
Seperti delusi saja rasanya. Aku pulang ke kontrakan bersama kak Zen lagi dengan menaiki bus. Aku duduk di dekat jendela, sementara kak Zen duduk disampingku.
Benar-benar mirip sakali dengan saat itu. Hanya saja kali ini sedikit berbeda dengan saat itu.
Saat itu, kak Zen masih mengingat semua kenangannya dengan baik. Sedangkan saat ini, kak Zen hanya mengingatku sebagai junior yang baru dia kenal saat di Universitas Tokyo.
Hhm ... Memang lebih baik seperti ini saja sih. Agar kak Zen tidak memiliki dan menanggung beban itu lagi. Aku menunduk dan melihat kaki kita berdua. Dan tiba-tiba aku tersenyum, bahkan aku sedikit tertawa kecil karena merasa sedikit lega.
"Apa yang membuatmu terlihat begitu bahagia, Yuko?" tanya kak Zen tiba-tiba sambil sedikit melirikku.
Dan kini aku mendongak menatap kak Zen, dan tawaku mulai mereda karena mungkin saja aku terlihat sedikit aneh dan konyol karena tertawa tiba-tiba.
"Ah, Tidak ada kok, Kak!" ucapku berbohong. Karena tidak mungkin aku mengatakannya kepada kak Zen, bahwa aku merasa lega dan bahagia saat mengetahui beban itu menghilang dari diri kak Zen.
"Kau yakin, Yuko?" tanya kak Zen yang terlihat sedikit tidak percaya. Dan dia menatapku sedikit curiga.
"Hhm. Aku sangat yakin, Kak!" jawabku dengan mantap disertai anggukan tegas.
"Tersenyumlah selagi masih bisa tersenyum, Yuko. Terkadang sebuah senyuman itu bisa merubah suasana hati seseorang dan bahkan bisa membuat seseorang menjadi bahagia dan kembali bersemangat." ucap kak Zen denga senyum tipis.
"Benarkah itu, Kak?" tanyaku polos.
"Hhm. Tentu saja. Sebuah senyuman bisa merubah suasana hati yang seseorang yang sedang menatapnya."
"Hehe ... Kesannya ramah gitu ya, Kak?"
"Bisa dibilang seperti itu. Coba saja bayangkan kamu sedang melihat seseorang yang selalu saja cemberut atau ekspresi yang begitu angkuh. Bagaimana perasaanmu?"
"Sedikit kesal sih." sahutku jujur.
"Nah. Benar kan ..."
"Hehehe ... Iya, Kak." kataku lalu tertawa kecil, begitu juga kak Zen dia juga sedikit tertawa.
"Jadi semalam kak Zen langsung ke rumah sakit ya?"
"Hhm ... Iya. Setelah mendapat panggilan dari rumah sakit, kakak segera pergi ke rumah sakit. Kakak sangat khawatir malam itu, kakak takut jika Ave terluka parah. Namun ternyata hanya sedikit luka gores saja. Dan kakak sangat merasa lega." kata kak Zen dengan sangat tenang.
"Padahal malam itu aku dan Sora mencari kak Ave sampai ke halte lo, Kak. Tapi kita tidak menemukan kak Ave ..." ucapku sedikit kebingungan.
"Hhm ... Entahlah. Atau mungkin saja saat kalian mencari Ave, Ave sudah di rumah sakit."
__ADS_1
"Sepertinya seperti itu, Kak."
Setelah beberapa saat akhirnya kita sudah sampai, dan kita segera turun dari bus.
Kali ini kita berpisah saat di gank pertama. Benar, memang seharusnya seperti ini saja kak Zen. Jangan terlalu baik lagi padaku. Karena itu akan membuat langkah kita terasa begitu berat.
Langkah demi langkah aku mulai menyusuri jalanan itu untuk segera sampai ke kontrakan.
...***...
"Haku, bolehkah aku ikut ke Tokyo Disney Resort akhir pekan nanti?" ucapku meminta ijin kepada Haku saat malam dia menelponku.
"Pergi bersama siapa, Yuko?" tanya Haku dengan nada lembut.
"Anak-anak fakultas sastra. Bagaimana? Apa aku boleh pergi?" tanyaku lagi padanya.
"Hhm. Pergilah, Yuko." jawabnya dengan lembut. "Jika aku pulang lebih awal nanti aku akan menjemputmu." imbuhnya lagi.
"Tidak usah, Haku! Aku bisa pulang sendiri kok. Kau juga pasti sangat lelah dan butuh banyak istirahat." ucapku sedikit tidak enak padanya.
"Aku tidak akan lelah setelah bertemu denganmu, Yuko." ucap Haku dengan sedikit tawa.
"Sejak kapan aku suka berbohong, Yuko? Aku selalu berbicara apa adanya." ucanya pelan. "Ahh ... Aku tidak sabar ingin segera menikah!" imbuhnya lagi dengan nada manja.
"Apa kau tidak akan bosan jika menikah denganku nanti, Haku? Setiap hari kita akan selalu bertemu nantinya ..."
"Tentu saja tidak! Justru itu malah yang aku mau, Yuko. Atau jangan-jangan kamu yang bosan ya karena sering bertemu denganku?"
"Tentu saja tidak! Malah aku selalu ingin bersamamu!" kataku dengan cepat-cepat dan antusias.
Haku tertawa kecil setelah mendengar ucapanku. Wah, dia memang sangat pandai memancingku deh ... Dasar, Haku!
"Benarkah itu, Yuko?" tanya Haku setelah tawanya reda.
"Iya, Haku ..."
"Uhm ... Yuko, Kalau boleh tau ... Apa yang kau sukai dariku?"
"Kenapa tiba-tiba menanyakan hal seperti itu? Tentu saja aku aku menyukai semuanya darimu, Haku. Kamu adalah kamu, dan aku menyukai semuanya!" sahutku dengan penuh percaya diri.
"Dan bersama denganmu selalu membuatku sangat nyaman. Bahkan dari kita kecil aku sangat menyukai untuk selalu bersamamu." imbuhku lagi.
__ADS_1
Haku menanggapi ucapanku dengan senyum tipis yang aku cukup hafal.
"Aku juga. Dari kecil aku juga sudah menyukai saat bersamamu. Dan kau sudah menjadi cahaya yang menerangi kegelapanku di masa lalu. Karena engkaulah, aku bisa sampai saat ini. Yuko ... Aku benar-benar tak bisa melewati semuanya jika tanpamu saat itu."
"Haku ... Jangan lagi membicarakan mengenai itu. Itu hanya akan membuatmu sangat terluka dan bersedih." ucapku pelan.
"Dan itu juga membuatku sangat merindukanmu ... Aku sungguh merindukanmu, Yuko ..." ucapannya kini terdengat begitu lirih.
"Uhm ... Iya ... Aku juga sangat merindukanmu, Haku ..."
"Ehm ..." suaranya pelan sekali.
"Haku ..."
Hening ... Tidak ada jawaban. Sepertinya Haku ketiduran. Hhm ... Manis sekali dia ...
"Selamat malam. Dan istirahatlah yang cukup. Mimpi indah, Haku ..." ucapku dengan pelan lalu mematikan panggilan itu.
Aku juga harus segera tidur sekarang! Selamat malam ...
...***...
Semenjak kejadian itu, Ken tidak lagi bersama kita. Dia selalu mengambil kelas sore. Bahkan jarang sekali aku bertemu dengannya ketika di kontrakan. Aku jadi sedikit khawatir padanya.
Semoga Ken baik-baik saja dan bisa segera move on.
Namun, saat acara akhir pekan ... Ken juga bahkan tidak mengikuti untuk bersama-sama pergi ke Tokyo Disney Resort. Dan ini kembali membuatku sedikit mengkhawatirkan dia lagi.
"Sora, lagi-lagi Ken juga tidak mengikuti acara kali ini ..." bisikku kepada Sora.
"Hhm. Aku jadi sangat merasa bersalah padanya, Yuko ..." ucap Sora pelan dan dia terlihat sangat murung. "Sejak kejadian itu ... Sepertinya Ken selalu menghindariku ... Bahkan dia selalu mengambil kuliah sore." imbuh Sora lagi yang masih murung.
"Aku juga merasa seperti itu, Sora. Semoga saja Ken baik-baik saja." ucapku penuh harap.
"Hhm ..."
"Tersenyumlah. Kak Ave akan sangat sedih jika melihatmu murung seperti ini ..."kataku menghibur Sora.
"Hhm ... Iya. Terima kasih, Yuko." sahutnya dengan seulas senyum yang sangat manis.
Sora memang tergolong gadis yang cantik dan manis. Semua orang yang melihatnya pasti akan menyukainya.
__ADS_1