
Hari ini hari Sabtu. Tidak ada yang spesial. Hari ini aku ke rumah sakit pagi karena kuliahku sedang libur. Hari ini aku ditemani oleh Jessica. Karena Jessica juga belum menjenguk kak Zen sama sekali.
Belum ada kabar baik tentang kak Zen. Kondisinya masih sama saja. Kapan kak Zen akan bangun kembali? Cepatlah bangun, Kak ...
Aku pulang dari rumah sakit jam 2 pm. Setelah pulang aku hanya di kontrakanku saja. Aku menyibukkan diri dengan menulis beberapa bahan untuk penulisan novelku. Karena aku akan mencoba menulis tentang keajaiban saat itu. Kisahku bersama Haku saat itu. Kisah yang begitu unik dan seperti mimpi saja.
Kira-kira aku beri judul apa ya? Hhm .... Akhirnya aku memutuskan untuk memberikan Judul sementara Your Name. Sepertinya sedikit menarik. Aku teringat dengan kejadian saat Haku mengejar keretaku dan dia menyebutkan namanya saat itu. Sangat manis ... Ah aku rindu saat itu. Begitu lucu, Bahkan aku sempat mengira dia adalah seorang penculik saat itu.
Tak terasa sudah jam 5.20 pm. Dan aku memutuskan untuk segera mandi dan bersiap. Malam ini Haku akan mengajakku makan malam di rumahnya. Rasanya sedikit senang sih. Tapi ... Masih ada yang mengganjal. Aku belum menceritakan tentang kak Zen kepada Haku. Bagaimana ini? Aku harus segera memberitahukan semuanya kepadanya.
Besok kita akan libur. Apa aku ajak dia bertemu saja ya? Hhm ... Baiklah. Besok aku akan mengatakan semuanya kepada Haku.
Setelah mandi aku segera bersiap dan menunggu Haku untuk datang menjemputku. Tak butuh waktu lama menunggunya, ponselku kini berdering dan aku segera mengangkatnya.
"Hallo ..." sapaku dengan senyum lebar.
"Yuko, Aku sudah di bawah. Turunlah ..." kata Haku dari seberang.
"Hhm. Aku akan segera turun, Haku."
"Okay ..."
Setelah mematikan panggilan itu aku segera bergegas untuk turun. Tapi aku tidak melihat Haku. Dimana dia? Tidak ada orang disini. Tiba-tiba kaca sebuah mobil yang sedang terparkir di hadapanku terbuka. Sang pengemudi tersenyum lebar dan melambaikan tangannya padaku.
Haku? Dia menyetir mobil?
Aku segera menghampirinya dengan sedikit bingung.
Haku turun dan menggiringku memasuki mobil itu lewat pintu sampingnya. Dan aku hanya menurut saja. Kemudian dia mulai memasuki mobil dan duduk di kursi kemudi.
"Kau bisa menyetir, Haku?" tanyaku sedikit tak percaya karena selama ini aku belum pernah melihat Haku menyetir.
"Tentu saja bisa." jawabnya sambil mengenakan sabuk pengamannya. "Ayah meminjamkannya mobilnya padaku untuk menjemputmu." katanya sambil tersenyum lebar.
"Padahal aku bisa berangkat sendiri lho, Haku. Malah jadi menyusahkanmu deh." sungutku.
"Siapa bilang menyusahkanku? Aku tidak merasa disusahkan kok." sahutnya tersenyum lebar sambil mulai mengemudikan mobilnya.
"Uhm, Haku ..."
__ADS_1
"Ya ..."
"Apa besok kau ada waktu? Aku tiba-tiba teringat dengan sebuah tempat yang bagus. Dan aku ingin mengunjunginya bersamamu ..." kataku sambil tersenyum menatapnya.
Seolah terpesona oleh emosi dan ajakanku kini Haku tertawa bahagia. Wajahnya sangat bersinar bahagia walaupun sedikit gelap karena hari sudah mulai malam. Namun cahaya lampu di pinggiran jalan terkadang menyinarinya sedikit dan membuatnya terlihat sangat menawan.
"Baiklah. Besok kita akan pergi ..." sahutnya sambil terus mengemudikan mobilnya.
"Apa kau tidak penasaran kemana kita akan pergi?" tanyaku sambil meliriknya. Meskipun aku tidak tau apakah imajinasinya sesuai dengan apa yang aku maksudkan. Aku tidak bisa menahan untuk tersenyum.
"Tentu saja aku tau. Restaurant baru?" tebaknya sedikit tersenyum. Jadi dia mengingatku sebagai gadis yang suka makan ya? Hiks...
"Tidak untuk saat ini!" jawabku pelan tapi jelas. "Aku ingin pergi ke suatu tempat yang tenang dan indah."
"Terdengar sangat bagus ..." Haku terdiam beberapa saat dan membayangkan tempat itu.
Setelah beberapa saat kita sudah sampai di rumah Haku. Sedikit kangen juga sih. Sudah beberapa bulan belum sempat berkunjung kesini.
Haku segera mengajakku masuk ke dalam rumahnya. Dan kedatangan kita disambut hangat oleh ibu Haku dan Mirae.
"Kak Yuko ..." Mirae berlari ke arahku dan segera memelukku. "Aku kangen sekali ..."
"Wah ... Pasti enak!" Mirae menerima bingkisan itu dengan sangat bersemangat.
"Taruh di kulkas sebentar dulu ya. Karena penyajian pada suhu yang tepat akan mempengaruhi kelezatan puding." aku tersenyum menatap Mirae.
"Okay, Kak." sahut Mirae lalu segera pergi ke dapur.
"Wah, Yuko sudah belajar banyak hal ya ..." goda Haku.
"Tidak kok. Aku hanya belajar sedikit ..." ucapku malu-malu. Sedangkan Ibu hanya tersenyum menatap kita.
"Ayo sayang. Kita ke meja makan!" Ibu Haku segera membawaku masuk dengan gemas. Rasanya hangat sekali keluarga ini. Aku seperti sedang berada di rumah sendiri.
"Dimana ayah, Bu?" tanya Haku saat kita sudah di ruang makan.
"Tiba-tiba saja ada panggilan dari kantor. Baru saja ayahmu pergi." jawab ibu Haku.
"Wah, kenapa tidak memberitahuku saja, Bu? Aku bisa menggantikan ayah. Kasihan ayah. Ini kan sudah larut."
__ADS_1
Ibu Haku hanya tersenyum dan dia masih sibuk menyiapkan makanan. Dan aku membantunya.
"Kau kan sudah ada janji dengan Yuko. Lagian ayahmu masih bisa kok." kata ibu Haku lembut.
Akhirnya semua makanan sudah siap. Dan kita bersiap untuk menikmati makan malam saat ini. Banyak sekali masakannya. Ada soup, onigiri, chicken yakiniku, ramen, sushi, tempura, dan masih banyak lagi.
"Makanlah, Sayang ..." kata Ibu Haku ramah.
"Hai, Okaa-san." ucapku lalu mengambil sumpitku.
"Bagaimana kuliah di Todai, Yuko?" tanya Ibu Haku sambil mulai menikmati makan malamnya.
"Sangat menyenangkan. Kampusnya juga sangat bagus. Rasanya senang sekali bisa kuliah di Todai." kataku bersemangat.
"Tapi kak Haku bilang sangat membosankan lho kak ..." sahut Mirae.
"Benarkah itu?" aku hampir tidak percaya dengan apa yang aku dengar. Bukankah Haku sangat menyukai Todai? Bahkan dari dulu dia sudah ingin masuk ke Universitas itu.
"Hhm. Tanya saja padanya ..." celutuk Mirae lalu tersenyum melirik kakaknya. Ibu Haku juga ikut-ikutan tersenyum melirik Haku.
Haku yang kita ditatap segera cepat-cepat menelan makanannya lalu segera mengambil minumannya.
"Kapan kakak bilang seperti itu, Mirae?" tanya Haku mengelak.
"Hampir setiap hari kakak bilang." celutuk Mirae sambil tertawa kecil. "Itu karena kakak selalu kuliah sore dan jarang bertemu kak Yuko." kali ini Mirae sedikit tertawa kecil.
Aku yang mendengar ucapan Mirae jadi sedikit salah tingkah karena malu.
"Jangan percaya pada Mirae Yuko! Aku selalu bersemangat kuliah dan kerja kok. Lagian kita kan masih bisa bertemu." kata Haku cepat-cepat.
Mirae dan Ibu Haku kini tertawa kecil.
Obrolan kita terus berlanjut hingga makan malam berakhir. Setelah itu aku membantu Ibu Haku untuk mencuci piring dan merapikan sisa makanan.
Setelah itu aku memutuskan untuk pamit karena sudah hampir jam 9 pm. Dan malam itu Haku kembali mengantarku pulang.
...***...
__ADS_1