My Little Prince

My Little Prince
The Missing Bracelet


__ADS_3

"Ehm, Sudahlah yang terpenting kau pulang dengan selamat, Sora." kataku pada Sora.


"Iya sih. Kau benar, Yuko. Eh, tapi aku belum berterima kasih kepadanya ..." kini Sora terlihat sedikit cemberut.


"Gimana ya?"aku juga kebingungan nih, Sora.


Tiba-tiba ponselku berdering dan aku segera meraihnya. Tertera nama kak Zen di layar ponselku. Lalu aku mengangkatnya.


"Hallo, Kak." sapaku.


"Yuko, apa kau sedang di rumah?" tanya kak Zen dari seberang.


"Iya kak. Kenapa ya, Kak?"


"Ada barangmu yang tertinggal malam itu di Maidreamin Shibuya Cafe. Kakak memungut dan menyimpannya karena kau sudah pulang."


"Barang apa ya, Kak?" tanyaku penasaran.


"Sebuah gelang berliontin replika Tokyo Tower."


Apa? Aku segera melihat tangan kiriku. Dan benar saja gelang itu tak ada di tanganku. Kenapa aku tidak menyadarinya ya? Dasar Yuko ceroboh! Ceroboh sekali!


"Gelang ini milikmu kan?" tanya kak Zen lagi.


"Benar kak. Itu milikku!"


"Kakak akan segera ke kontrakanmu dan memberikannya padamu."


"Ah, Kalau tidak biar aku yang menjemputnya saja, Kak!" kataku cepat-cepat karena merasa tak enak kepada kak Zen. Jadi aku yang akan menjemput gelangku saja.


"Kau mau kesini?" tanya kak Zen sedikit ragu.


"Kalau kakak tidak keberatan sih ..."


"Tentu saja tidak. Rumah kakak tak jauh kok dari kontrakan kamu. Kakak akan kirim alamatnya melalui pesan map."


"Baik, Kak."


Setelah mematikan telponnya kak Zen mengirim alamatnya melalui sebuah pesan, dan aku membacanya. Aku melihat map itu dan ternyata kita cuma beda beberapa gang saja.


"Siapa, Yuko?" tanya Sora.


"Kak Zen. Aku harus ke rumah dia sekarang, Sora." kataku yang masih memperhatikan map di dalam ponselku.


"Ada sesuatu? Kenapa tiba-tiba mau kesana?" tanya Sora sedikit keheranan.


"Hhm. Aku menjatuhkan gelang pemberian dari Haku saat malam perayaan itu. Dan Kak Zen yang sudah menemukan dan menyimpannya." jelasku pada Sora.


Sora mengangguk-angguk saja. "Mau aku temani?"

__ADS_1


"Serius Sora?" tanyaku kegirangan.


"Tentu saja!"


"Oh iya! Aku hampir saja lupa. Dua coat kak Zen juga masih aku simpan!" aku segera mengambil 2 buah coat milik kak Zen yang masih menggantung di hanger. Aku melipatnya dengan rapi kemudian membungkusnya di sebuah totebag.


"Yuko ..."


"Hhm ..." kataku yang masih sibuk merapikan coat milik kak Zen.


"Aku merasa kalau Kak Zen itu ..." kata Sora tak menyelesaikan ucapannya.


"Kak Zen kenapa, Sora?"


"Ah, bukan apa-apa kok!"


"Apaan sih? Bikin orang penasaran aja!" kataku pura-pura manyun.


"Wah, kau bisa ngambek juga ternyata ya!" Sora tertawa kecil melihatku.


"Tentu saja aku kan manusia biasa, Sora. Bukan bidadari yang begitu lembut dan pemaaf!" kataku asal.


"Ahaha ... Tapi bagi Haku kau adalah bidadarinya!" kini Sora tambah tertawa terbahak-bahak.


"Apaan sih ..." kataku malu. "Yuk ah kita berangkat!"


"Sekarang ya?"


Akhirnya aku dan Sora segera bergegas untuk pergi ke rumah kak Zen yang jaraknya tak jauh dari kontrakanku. Kita berdua berjalan kaki saja.


Aku mengikuti map di ponselku, hingga akhirnya kita menemukan sebuah rumah yang lumayan besar dan megah.


"Benar ini rumah kak Zen, Yuko?" tanya Sora padaku.


"Kalau aku lihat dari map memang benar, Sora."


"Ya udah ayo!" Sora langsung memencet bel rumah itu. Dan tak butuh waktu lama pintu sudah terbuka. Seorang pria yang sangat familiar sedang berada di hadapan kita. Dia melemparkan senyum manisnya kepadaku dan Sora.


"Kalian sudah datang." kata kak Zen ramah. "Masuklah dulu ..."


Aku dan Sora saling bertatapan, lalu dia segera menyikut lenganku memberiku kode agar ikut masuk menyusul kak Zen yang sudah masuk duluan.


Akhirnya aku dan Sora masuk ke dalam rumah kak Zen.


"Kalian mau minum apa?" tanya kak Zen ramah.


"Jus apel!" / "Tidak usah, Kak!"


Aku dan Sora berkata bersamaan. Lalu kita saling bertatapan malu, aku menyikutnya agar dia tidak bertindak aneh-aneh. Sedangkan Sora hanya meringis menatapku.

__ADS_1


Kak Zen tertawa kecil melihat kita berdua.


"Tunggulah sebentar. Kakak akan buatkan jus." kata kak Zen sambil bergegas ke dapur.


"Aku boleh melihat-lihat rumah kakak?" tanya Sora sedikit berteriak karena kak Zen sudah berjalan agak jauh.


"Tentu kalian boleh. Kakak hanya tinggal sendirian kok. Berkelilinglah kalau kalian mau." balas Kak Zen yang juga berteriak dari dapur.


Aku memelototi Sora tapi dia malah meringis padaku.


"Aku penasaran dengan Kak Zen. Aku akan melihat-lihat rumahnya sebentar, Yuko." kata Sora lalu pergi meninggalkanku.


Aduh, Sora benar-benar deh. Beberapa saat Sora masih belum juga kembali. Entah dimana sekarang dia berada.


Sementara kak Zen sudah datang membawakan 2 gelas jus apel.


"Dimana Sora?" kata kak Zen lalu dia duduk di hadapanku.


"Sora belum kembali kak." kataku pelan.


"Ya udah biarin aja. Nanti juga balik sendiri kok." kata Kak Zen ramah. "Minumlah dulu. Kau pasti haus, tadi jalan kaki kan?"


"Kok kakak tau?"


Kak Zen tertawa kecil membuatku semakin bingung saja. "Jarak rumah kakak dan kontrakanmu hanya berkisar 300meter, Yuko. Tidak mungkin kalian naik taxi kan?"


"Ah, Kakak benar juga." kataku lalu tertawa kecil.


"Oh iya ..." kak Zen merogoh sakunya dan mengeluarkan sesuatu. "Ini gelangmu, Yuko!" kak Zen mengulurkannya padaku.


Aku menerimanya dengan sangat terharu dan terus memandangi gelang itu. Kenapa aku bisa begitu ceroboh? Aku telah menghilangkannya, bahkan aku tidak menyadarinya. Rasanya aku benar-benar ceroboh sekali. Tidak terasa mataku sudah berkaca-kaca, antara rasa sedih dan haru berkecamuk menjadi satu.


Yuko! Itu adalah gelang pemberian dari Haku yang sangat berharga! Saat itu kau bisa kembali ke masa lalu adalah karena gelang itu! Kau masih bisa memakainya saat itu, padahal Haku tiba-tiba menghilang dan pergi saat kau mengetahui kebenaran. Kau benar- benar ceroboh karena menghilangkannya, Yuko!


Aku memaki diriku sendiri.


Kini tak terasa air mataku sudah menuruni pipiku.


"Yuko? Ada apa? Kau baik-baik saja?" tanya Kak Zen membuyarkan lamunanku.


Aku yang tersadar segera menghapus air mataku dengan cepat. Dan mencoba untuk tersenyum.


"Aku baik-baik saja, Kak. Aku terlalu bahagia karena telah menemukan gelang ini kembali." aku tersenyum memandangi gelang itu. "Terima kasih, Kak Zen. Gelang ini sangat berharga untukku!" kataku sedikit bergetar.


Beberapa saat Kak Zen terdiam dan menatapku terus. Mungkin dia bingung melihatku yang tiba-tiba menangis.


"Maka kau harus menyimpannya baik-baik, Yuko!" kata kak Zen pelan.


Aku mengangguk pelan. "Aku akan menyimpannya baik-baik mulai sekarang, Kak. Aku akan menjaganya!" kataku lalu memakai kembali gelang itu.

__ADS_1


Aku menaikkan tanganku ke atas dan terus menatap gelang itu sambil tersenyum lebar.


Sementara Kak Zen hanya tersenyum lebar menatapku.


__ADS_2