
Setelah beberapa saat Mirae datang dengan membawa sebuah kotak kecil berwarna navy dan menyerahkannya kepada Haku.
Haku segera membuka kotak itu dan terlihat sepasang cincin berwarna silver yang sangat manis dan ukiran begitu simple.
Haku mulai mengambil salah salah satu cincin itu dan mulai memakaikannya pada jari manisku. Aku sedikit tersenyum haru dan merasa ini seperti mimpi saja.
Kemudian aku mulai mengambil cincin yang lainnya dan mulai memakaikan pada jari manis Haku. Jemarinya terasa begitu lembut dan hangat saat ujung jariku menyentuhnya.
Rasanya sedikit gugup, namun aku sangat merasa bahagia malam ini. Senyumku mulai mengembang, begitu juga dengan Haku. Anggota keluarga kita juga tersenyum haru menyaksikan semua ini.
"Akhirnya kalian bisa bersama ..." ucap Ibu Haku yang ternyata sudah menitikkan air matanya karena terharu.
"Benar sekali. Mereka berdua sudah banyak melewati jalan penuh kerikil selama ini. Dan itu tidaklah mudah ..." kini Ibuku juga ikut menitikkan air mata.
"Ibu ..." ucapku lalu memeluk Ibuku. Sedangkan Haku juga langsung memeluk Ibunya yang duduk di sebelahnya.
Rasanya malam ini benar-benar membahagiakan dan penuh haru. Walaupun hanya sekedar tunangan dan janji pernikahan, namun ini adalah sesuatu yang bagus.
Setelah beberapa saat kita mulai makan malam bersama. Suasana juga begitu hangat. Makan malam bersama kedua keluarga kita setelah sekian lama tidak saling bertemu. Dan ini adalah makan malam kedua keluarga untuk pertama kalinya setelah aku dan Haku memiliki sebuah janji pernikahan. Makan malam ini diwarnai dengan obrolan-obrolan ringan dan canda tawa bersama. Begitu hangat.
__ADS_1
Setelah menyelesaikan makan malam bersama Haku mengajakku ke balkon lantai 2. Sementara yang lain masih melanjutkan temu kangen mereka di ruang keluarga sambil menikmati film dan beberapa makanan penutup.
"Haku ..." ah ... menyebut namanya saja sudah sangat membuatku berdebar.
Haku meraih kedua jemariku perlahan. Tangannya terasa hangat meskipun di luar udara terasa sedikit dingin.
"Maaf jika tidak memberitahumu sebelumnya ..." ucapnya pelan.
"Kau bilang tidak dibutuhkan kata maaf dan terima kasih dalam sebuah ikatan ..." ucapku dengan tersenyum samar.
Seketika Haku tertawa kecil setelah mendengar ucapanku. Dan aku juga ikut tertawa bersamanya.
"Aku bahagia sekali malam ini, Yuko." ucapnya dengan lembut. Cahaya bulan menyinari wajah dan tubuhnya yang sedikit remang, namun membuatnya sangat menawan. Angin malam yang mulai bertiup dan terasa sedikit dingin membuat rambutnya sedikit menari di udara. Sorotan matanya terasa teduh, hangat dan sangat menenangkan. Aku melihat sinar matanya yang terlihat sangat bahagia malam ini. Senyumannya begitu mengembang dan manis sekali.
"Aku tidak sabar menantikan musim semi tiba ..." ucapnya yang semakin membuat wajahku merona.
Musim semi ... Hanya kira-kira 6 bulan lagi musim semi akan tiba. Dan itu artinya aku dan Haku akan segera menikah. Ah ... Membayangkannya membuatku malu sekali. Tapi aku juga merasa sangat senang dan sedikit tidak sabar.
Musim semi dan musim gugur adalah dianggap hari yang tepat dan baik untuk melangsungkan sebuah pernikahan di Jepang. Hal ini masih dipercaya oleh kebanyakan masyarakat di Jepang. Dan orang tua kita masih mempercayainya.
"Yuko ... Apa kau menangis?" ucap Haku yang menyadari mataku kini sudah berair.
__ADS_1
"Tidak ..." aku segera menghapus air mataku yang kini hampir tumpah. "Aku hanya terlalu bahagia" ucapku lalu tertawa kecil.
"Yuko. Aku berjanji aku tidak akan membuatmu menangis lagi. Aku akan selalu melindungimu! Itulah janji yang aku buat sejak saat itu. Saat pertama kali kita bertemu dan saling berbicara!" ucap Haku pelan dan serius.
"Di hari pertama kita bertemu dan saling berbicara ... Aku sudah merubah pola pikirku. Sejak saat itu aku mulai berubah. Aku yang sebelumnya sangat putus asa dan memilih untuk mengakhiri semuanya, namun kau hadir dan bisa merubah semua pola pikirku." kini Haku memelankan suaranya.
"Saat itu aku merasa sangat terpuruk. Ayahku difitnah telah melakukan penggelapan uang bahkan dia dituduh telah membunuh rekan kerjanya saat itu. Mereka semua mengataiku dan memberi label padaku anak seorang pembunuh." Haku melepaskan genggamannya lalu mengalihkan pandangannya menatap pemandangan gedung-gedung di hadapannya.
"Mereka semua menjauhiku. Bahkan mereka semua mengucilkanku. Tidak ada yang mau berteman denganku. Bahkan para senior itu mulai suka untuk menghajarku saat itu. Aku tidak berdaya untuk melawannya, Yuko. Aku hanyalah seorang anak kecil yang tidak tau apa-apa saat itu. Dan aku begitu lemah. Tapi aku menjadi korban dari berita miring dan tidak benar itu ..." aku melihat mata Haku yang mulai berkaca-kaca. Dan aku berjalan mendekatinya.
"Sejak bertemu denganmu, aku merasa kalau aku harus bisa melalui semua ini! Aku harus tetap kuat dan terus tetap berjalan. Dan mulai saat itu aku berjanji kepada diriku sendiri untuk selalu menjagamu. Untuk selalu melindungimu ..." kini dia berbalik dan menatapku.
Mendengar semua cerita masa lalunya membuat hatiku sedikit teriris dan sangat sakit. Haku kecil yang malang harus melewati semua itu sendirian saat itu.
"Tak lama kemudian, Ayahku bisa membuktikan jika dia tidak bersalah. Namun semua pandangan masyarakat hanya sedikit berubah. Mereka tetap dingin kepada keluargaku. Tapi keluargaku sangat bersyukur ketika Ayah dipindahkan tugas ke kantor cabang di Tokyo. Mungkin di kehidupan dan tempat yang baru semua akan menjadi lebih baik lagi." Haku mengambil nafas dan mengeluarkannya perlahan. Lalu dia duduk di sebuah bangku.
"Mereka sangat bahagia di tempat yang baru. Kerjaan Ayah juga lancar. Bahkan dia naik jabatan. Namun aku tidak bisa bahagia sedikitpun. Aku masih selalu merindukan Sapporo dan merindukanmu, Yuko ... Hari-hariku di Tokyo seakan menjadi hampa kembali seperti saat aku belum bertemu denganmu. Aku berubah menjadi lebih pendiam dan bahkan aku tidak mudah bergaul. Aku selalu menantikan kehadiranmu di Tokyo seperti janji yang sudah kau ucap untukku. Namun ... aku sempat pergi sebelum bertemu denganmu ..." kini Haku benar-benar menitikkan air matanya dan suaranya terdengar sangat lirih.
Aku segera berjalan mendekatinya dan berdiri di hadapannya yang masih terduduk, lalu dengan pelan aku meraihnya. Mengistirahatkannya dalam dadaku dan pelukanku. Dia masih sedikikit terisak. Aku menepuk dan mengusap pelan bahunya.
Bahkan aku sendiri juga sudah sedikit menumpahkan air mataku. Dan aku segera mengusapnya.
__ADS_1
"Iya ... Aku tau. Pasti semuanya sangat berat ..." ucapku yang terdengar sedikit parau.
Baru kali ini aku mengetahui semua itu. Sebelumnya Haku selalu terlihat kuat dan ceria. Namun malam ini aku baru mengetahui sisi lemahnya yang selama ini dia simpan sendiri. Pasti itu semua sangat berat untuknya. Maafkan aku Haku. Padahal selama ini kau selalu ada untukku. Namun aku sama sekali tidak mengetahui beban terberatmu saat itu.