
Suara tawa renyah, membuat semua oramg menatap pria yang tertawa itu dengan tatapan waspada. Pria tersebut kembali menembakkan peluru ke arah yang tidak disangka-sangka.
Seketika secara spontan, seorang pria berseragam khusus memberi aba-aba supaya orang-orangnya menyerang pria yang tertawa tadi.
"Kalian masih kalah jumlah." Pria yang tertawa itu semakin brutal dalam menembak.
"Ed, kau benar-benar tidak mengerti."
Seorang laki-laki berlari ke arah Ed. Memiting pria itu dengan geram. Namun satu tembakan diarahkan Ed ke udara. Membuat laki-laki tersebut melepaskan pria yang menjengkelkan itu.
"Mom." Panggil anak laki-laki yang duduk di kursi roda pada sang ibu yang telah sadar kembali.
Perempuan yang masih merasa pusing itu berusaha berjalan mendekati suaminya. Dia memeluk suaminya dengan erat, menenggelamkan wajahnya pada dada bidang suaminya.
Terdengar suara tembakan berulang kali dari segala penjuru arah.
Para pria berbaju hitam segera membentengi Masson dan Rubby. Sementara itu, Sammuel telah berhasil diamankan oleh Dave dan dibawah menjauh dari lokasi tersebut. Ed yang mengetahui hal tersebut hanya bisa berdecak kesal karena tidak terlalu banyak menaruh penjaga di area tersebut.
"Aku tidak kuat, rasanya tubuhku sangat berat dan tidak bisa bergerak secara leluasa."
"Dengarkan aku baik-baik, kamu harus bertahan."
Rubby tersenyum pada laki-laki yang tetap menembak lawannya meskipun dirinya merasa telah mengganggu Masson dengan tindakannya.
"Aku minta maaf, Sammuel pasti senang jika dia bersama denganmu. Aku mencintaimu, sekali lagi aku minta maaf padamu untuk segala hal. Dan terima kasih atas segalanya. Aku ingin Samm dan dirimu bahagia."
"Diamlah Rubby aku mohon, jangan bicara yang tidak-tidak." Bisik laki-laki tersebut dengan nada yang sangat lirih.
"Lebih baik kamu diam dan hemat tenagamu, bertahanlah. Setelah ini semuanya akan berakhir dan kita bersama-sama lagi."
Masson melepas pelukannya, dia berlari meninggalkan Rubby yang terduduk lemas. Menghampiri seorang pria yang ikut membentengi mereka.
"Dengar, kau inisial Tiger mahasiswa kedokteran, benar?"
"Tolong periksa istriku."
"Namun saya baru saja memasuki semester pertengahan."
"Aku tahu kau bisa. Aku akan sangat berhutang budi padamu."
Pria berinisial Tiger itu mengangguk, menurunkan senjatanya dan mundur secara perlahan.
Masson segera mengambil senapannya dari balik celana yang dia kenakan, mendekati Ed yang duduk santai di dekat tebing melihat baku tembak yang terjadi di sana.
"Ed, urusannya hanya denganku. Kenapa kau melibatkan orang lain dalam menyelesaikan hal ini."
"Kau yakin? Kita sama-sama memegang senjata. Kenapa kita tidak saling tembak saja sejak awal?"
"Anak buahmu yang menembak kami semua lebih dulu."
"Tidak akan terjadi jika saja kau diam dan pergi kemari sendirian."
Masson melempar senjatanya menjauh, dia mengangkat kedua tangannya di atas kepala. Kemudian berlutut di hadapan Ed yang hanya diam dengan wajah mengejek.
Dia menghela napas dalam, memejamkan matanya dan berusaha menenangkan pikiran dari hiruk pikuk di sekitarnya.
"Anggaplah aku datang kemari sendirian. Apa yang akan kau lakukan padaku?"
Ed tertawa pelan, dia membungkukkan tubuhnya untuk mendekatkan wajahnya pada Masson. Bagaimanapun juga, Masson masih tetap kalah jumlah.
"Apa yang kau rencanakan eh?"
Mata Masson kembali terbuka."Tidak ada, hanya anggaplah aku datang kemari sendiri."
"Dengar Masson, usahamu cukup baik. Tapi pengkhianatan ini sudah terlanjur menghancurkan segalanya."
"Jika begitu, jangan melibatkan yang lain. Yang tidak tahu apapun tentang pengkhianatan itu."
Ed berjalan pergi ke arah Rubby diikuti oleh pengawalnya. Beberapa orang yang menjadi tameng Rubby seketika mengarahkan senjata mereka pada Ed. Pria dengan inisial Tiger itu membantu Rubby beranjak.
Pria bernama Ed tersebut mengangkat tangannya, membuat semua orang-orang pada pihaknya berhenti menembakkan peluru ke arah orang-orang Masson.
"Baiklah, jika sudah seperti ini aku bisa berbuat apapun." Ucap Ed dengan senyumnya yang menjengkelkan.
"Rubby, pergilah kesana. Ayo pergi dan temani suamimu!"
__ADS_1
Masson menoleh kebelakang, mengangguk ke arah Tiger yang membantu perempuan tersebut untuk berjalan. Pria itu mengangkat tangan kirinya, meminta semua orang-orang di pihak mereka untuk menurunkan senjata atas dasar permintaan Masson.
Semua orang-orang Masson menurunkan senjatanya, kemudian mereka diam dan menunggu perintah selanjutnya.
"Dengar, pimpinan kalian sudah berada disini. Mereka berlutut di hadapanku, lebih baik kalian semua ikut bersama mereka. "
Teriak Ed dengan bangganya, dia berjalan mengelilingi tempat itu dengan perasaan bangga.
"Kau tahu, sejak awal aku ingin menduduki posisi teratas di organisasi. Tapi Herisle si tua bangka itu malah bertindak seenaknya dan anaknya yang tidak berguna itu malah mengambil alih.
Untungnya, mereka sudah bubar. Dan sekarang dinastiku sudah dimulai."
Ed menarik mengusap senjata laras panjang miliknya, bersiap untuk menembakkan peluru ke arah target utamanya, Masson.
"Lebih baik Masson atau Rubby?"
"Ah, Masson saja kalau begitu. Rubby pun akan mati dalam beberapa waktu dekat."
"Kau gila karena menyebutku tidak berguna."
Suara tawa riang yang tiba-tiba muncul tersebut membuat sebagian orang bernapas lega.
Masson menggeleng, dia mengumpat pelan sambil melirik pria yang datang dengan tawanya yang khas tersebut.
"Astaga, kau datang? Bagus jika seperti itu, kau bisa menyaksikan kematian dua orang yang paling berharga di organisasi ini."
"Apa kau tidak khawatir jika saja Roflyoln tiba-tiba muncul?"
"Tidak, dia tidak akan datang." Ed berteriak dengan keyakinannya.
"Tiger, ayo beranjak dan bergabung. Biar tim medis ku yang mengurus Rubby."
Tiger mengangguk, dia segera beranjak setelah beberapa orang berpakaian putih datang dan membawa Rubby pergi ke tempat yang lebih aman.
Masson berdecak sembari mengambil senjata yang disimpan di balik punggungnya. Tanpa basa basi laki-laki tersebut menargetkan Ed tepat di leher pria itu.
Dengan segera laki-laki tersebut menembak Ed setelah memperhitungkan semuanya.
Pria itu memegang lehernya yang berdarah.
"Kau terlalu cepat, Masson."
"Diamlah Herisle, kau tidak jauh berbeda dengan ayahmu."
Harry menggeleng pelan, dia datang mendekat pada Ed yang sudah kehilangan banyak darah. Begitu juga dengan Masson, dia berlutut di samping Ed.
Harry menatap nanar pada Ed yang sudah terkapar di sana.
"Kau menembak lehernya, Masson."
"Kehilangan satu orang lebih bagus daripada kehilangan banyak orang." "Aku mempelajarinya dari ayahmu."
"Ah sudahlah, aku akan pergi. Sampai nanti."
"Urus dia dan semua orang yang sudah gugur."
Laki-laki tersebut menepuk bahu Harry sebelum berjalan pergi meninggalkan tempat itu.
"Baiklah, ini semua berakhir. Kalian para orang-orang yang ada di pihak Ed! Kami tahu, kalian hanya orang bayaran yang disuruh Ed."
"Lebih baik kalian turunkan senjata kalian, kalian tidak perlu menodongkannya pada kami. "
Semua orang dari pihak Ed meletakkan senjata mereka. Kemudian berjalan satu-persatu mengikuti arahan dari Harry.
Sementara itu Masson bergegas pergi menyusul Rubby yang sudah dibawa pergi ke rumah sakit oleh tim medis.
Dia menghela napas panjang, melihat beberapa orang disana saling diam. Laki-laki tersebut melihat ke dalam kamar rawat istrinya dari balik kaca di pintu.
Laki-laki tersebut merasakan sesuatu yang aneh, dia berusaha mengusir keanehan tersebut.
"Jangan diam saja." Tegas laki-laki itu.
Dia menatap kesal pada semua orang yang berdiri sambil tertunduk di sana. Tanpa banyak cakap dia masuk kedalam kamar, di sana sudah ada Damian yang juga diam seperti rekannya di luar tadi.
"Tuan.."
__ADS_1
Masson mengangkat tangannya. Meminta Damian untuk pergi tanpa mengatakan apapun.
Terdengar suara pintu yang telah ditutup.
Laki-laki tersebut menatap wajah Rubby yang tenang, dia tersenyum pada perempuan itu. Mengusap lembut pipi Rubby seraya berbisik.
"Terimakasih kembali."
><><><><><
"Dimana orang tua itu?" Pria tersebut membuang napas kesal.
"Tuan Nizcholn masih muda, tuan."
"Terserah kau saja. Di mana dia?"
Laurent menunjuk kamar milik Sammuel. Dia menggeleng pelan setelah pria yang datang secara tiba-tiba itu langsung berlari masuk ke dalam.
Pria tersebut menggeleng pelan melihat Masson yang duduk di samping Samm yang sudah tidur.
Mata laki-laki tersebut tampak lelah karena kurang tidur.
Pria itu duduk di sofa yang tidak jauh dari Masson
"Kau tidak tidur? Astaga, pergilah tidur sana."
"Aku lelah karena menerima banyak telepon dari pihakmu. Cepat sana tidur."
Masson masih diam menatap wajah Sammuel yang lelap.
Dia menarik napas panjang sembari membenarkan posisi tidur putranya.
"Darimana kau tahu?" Nada bicara Masson terdengar lemas, laki-laki itu beranjak dari tempat duduknya. Berpindah duduk di atas sofa samping Harry.
"Dave. Dia tidak mau menghubungi Laurent ataupun sekretaris mu yang garang itu, siapa namanya? Jaden. Ya.. Jaden Arshon. " "Ah, mereka benar-benar.." "Tapi, apakah aku terlambat?"
Masson tersenyum tipis.
" Ya, sangat lama. Tapi itu sudah berlalu, jadi lupakan saja."
Harry tertawa pelan. "Sampai kapan kau akan seperti ini terus ha!?"
"Sampai Sammuel mengerti maksudku."
"Apa yang kau katakan pada Samm?"
"Tidak ada penambahan ataupun pengurangan. Aku katakan yang sebenarnya. " "Dia tidak menangis ataupun merajuk. Dia hanya tersenyum sejak terakhir kali aku memberitahu perihal ini. Jika saja aku menemani mereka pada saat itu."
Masson menunduk, menatap lantai kamar yang dingin.
"Jangan salahkan dirimu sendiri. Ini bukan salahmu atau salah orang lain." Harry menepuk pundak Masson perlahan.
Dia menghela napasnya saat Masson kembali diam.
Harry menatap Samm yang tertidur. Dia tersenyum melihat anak laki-laki tersebut.
"Bocah itu sama saja denganmu. "
Harry menarik Masson yang malas keluar dari kamar. Dia membawa laki-laki tersebut menuju ruang makan.
"Aku sedang tidak berselera makan."
"Rasa percaya dirimu masih melekat. Baguslah. "
"Sebenarnya aku tidak ingin memintamu makan. Namun aku sangat lapar, jadi biarkan saja aku makan. Kau duduk di kursi ini."
Masson mengangguk pelan. Dia menatap Harry yang sibuk sendiri dengan makanan yang sudah terhidang di sana.
Mata sembab laki-laki itu memejam lama.
Hatinya berbisik, pikirannya melayang pada sesuatu yang lama tersimpan.
'Aku punya janji denganmu. Aku tidak akan mengecewakanmu bagaimanapun itu.'
><><><><><
__ADS_1