My Little Prince

My Little Prince
Gunung Es yang Meleleh


__ADS_3

POV Sora


Mendengar ucapanku kak Ave sedikit mendengus kesal. Ada apa? Apa aku telah membuat kesalahan?


"Apa kau segitunya tak ingin bersamaku? Dan ingin segera pulang saja?" ucap kak Ave dengan sedikit kesal.


"Bu-bukan seperti itu, Kak!" kataku cepat-cepat dan sedikit menggaruk kepalaku yang sama sekali tidak gatal.


"Apa kau sangat tidak suka saat bersamaku?" pertanyaan kak Ave kini semakin membuatku sedikit terpojok. Kenapa Kak Ave tiba-tiba jadi sedikit sensitive ya?


"Iya ... Eh anu ... Tidak maksudku, Kak!" aduh malah bicara apa aku ini.


"Ya sudah kalau memang begitu. Lebih baik kita pulang saja. Kau pulang saja sana! Aku akan pulang saja! Aku tidak akan memaksamu lagi!" ucap kak Ave lalu mulai berjalan meninggalkanku.


Aduh kok tumben sih kak Ave jadi seperti ini? Biasanya juga dia tak pernah mempedulikanku pun. Tapi kenapa sekarang tiba-tiba seperti ini?


Aku memutuskan untuk segera mengejarnya. Namun dia berjalan dengan cepat dan langkah kakinya juga lebih lebar dariku.


"Kak! Tunggu!" teriakku padanya, Namun dia sama sekali tidak menghiraukanku dan dia terus berjalan.


"Senior Ave! Tunggu!" teriakku lagi yang masih berlari untuk mengejarnya.


Percuma! Kak Ave terus saja melangkah ke depan. Sementara aku masih terus berlari untuk mengejarnya. Tapi aku melupakan sesuatu, hari ini aku memakai high heels dan aku terjatuh ketika sepatuku menginjak jalanan yang sedikit berlubang.


Bbrruugghh ...


"Arrgghh ..." rintihku yang sudah terjatuh. Aku berusaha untuk segera duduk. Dan melihat sikuku dan lututku ternyata sedikit luka lecet dan berdarah.


"Ah, cerobohnya aku ..." keluhku pada diriki sendiri.


"Kau baik-baik saja, Sora?" tiba-tiba seseorang sudah jongkok di hadapanku dan menarik tanganku untuk melihat luka gores itu.


Aku mendongak dan ternyata Kak Ave sudah jongkok di hadapanku.


"Aku tidak apa-apa, Kak." sahutku pelan.


Kak Ave berdiri dan mengulurkan tangannya padaku. Aku terdiam memandangi jemarinya beberapa saat lalu aku menerima uluran tangannya itu dah berusaha untuk berdiri.

__ADS_1


Baru berjalan selangkah saja rasanya kakiku sudah sangat sakit sekali dan aku mau terjatuh lagi, namun kak Ave segera menarik tanganku. Sepertinya kakiku terkilir.


Tiba-tiba saja kak Ave jongkok membelakangiku. Apa yang sedang dia lakukan?


"Apa yang sedang kakak lakukan?"


"Naiklah. Kita akan cari tempat untuk mengobati lukamu dulu!" perintahnya dengan sedikit penekanan.


"Aku akan jalan sendiri kak!"


"Kakimu sedang terkilir! Jadi jangan membantah! Sekarang cepat naik!" perintahnya lagi.


Dengan perlahan dan hati-hati serta sedikit keraguan aku mulai memeluk tubuh kak Ave dari belakang. Rasanya masih sedikit takut padanya namun entah kenapa hatiku sedikit berdebar.


Aku mengalungkan kedua tanganku melingkar pada leher kak Ave. Dan aku sedikit mengernyitkan dahi menatap wajahnya dari sisi samping belakangnya.


Kenapa malah berdebar seperti ini? Ini tidak seperti biasanya. Aneh ...


"Sudah? Pegangan yang erat!" perintah Kak Ave sedikit menoleh ke arahku.


"Yeap ..." sahutku singkat dan sedikit mengalihkan pandanganku.


"Sora, diamlah dan jangan bergerak terus atau kita akan jatuh bersama." ucap kak Ave datar.


"Uhm, Iya. Maaf ..." sahutku pelan.


Namun betapa bodohnya aku, karena ucapan kak Ave aku bukan hanya menahan diri untuk tidak bergerak, namun juga menahan nafasku.


Dan beberapa saat aku menghembuskannya karena tidak kuat menahannya.


"Sora apa yang kau lakukan?" tanya Kak Ave dengan wajah datar. "Aku hanya memintamu untuk jangan banyak bergerak. Dan bukan menyuruhmu untuk jangan bernafas ..." lanjutnya sambil sedikit menolehku.


"Hehe ... Maaf deh." kataku sambil nyengir kecil.


Kini aku tersenyum dan memeluknya lebih erat, dan mendekatkan diri ke telinga kak Ave. Dan kak Ave hanya melirikku dengan matanya yang selalu tajam. Namun kini aku sudah terbiasa melihanya, dan aku sudah sedikit merasa terbiasa.


"Apa yang kau lakukan, Sora? Berhentilah gelisah dan banyak bergerak. Atau turun dan jalanlah sendiri ..." ucap kak Ave dengan nada dingin.

__ADS_1


Namun aku hanya sedikit tertawa kecil, aku tau kak Ave hanya menggertakku dan tidak akan benar-benar sekejam itu untuk meninggalkanku sendirian dalam kondisi seperti ini.


"Dan kak Ave adalah orang orang yang pernah mengatakan aku bisa lebih lama lagi bersama dengan kakak. Dan tidak akan membiarkanku pergi." celutukku dengan tawa kecil.


Sesaat aku melihat wajah kak Ave yang terlihat memerah dan segela mengalihkan pandangannya.


"Kapan aku pernah mengatakannya? Jangan bercanda!" sahutnya cepat.


"Aku sudah ingat, Kak. Saat aku mabuk malam itu, kakak yang mengantarku pulang. Dan kakak mengatakan semua itu padaku. Saat itu aku memang mabuk dan tidak ingat apa-apa saat itu. Tapi tiba-tiba saja kini aku ingat semua."


Wajah kak Ave kini semakin memerah setelah mendengar ucapanku. Dan dia masih menatap lurus dan terus berjalan. Kak Ave terdiam dan tidak menjawabku sama sekali.


Setelah beberapa saat dia menurunkanku di sebuah bangku taman.


"Tunggulah disini sebentar. Aku akan segera kembali." ucapnya dengan menatapku serius.


"Hai ..." sahutku dengan anggukan kecil.


Kak Ave segera bergegas dan meninggalkanku sendirian. Mau kemana ya dia? Aku masih menatapnya hingga punggungnya mulai menghilang dari pandanganku.


Setelah beberapa saat kak Ave sudah kembali lagi. Dan dia terlihat sangat serius tanpa menatapku sama sekali dan langsung jongkok di hadapanku yang sedang duduk di atas bangku taman.


Kak Ave membuka sebuah botol kecil seperti alkohol dan mulai membalurinya di atas sebuah casa. Lalu dia membersihkan lututku yang tadi terluka. Dia sangat pelan melakukannya karena jemarinya yang belum sepenuhnya sembuh.


"Kak ... Aku bisa sendiri ..." ucapku pelan. Namun kak Ave tak menghiraukanku sama sekali dan terus membersihkan luka itu. Lalu dia membuka sebuah plaster dan menempelkannya pada lukaku.


Selanjutnya Kak Ave juga melakukan hal yang sama untuk mengobati sikuku yang tadi juga terluka. Aku hanya terus memandanginya dan merasa sedikit kikuk.


Selama ini rumor yang menyebar adalah kak Ave itu untouchable. Namun aku dan dia sering, bahkan melakukan kontak dan bersentuhan. Sebenarnya apa yang terjadi? Apa dia benar-benar menyukaiku?


Bahkan saat itu tiba-tiba saja kak Ave menciumku ...


Oh, Tidak! Kenapa aku malah mengingat kejadian memalukan itu? Duh ... Apakah wajahku kini juga sedang memerah? Oh, memalukan sekali.


Setelah selesai mengobati lukaku, perlahan kak Ave melepas high heelku dan dia mulai memijit kakiku.


Aku sempat membulatkan mataku menatap semua itu. Aku sangat merasa tidak enak padanya. Benarkah dia Kak Ave yang dingin itu?

__ADS_1


"Kak. Aku tidak apa-apa kok. Dan dengan istirahat sebentar nanti kakiku pasti juga akan sembuh dengan sendirinya." kataku lalu sedikit menarik kakiku.


"Kalau tidak dipijit nanti akan semakin sakit. Jadi diam dan nurut saja!" celutuknya tanpa menatapku sama sekali. Dan Kak Ave masih fokus untuk memijit kakiku yang tadi terkilir.


__ADS_2