
Ini adalah kali pertamanya Sammuel mengunjungi sang ibu. Dia tidak pernah merengek pada Masson yang tidak pernah mengikutsertakannya ketika hendak mengunjungi Rubby. Sammuel sudah tahu lebih awal, jauh-jauh waktu sebelum Masson datang menjemput mereka ke rumah sakit.
Dia anak yang berani dan kuat. Baginya, pesan terakhir ibunya adalah misi utama. Dan senyuman ibunya ketika sedang merasa kesakitan adalah hal yang membuat dirinya bisa bertahan sampai sekarang.
Dia merasa beruntung karena bisa menemani ibunya di saat-saat terakhir.
Anak laki-laki tersebut turun dari atas tangga secara perlahan-lahan. Kemudian dia berganti pakaian dengan kemeja hitam dan celana hitam.
Dia menemui Masson yang masih sibuk dengan masakannya untuk Samm.
"Selamat pagi."
Masson tersenyum, mengangkat tubuh Samm ke atas kursi agar dia bisa duduk.
"Kursinya perlu diganti." Gumam Masson sembari memotong roti isi buatannya menjadi bagian kecil dan memindahkannya ke atas piring.
"Tidak, dad. Aku akan menjadi lebih tinggi setelah ini."
"Jika begitu, makanlah lebih banyak jenis sayuran."
"Aku sering makan sayur."
"Benarkah? Bagaimana dengan brokoli?"
"Um, tidak. Aku mau yang lain saja."
Masson tertawa pelan, ia duduk di hadapan Samm. Mengamati wajah putranya yang sedang makan. Membuat hatinya merasa sedikit tentram.
Mereka pergi ke tempat Rubby. Disana, Sammuel hanya menyapa dan tertawa pelan pada Rubby. Anak laki-laki tersebut meletakkan buket bunga kesukaan ibunya di sana.
"Semoga mom bahagia di sana."
Masson tersenyum sembari meminta Samm dan yang lain untuk pergi meninggalkannya lebih dulu. Sammuel mengangguk kemudian berpamitan pada ibunya sebelum pergi.
Samm pergi diikuti semua orang yang membuat ruangan tersebut benar-benar jadi kosong meninggalkan Masson dan juga istrinya. Laki-laki tersebut melepas kacamata hitam yang dia pakai. Menatap foto cantik yang terbingkai indah. Laki-laki tersebut mengusap pipi istrinya dengan jari-jemarinya.
"Agak terlambat untuk mengatakan bahwa aku sangat merindukanmu. "
Senyumnya semakin lama mulai pudar. Dia memejamkan matanya mengingat kembali kenangan kecil dari mereka. Hati dan pikirannya sedang berandai-andai.
Hatinya selalu berbisik diikuti bayangan-bayangan yang indah.
'Jika saja…'
"Hai."
Laki-laki tersebut tersenyum mendengar suara yang membuat dirinya merasa candu. Dia menggulirkan roda pada kursi mundur. Mendekati gadis yang menyapanya.
Gadis itu tersenyum dengan indah setelah seharian berbincang dengan saudarinya melalui telepon rumah.
Dengan perasaan tulus, Rubby membungkuk ke arah Masson. Dia berlutut di depan Laki-laki tersebut seraya mengucapkan terima kasih.
Masson tersenyum, mengangguk kemudian meminta gadis itu pergi terlebih dulu ke dalam mobil.
Hari ini adalah hari-hari menjelang perginya Rubby setelah kontraknya selesai.
Masson ingin menghabiskan waktu bersama orang yang sudah menjadi rekannya.
Dia sudah tidak bisa mengikat rekannya dengan kontrak baru mengingat perkembangan kondisi kesehatannya.
Masson ingin membawa Rubby pergi ke tempat liburan. Dia ingin melihat wajah Rubby yang ceria dan senyumnya yang menenangkan.
__ADS_1
"Tempat yang indah."
Rubby memandang pemandangan yang sangat indah. Membuat gadis itu merasa seperti pulang ke rumah orangtuanya. Matanya berkaca-kaca.
"Apa kamu menangis?"
Masson menatap heran pada Rubby yang menyeka air matanya.
Rubby segera menggeleng, dia tersenyum dan berjalan mundur perlahan kemudian berlari cukup jauh meninggalkan Masson. Gadis itu membaringkan tubuhnya di atas rerumputan hijau. Memejamkan matanya sambil terus tersenyum.
Masson hanya duduk tersenyum melihat gadis itu. Rasanya dia ingin ikut berlari, namun untuk saat ini dia hanya ingin menikmati kebahagiaan yang terpancar oleh Rubby.
Rubby berjalan kembali ke tempat Masson.
Dia masih dengan tawa riangnya mendorong kursi roda Masson mengelilingi padang rumput yang hijau tersebut.
"Wah.. Lihatlah, itu matahari terbenam…"
Rubby melompat kegirangan. Dia berhenti untuk menikmati pemandangan matahari terbenam di padang rumput.
Masson mendongak, melihat mata Rubby yang tadinya berkaca-kaca sekarang menjadi bergelora.
Bagi Masson, ini adalah yang paling baik selama Rubby bekerja dengannya.
"Dad, kau terlalu lama disini.."
Masson membuka matanya saat seorang anak laki-laki menyentuh bahunya. Laki-laki tersebut mengusap rambut Samm.
"Berapa lama aku disini?"
Sammuel menatap langit-langit ruangan, menghitung jam dengan tangan dan imajinasinya.
"Hampir satu jam."
"Berikan salam pada ibumu lalu kita pulang. Lain waktu kita datang lagi kemari. "
Sammuel membungkuk ke arah Rubby. Dia mengucapkan sampai jumpa.
"Sampai nanti, kami akan kemari lagi." Bisik Masson.
Mereka berdua pergi meninggalkan ruangan tersebut. Hati Masson berdegup kencang setelah menyelam kembali ke dalam pikirannya tadi.
Ini semua sudah berubah. Segalanya telah berubah, akan menjadi seperti itu sampai akhir.
><><><><><
Brak..
Brak..
Brak..
Pintu kayu yang terkunci itu akhirnya terbuka setelah seorang pria berkali-kali mendobraknya.
Pria tersebut segera berlari menuju keluar dari dalam rumah kayu sederhana miliknya.
Dia mengumpat kesal sembari menatap tajam pada kelima anak buahnya yang terkapar di lantai.
Dengan napas tersengal pria tersebut mencari dua orang yang telah mengurung dia dari luar kamar ketika dirinya sedang asik istirahat.
Pria itu melihat seorang laki-laki yang berlari menggandeng tangan seseorang yang seharusnya berada dalam pengawasannya.
__ADS_1
"Masson, kembalikan dia." Teriak pria itu sembari terus mengejar keduanya.
Pria itu berlari sembari melempar jam tangannya ke atas, sedetik kemudian jam tangan itu meledak untuk memberi sinyal meminta bantuan.
Masson menoleh ke belakang setelah ledakan kecil itu selesai, tersenyum pada pria yang mengejarnya.
"Tunggulah di sana atau kau akan ditembak. " Ucap Masson dengan santai.
"Ayolah Masson, kita teman."
Masson menggeleng, sudah bukan lagi.
Mereka kembali berlari, sementara itu pria tadi sibuk mengumpat pada Masson sambil terus berusaha menyamai laju Masson.
"Masson!" Pria itu berteriak.
Masson menghela napas panjang ketika jalannya untuk berlari berakhir di pinggir tebing yang curam dan dalam, di bawah sana terlihat sangat gelap.
Dengan senyumnya yang menawan, Masson menatap gadis yang terlihat cemas tersebut.
"Apa kita terjun saja?"
Gadis tersebut menggeleng. Dia masih muda dan merasa jika masa mudanya masih belum menghasilkan apapun, gadis itu masih ingin berusaha untuk mencapai tujuan yang telah ditargetkan.
Tanpa menyetujui gadis itu, Masson segera melompat dari pinggiran tebing bersama gadis yang masih digandengnya.
Laki-laki tersebut tertawa pelan, merangkul gadis itu kemudian menarik sebuah tali yang terhubung dengan tasnya.
"Buka matamu."
Gadis tersebut menggeleng, mengeratkan genggamannya pada Masson.
Dia baru membuka matanya setelah merasa yakin dengan apa yang terjadi. Gadis itu melihat ke atas, sebuah parasut yang membantu mereka mendarat secara hati-hati.
"Tenang." Bisik Masson sembari mengarahkan parasutnya dengan hati-hati.
"Baiklah. Karena momennya cukup bagus, ayo menikah denganku. "
"Apa?" "Lihatlah sekitarmu. Kita sedang terjun bebas dengan parasut yang aku sendiri tidak tahu apakah parasut ini aman atau tidak. Namun kamu malah mengajakku menikah?"
Masson mengangguk. "Mau?"
Gadis itu diam sejenak, dia menatap Masson yang mengarahkan parasutnya ke arah batu besar di tengah sungai.
"Baiklah."
"Bagus, besok saja kita menikah."
Masson melepas parasutnya dan ikatan pada tubuh gadis itu. Dia melihat sekelilingnya yang dibatasi oleh dinding tebing pada kedua sisi.
Air sungai mengalir cukup deras, banyak ikan yang bergerombol.
"Dasar aneh, bukannya mengajak menikah dengan baik malah mengajak menikah sekaligus mencari mati." Gerutu gadis itu sembari melipat kedua tangannya di dada.
Masson yang mendengarnya hanya tersenyum-senyum. Apapun caranya itu adalah satu-satunya jalan terbaik
"Dad?"
Suara kecil itu membuat Masson segera menyimpan kembali jurnal pribadinya. Dia tersenyum pada anak laki-laki yang datang dengan wajah yang masih mengantuk. Ini masih tengah malam, namun Samm terbangun dari tidurnya. Dia menutup mulutnya yang terbuka katena menguap.
Anak laki-laki tersebut memeluk ayahnya dengan erat. Kembali memejamkan matanya.
__ADS_1
Masson mengusap puncak kepala Sammuel. Membiarkan anak laki-laki itu untuk melanjutkan tidurnya.
><><><><><