
"Aku menyukaimu."
Laki-laki yang duduk di atas kursi roda itu tersenyum tipis. Dia menarik napas dalam sembari memikirkan jawaban yang tepat untuk seorang gadis yang telah berani untuk mengungkapkan isi hatinya.
Gadis yang membawa setangkai bunga untuk diberikan pada laki-laki tersebut menunduk.
Dia tidak berharap apapun setelah mengungkapkan isi hatinya. Dirinya sadar jika mereka berdua terpaut jauh berbeda.
Gadis itu tidak mengharapkan sebuah penolakan maupun penerimaan oleh sosok laki-laki yang telah lama disimpan di dalam hatinya.
"Terima kasih karena menjadikanku sebagai orang yang kamu suka." Laki-laki tersebut masih tetap tersenyum.
"Namun, untuk saat ini kamu masih harus fokus pada dirimu. Dan aku juga masih dalam fase pemulihan. Kamu masih sangat muda, masih bisa menggali potensimu dan mendapat karir yang cemerlang."
Masson menunduk, menggenggam tangan gadis yang berlutut di hadapannya.
Raut wajah Rubby menunjukkan sedikit kekecewaan. Namun gadis itu segera memasang senyumnya.
"Aku lega, terima kasih atas jawaban darimu."
"Aku harap, setelah hal ini kita tidak akan menjadi seperti orang asing." "Terima kasih. "
Masson mengangguk, ia melepas genggamannya saat Rubby beranjak.
"Sama-sama. Jangan merasa buruk, kita akan bertemu lagi di tempat ini suatu saat nanti."
"Tentu, sampai jumpa." Rubby melambaikan tangannya pada Masson. Dia kemudian masuk ke dalam mobil yang telah menunggunya.
Hatinya sedikit kecewa, namun dia berusaha agar tidak terlalu memikirkan hal tersebut.
Setelah beberapa bulan bekerja dengan Masson, akhirnya Rubby bisa memutus kontraknya karena tugasnya sudah selesai. Masson sudah bisa berjalan cukup jauh meskipun kadang laki-laki tersebut masih perlu bantuan. Kondisi kesehatan Masson juga berangsur membaik.
Rubby tersenyum sambil menatap sebuah kotak yang diberikan Masson kemarin malam. Sebuah kenangan kecil dari perpisahan mereka.
Gadis itu menghela napasnya sembari membuka kotak tersebut. Dia mengambil benda mungil yang berada di dalam kotak. Menatapnya dengan senyuman penuh yang terukir di wajahnya.
"Terima kasih karena sudah menemaniku selama aku sakit. Kamu yang terbaik."
Rubby tersipu malu membaca secarik kertas yang terselip di dalam kotak tersebut.
Rasa kecewa pada hatinya sekarang sudah hilang. Dia merasa lega untuk kedua kalinya, selain karena sudah mengungkap apa yang telah dia pendam, juga karena perasaan tersebut dibalas dengan bijak oleh orang itu.
Gadis itu memasukkan kembali cincinnya ke dalam kotak. Dia menyimpan benda tersebut dengan sangat berhati-hati.
Dia tidak tahu, kapan mereka akan bertemu kembali. Bahkan bisa saja mereka tidak akan bertemu sama sekali suatu hari nanti. Namun, Rubby percaya jika semuanya akan terasa manis.
Sepanjang perjalanan, Rubby hanya tersenyum-senyum malu bercampur senang.
Supir mobil menoleh ke arah Rubby, melempar senyum pada gadis yang duduk di kursi penumpang.
"Nona, kita harus mengisi bahan bakar mobilnya dulu." Ucap pria tersebut dengan ramah.
"Tentu."
Pria tersebut keluar dari dalam mobil. Dia mengisi bahan bakar mobil sebelum melanjutkan perjalanan mereka.
Rubby melihat keluar jendela, ia mengerutkan dahinya saat melihat cahaya yang berkedip dari kejauhan. Baginya itu terlihat mencurigakan karena berada di dekat kawasan hutan yang gelap. Dengan rasa ingin tahu yang mendalam, Rubby keluar dari dalam mobil. Memberitahu sang supir jika dirinya ingin pergi jalan-jalan ke pinggiran hutan sebentar.
__ADS_1
Dia melangkah ke dalam sana, semakin lama gadis itu semakin berjalan masuk ke dalam hutan mengikuti cahaya yang berkedip.
Rubby mendengar suara tawa beberapa orang yang berada di sana. Mereka sepertinya seorang pemburu yang sedang mencari mangsa.
Dengan perlahan gadis itu mendekat, ingin mendengar percakapan orang-orang yang berpenampilan mencurigakan itu.
Semua orang disana sadar pada kedatangan Rubby. Mereka langsung tersenyum dan beranjak dari kursi.
Rubby menelan salivanya sembari berjalan mundur perlahan-lahan. Gadis itu tersenyum getir saat salah seorang dari mereka angkat suara.
"Wah wah, kemarilah dan bergabung bersama kami, 4.5R…"
><><><><><
"Sammuel, selamat pagi anak muda. Ayo bangun, cuci muka, ganti pakaianmu dan kita pergi berolahraga."
"Samm ayolah, nak."
Masson menarik selimut anak laki-laki tersebut, dia membuang napas kasar. Lagi-lagi Samm menolak dibangunkan untuk pergi olahraga.
Entah bagaimana cara Rubby membangunkan putra mereka. Masson masih harus banyak belajar untuk membiasakan diri bersama Samm hanya berdua.
Laki-laki tersebut mengusap rambut putranya, kemudian pergi meninggalkan kamar Samm. Membiarkan anak laki-laki itu untuk tidur.
Dia memilih jalan pagi sendirian lagi.
Masson tersenyum saat melihat seorang wanita lanjut usia sedang olahraga. Wanita itu membalas senyum Masson dengan ramah.
"Selamat pagi putra Nizcholn. "
"Semuanya masih baik, haha.."
Masson mengangguk. "Saya akan pergi ke taman. Sampai jumpa nyonya Moelna."
"Sampai jumpa Masson, lain kali ajaklah putramu."
"Tentu."
Masson berlari pelan. Sepanjang jalan dia hanya fokus pada langkahnya. Sesekali dia menyahuti sapaan para tetangganya.
Sesampainya di taman, Masson tersenyum saat melihat beberapa anak muda sedang berolahraga di sana.
"Mereka melakukan pola hidup sehat. Baguslah."
Masson duduk di kursi taman. Dia tertawa pelan saat seseorang menepuk bahunya.
"Minumlah ini."
"Terima kasih. "
Masson menerima sebotol air mineral yang diberikan oleh rekannya. Keduanya duduk bersamaan, memasang wajah serius seperti tidak bisa diganggu.
"Kau masih marah dengan mereka?"
"Tidak, hanya saja aku masih malas."
Wanita yang berpakaian olahraga itu mengangguk-anggukkan kepalanya seolah paham dengan perasaan Masson.
__ADS_1
"Aku harap kematian istri mu tidak memengaruhi apapun."
"Tidak ada yang berubah. Rasanya dia masih ada, selamanya akan seperti itu."
Wanita tersebut tertawa pelan, dia menghela napasnya lega. Setidaknya Masson menunjukkan bahwa dia tidak berubah dalam segi bicaranya.
"Mau pergi sekarang?"
Masson mengerutkan keningnya saat wanita yang tadinya duduk diam di sampingnya beranjak.
"Ya, kau pulang saja sana, besok aku hubungi lagi."
"Baiklah, kau saja yang pergi duluan. Aku masih mau di sini."
Wanita tersebut mengangguk kemudian berjalan pergi. Masson menatap wanita itu yang semakin menjauh.
"Kenapa wanita sangat tidak mudah untuk dipahami?" Gumam Masson setelah rekannya sudah pergi menjauh.
Laki-laki tersebut masih duduk-duduk di sana sampai matahari benar-benar mulai terik. Dia sibuk tenggelam di dalam pikirannya. Mencari jawaban yang sebenarnya.
Dia baru tersadar dari lamunannya ketika sesuatu menghantam wajahnya. Wajah laki-laki tersebut memerah karena benda itu. Masson beranjak, ia menggeleng pelan kemudian pergi meninggalkan taman tanpa menunggu pemilik bola yang menghantam wajahnya.
Laki-laki tersebut berlari kembali pulang ke rumahnya. Semua orang disana menatap Masson dengan tatapan heran dan penuh tanda tanya.
Laurent yang sibuk berkutat dengan bukunya langsung mendekati Masson dan mengajukan banyak pertanyaan.
"Apa yang telah terjadi pada anda? Apa seseorang telah menyerang anda? Tuan..."
"Ini biasa saja. Bukan hal yang serius, minta Damian untuk menjadwalkan pertemuan Samm dengan psikologi. "
"Baik, saya juga akan membawakan kotak obat."
Masson mengangguk. Ia berjalan menaiki tangga sembari memegang wajahnya yang masih merah.
Laki-laki tersebut membuka pintu kamar putranya. Dia melihat Sammuel yang baru saja terbangun dan sedang berusaha melawan rasa kantuk yang masih menjalari tubuhnya. Anak laki-laki tersebut duduk di atas ranjang sembari mengucek matanya.
"Dad? Apa kau baik-baik saja?" Ucapnya dengan nada yang lirih.
Masson tersenyum mendengar perkataan putranya yang turun dari atas ranjang. Dengan hati-hati ia mengangkat tubuh Samm ke gendongannya.
Membawa anak laki-laki semata wayangnya ke kamar mandi. Memintanya untuk segera menggosok gigi dan mencuci mukanya.
"Setelah ini ganti pakaianmu. Kita harus pergi ke tempat mom."
"Tentu, namun aku ingin makan roti isi buatan dad."
"Baiklah, bersihkan dirimu dan bersiaplah. Aku akan kebawah membuatkanmu sarapan."
Sammuel mengangguk sembari menaiki anak tangga yang berada di dekat wastafel karena dia belum bisa mencapai tinggi wastafel tersebut. Membasuh wajahnya yang masih terlihat mengantuk.
Dia mulai menggosok giginya setelah matanya benar-benar terbuka.
Anak laki-laki tersebut turun dari atas tangga secara perlahan-lahan. Kemudian dia berganti pakaian dengan kemeja hitam dan celana hitam.
Hari ini dia akan bertemu dengan ibunya setelah lama tidak berjumpa.
><><><><><
__ADS_1