My Little Prince

My Little Prince
Zen's Little Girl


__ADS_3

"Katakan permintaanmu ... Kakak akan berusaha memenuhinya." Ucap Kak Zen pelan. Dan kita masih terus berjalan untuk menuju kontrakanku.


"Kakak orang yang baik. Dan kakak juga berhak bahagia. Kakak harus melupakan gadis kecil kakak itu dan membuka hati kembali." kataku dengan hati-hati.


Tiba-tiba Kak Zen menghentikkan langkahnya. Dia terdiam beberapa saat setelah mendengar ucapanku. Dan beberapa saat suasana menjadi hening. Hanya terdengar beberapa suara kendaraan transportasi yang sedang melintas tak jauh dari jalan raya.


Aduh? Apa aku salah bicara ya? Bagaimana kalau kak Zen tersinggung dan marah? Aduh! Dasar Yuko! Kenapa kau ikut campur masalah ini! Aku memalingkan pandanganku dan sedikit membelakangi kak Zen karena sedikit takut.


Aku tak pernah sih melihat kak Zen marah sebelumnya. Tapi bagaimana jika ucapanku tadi sungguh membuatnya marah? Aduh ... Dasar suka ikut campur kau, Yuko! Dia itu seniormu! Dan dia adalah asisten dosenmu! Kau sungguh tak tau diri, Yuko! Rasanya ingin menangis dan menghilang saja.


"Ma-maaf, Kak jika ucapanku tadi salah ... Aku tidak bermaksud ..." kataku sedikit melempem.

__ADS_1


"Kenapa minta maaf? Kau bahkan tidak salah apa-apa." kata kak Zen pelan dan ramah seperti biasanya.


Kak Zen tidak marah? Ah, syukurlah!


"Ucapanku barusan sangat tidak sopan. Dan sangat ikut campur. Maaf ..." ucapku pelan.


"Tidak kok. Kan sudah kakak bilang, kau sudah kakak anggap seperti adik kakak. Jadi kau mengatakan hal tadi juga pasti untuk kebaikan kakak. Benar begitu? " kata kak Zen dengan nada pelan dan sedikit memandangku dari samping.


Aku mengangguk perlahan dan hati-hati. "Karena menurutku itu sangat tidak adil. Kakak sangat baik dan sempurna. Kakak juga pantas bahagia. Sekalipun tidak bersama gadis itu! Masih banyak di luar sana gadis yang baik, Kak."


"Jadi secara tidak langsung kau mengatakan kalau kakak itu jomblo yang tidak laku-laku?"

__ADS_1


Aku membulatkan mataku mendengarkan ucapan kak Zen. "Aku tidak bilang begitu, Kak! Maksudku kakak harus bisa membuka hati kakak untuk gadis lain sekarang! Jangan menunggu gadis kecil kakak yang nyebelin itu!"


Kak Zen malah semakin mengeraskan tawanya kali ini. Sungguh ini membuatku bingung sekali. Aduh! Apa aku salah bicara lagi? Aku menggaruk-garuk kepalaku yang sama sekali tidak gatal.


"Maaf, Yuko. Tapi kau lucu sekali ..."


Lucu? Bagian mananya ya? Aduh kak Zen bikin aku bingung saja deh ... Aku masih menatapnya bingung dan tak mengerti. Dan perlahan dia menghentikkan tawanya.


"Maaf ... Maaf. Tapi dia tidak seperti yang kau bicarakan, Yuko. Dia tidak menyebalkan. Tapi dia sangat manis dan lucu. Bahkan saat dia sudah dewasa dia sangat cantik dan manis sekali." ucap kak Zen sambil menatap langit di atas.


"Idih kakak masih juga belain dia!" sungutku.

__ADS_1


"Kakak tidak belain dia kok. Tapi memang pada kenyataannya seperti itu." kini kak Zen tersenyum lebar menatap jalanan lurus di hadapannya. "Melihat dia yang sekarang sudah cukup membuat kakak tenang dan bahagia."


"Tapi kakak juga harus bisa melupakan dia! Dia sudah bersama yang lain kak! Kakak juga harus tunjukkan pada dia, kakak bisa tanpa dia!" kataku ngotot. Entah darimana keberanian ini. Tiba-tiba saja aku merasa sangat kesal dengan gadis kecil kak Zen. Aku merasa ini sungguh tidak adil untuknya. Dia terlalu baik ...


__ADS_2