
Aku membuka mataku perlahan. Dan kulihat tangan Haku yang masih melingkar memelukku. Sementara aku tidur membelakanginya.
Oh tidak! Aku kembali teringat dengan kejadian semalam. Membuat mukaku kembali memerah.
Semalam aku dan Haku telah melakukan sesuatu. Jantungku kembali berdegup sangat kencang.
Oh My! Tenanglah Yuko..!! Tenang..!! Semua akan baik-baik saja..!!
Aku perlahan duduk lalu aku melihat Haku yang masih tertidur dengan pulas. Dadaku kembali berdegup sangat kencang menatapnya. Aku dan Haku telah melakukannya..? ๐ณ
Oh tidak!! Aku harus segera beranjak atau aku bisa gila karena terus menatap dan mengingat kejadian semalam.๐ฃ
Aku meraih ponselku dan melihat jam. Aku harus segera bangun dan memasak sesuatu untuk Haku dan Mirae.
Arghhh..
Kenapa sakit sekali untuk berjalan?
Aku berjalan dengan pelan-pelan saking sakitnya.
Aku bergegas mandi dan segera pergi ke dapur untuk memasak sesuatu untuk sarapan. Aku memasak nasi kepal dan okonomiyaki hari ini.
Setelah semua selesai, aku memutuskan untuk memanggil Mirae dan Haku. Aku mengetuk kamar Mirae terlebih dahulu karena kamarnya berada di lantai satu.
"Mirae! Kau sudah bangun?" panggilku dari luar kamarnya.
Beberapa saat Mirae sudah keluar rapi dan cantik dengan memakai uniform SMU nya.
"Pagi, Kak Yuko!" katanya sambil tersenyum manis.
"Pagi, Mirae. Ayo bergegas. Kakak sudah masak sesuatu." ajakku ramah.
"Iya kak."
"Kakak akan memanggil kakakmu dulu. Kau makan duluan saja ya." aku tersenyum menatapnya.
"Hai!" katanya langsung ngeloyor ke ruang makan. Sementara aku naik ke lantai 2 untuk membangunkan Haku.
Aku mengetuk pintu kamar tamu. Tapi tak ada jawaban. Mungkinkah Haku masih tidur? Aku memutuskan untuk langsung memasukinya saja. Tapi ternyata kamar ini sudah kosong. Dimana Haku? Mungkinkah dia sudah kembali ke kamarnya?
Aku merapikan kamar tidurku lalu segera bergegas untuk ke kamar Haku. Aku mengetuk pintu kamarnya. Dan beberapa saat pintu terbuka.
Terlihat seorang pria yang sedang tersenyum manis padaku. Wah.. Dia sangat bersinar sekali. Dia terlihat sudah rapi dan harum sekali. Dia mengenakan blouse soft grey dan memakai coat putih.
"Selamat pagi, Yuko." katanya sambil tersenyum lebar.
"Kau sudah bangun, Haku? Tumben.."
Dia tertawa kecil mendengar ucapanku. "Karena aku sangat bahagia hari ini. Aku ingin segera bangun dan menyapa dunia." katanya berbinar.
"Kau sangat bahagia hari ini? Kenapa?"
"Ehm.. Karena tadi malam aku.." kata Haku belum selesai dan aku dengan sangat cepat segera membungkam mulutnya.
"Tolong jangan bicarakan itu!" kataku lalu menunduk malu.
Haku memegang tanganku dan menurunkannya perlahan.
"Baiklah." katanya pelan. "Yuko!"
"Ya...?"
__ADS_1
"Apa masih terasa sakit?" tanyanya pelan.
"Ehm, Iya. Tapi jangan khawatirkan itu!"
Aku segera berbalik agar dia tidak melihat wajahku yang merah. Kumohon jangan bahas soal ini, Haku..!! ๐ญ
"Ayo turun! Aku sudah memasak sesuatu." aku mulai berjalan pelan dan Haku mengikutiku.
"Kali ini kau masak apa, Yuko?"
"Nasi kepal dan okonomiyaki." sahutku pelan.
"Wah, Asyik. Pasti enak."
Kenapa dia bisa bersikap seperti tak terjadi apa-apa diantara kita? Atau hanya aku saja yang berlebihan? Apa hanya aku saja yang terlalu memikirkannya.
Akhirnya kita makan bertiga di meja makan.
"Mirae, kapan ayah dan ibu pulang?" tanya Haku sambil memakan okonomiyakinya.
"Katanya sih lusa kak."sahut Mirae. "Oiya kak. Aku nanti boleh ya menginap di rumah temanku?"
"Teman yang mana?"
"Yura. Kita ada tugas kelompok kak. Jadi akan lebih enak kalau mengerjakannya bersama."
"Suruh Yura yang menginap disini saja ya. Kakak tidak mengijinkanmu kalau kau yang menginap di rumahnya." sahut Haku.
"Kenapa kak? Kan sama aja aku yang menginap disana ataupun dia yang menginap disini."
"Pokoknya tidak boleh..!!"
"Hati-hati Mirae." kataku.
"Hai...!" sahutnya lalu mulai memakai sepatunya lalu bergegas pergi. Kini tinggal aku dan Haku di meja makan. Aku hanya fokus memakan makananku saat ini.
"Yuko, kau kenapa hari ini?" tanya Haku sedikit bingung melihat tingkahku.
"Aku tidak apa-apa, Haku." aku tersenyum menatapnya sebentar lalu kembali fokus dengan sarapanku.
"Apa kau marah padaku? Apa kau menyesal telah melakukannya denganku?"
Aku menghentikkan aktifitas makanku lalu memberanikan diri menatap Haku.
"Haku, Bukan seperti itu. Tapi.. Tapi.. Aku.. Aku sangat malu sekali membicarakannya. Mengingatnya saja sudah sangat membuatku sangat malu." aku menutup wajahku dengan kedua tanganku saking malunya.
"Ah.. Ehm.. Yuko.. Maaf.. " Haku segera pindah duduk disebelahku. Lalu dia menarik kedua tanganku perlahan. Kini dihadapanku sudah ada Haku. ๐
"Yuko, dengarkan aku! Aku ini adalah salah satu bagian dari dirimu. Begitupula sebaliknya. Kau juga salah satu bagian dari diriku. Jadi tidak usah merasa malu padaku." Haku tersenyum hangat padaku. "Apapun itu. Bebanmu, sedihmu, masalahmu, penderitaanmu, bahkan bahagiamu. Kau bisa berbagi denganku kapan saja. Jangan merasa malu dan sungkan padaku lagi. Kita adalah satu." dia menatapku lekat dan menggenggam jemariku.
Matanya sangat jernih dan sangat indah. Begitu menyejukkan hati siapa saja yang memandangnya.
Entah kenapa aku merasa lebih tenang sekali setelah mendengar ucapan Haku barusan.
"Terima kasih, Haku." kataku pelan.
"Tidak perlu berterima kasih, Yuko. Karena di dalam mencintai sebenarnya tidak butuh kata terima kasih. Semua dilakukan dengan tulus."
"Kau benar." kataku pelan.
"Jadi, Bagaimana kalau aku mengobatinya dulu sebelum kita pergi ke kampus?" tanyanya pelan.
__ADS_1
"Mengobati?" tanyaku bingung.
"Saat dipakai berjalan pasti akan terasa sakit. Aku akan mengambil obat merah dulu. Tunggu sebentar!"
Aku baru paham! Yang dimaksud Haku mengobati ternyata mengobati yang itu..?!!
"Tidak perlu!" teriakku, tapi Haku tak mendengarkanku. Dia mengambil sesuatu di kotak P3K yang berada di ruang tengah. Lalu datang kembali padaku.
Aku melotot menatap obat itu. Dan langsung merebutnya dari Haku.
"Biar aku pakai sendiri...!!" kataku cepat-cepat lalu berusaha bangkit dan menuju kamar mandi di lantai satu.
Huftt.. Hampir saja! Masa iya dia yang mau mengobatinya?!๐ฃ Tidak! Tidak boleh! Aku masih malu sekali!
Beberapa saat aku kembali lagi menemui Haku di meja makan. Dan ternyata dia sedang asyik dengan ponselnya.
"Ah, Kau sudah selesai ya, Yuko? Kita berangkat sekarang?"
"Hhm. Tunggu sebentar. Aku akan merapikan semua dulu." kataku lalu mengambil piring kotor di meja makan dan mencucinya. Sementara Haku menyimpan kembali sisa makanan di lemari penyimpanan makanan.
Setelah itu kita segera berangkat ke kampus menaiki subway.
"Bagaimana? Masih sakit?" tanya Haku saat di dalam subway.
"Sedikit.." sahutku pelan sambil pura-pura memandangi ke luar jendela subway.
"Maaf ya. Padahal aku bilang akan melakukannya dengan pelan dan lembut. Tapi malah.."
Aku menutup mulutnya dengan jari telunjukku agar dia tidak meneruskan kata-katanya lagi.
"Aku baik-baik saja kok.." aku tersenyum menatapnya.
Haku meraih tanganku dan menggenggamnya selama di dalam subway.
"Oh iya. Hari ini kita akan dikumpulkan berdasarkan fakultas masing-masing. Apa kau sudah menentukannya, Haku?"
"Iya, sudah. Ayahku menyuruhku memilih sesuai dengan kemauanku." Haku tersenyum lebar padaku.
"Wah. Benarkah? Aku ikut senang deh."
"Tapi aku akan berpisah denganmu deh, Yuko." katanya sedikit cemberut.
"Ahaha. Kita masih satu Universitas, Haku." aku tertawa kecil.
"Tetap saja kan jarang ketemu nanti." dia masih cemberut. Lucu.
"Kita akan bertemu kok. Kita bisa berangkat ke kampus bareng, ke kantin bareng, pulang bareng." hiburku.
"Kau jangan nakal ya saat aku tidak ada!" rengeknya.
"Aku bukan orang seperti itu, Haku. Kau tau sendiri kan aku orangnya seperti apa? Aku adalah introvert kelas tinggi." candaku lalu tertawa kecil.
Haku tersenyum manis menatapku.
"Bukannya kebalik ya, Haku? Seharusnya pesan itu aku tujukan kepadamu deh. Karena kau sangat populer di kalangan gadis." candaku.
"Tenang saja, Yuko. Aku tidak akan melakukan hal itu. Karena bagiku kau sudah lebih dari cukup."
...***...
__ADS_1