
Sudah jam 10 PM dan aku juga sudah bersiap untuk segera pergi ke Shinjuku City Town. Malam ini aku memakai pakaian hangat sweet lilac dan juga memakai celana jeans panjang. Tak lupa aku memakai sepatu boot pendek sweet caramelku.
Meskipun masih musim panas, tapi udara malam akan sedikit terasa dingin. Jadi aku mengenakan pakaian yang sedikit bisa menghangatkan tubuhku. Apalagi Festival Kembang Api kali ini akan sangat malam selesainya.
Tiba-tiba ponselku bergetar. Aku meraih ponselku dan ternyata ada sebuah pesan dari kak Zen.
📱Yuko. Kakak sudah di bawah. Turunlah! Zen
Tanpa membalas pesannya aku segera bergegas untuk turun. Takut dia terlalu lama menungguku. Aku sedikit mempercepat langkah kakiku agar segera sampai di bawah.
Tepat di depan gerbang kontrakanku aku melihat seorang pria sedang duduk di atas motornya. Dia mengenakan sebuah sweater cream dan mengenakan coat berwarna Tawny Nutt.
Menyadari kedatanganku dia tersenyum dan melambaikan tangannya dari kejauhan. Dan aku segera berjalan ke arahnya.
"Hai, Kak ..." sapaku.
"Hai, Yuko." balasnya dengan senyuman khas kak Zen. Senyuman hangat dan ramahnya. "Kita berangkat sekarang?"
Aku melihat ke arah motornya dan Kak Zen merasa sedikit bingung. Lalu dia melirik ke belakang juga.
"Ada apa?" tanya Kak Zen sedikit bingung.
"Apa kita akan naik motor, Kak?" tanyaku memastikan. Kak Zen baru saja sembuh dari koma. Aku masih sedikit khawatir jika dia mengendarai motor.
"Hhm. Iya. Kenapa, Yuko?" tanya kak Zen menatapku kebingungan.
"Bagaimana kalau kita jalan kaki saja, Kak?" usulku berbinar. "Lagian Shinjuku City Town tidak terlalu jauh dari sini kok."
"Kau mau jalan kaki saja?" Kak Zen mengangkat salah satu alisnya dan terlihat masih sedikit bingung.
"Hhm." aku mengangguk dan tersenyum padanya. "Bagaimana?"
"Bukan ide yang buruk. Kalau begitu ayo kita pergi!" katanya dengan senyum lebar.
"Hai ..."
Akhirnya kak Zen memarkir motornya di halaman kontrakanku. Lalu aku dan Kak Zen berjalan kaki untuk menuju ke Shinjuku City Town. Jaraknya tidak terlalu jauh sih. Apalagi kalau kita melakukannya di malam hari seperti ini. Tidak akan terasa jauh. Karena kita bisa menikmati pemandangan sepanjang jalan. Lampu warna-warni yang menghiasi gedung-gedung dan juga lampu jalanan.
Disepanjang perjalanan kita lebih banyak saling diam hingga akhirnya Kak Zen membuka obrolan kembali.
"Kau sudah makan malam, Yuko?"
__ADS_1
"Sudah, Kak." aku tersenyum dan sedikit meliriknya. "Kakak sendiri?"
"Sudah kok."
"Oya, Kak. Sekali lagi aku berterima kasih karena kakak sudah menyelamatkanku saat itu. Dan aku juga minta maaf, kakak koma gara-gara itu." kataku pelan.
Kak Zen memperlambat langkah kakinya lalu menepuk kepalaku pelan. Membuatku sedikit menunduk.
"Tidak masalah. Jangan khawatirkan soal itu lagi ..." sahutnya sambil sedikit memiringkan wajahnya dan menatapku dengan senyumannya.
Setelah itu Kak Zen kembali melangkahkan kakinya lagi dan dengan pandangan lurus ke depan. Aku melihat Kak Zen dengan percaya diri. Dia terlihat sangat hangat dan menawan saat tersenyum di bawah lampu jalan.
Pria seperti ini pasti akan dengan mudahnya mendapatkan hati seorang wanita. Kenapa selama ini kakak menyia-nyiakannya begitu saja? Kak Zen terkadang sedikit membuatku kesal ...
Pohon-pohon di jalan itu terselimuti dengan sedikit kegelapan, tertutup dengan cahaya bintang-bintang seperti terjatuh di atas tirai hijau.
Dan setiap orang di sepanjang jalan terlihat sangat bahagia. Apa mereka juga akan menyaksikan festival kembang api juga?
Aku dan kak Zen terus menyusuri jalanan itu. Biasanya jalanan ini akan sedikit sepi saat jam seperti ini. Tapi kali ini masih ramai. Bahkan banyak toko-toko dan penjual yang masih berjualan di sepanjang jalan.
"Apa kakak suka hari libur?" tanyaku memecah keheningan. Karena tiba-tiba saja kita tidak saling bicara lagi.
"Yeap. Aku menyukainya. Sangat menyukainya. Terutama saat ada perayaan atau Festival kembang api seperti sekarang ini." aku berkata sambil memandangi sekitarku yang terlihat begitu ramai oleh pedagang dan orang yang sedang berlibur.
"Aku selalu menantikan hari libur. Tak peduli seberapa sibuknya aku." kataku lagi.
"Begitukah?" kak Zen tersenyum dan memiringkan sedikit wajahnya menatapku.
"Hhm ..." aku mengangguk dan tersenyum padanya.
Kita terus menyusuri jalanan itu.
Ketika kita sedang berjalan di jalan yang sedikit ramai itu, tiba-tiba aku mencium aroma sesuatu di udara. Aroma yang begitu menyegarkan dan entah ... Rasanya aroma itu sangat familiar.
Aku mengikuti aroma itu dan menemukan sebuah kios yang menjual kentang goreng.
"Wow .... Sweet potatoes!" ucapku sedikit bersemangat. Perutku mulai sedikit menggeram setelah aku mencium aroma yang begitu menggiurkan.
Aku melihat kak Zen yang sedikit tersenyum menatapku.
"Tunggu disini!" kata kak Zen ramah lalu dia bergegas pergi ke kios itu. Aku duduk di salah satu bangku di pinggiran jalan itu.
__ADS_1
Setelah beberapa saat kak Zen datang kembali dengan membawa sebuah kantong kertas sweet potatoes.
"Ini ..." Kak Zen mengulurkan kantong itu padaku. Aku menerimanya dengan senyum lebar dan segera mengambil beberapa untuk mulai memakannya. Tetapi aku segera menarik tanganku kembali karena itu masih terlalu panas.
Aku melihat kak Zen tersenyum. Dia membagi kentang itu menjadi dua bagian dan menyerahkannya padaku.
"Hati-hati. Itu terlalu panas." ucap Kak Zen dengan senyuman geli.
Aku memberikan setengahnya padanya.
"Kakak juga harus makan! Kakak juga tidak makan dengan baik kan?"
Kak Zen tersenyum lalu mulai menggigit kentang goreng itu.
"Kakak sedikit berbeda hari ini ..."
"Apanya yang berbeda?"
"Kakak lebih banyak tersenyum ..."
"Benarkah itu?"
"Yeap. Bahkan kakak sedang tersenyum saat ini. Kakak tidak tertawa dengan keras, tetapi aku bisa melihat mata kakak ..."
"Kakak tersenyum karena kamu ..."
Sesaat jawabannya membuatku sedikit merasa kebingungan.
"Karena aku? Apa aku terlihat lucu atau seperti badut?" kataku pelan dan sedikit murung.
Tiba-tiba Kak Zen menghentikkan aktifitasnya sejenak. Dia mulai menatapku. Dan kini aku melihat dengan jelas mata biru itu. Okavango Blue Diamond itu. Bahkan aku bisa melihat bayangan diriku di dalam mata yang indah itu.
Kak Zen mulai mengelap lembut bibirku dengan jemarinya. Dan entah kenapa ini membuat hatiku berdetak seperti drum.
Aku segera mengalihkan pandanganku. Apa yang sedang kau lakukan, Yuko? Jangan pernah melakukan hal aneh! Malam ini tujuanmu pergi dengan kak Zen adalah untuk melihat Festival kembang api! Ingat itu!
"Silly girl. Ada sesuatu di bibirmu ..." ucap Kak Zen dengan sedikit tawa.
Ahahaha ... Ternyata seperti itu ya? Aku sudah berburuk sangka kepada kak Zen. Maafkan aku kak! Rasanya malu sekali dan ingin menghilang begitu saja dari hadapannya.
Aku segera menyeka bibirku dan menyembunyikan rasa malu.
__ADS_1