
POV HAKU ( Versi Hidup)
Akan tetapi,
Lagi-lagi aku yang terlalu pengecut ini melakukannya lagi.
Aku tak berani untuk menghubungi Yuko setelah dia terbangun. Karena aku merasa akulah penyebab semua itu. Aku merasa akulah yang membuat dia sakit dan koma selama 6 bulan ini. Aku sangat merasa bersalah hingga tak punya keberanian untuk menemui bahkan menghubunginya.
Melihat Yuko dari kejauhan dan mengetahui Yuko baik-baik saja itu sudah sangat cukup bagiku.
Aku menghubungi ibu Yuko. Untuk memintanya tak pernah menceritakannya tentangku kepada Yuko. Aku tak ingin membebaninya saat ini. Biarlah dia sembuh sepenuhnya dulu.
Kini jalanilah hidupmu dengan baik, Yuko. Suatu saat jika aku sudah siap nanti. Aku akan menemuimu kembali. Aku janji itu. Aku akan selalu menjagamu saat itu.
Tunggulah hingga saat itu tiba!
...***...
Hari demi hari berlalu.
Dan Yuko sudah menjadi lebih baik lagi. Dia sudah mulai masuk sekolah kembali. Dan begitulah seterusnya aku belum menghubunginya juga.
Hingga suatu saat kita bertemu kembali di Edo Museum, Tokyo saat dia karya wisata. Dan anehnya. Dia tidak mengingat bahkan mengenaliku saat itu. Apa yang terjadi? Apa dia hilang ingatan? Tetapi ibu Yuko tak pernah menceritakannya kepadaku selama ini.
Tetapi sejak pertemuan saat itulah aku memutuskan untuk memulainya kembali. Disinilah kisah kita akan dimulai.
Aku memberikan sebuah surat kepada Yuko saat keberangkarannya ke Sapporo dihari itu. Akan tetapi kereta sudah mulai melaju, jadi aku mengejarnya. Dan akhirnya bisa memberikan surat itu kepadanya.
Dan kisah kita pun kembali dimulai.
...________...
...________...
...________...
...________...
...14 April 2022...
Aku mendengar kabar bahwa Yuko, Kanna, dan Mayu melakukan perjalanan ke Tokyo. Kata Ibu Yuko saat itu, mereka akan mengunjungi kerumahku di Tokyo.
Tapi mengapa mereka tidak mengajakku ya? Jadi aku memutuskan untuk menyusul mereka keesokan harinya. Aku juga tidak menghubungi mereka. Karena ponselku tiba-tiba rusak sejak kemarin.
Aku sampai di di rumahku di Tokyo dini hari. Saat memencet bel rumah ternyata ibuku yang membukanya.
"Haku, Kenapa tiba sedini ini dan tidak memberi kabar? " tanya ibuku sedikit kaget.
"Ponselku tiba-tiba saja rusak, Bu." kataku sambil memeluk ibuku tersayang. Entah kenapa rasanya rindu sekali padanya. Seperti sudah lama tidak bertemu saja. Padahal baru 2 bulan aku tak bertemu dengannya.
"Ya sudah cepatlah masuk!! Diluar dingin."
Akhirnya aku dan ibuku segera memasuki rumah.
__ADS_1
"Bu, apa teman-temanku kemarin datang kesini?" tanyaku setelah di dalam rumah.
"Hhm. Kenapa kau tidak datang bersama mereka? Apa kau membuat masalah?" tanya Ibu mencurigaiku.
"Tidak, Ibu. Aku bahkan tidak mengerti kenapa mereka tiba-tiba datang kesini tanpa memberitahuku. Sekarang dimana mereka?"
"Temanmu yang bernama Mayu tidur bersama Mirae dikamar Mirae, Kiro tidur di kamar tamu. Sedangkan Yuko tertidur di kamarmu sekarang ini." jelas ibuku.
"Yuko di kamarku?" tanyaku sedikit terkejut.
"Sejak kemarin dia disana, katanya ingin melihat-lihat kamarmu. Eh malah ketiduran. Mungkin kelelahan." ibuku tersenyum menatapku.
"Dia sangat cantik ya sekarang." kata Ibu menggodaku.
Aku tersipu dan tersenyum malu mendengar ucapan ibu.
"Bu, aku akan melihatnya sebentar." kataku langsung ngeloyor pergi menuju kamarku yang berada di lantai 2.
Aku mencoba membuka pintu kamarku dan ternyata tidak terkunci dari dalam.
Aku melihat sosok Yuko yang sedang berbaring miring dengan memeluk sebuh foto. Fotoku bersama Yuko sewaktu kita kecil.
Aku tersenyum menatapnya. Entah kenapa aku merasa sangat bahagia sekali hari ini. Rasanya seperti kembali menemukan sesuatu yang telah hilang saat ini.
Aku berjalan menuju ranjangku dan aku membaringkan tubuhku. Tidur miring menghadapnya. Ya, Kita saling berhadapan.
Aku memperhatikan wajahnya dengan seksama. Yuko sangatlah manis. Wajahnya sangat mungil dan ramping. Kulitnya putih dan cerah. Dia memiliki bulu mata yang lentik dan mata yang sedikit besar. Seperti boneka. Hidungnya sedikit tinggi dan mancung. Bibirnya merah mudanya tipis dan mungil sekali.
Tiba-tiba Yuko membuka matanya perlahan. Dia tersenyum dan memandangiku lekat-lekat. Kita saling berbaring berhadapan. Tatapan kita saling bertemu lama, menyapa hangat dalam senyuman. Melepas rindu yang sangat mendalam. Rasanya seperti sudah lama sekali tak bertemu dengannya.
Tiba-tiba Yuko meraba mataku lalu menuruni hidungku. Aku diam saja membiarkan Yuko menjelajahi wajahku dengan jemarinya. Hingga dia akhirnya menyentuh bibirku. Aku langsung meraih tangannya, menggenggam dan meletakkan di pipiku. Kemudian dia malah mencubit pipiku dengan santai. Aku hanya meringis kesakitan.
Tetapi Yuko malah tersenyum menatapku yang sedang kesakitan.
"Kenapa kau tiba-tiba pergi ke Tokyo dan kerumahku? Kau tau, aku langsung menyusulmu kemarin tau...!!" kataku pelan. " Bahkan kau tidak memberitahuku..." kataku sedikit manyun.
"Rumahmu? " tanyanya masih santai.
"Yeap, bahkan kau sedang tidur di kamarku."
"Kamarmu?"
"Hhm.."
Yuko langsung duduk dan cepat-cepat melihat sekeliling. Dia terlihat sangat kebingungan. Lalu dia mencari ponselnya. Melihat tanggal berapa sekarang.
"15 April 2022?" Yuko melotot tak percaya.."Haku, benarkah ini tanggal 15 April 2022?" tanyanya memastikan lagi.
"Yeap. Kenapa kau tampak sangat kaget?" tanyaku sedikit bingung.
"Haku, Ini beneran kamu?" kata Yuko masih tak percaya. Dia meraih dan mengelus kedua pipiku
"Kau masih hidup? Ini beneran kamu kan?"
__ADS_1
"Tentu saja. Segar bugar gini juga." aku tertawa kecil.
Yuko langsung memelukku dengan sangat erat. Aku sedikit kaget sih. Tapi aku membalas pelukannya.
"Yuko, Ada apa denganmu?" tanyaku sedikit bingung.
"Ceritanya lain kali saja deh. Sekarang aku hanya ingin memelukmu." Yuko kembali mempererat pelukannya.
Tetapi tiba-tiba saja Yuko mendorong tubuhku dengan muka kesal.
"Ada apa, Yuko? Tadi kamu sangat senang melihatku. Tapi kenapa tiba-tiba jadi begini?" aku dibuat kebingungan lagi dengan sikap Yuko.
"Siapa gadis yang bersamamu saat kita bertemu di Edo Museum?" tanyanya tiba-tiba.
Aku terdiam berusaha mengingatnya kembali.
"Yang mana ya?"
"Jangan pura-pura lupa deh!" sahutnya cemberut.
"Aku sungguh tak ingat. Karena bagiku kaulah yang selalu aku ingat dan selalu dihatiku. Bahkan dari dulu tak ada gadis lain yang bisa memikatku selain kamu."
"Bohong! Aku lihat kau sangat bahagia saat itu bersamanya."
"Yuko, Bagiku kaulah satu-satunya untukku." aku mengelus kedua pipinya dengan lembut. "Dia itu Ayumi, sepupuku." kataku lembut dan memandang wajah Yuko dengan sangat dekat.
Tiba-tiba saja Yuko langsung mengecup bibirku pelan dan singkat. "Kau tau Haku, betapa rindunya aku padamu?"
"Aku juga sangat merindukanmu." kataku setengah berbisik. "Terima kasih Yuko, kau telah menyelamatkanku saat itu...Dan, aku juga minta maaf. Gara-gara itu kamu koma selama 6 bulan."
"Koma 6 bulan?" tanyanya sedikit bingung.
"Hhm. Maaf ya." kataku menyesal dan menggenggam kedua tangan Yuko.
"Yang terpenting kau selamat, Haku. Itu sudah membuatku sangat bahagia dan lega sekali." Yuko tersenyum tulus padaku.
"Terima kasih, Sayang." perlahan aku mulai mengecup kembali bibirnya. Dan dia membalas ciumanku. Aku menyibak rambutnya dan menciumi leher dan tengkuknya yang lembut dan wangi itu. Lalu aku membaringkan Yuko diranjang. Aku menindihnya dan terus menciuminya. Aku sangat merindukannya.
"Emh, Haku. Tapi ini dirumahmu. Ada orang tuamu, Kiro, Kanna, dan Mayu disini." Yuko sedikit mendorong tubuhku hingga aku menghentikkan aksiku.
"Aku tak peduli..." Aku kembali mengecup bibir Yuko kembali. Dan berusaha melakukan yang lainnya lagi.
"Emh.. Haku.."
Tok.. Tok.. Tok..
Yuko dan aku kelabakan dan merapikan baju dan rambut masing-masing.
"Haku, Yuko. Ayo keluar, sarapan dulu...!!" terdengar suara Kiro memanggil dari luar kamar.
...Kita saling melirik satu sama lain dan salah tingkah....
...***...
__ADS_1