My Little Prince

My Little Prince
Haku Sadar


__ADS_3

"Haku ... kamu baik-baik saja?" ucap ibu Haku yang kini duduk di kursi sebelah brankar.


Haku menatap ibunya dengan ekspresi datar, namun akhirnya dia tersenyum tipis, "Iya, Ibu ..." ucapnya begitu lirih.


"Syukurlah ... ibu sangat lega ..." ucap ibu Haku begitu terharu. Sepasang matanya sudah berkaca-kaca dan dia menepupuk pelan bahu Haku.


"Dimana ayah?" tanya Haku karena tidak melihat kehadiran sang ayah saat ini.


"Ayahmu sedang ada kerjaan di luar kota. Lusa akan segera pulang, Haku." jawab ibu Haku.


"Kakak ..." ucap Mirae lalu berlari kecil ke arah Haku dan memeluknya. "Aku sangat khawatir jika kakak tidak akan bangun lagi. Hiks ..."


Haku tersenyum tipis dan mengusap kepala Mirae dengan lembut, "Kakak baik-baik saja. Kamu lihat kan sekarang kakak baik-baik saja?"


"Hiks ... iya, Kak." sahut Mirae yang masih terisak.


"Sudah jangan menangis lagi ... Adikku Mirae paling cantik saat tersenyum." hibur Haku.


"Hiks ... kakak ..." Mirae malah semakin kencang menangis kali ini.


Tak terasa air mata haruku kini sudah membasahi pipiku begitu saja. Aku begitu bahagia dan aku begitu bersyukur karena kini Haku sudah bangun kembali.


Kini Haku mulai mengalihkan pandangannya dan menatapku lalu tesenyum begitu hangat. Yeap, aku juga sudah sangat ketakutan tidak akan pernah bisa lagi melihat mata indahnya dan senyuman hangatnya lagi. Saat itu aku begitu takut ...


"Yuko ..." ucapnya sangat lirih dan tersenyum hangat menatapku. "Kemarilah ..."


Aku segera mengusap air mataku dan mulai mendekatinya dan berdiri di samping brankarnya. Perlahan Haku mulai menusap sisa air mataku.


"Jangan menagis lagi. Aku baik-baik saja ..." ucapnya menghiburku dan terdengar begitu lembut.


Namun ucapannya malah semakin membuatku menumpahkan air mata haruku.


"Yuko ....aku baik-baik saja ..." ucapnya lagi dan mengusap air mataku lagi. "Jangan menangis lagi ..."


Mulutku masih terkunci rapat, aku hanya bisa mengangguk pelan dan mencoba untuk tersenyum padanya.


"Maafkan aku, Haku ..." ucapku begitu lirih.


"Tidak ... mengapa kamu meminta maaf?"


"Tante, Mirae ... kita keluar sebentar yuk!" ucap Sora tiba-tiba.


Yeap, mungkin Sora hanya ingin aku dan Haku bersama dulu saat ini. Karena sedari tadi Anzu-lah yang selalu menemaninya.

__ADS_1


Mereka saling bertatapan bertiga, sementara aku dan Haku kini juga ikut menatap bertiga.


"Hhm. Ayo, Ibu! Kita keluar sebentar mencari cemilan." tambah Mirae segera memeluk lengan ibunya.


"Cemilan? Malam-malam begini?" ucap ibu Haku kebingungan.


"Hhm. Dari tadi sore ibu bahkan belum makan. Ayo aku temani makan bersama kak Sora. Lagian disini sudah ada kak Yuko. Dia akan menjaga kak Haku dengan baik." ucap Mirae meyakinkan ibunya.


"Iya, Tante. Lebih baik tante makan dulu. Kalau tidak tante bisa sakit." ucap Sora ikut-ikutan.


"Tapi ..." sergah ibu Haku.


"Tidak apa-apa, Okaa-san." sahut Haku dengan senyum tipis. "Jangan sampai ibu sakit gara-gara terlalu mengkhawatirkan aku. Yuko sudah disini. Dan dia akan menjagaku dengan baik. Benar begitu, Yuko?" kini Haku menatapku dan tersenyum begitu hangat.


Lagi-lagi aku hanya bisa mengangguk dengan mata yang kembali sedikit berair.


"Nah. Ibu tidak perlu khawatir. Kita akan segera kembali kok. Yuk!" kini Mirae mulai menarik ibunya untuk meninggalkan ruangan diikuti oleh Sora.


Kini tinggallah aku dan Haku di ruangan yang dipenuhi oleh nuansa putih ini.


Perlahan Haku mulai meraih jemariku dan menggenggamnya. Dia juga tersenyum begitu hangat.


"Aku sungguh minta maaf, Haku ..." ucapku dengan begitu lirih. "Aku yang sudah menyebabkan semua ini. Kamu seperti ini karena aku ... maaf ..." lagi-lagi aku tak tahan untuk menahan tangisku. Aku sangat merasa bersalah atas semua yang menimpa Haku saat ini. Dan ini semua adalah memang kesalahanku.


"Tidak, Haku ... aku seharusnya lebih memahamimu." elakku.


"Yuko ..." ucapnya dengan begitu lembut. "Maaf jika aku tidak pernah menceritakan mengenai trauma masa laluku padamu. Itu karena sebenarnya aku tidak ingin mengingatnya lagi ... karena itu membuatku selalu merasa bersalah kepada seseorang. Maaf ..." ucapnya yang semakin menurunkan nada bicaranya dan tiba-tiba dia begitu murung.


"Ehm. Sudah ... tidak perlu berlarut dan bersedih lagi." ucapku berusaha untuk menghiburnya. "Apa kau lapar? Mau makan sesuatu? Sora tadi membawakan kue untukku. Mari kita makan bersama."


"Hhm ..." Haku tersenyum dan mengangguk.


"Baiklah ..." kini aku mulai membuka sebuah bingkisan yang tadi Sora bawa. Aromanya begitu manis. Dan sepertinya aku dan Haku begitu tergiur setelah mencium aroma manis itu. Kita saling berpandangan dan akhirnya tertawa kecil karena malu.


"Aku akan menyuapimu." ucapku lalu memotong kue itu dan mulai menyuapi Haku.


"Bagaimana? Enak?"


"Brownis memang selalu enak!" ucapnya yang masih penuh dengan kue di dalam mulutnya.


"Benarkah?"


"Hhm." Haku mengangguk pelan.

__ADS_1


"Baiklah. Aku akan coba." ucapku lalu mulai memakan kue itu juga.


"Bagaimana? Aku tidak berbohong bukan?" uacapnya dengan tawa kecil yang terlihat begitu menggemaskan.


"Iya ..." sahutku dengan tawa juga lalu mulai memotong kue lagi dan kembali menyuapi Haku. "Malam ini aku akan menemanimu disini."


"Kamu tidak kuliah besok? Pulang dan istirahat saja. Ibu dan Mirae akan menjagaku malam ini."


"Aku tidak mau pulang." ucapku kekeh sambil memotong kue itu lagi dan kembali menyuapi Haku.


"Besok kan kamu kuliah Yuko. Setelah pulang kuliah kamu bisa datang lagi kok."


"Tidak mau! Aku akan cuti kuliah besok!"


"Hhm? Sungguh?"


"Iya. Aku tidak mau pergi dari sini! Sudah cukup lama aku berada di luar tadi." ucapku tanpa sadar dan sedikit cemberut.


"Maksud kamu?" tanya Haku sesikit kebingungan.


"Uhm. Tidak apa-apa. Ayo habiskan kuenya! Atau mau kupesankan makanan lain?" ucapku mengalihkan pembicaraan.


"Katakan ada apa?" tanya Haku sambil menahan tanganku yang sudah berada di depan wajahnya dengan sepotong kue.


Aku mengambil nafas panjang dan mulai mengeluarkannya perlahan.


"Sedari tadi aku tidak bisa dekat denganmu, bahkan aku hanya bisa menunggumu di luar ruangan. Saat ibumu datang, barulah ibu mengajakku masuk." ucapku dengan jujur.


"Memang apa yang terjadi? Apa aku menjalani oprasi dan tidak boleh seorangpun menjagaku?"


"Tidak, Haku ..." ucapku begitu lirih. "Tidak seperti itu ..."


"Lalu?" tanya Haku begitu penasaran.


"Karena Anzu bersikeras untuk menjagamu. Jadi aku hanya bisa menunggu di luar."


Haku mengkerutkan keningnya dan terdiam beberapa saat, "Dan kau mau menurutinya?"


"Aku tidak bisa berbuat apa-apa. Sudahlah ... tidak apa-apa. Yang terpenting saat ini kamu sudah sadar dan baik-baik saja, Haku." ucapku dengan tulus.


Yeap Sebaiknya saat ini jangan terlalu banyak membebani Haku dulu. Biarkan dia pulih sepenuhnya dulu, Yuko.


...***...

__ADS_1


__ADS_2