
Aku duduk di dekat jendela dan kak Zen duduk di sebelahku. Tak sengaja aku melihat sesuatu terjatuh dan aku segera memungutnya.
Sebuah gantungan kunci yang sangat imut dan lucu. Gantungan kunci sebuah dolphin yang sangat menggemaskan. Dan di situ terukir sebuah nama Li Zeyan.
Itu bukannya nama kak Zen?
"Kak. Ini punya kakak terjatuh." aku mengulurkan gantungan kunci yang baru saja aku pungut itu kepada kak Zen.
Kak Zen menatap sebentar gantungan kunci itu lalu menerimanya dan tersenyum.
"Oh iya. Terima kasih ya, Yuko." Kak Zen mengambil gantungan kunci itu dan menatapnya dengan senyuman lebar.
"Lucu ya gantungan kuncinya ..." kataku sambil terus memandangi gantungan itu gemas.
"Kau suka? Kalau begitu ambillah ..." kak Zen mengulurkan kembali gantungan kunci itu padaku.
"Tidak usah, Kak." kataku cepat-cepat dan melambaikan kedua tanganku karena merasa tidak enak dengan kak Zen.
"Tidak apa-apa kok. Ambil saja!" kata kak Zen lalu menarik tanganku dan membuka jemariku. Kemudian dia meletakkan gantungan itu pada jemariku.
"Tapi kak ..."
"Sudah. Tidak apa-apa kok. Atau jangan-jangan kau tidak menyukainya?"
__ADS_1
Mataku langsung membulat mendengar ucapan kak Zen barusan.
"Tentu saja aku suka! Ini lucu dan sangat menggemaskan! Dan aku juga suka dolphin! Dan juga aku suka warna biru ..." kataku berbinar menatap gantungan kunci mungil yang sedang berada dalam genggamanku. "Terima kasih, Kak!"
Kak Zen hanya tertawa kecil tanpa berkata sepatah kata apapun. Dia terlihat sangat ceria dan hangat. Dia memang selalu hangat dan ramah sih.
"Oya aku baru tau nama lengkap kakak saat malam puncak perayaan penerimaan mahasiswa baru kemarin."
"Benarkah?" kak Zen mengangkat kedua alisnya dan menatapku.
"Hhm ..." aku mengangguk tegas. "Apa kakak bukan orang Jepang? Nama kakak terlihat seperti nama orang China."
"Hhm. Ya, Ayah kakak adalah orang China. Sedangkan mama orang Jepang. Tapi kakak belum pernah pergi ke China sih. Mereka sudah menetap disini."
"Wah. Benar ternyata ya seperti dugaanku ..." kataku sambil tertawa kecil.
"Kita hampir sampai. Yuk ..." katanya lalu bergegas untuk turun dari bus. Dan aku segera membuntutinya.
Kak Zen terus berjalan dan aku masih mengikutinya. Tapi kenapa dia berjalan ke arah kontrakanku? Bukannya kalau lewat jalan ini malah akan semakin jauh untuk menempuh rumahnya?
"Kak!" panggilku sambil berlari kecil untuk berjalan di sebelahnya.
"Ya ..." katanya yang masih terus berjalan.
__ADS_1
"Bukannya kalau lewat jalan ini malah akan menjadi semakin jauh untuk pergi ke rumah kakak?"
Kak Zen menoleh ke arahku dan tersenyum lebar.
"Tidak apa-apa kok. Kakak ingin mengantar kamu. Setelah ingat kejadian tadi, kakak jadi sedikit merasa khawatir."
"Eh, padahal tidak perlu kak. Ini sudah dekat kok dari kontrakan."
"Apa saat di luar sering ada yang mengganggumu juga, Yuko?"
"Hhm? Tidak sering sih. Tapi pernah. Mungkin karena tampangku yang seperti bocah apa ya? Dikiranya mudah dirayu. Hiii ... Kadang mereka membuatku merinding!" kataku yang tiba-tiba teringat dengan pria di pantai itu.
"Iya. Seperti bocah yang lucu dan menggemaskan ..." tiba-tiba saja kak Zen tertawa renyah.
"Tuh kan. Kakak juga bilang aku seperti bocah!" kataku sedikit cemberut.
"Memang. Tapi manis kok." kata kak Zen sedikit menghentikkan tawanya. Tapi dia masih tersenyum lebar menatapku.
Aku hanya terdiam saja mendengar ucapan kak Zen. Aku sedikit malu sih. Selama ini hanya Haku yang selalu mengatakannya. Ah, aku kangen dia ...
"Kenapa kakak selalu baik padaku?"
Kak Zen terdiam beberapa saat dan kita tetap terus berjalan.
__ADS_1
"Karena kakak sudah menganggapmu seperti adik kakak sendiri."
"Kalau memang seperti itu, boleh aku meminta sesuatu kepada kakak?"