
Perlahan aku mulai berjalan ke arah pembaringan Kak Zen. Aku melihat Kak Zen yang masih terbaring di atas ranjangnya. Masih ada beberapa perban dan selang yang melilit sebagian tubuhnya.
Dia terlihat sedikit pucat, namun kini aku bisa melihat kembali Okavango Blue Diamond itu. Rasanya seperti mimpi saja. Aku begitu terharu kini bisa menatap mata indah itu lagi. Tanpa sadar mataku sudah berkaca-kaca saking terharunya.
Kak Zen menyunggingkan sebuah senyuman padaku. Senyuman hangat itu ... Kini aku bisa melihatnya kembali. Oh terima kasih, Tuhan atas semua ini. Terima kasih telah membuat kak Zen bangun kembali.
"Yuko ..." ucap Kak Zen pelan sekali, sangat pelan sampai hampir tidak terdengar olehku.
Air mataku kini benar-benar sudah membasahi pipiku. Dan aku segera menghapusnya. Aku melangkah lebih dekat lagi padanya lalu duduk di sampingnya.
"Kak ... Syukurlah kakak sudah sadar kembali. Aku sangat takut sekali saat itu ..."
Kak Zen hanya tersenyum hangat menatapku.
"Aku juga minta maaf, Kak. Kakak mengalami semua ini gara-gara aku. Maaf, Kak ..."
"Ini bukan salahmu, Yuko." ucapnya pelan. Suara lembut dan hangat ini ... Kini aku juga bisa mendengarnya kembali. Terima kasih ya, Tuhan.
Kak Zen berusaha untuk duduk dan aku sedikit membantunya.
"Pelan-pelan, Kak." ucapku sambil membantunya untuk duduk. "Kakak mau sesuatu? Biar aku ambilkan ..."
Kak Zen menggeleng dan tersenyum samar. "Berapa lama aku tertidur, Yuko?"
"Tujuh hari, Kak."
"Maaf jika selama aku koma aku banyak menyusahkan kalian ..."
"Apa? Kakak tidak menyusahkan sama sekali! Justru harusnya aku yang minta maaf, Kak! Karena ini semua terjadi gara-gara aku! Kalau kakak tidak datang menolongku malam itu, mungkin saja aku yang akan tertabrak oleh mobil itu. Aku yang akan terbaring disini. Maaf, Kak ..."
Kak Zen menatapku kembali dan sedikit tersenyum. "Jangan berbicara seperti itu, Yuko!"
Tok ... Tok ... Tok ...
Terdengar ritme teratur dari pintu dan tiba-tiba seorang perawat datang. Dia membawa beberapa makanan untuk pasien.
"Selamat sore! Silakan dimakan dulu ya, Kak. Setelah itu diminum obatnya." kata perawat tadi dengan ramah.
"Oh, Terima kasih ya, Sus." kataku kepada perawat itu. Setelah itu dia segera pergi lagi meninggalkan kita.
Aku menatap sebuah nampan yang berisi beberapa makanan lalu meraih sebuah mangkok yang berisi bubur yang masih hangat.
__ADS_1
"Aku suapi ya, Kak." ucapku sambil mengambil sendok di atas nampan.
"Hhm ..." sahut kak Zen dengan senyumannya.
Perlahan aku mulai menyuapi kak Zen. Dan dia memakannya pelan-pelan.
Kak Zen hendak meraih minumannya di atas meja tapi aku segera mengambilkannya untuknya dan membantunya untuk minum. Setelah itu aku kembali menyuapinya hingga makanan itu habis.
"Kakak mau pudding?" tanyaku karena melihat pada nampan itu juga ada pudding.
"Boleh ..." sahutnya pelan.
Aku mulai mengambil pudding itu dan menyuapinya kembali.
"Yuko ..."
"Ya ..."
"Kakak sama sekali tidak mengingat kita sebelumnya."
"Maksud kakak?" tanyaku sedikit bingung.
"Yang kakak ingat hanya saat-saat kita sudah bertemu di Todai. Selain itu kakak tidak bisa mengingat apapun. Bisakah kau membantu kakak mengingatnya, Yuko?"
"Kakak merasa seperti sudah lama mengenalmu. Tapi kakak tidak ingat apapun itu ... Kakak hanya mengingat saat kita bertemu di Todai." kak Zen menatapku sedikit bingung.
Aku terpaku dengan ucapannya barusan. Mataku menangkap sorot mata biru yang terlihat sedikit kebingungan itu. Perasaan apa ini? Harus bahagia atau sedihkah? Disaat aku sudah mengingat semua itu kini Kak Zen melupakan masa lalunya bersamaku.
Seharusnya aku merasa lega karena Kak Zen tidak akan terbebani lagi dengan kenangan itu. Dan kini dia bisa menemukan kebahagiaannya. Namun kenapa ada sedikit rasa sakit di dada ini? Ada apa denganku? Apa yang terjadi dengan diriku?
"Yuko? Kenapa kau menangis?"
Aku tidak sadar ternyata air mataku sudah merembes keluar begitu saja. Dan aku segera menghapusnya.
"Apa kakak telah melupakan sesuatu yang penting?" tanya kak Zen lagi.
Aku menggeleng dan sedikit tersenyum. "Tidak, Kak. Kakak hanya melupakan sedikit hal. Dan itu bukan hal penting. Aku hanya junior kakak yang kakak temui saat di Todai. Itu saja, Kak!" ucapku pelan.
"Benarkah itu?"
Aku mengangguk tegas dan tersenyum pada kak Zen. Namun kak Zen masih terdiam seperti sedang memikirkan sesuatu.
__ADS_1
"Begitu ya ... Lalu kenapa kau sangat baik padaku? Kau setiap hari datang mengunjungiku bukan?"
"Karena aku sangat merasa bersalah atas kecelakaan itu, Kak." kataku tulus.
"Jujur saja Kakak masih sedikit bingung. Rasanya seperti ada yang hilang saat kakak terbangun dari koma." ucap Kak Zen sedikit termenung.
"Tidak perlu terlalu memikirkannya, Kak. Yang terpenting kakak sudah sadar kembali." ucapku berusaha untuk tetap ceria.
"Saat itu kakak seperti bermimpi ... Kau mengajak melihat festival kembang api bersama."
Aku memutar bola mataku untuk mengingat sesuatu. Dan aku mengingatnya. Aku pernah mengatakan ingin melihat festival kembang api bersama kak Zen. Ternyata kak Zen mendengarnya? Aku sedikit tertawa setelah mengingat hal itu.
"Kenapa tertawa, Yuko?"
"Saat kakak sedang koma aku memang mengatakannya kepada kakak. Bahwa aku mau melihat festival kembang api musim panas bersama kakak. Dan kakak memang mendengarnya ya ..."
"Benarkah itu?"
"Hhm ..." aku mengangguk dan tersenyum lebar padanya. "Setelah kakak sudah pulih nanti kakak mau kan melihatnya bersamaku?"
Kak Zen menatapku sejenak. Okavango Blue Diamond itu terpancar dengan sangat jernih, hangat dan indah. Aku bisa melihat pantulan diriku di dalam mata itu.
"Tentu saja, Yuko." sahut kak Zen berbinar. "Kakak akan melihatnya bersamamu. Terima kasih ya sudah selalu memberi semangat dan dorongan selama kakak koma."
"Itu bukan apa-apa, Kak."
Tok ... Tok ... Tok ...
Tiba-tiba terdengar lagi ritme teratur itu. Dan beberapa saat pintu sudah terbuka. Tenyata Kak Sano yang datang.
"Zen ..." sapa kak Sano.
"Ya ..." sahut kak Zen sambil menatap ke arah kak Sano .
"Aku membawakan makanan kesukaanmu nih. Barusan aku keluar bentar dan melihat cake ini. Aku jadi teringat kamu deh." kata kak Sano sembari meletakkan bingkisan itu di meja.
"Cake? Terima kasih ya ..." ucap kak Zen lalu berusaha meraih cake itu. Namun aku segera mengambilkannya untuknya.
"Okay ... Aku keluar bentar dulu ya. Nitip Zen ya, Yuko!" sahut kak Sano lalu meninggalkan kita kembali.
"Kakak mau memakannya?" tanyaku.
__ADS_1
"Hhm. Sudah lama kakak tidak makan cake deh."
"Baiklah." aku mulai membuka bingkisan berisi cake itu. Aromanya tercium sangat manis. Ternyata red velvet di dalamnya. Aku segera menyuapi kak Zen kembali.