My Little Prince

My Little Prince
Velvet Sun


__ADS_3

Aku dan Haku berbaring di atas sofa yang sedikit sempit, sehingga dia menarikku dan menjadi semakin dekat padanya.


"Apa bunganya sudah sampai?" tanya Haku dengan intonasi sedikit rendah dan suaranya terdengar sangat jernih.


"Hhm. Sudah ... cantik sekali ... terima kasih. Aku sangat menyukainya, Haku." jawabku dengan senyum bahagia.


"Lain kali jika menerima bunga dari orang lain maka berikan padaku saja! Dan aku akan menggantinya dengan yang lebih besar!" ucap Haku lalu melingkarkan tangannya pada pinggangku.


"Baiklah ..." sahutku dengan tawa kecil dan sangat gemas melihat tingkah lucunya.


"Jangan pernah dekat dan memberi harapan untuk pria lain ..." pintanya pelan.


"Tidak kok. Ran dan aku hanya berteman saja, Haku. Tidak lebih dari itu." ucapku dengan enteng.


"Tidak ada sebuah ikatan persahabatan dan pertemanan yang murni antara seorang gadis dengan seorang pria, Yuko. Kamu jangan terlalu polos, Sayang ..." ucap Haku dengan nada jenaka dan tersenyum manis menatapku.


"Benarkah? Tapi aku tidak merasa seperti itu kok. Jika aku memiliki seorang teman atau sahabat pria ... ya tentu saja aku hanya akan menganggapnya sebatas teman. Tidak lebih." ucapku dengan jujur.


"Itu kalau kamu. Berbeda lagi jika dari sudut pandang mereka. Terkadang mereka berbuat baik karena ada maksud tersembunyi. Seperti ... sedang melakukan sebuah pendekatan misalnya."


"Hhm. Begitu ya?"


"Hhm. Tentu saja! Maka dari itu, kamu harus sedikit menjaga jarak dan lebih tegas."


"Lalu bagaimana denganmu?" tanyaku dengan wajah sedikit cemberut. Tentu saja aku tau betul, Haku sangat ramah dengan siapapun. Dan mungkin saja akan ada gadis yang menyalah artikan semua itu.


"Memang ada apa denganku?" tanya Haku polos.


"Anzu kan menyukaimu, dan kamu juga masih selalu ramah padanya. Bagaimana kalau dia masih berharap padamu, Haku?" tanyaku sedikit cemberut.


"Emm ... bagaimana kalau kamu bekerja juga di Mizaki Corporation? Agar kamu bisa selalu mengawasiku saat aku sedang bekerja?" usul Haku tiba-tiba yang membuatku sedikit terkejut.


"Tid-tidak seperti itu juga, Haku ..." kataku cepat-cepat dan meringis kecil.

__ADS_1


"Habis kamu tidak percaya padaku sih." ucapnya sambil menyisir rambutku dengan jemarinya.


"Bukan tidak percaya, Haku. Tapi Anzu itu ..."


"Sstt ... sudah, Yuko! Mengapa malah membicarakan orang lain disaat kita sedang bersama?" ucapnya dengan senyum manis.


"Kamu yang memulai ..." sungutku sedikit cemberut.


"Aku yang mulai? Emh ... baiklah. Aku minta maaf deh..." ucap Haku yang perlahan mendekatkan wajahnya padaku dan terlihat intonasi berbicaranya seperti sedang menggodaku.


Namun aku sedikit mundur untuk menghindarinya.


"Kenapa? Apa kau sedang marah padaku?" tanya Haku kembali.


"Tidak ..." elakku yang masih berusaha menghindarinya, namun sebenarnya aku hanya bercanda.


"Lalu mengapa menghindar dariku?" tanya Haku yang semakim mendekatiku dan aku juga masih sedikit mundur. Hingga akhirnya ...


BRRUUGGHH ...


"Aduh ..." rintihku pelan.


"Yuko, kau baik-baik saja?" kini Haku segera bangkit dan mulai membantuku untuk bangun.


"Aku baik-baik saja ..." jawabku berbohong. Padahal rasanya sedikit sakit. Hiks ...


"Maaf ... maaf ... ini semua salahku ..." ucap Haku merasa sedikit tak enak.


"Sudahlah tidak apa-apa kok." ucapku lalu bangkit dan berdiri. "Aku akan mulai bersih-bersih saja. Kamu disini saja, Haku ..."


"Tidak. Aku datang hari ini untuk membantumu kok." kini Haku juga segera bangkit berdiri dan mulai sedikit melipat lengan kemejanya.


"Haku, kamu bisa beristirahat saja. Biar aku yang menyelesaikan. Hanya sedikit kok yang mau dibersihkan ..." ucapku ngeyel.

__ADS_1


"Tidak, Yuko. Aku akan membantumu. Agar kita bisa segera jalan-jalan bersama." Haku menyauti dengan senyum lebar dan kini mulai dengan membereskan ruang tengah.


Aku segera menyusul dan membantunya. Ternyata sesuatu yang dikerjakan berdua lebih menyenangkan dan begitu indah. Kita merapikan dan membereskan kontrakanku diselingi dengan gurauan dan canda tawa, karena Haku yang suka sekali menjahiliku.


Tapi jujur saja aku sangat menyukainya, Haku membuat hariku menjadi lebih berwarna, begitu hangat dan indah.


"Yuko ... apa ini?" tiba-tiba Haku melambaikan sebuah buku catatan bercover soft purple dan bercover cukup tebal kepadaku.


Dan aku sedang menyadari apa yang sedang terjadi saat ini sehingga membuatku sedikit tersipu malu. Aku segera berlari ke arahnya untuk merebut kembali buku itu darinya.


"Itu rahasia, Haku ..." ucapku yang mungkin saja saat ini wajahku sudah mulai memerah karena menahan malu.


Haku segera menghindar ke belakang dariku dan menaikkan buku itu hingga di atas kepalanya, sehingga aku tidak bisa mencapainya. Haku malah menarik pinggangku dengan tangan kanannya dan merangkulku.


"Aku merasa buku ini lucu. Mengapa aku tidak pernah mengetahuinya jika kamu menyukai scrapbooking, Yuko?" Haku menatapku dengan mata beningnya yang memancar dengan begitu hangat melebihi hangatnya sinar mentari yang masuk menyelinap melalui jendela.


"Klipping terbaru. Dan ini adalah foto-foto kita ... dan kau juga menulis semua hal yang aku sukai disini." ucap Haku saat membuka buku itu dengan senyum lebar.


Beberapa saat Haku menundukkan kepalanya dan menempelkan keningnya pada keningku. Suaranya begitu meluap dengan hangat dan lembut.


"Aku pasti adalah pria paling beruntung di dunia ini. Karena memiliki seseorang yang sangat peduli denganku ..."


Aku sedikit mundur darinya dan menghela nafas perlahan. Karena aku merasa wajahku kini sudah sedikit terbakar.


"Oh ... Yeap. Saat itu adalah musim panas terakhir." ucapku sedikit kikuk. "Baiklah, sekarang kamu sudah melihatnya. Mari kita lihat bersama ..." ajakku lalu menariknya duduk kembali di sofa.


Kita berdua duduk bersama dan mulai membuka buku itu. Ada beberapa foto yang aku cetak dan aku tempel di buku itu. Serta aku juga menuliskan kata-kata lucu di sekitar foto-foto itu. Seperti Musim panas terhangat di dalam hidupku selama ini karena ada dia, Mencintai itu tidak butuh terima kasih dan maaf, Velvet sun yang selalu aku rindukan dan selalu menghangatkanku, dan masih banyak lagi kata-kata yang aku tulis di dalam buku itu yang tentu saja membuatku malu karena saqt ini Haku sedang melihat dan membacanya.


Saat kita melihat bersama foto-foto itu, kita jadi teringat kembali dan seperti kembali lagi saat musim panas yang begitu hangat itu.


Begitu hangat dan sangat aku sukai. Velvet sun ku, Haku ... aku sungguh sangat beruntung bisa selalu bersamamu. Aku ingin selalu bersamanu hingga di akhir hidupku.


Bahkan saat itu kita juga jarang bertemu. Kita juga hanya sering berkomunikasi dengan pesan dan telpon karena Haku sibuk dengan pekerjaan dan juga kuliah. Namun, bagiku setiap saat di musim itu terasa begitu manis meskipun kita terpisah dan jarang bertemu.

__ADS_1


Canda tawa terasa begitu hangat saat kita membuka lembar demi lembar buku itu.


__ADS_2