My Little Prince

My Little Prince
Delusi 2


__ADS_3

Pagi ini jam 10 kita sudah sampai di Tokyo Disney Resort. Hanya ada beberapa mahasiswa saja yang mengikuti wisata ini. Kira-kira hanya 40 orang saja. Karena biasanya memang kebanyakan dari mereka lebih suka menghabiskan akhir pekan bersama keluarga atau orang-orang terdekatnya sih.


Kita semua saling bergerombol sendiri-sendiri sesuai teman dekat masing-masing. Ada yang menaiki beberapa wahana, ada juga yang jalan-jalan dan menikmati kuliner di sini.


"Sora. Kau mau ice cream?" tanyaku kepada Sora.


Karena saat ini aku hanya sedang bersama Sora. Sementara Jessica sedang menaiki roller coaster bersama yang lainnya.


"Boleh ..." jawabnya dengan seulas senyum.


"Aku akan membelinya sebentar. Tolong bawakan dulu tasku ya." kataku lalu memberikan tasku kepada Sora yang sedang duduk di sebuah bangku di depan wahana roller coster.


"Okay deh ..." Sora menyauti dengan tersenyum lebar.


Aku segera bergegas untuk mendatangi kedai Ice cream yang terletak tak jauh dari tempat itu. Wah, cukup panjang juga antriannya. Butuh beberapa waktu untukku mendapatkan kedua ice cream itu. Kira-kira aku mengantri 10 menit. Wah ... Lumayan lama juga aku mengantri.


Setelah mendapatkan 2 ice cream strawberry, aku segera kembali ke tempat Sora menungguku tadi. Dan ternyata Sora sudah tidak ada di bangku itu. Kini hanya ada kak Zen yang duduk sendirian di sana yang sedang memandangi ponselnya.


Kemana Sora pergi ya?


"Kak, Apa kakak melihat Sora?" tanyaku kepada kak Zen.


Kak Zen yang mendengar ucapanku segera menoleh ke arahku dan tersenyum.


"Oh, Ave baru saja mengajak Sora untuk menaiki sebuah perahu." sahutnya dengan ramah. "Oh iya, ini tas kamu, Yuko." imbuhnya lagi lalu mengulurkan sebuah slingbag putih yang ternyata adalah milikku.


"Sora menitipkannya kepada kakak tadi ..." ucap kak Ave lagi menjelaskan.


"Ah ... Oh ... Iya. Terima kasih, Kak. " sahutku seadanya.


Lalu bagaimana dengan kedua ice cream ini? Kalau menunggu Sora kembali, ice creamnya akan meleleh begitu saja. Jadi harus bagaimana?


Ehm? Tiba-tiba aku memiliki sebuah ide untuk berbagi dengan kak Zen. Jadi aku langsung menyodorkan sebuah ice cream padanya.


"Kakak mau? Aku punya 2 ice cream. Dan aku mau berbagi dengan kakak ..." ucapku tanpa sadar dengan seulas senyum.


"Tentu saja kakak mau, Yuko ..." jawab kak Zen begitu saja.

__ADS_1


Entah kenapa aku seperti pernah mengalami hal seperti ini sebelumnya ... Benar saja ... 15 tahun yang lalu ... Di sebuah taman bermain ... Di sebuah bangku ... Aku pernah berbagi ice cream dengan kak Zen saat itu.


Tiba-tiba saja aku terdiam dan mematung cukup lama. Semua kenangan itu kini memenuhi pikiranku saat ini. Semua terasa begitu nyata. Hingga membuatku begitu sedih dan rasanya sedikit sakit hatiku saat ini.


Tak terasa mataku sudah sedikit berair, namun aku masih bisa menahannya untuk tidak menangis.


Kak Zen ... Aku bahkan belum meminta maaf dengan sempurna kepadanya. Aku belum meminta maaf sebagai gadis kecilnya. Dan kini berusaha melupakannya begitu saja karena kak Zen yang mengalami kehilangan beberapa dari memory masa lalunya.


Rasanya aku telah menjadi orang yang paling jahat di dunia ini. Ah!! Aku benar-benar sangat jahat!


"Yuko ... Kamu baik-baik saja?" pertanyaan kak Zen membuyarkan angan masa laluku. Dan aku segera bersikap sewajar mungkin.


"Hhm. Aku baik-baik saja, Kak." sahutku lalu memberikan salah satu ice cream untuk kak Zen lalu duduk di sebelahnya.


"Darimana kamu tau kakak suka rasa strawberry?" tanya kak Zen sedikit penasaran. Lalu dia mulai menikmati ice cream itu.


"Ehm. Kebetulan saja, Kak. Karena aku juga suka rasa strawberry." jawabku seadanya.


"Wah, bisa sama gitu ya ..."


Dan perlahan aku mulai menikmati ice creamku. Begitu juga dengan kak Zen. Bagaimana ini? Ingatan masa lalu terus membayangiku ... Dan kenapa bisa hampir semua sama seperti hari ini?


"Yuko ..." ucap kak Zen memecah keheningan diantara kita.


"Hhm ... Ya, Kak ..."


"Kakak merasa ini semua sudah pernah terjadi sebelumnya ..." ucapnya tiba-tiba.


Degghh ...


Mendengar ucapan kak Zen, membuatku seperti membeku seketika. Dan mataku sedikit membelalak dibuatnya. Duniaku serasa berhenti untuk beberapa saat.


Ada apa ini? Apa kak Zen telah mengingat sesuatu? Bagaimana jika memang kak Zen mengingat semuanya? Apa yang harus aku lakukan?


Aku masih terdiam mematung hingga lelehan ice cream itu terjatuh dan memberikan noda pada dress yang sedang aku pakai.


"Yuko ..." ucap kak Zen lagi yang membuyarkan anganku.

__ADS_1


"Hhm ... Ya. Maaf, Kak ... Aku malah melamun." kataku berusaha bersikap sewajar mungkin.


"Cepat habiskan ice creamnya ... Lihatlah, ice cream milikmu meleleh dan mengotori pakaianmu, Yuko."


Aku segera menatap pakaianku dan ternyata memang sudah sedikit terkena lelehan ice cream itu.


"Ah ... Iya ... Ceroboh sekali aku!" kataku sambil mengambil sapu tanganku di dalam slingbag-ku kemudian segera membersihkan noda itu.


"Kenapa melamun terus dari tadi?" tanya kak Zen tiba-tiba.


"Tidak kok, Kak." jawabku pelan.


"Ada sesuatu yang sedang mengganggumu, Yuko?" tanya kak Zen lagi.


"Aku ... Ak-Aku ... Uhm ... Kak, aku ingin meminta maaf jika selama ini aku sudah banyak berbuat salah kepada kakak." ucapku sedikit kebingungan sendiri.


"Kamu tidak pernah membuat kesalahan terhadap kakak, Yuko." ucap kak Zen dengan lembut. "Sekalipun ada, pasti kakak juga sudah memafkannya kok." imbuhnya dengan sangat lembut, bahkan sepasang mata Okavango Blue Diamond itu menatapku seperti sedang tersenyum.


Nyuuutt ...


Mendengar ucapan kak Zen malah semakin membuat hatiku terasa begitu nyeri. Sebesar itukah hatimu, Kak Zen? Kini aku benar-benar menjadi lebih buruk saja di hadapannya.


Tak sadar kini aku malah sudah menangis saja. Aku tak bisa menahannya lagi kali ini.


Aku sudah sangat jahat padamu, Kak. Maafkan aku. Aku sudah membuatmu menunggu selama 15 tahun. Bahkan aku sudah membuatmu celaka malam itu, hingga kakak koma dan hampir saja pergi untuk selamanya. Maafkan aku yang sudah sangat jahat ini, Kak ...


Itulah kata yang seharusnya aku ucapkan untuk kak Zen. Namun aku tidak bisa melakukannya saat ini. Mulutku terkunci sangat rapat dan semua kata-kata itu seperti sudah tertelan kembali dan tak bisa aku ucapkan.


Miris ... Tapi inilah kenyataannya. Kenyataan memang mungkin terkadang sedikit pahit untuk kita cerna.


"Yuko ... Ada apa? Ceritakan saja kepada kakak jika kamu mau ... Agar bebanmu bisa sedikit lebih berkurang. Kakak siap mendengarnya kok." ucap Kak Zen dengan senyuman khasnya .


"Tidak ada! Aku baik-baik saja kok, Kak!" sahutku dengan seulas senyuman dan segera mengusap air mataku.


"Apa kau yakin, Yuko?" kata kak Zen yang masih sedikit meragukan jawannku.


"Iya, Kakak ..." sahutku dengan anggukan plan.

__ADS_1


__ADS_2