapi ..." ucap Haku terputus karena aku memotong pembicaraannya.
"Haku adalah orang yang sangat baik saat itu. Bahkan dia terlalu baik. Namun, mereka memanfaatkan semua itu ..." potongku. Haku hanya melirikku lalu tersenyum samar.
"Wah ... Wah ... Memang anda sudah sangat baik dari kecil ya, Pak. Sangat mirip sekali dengan CEO Mizaki." sahut pria yang lainnya lagi.
"Tidak. Ayah jauh lebih baik dan lebih hebat dariku. Aku bukan apa-apa jika dibanding dengan dia." sahut Haku pelan dan tersenyum samar. Namun dari suaranya yang begitu lembut aku bisa merasakan sedikit jika Haku sedang sedikit bersedih saat ini, apakah karena dia mengingat masa lalu keluarganya?
"Tentu saja tidak, Pak! Anda juga sangat hebat kok!" Anzu kini menyauti dengan tersenyum manis menatap Haku. Sedangkan Haku hanya menanggapinya dengan seulas senyum saja.
Beberapa saat seorang waiter mulai mengantarkan makanan kami, dia berbalik hingga 3 kali untuk mengantarkan pesanan kita.
Kita semua segera menikmati makan malam bersama, tidak ada obrolan serius saat ini. Hanya beberapa obrolan ringan saja diantara mereka.
Setelah menyelesaikan makan malamku aku ijin sebentar karena ada telpon dari Sora. Dan aku mengangkatnya sambil pergi ke kamar mandi. Dia berniat mampir ke kontrakanku saat ini, namun tidak jadi karena aku sedang keluar.
Saat itu aku masih berada di dalam sebuah kamar mandi, tak sengaja aku mendengar obrolan Anzu bersama seorang rekan kerja Haku.
"Kau melihatnya? Tunangan Pak Haku sangat manis dan cantik ya ..." ucap seorang gadis.
"Hhm ... Iya manis dan imut sekali. Tapi sedikit terlihat seperti anak kecil ya ..." Anzu menyauti yang entah kenapa membuatku sedikit bersedih dan muram.
"Karena tunangan Pak Haku memang sangat manis!" sahut gadis yang satunya. "Oya, kau bilang kau pernah menjadi teman sekolah Pak Haku. Apa kau tak pernah bertemu dengan tunangannya saat itu?"
"Tidak. Aku bahkan tidak pernah mendengar tentang Yuko saat itu. Dan dia tidak benar-benar terlihat dekat dengan seorang gadis saat itu." ucap Anzu.
"Atau mungkin mereka adalah teman kecil yang terpisah?"
__ADS_1
"Aku tidak tau!" sahut Anzu singkat dan terdengar sedikit tidak suka.
"Ada apa denganmu, Anzu? Hari ini kau terlihat begitu kesal? Apa jangan-jangan kau benar-benar menyukai Boss kita?" celutuk gadis itu.
"Yuri! Jangan bergosip!"
"Wah. Apa itu benar Anzu?"
"Berhenti bicara omong kosong, Yuri!" sahut Anzu disertai kekehan kecil.
"Sebaiknya kau melupakannya saja, Anzu. Dia sudah mau menikah lho. Dan dia atasan kita!"
"Memang kenapa kalau dia adalah atasan kita? Lagian cinta yang hadir itu kan tidak direncanakan. Dan kita tidak bisa memilih dengan siapa kita akan jatuh cinta."
"Wah. Kau benar-benar tidak mau melepasnya?"
"Sudah cukup bicara omong kosongnya! Ayo kita segera kembali!"
Setelah beberapa saat terdengar suara teratur dari hentakan hight heels mereka yang semakin jauh meninggalkan kamar kecil ini. Dan akhirnya aku memutuskan untuk segera keluar dari kamar kecil.
Aku menatap diriku pada cermin besar dan memanjang itu. Dan aku memperhatikannya dengan seksama. Apakah aku memang terlihat seperti anak kecil? Apakah memang aku tidak pantas untuk Haku? Huft ... Aku menghembuskan nafas kasar ke udara.
Tiba-tiba ponselku berbunyi menandakan ada sebuah pesan masuk. Aku segera mengambil dari dalam slingbagku lalu membacanya. Ternyata itu adalah sebuah dari Haku.
📱Yuko. Kau pergi kemana? Kenapa begitu lama?
Tanpa membalas pesan dari Haku, aku segera bergegas untuk kembali menyusul yang lainnya.
"Yuko. Kenapa begitu lama? Apa terjadi sesuatu?" tanya Haku yang terlihat begitu khawatir.
Aku tersenyum menanggapinya lalu menarik kursiku dan segera duduk kembali.
"Sora menelponku tadi. Dan aku juga pergi ke kamar mandi." jawabku dengan ramah dan berusaha untuk tetap tenang.
Namun seketika ekpresi Yuri dan Anzu berubah seketika setelah mendengar aku yang ternyata baru dari kamar mandi.
"Oh. Aku kira ada masalah." ucap Haku.
__ADS_1
"Tidak ada kok." jawabku dengan seulas senyum.
"Jadi bagaimana, Pak? Apakah anda dan nona Yuko mau ikut melanjutkan acara bersama kami setelah makan malam ini?" tanya salah satu rekan kerjanya.
"Uhm. Maaf, sepertinya kita tidak bisa ikut." ucap Haku menolak dengan ramah. "Kita harus pergi ke suatu tempat." imbuh Haku.
"Wah, sayang sekali! Padahal kita ingin sekali mendengar Pak Haku menyanyi lho!" celutuk Yuri.
"Benar sekali, Pak. Kenapa tidak bergabung saja dengan kami?" imbuh seorang pria.
"Maaf sekali. Tapi malam ini saya benar-benar tidak bisa. Mungkin lain kali saya akan usahakan." Haku masih menolak dengan ramah dengan seulas senyum.
Sebenarnya aku merasa sedikit tidak enak. Aku sudah mengatakan dari pagi padanya untuk menemaniku ke suatu tempat setelah makan malam.
"Wah ... Sayang sekali ya, Pak ..." imbuh Anzu kali ini.
"Baiklah. Kalau begitu kita akan segera pamit duluan." ucap Haku lalu mengangkat salah satu tangannya untuk memanggil seorang waiter. Tak beberapa lama seorang waiter datang.
"Ada yang bisa saya bantu, Tuan?" ucap waiter itu dengan ramah.
"Tolong bawakan bill-nya ya ..." Haku menyauti waiter itu dengan tak kalah ramah.
"Baik. Silakan tunggu sebentar, Tuan ..." ucap waiter itu lalu undur diri kembali.
Setelah beberapa saat waiter itu datang lagi dengan membawa bill dan menyerahkannya kepada Haku.
Setelah memberikan beberapa lembar uang, waiter itu segera undur diri lagi.
"Terima kasih ya pak untuk traktiran makan malamnya ..." celutuk Yuri dengan senyum lebar.
"Sama-sama. Kalau begitu saya dan tunangan saya pamit ya. Kalian lanjutkan saja tanpa saya."
"Baik, Pak. Hati-hati di jalan." seorang pria menyauti Haku.
"Sampai bertemu besok di kantor, Pak!" ucap Anzu dengan dengan senyum manisnya.
"Baik ..."
__ADS_1
Setelah itu aku dan Haku segera meninggalkan Rokkasen Restaurant. Dan kita kembali menaiki mobil Haku. Mobil mewahnya mulai membelah jalanan kota yang sedikit ramai saat ini.