
"Kau beristirahatlah, Yuko. Kakak akan segera pulang." kata Kak Zen sambil tersenyum hangat. Kata-katanya juga terdengar sedikit lebih lembut.
Ya.. Walaupun memang biasanya kak Zen ramah dan lembut tapi dia benar-benar lebih hangat dan lembut saat ini.
" Iya, Kak." jawabku singkat.
"Hubungi kakak kalau ada sesuatu yang kau butuhkan. Kakak tinggal tak jauh dari sini kok."
"Baik kak." aku membungkukkan sedikit badanku untuk menghormatinya.
"Baiklah. Kakak pergi dulu." kak Zen hendak pergi tapi tiba-tiba dia berbalik lagi.
"Ada sesuatu yang tertinggal, Kak?" tanyaku bingung.
"Tidak. Kakak cuma mau ngingatin kamu. Lukamu itu jangan terkena air dulu ya. Biar kering terlebih dahulu. Karena jahitannya agak dalam."
"Oh. Baik kak."
"Besok kakak akan datang dan bawakan kue untukmu lagi."
"Iya, Kak." kataku segan tapi tak berani menolaknya. Setelah itu kak Zen segera bergegas pergi. Dan aku segera memasuki kamarku dan segera beristirahat.
...***...
Aku tertidur dan baru bangun jam 10 malam. Wah, malam-malam malah jadi terbangun deh.
Hhm.. Lapar..
Aku mencari sesuatu di dalam kulkas dan segera memasak ramen instant. Setelah memasaknya aku langsung memakannya. Tak seenak masakan Haku sih. Hehe..
"Ramen memang yang terbaik!" kataku setelah menghabiskan ramenku. " Ah.. Leganya..!"
Hhm, Ngapain lagi yah? Aku belum bisa tidur lagi.
Aku meraih ponselku. Dan ternyata ada pesan dan beberapa panggilan dari Haku.
📱Yuko. Sedang apa? Kenapa tak membalas pesanku? Bahkan kau tak mengangkat panggilanku. ☹
Aku segera menghubungi Haku. Dia sudah tidur belum ya? Atau jangan-jangan sedang ada kegiatan ospek malam.
Beberapa saat Haku sudah mengangkat teleponku.
"Hallo!" sapanya dari seberang.
" Haku maaf. Aku tadi ketiduran setelah selesai membersihkan dan merapikan kontrakanku. Dan ini baru terbangun." kataku memelas.
"Tidak apa-apa kok. Kau pasti sangat lelah melakukannya sendirian. Harusnya aku menemanimu. Maaf ya, Yuko."
"Tidak perlu meminta maaf." aku tertawa kecil. "Karena sebenarnya kak Zen sudah membantuku tadi."
"Apa? Kak Zen?" tanya Haku mengeraskan suaranya.
"I.. Iya.."
"Jadi dia juga tidak ikut berkemah ya. Pantas saja aku tak melihatnya disini. Tapi kenapa dia bisa sampai membantumu membereskan kontrakan, Yuko?"
"Ehm.. Haku.. Ceritanya panjang." kataku bingung bagaimana aku harus menjelaskan semuanya kepada Haku. "Aku janji. Aku akan menceritakan semuanya saat kau sudah pulang."
"Kenapa kau mengijinkannya begitu saja, Yuko?" tanya Haku pelan. Apa Haku kini akan marah padaku ya?
"Ak.. Aku sudah berusaha menolak tawarannya, Haku. Tapi kak Zen bersikeras ingin membantuku. Dan aku tidak bisa menolaknya. Aku tak bisa berbuat apa-apa." kataku pelan.
"Begitu ya? " kata Haku pelan. "Kau bahkan tidak bisa menolak permintaannya ternyata ya."
__ADS_1
"Haku. Bukan seperti itu. Tapi..Tapi itu karena.." aku tidak bisa memberitahumu sekarang bahwa kak Zen melakukan semua itu karena aku sedang terluka. Aku tidak ingin membuatmu khawatir.
"Karena apa?" potong Haku dengan nada dingin.
"Aku akan menceritakan semuanya padamu saat kau pulang, Haku."
"Baiklah, Terserah kau saja!" kata Haku dingin. "Aku akan bersiap untuk ospek malam. Kau beristirahatlah."
"Tunggu, Haku!"
Tut.. Tut..Tut..
Oh tidak Haku malah mematikan telponnya. Sepertinya dia sangat marah padaku. Bagaimana ini? 🥺
...***...
Keesokan harinya aku berusaha untuk menghubungi Haku kembali. Semoga dia sudah tidak marah padaku.
"Hallo!" sapa Haku dari seberang.
"Selamat pagi, Haku!" sapaku bersemangat.
"Selamat pagi, Yuko." balasnya pelan.
"Haku. Hari ini kau pulang jam berapa?"
"Sepertinya sore, Yuko. Setelah pulang aku akan segera mengunjungimu."
"Ehm. Baiklah!" jawabku senang. "Aku akan menunggumu."
"Kau sudah sarapan?"
"Hhm sudah. Kau sendiri?"
"Baiklah. Ganbatte, Haku-kun!"
" Hai!" kudengar Haku tertawa kecil.
"Bye!"
"Bye!"
Aku segera mematikan telponku. Senyumku kembali merekah setelah menelpon Haku.
Aku memutuskan untuk berjalan-jalan di sekitar kontrakanku. Ternyata sangat dekat sekali dengan halte. Wah.. Jadi tidak akan berjalan terlalu jauh untuk naik bus.
Aku duduk di halte untuk beristirahat sebentar.
Hhhm, Musim panas yang begitu hangat.
"Hei junior!" tiba-tiba ada seseorang yang sedikit berteriak kepadaku. "Apa yang sedang kau lakukan disini?"
Aku mendongak dan melihat siapa yang sedang berbicara kepadaku.
"Kak Ave?" apa yang sedang dia lakukan disini? "Ehm, Aku hanya sedang berjalan-jalan, Kak."
"Kau bukannya sedang sakit?" kak Ave menatapku lama dan bingung. "Kata Zen kau terluka makanya dia seharian kemarin menemanimu. Tapi sepertinya kau baik-baik saja." kak Ave masih menatapku curiga.
"Ah, Iya, Kak. Aku hanya tergores saja kok."
"Dasar Zen berlebihan!" dengusnya.
"Apa kak Ave juga baik-baik saja? Kemarin kakak kan juga tertimpa lampu itu."
__ADS_1
"Hanya luka ringan saja kok." sahutnya.
Aku melihat sekilas kedua pergelangan tangan kak Ave yang diperban.
"Oya, darimana kau tau kalau lampu itu akan terjatuh?" kali ini kak Ave menatapku bingung.
"Aku melihatnya di dalam mimpiku kak."
"Mimpi? Kau melihatnya di mimpimu?" tanya kak Ave menatapku aneh. Mungkin dia berpikiran kalau aku ini gadis yang aneh dan sedikit gila.
"Iya kak."
"Hah. Apapun itu. Terima kasih ya. Karena kau, Zen selamat dari kecelakaan itu." kata kak Ave tulus. " Biar bagaimanapun dia adalah sahabatku. Jadi terima kasih."
"Iya, Kak." jawabku pelan. Tiba-tiba ponsel kak Ave berdering dan dia segera mengangkatnya.
"Hallo..!" sapa kak Ave. "Oh jadi donk. Ini aku sudah mau sampai kok. Kebetulan aku bertemu pasienmu disini, jadi aku berhenti sebentar." kata kak Ave sambil melirikku.
"Apa? Kau suruh aku menemaninya disini dulu?" tanya kak Ave sedikit kesal. "Haishhh! Baiklah. Lima menit saja ya!" kata kak Ave lalu mematikan telponnya.
Setelah mematikan ponselnya kak Ave duduk di sebelahku.
"Kakak ngapain di daerah sini?" tanyaku pada kak Ave.
"Aku mau ke rumah Zen." jawabnya sambil sibuk dengan ponselnya.
"Oh, Lalu kenapa kakak tidak segera bergegas ke rumahnya saja dan malah duduk disini?"
"Zen akan datang kesini. Jadi aku disuruh menunggunya disini."
"Oh. Kalau begitu aku permisi duluan ya, Kak." kataku lalu bangkit dari dudukku.
"Eh, Hei tunggu! Kau mau kemana?" teriak kak Ave.
"Pulang, Kak." jawabku.
Kak Ave tampak kebingungan dan menggaruk-garuk kepalanya yang sama sekali tidak gatal.
"Tunggulah disini sebentar dulu. Zen memintaku untuk menemanimu sebentar disini."
"Eh..? Tapi.." kataku belum selesai.
"Hai!" sapa seseorang tiba-tiba. Ternyata kak Zen yang datang.
"Sudah kubilang 5 menit. Tapi kau datang lebih lama!" kata kak Ave sedikit kesal.
"Sory!" kak Zen tertawa kecil menatap kak Ave. "Ehm.. Yuko. Ini untukmu." kak Zen memberiku sebuah kotak yang berbau sangat manis.
Aku menerima dan menatap kotak tadi bingung.
"Kue yang kakak janjikan padamu kemarin." kak Zen menatapku dan tersenyum.
"Ah, Padahal kakak tak harus membuatkannya untukku." kataku tak enak.
"Tidak apa-apa kok. Kakak kan udah janji padamu kemarin."
"Ehm baik kak. Terima kasih." kataku akhirnya.
"Ehem.. Buatku mana donk!" sela kak Ave.
"Ada di rumah kok, Ve." kata kak Zen menatap kak Ave. " Kau pulanglah, Yuko.. Istirahatlah.."
" Hhm, Baik kak!" aku membungkukkan badan dan segera meninggalkan mereka.
__ADS_1
...***...