
Huft ... akhir-akhir ini Anzu sedikikit membuatku merasa tak tenang. Apa yang harus aku lakukan? Dia selalu saja berusaha mendekati Haku. Dan Haku masih selalu saja ramah terhadap semua orang, termasuk gadis bernama Anzu itu.
Huft ... padahal sebelumnya aku tidak terlalu mengkhawatirkan gadis manapun yang menyukai Haku, bahkan mereka sering menyatakan perasaannya melalui surat. Aku tidak pernah merasa ketakutan sebelumnya. Namun kali ini kenapa sangat berbeda?
Mungkin memang sebaiknya aku menerima tawaran Haku saja untuk bekerja di perusahaannya. Dengan begitu aku akan sedikit lega.
Aku mengambil nafas panjang dan mulai mengeluarkannya perlahan. Aku memutuskan untuk segera kembali lagi menuju ruangan teater. Namun belum sampai aku mencapai tempat dudukku aku melihat sebuah kericuhan yang sedang terjadi di dalam ruang teater itu.
Orang-orang mulai berlarian dan terlihat begitu panik. Mereka berlarian dan berusaha untuk segera mencapai pintu keluar. Sebenarnya apa yang sedang terjadi?
Aku semakin berjalan ke dalam karena penasaran dengan apa yan sudah terjadi. Aku melihat sebuah asap dan api yang mulai membakar sebagian kain-kain di dalam teater ini. Ada apa ini? Kebakaran di dalam teater? Mengapa bisa terjadi?
BRUGGHH ...
Tiba-tiba ada seorang pria yang sedang berlari dengan cukup kencang menabrakku begitu saja dan membuatku terjatuh.
"Maaf, Nona. Sebaiknya cepat keluar dan selamatkan dirimu! Api sudah semakin membesar dan merayap!" ucap seorang pria yang menabrakku tadi lalu segera berlari kembali antri untuk mencapai pintu keluar.
Haku? Dimana Haku? Kini aku mulai panik.
Aku segera bangkit dan berusaha untuk berdiri kembali lalu mulai mencari Haku. Bagaimana ini? Sangat gelap dan begitu ramai. Aku tidak bisa melihat dan menemukan Haku dimanapun. Dimana dia berada saat ini? Oh tidak! Semoga Haku baik-baik saja.
"Haku!" aku mulai berteriak memanggil namanya berharap aku bisa segera menemukannya. Aku masih mencari-cari sosoknya dan menyisiri ruangan teater yang sudah semakin terbakar oleh api ini.
"Haku!" teriakku memanggil namanya kembali.
Dimana kamu? Aku tidak akan mungkin bisa keluar dari tempat ini tanpamu ... Hiks. Aku harus keluar dari tempat ini bersamamu! Tak terasa aku sudah menangis saja kali ini.
__ADS_1
"Haku ..." ucapku dengan lirih dan memegangi kedua lulutku yang sudah terasa begitu lemas. Namun perlahan aku mulai berdiri tegap kembali, dan berusaha untuk mencari Haku kembali.
"Haku ..." teriakku lagi sambil menebarkan pandanganku di seluruh ruangan untuk mencari sosoknya.
GREEPP ...
Tiba-tiba ada yang meraih tanganku dengan lembut namun tegas, dan tentu saja reflek membuatku segera mendongak untuk melihat orang itu. Terlihat wajah dan senyuman yang sangat familiar untukku. Senyuman yang begitu hangat dan selalu menenangkanku selama ini.
"Haku ..." ucapku dengan lirih dan aku langsung memeluknya dengan sangat erat. "Haku ... aku sangat khawatir padamu." imbuhku yang sudah beruraian air mata saat ini.
"Maaf baru menemukanmu, Yuko. Ayo sekarang kita keluar dari sini!" ucapnya masih dengan nada tenang dan begitu lembut.
"Hhm. Iya." sahutku lalu melepas pelukanku dan menatapnya dengan senyum lega.
Haku mulai meraih tanganku kembali dan mulai menggiringku untuk segera mencapai pintu keluar.
Wajahku mulai gelisah saat ini, dan Haku menatapku dengan sangat bingung.
"Ada apa, Yuko? Kita harus segera keluar ..." ucap Haku sedikit bingung menatapku.
"Haku ... kamu keluarlah dulu! Aku akan menyusulmu nanti!" ucapku dengan sangat gelisah.
"Apa yang mau kamu lakukan, Yuko? Kita harus segera keluar dari tempat ini! Dan kita juga harus keluar bersama!" ucap Haku dengan tegas.
"Tidak! Kamu keluarlah dulu! Aku akan menyusulmu! Aku mau mengambil barangku yang tertinggal di dalam." ucapku akhirnya.
Yeap. Kalung pemberian Haku masih tertinggal di dalam ruangan teater. Di dalam sebuah totebag dan di atas bangkuku. Mengapa aku begitu ceroboh meninggalkannya begitu saja?! Ah!! Yuko, kamu memang selalu saja ceroboh!
__ADS_1
"Barang apa? Biarkan saja! Api sudah semakin besar, Yuko!" ucap Haku dengan keras melarangku.
"Kalung pemberian darimu tadi ... masih tertinggal di dalam. Aku tidak bisa meninggalkannya begitu saja, Haku. Aku akan masuk dan mengambilnya kembali, Haku." ucapku lalu melepas tangan Haku dan mulai berbalik. Namun dengan cepat Haku segera meraih tanganku lagi dan membuatku tertahan.
"Sudah! Biarkan saja! Aku akan membelikannya lagi untukmu ..." ucapnya dengan ekpresi wajah begitu serius.
Aku menggeleng dengan kuat dan hampir saja menangis lagi, "Tidak, Haku! Aku akan mengambilnya! Kalung itu adalah kalung pemberianmu yang sangat berharga untukku. Aku akan mengambilnya kembali." ucapku lalu hendak melangkah masuk ke dalam ruangan teater lagi. Namun lagi-lagi Haku meraih tanganku lagi dan menahanku.
"Baiklah. Tunggulah di luar! Aku akan mengambilnya!" ucapnya dengan tegas tapi sangat lembut.
"Tap-tapi, Haku ..." sergahku dengan sangat berat.
"Keluarlah dulu... aku akan segera menyusulmu, Yuko." ucap Haku sambil mengelus pelan kepalaku dan tersenyum begitu hangat.
Aku mengangguk dengan berat dan tak bisa menahan air mataku kembali yang sudah memberontak untuk keluar dari tempat persembunyiannya.
"Jangan menangis! Semua akan baik-baik saja." kata Haku begitu lembut dan mengusap air mataku. "Sekarang keluarlah dulu! Aku akan segera menyusulmu, Yuko ..."
Lagi-lagi aku hanya bisa mengangguk dengan begitu berat. Dengan langkah yang begitu berat aku mulai meninggalkan Haku dan melenggang perlahan untuk mencapai pintu keluar. Sementara Haku segera berlari kembali untuk memasuki teater yang sudah dipenuhi oleh si jago merah yang kian membesar melahap semua yang berada di dalamnya itu.
Aku menatap nanar melalui pintu keluar itu. Semoga Haku baik-baik saja dan bisa segera keluar dengan selamat. Karena dia sudah berjanji padaku untuk segera menyusulku.
Haku ... aku akan menunggumu disini. Cepatlah keluar!
Beberapa saat aku menunggunya, namun dia tak kunjung datang kembali. Dan tentu saja aku sangat merasa ketakutan dan gelisah luar biasa. Bagaimana jika terjadi sesuatu dengannya. Ya Tuhan ... lindungilah Haku. Tak pernah aku berhenti berdoa saat ini untuk memohon keselamatan Haku.
Aku tak bisa lagi menahan air mataku, dan kini sudah membanjiri pipiku begitu saja. Aku sungguh takut saat ini. Takut sekali ... aku tak bisa membayangkan jika sesuatu yang buruk benar-benar akan terjadi saat ini.
__ADS_1
Andai saja aku tidak bersikeras untuk mengambil kalung itu, pasti Haku akan bersamaku hingga saat ini. Haku ... apa yang harus aku lakukan sekarang? Aku ingin kamu segera keluar dan kembali! Cepatlah datang! Cepatlah kembali!