My Little Prince

My Little Prince
Keio Mall Bersama Haku Part 2


__ADS_3

"Apa kau menyukainya, Haku?" tanyaku meminta pendapatnya. Sementara aku masih menempelkan lemeja itu pada tubuh Haku.


"Hhm ... Kalau kau menyukainya aku akan menerimanya."


"Okay!" aku segera membawa itu ke kasir.


Setelah itu kita mulai berpindah ke toko lainnya lagi. Kali ini aku akan membeli sebuah dress untukku sendiri.


Aku melihat sebuah dress putih simple yang sangat manis. Dan kini aku mencobanya di fitting room. Sedangkan Haku duduk dan menungguku di luar dengan sabar. Setelah beberapa saat aku keluar dan menemui Haku untuk meminta pendapatnya.


Dia segera berdiri dan melihat ke arahku. Lalu dia mulai berjalan mendekatiku.


"Bagaimana menurutmu, Haku?" tanyaku meminta pendapat Haku.


"Uhm ... Cantik!" ucapnya dengan seulas senyum.


"Uhm ... Bisakah kau menjelaskan secara lebih spesifik?" tanyaku lagi lalu sedikit berputar dengan pelan.


"Ini sangat cocok untukmu. Cantik dan manis ..." ucapnya dengan wajah yang berseri. "Aku akan membelinya untukmu ..." imbuhnya lagi.


"Tunggu, Haku ... Aku akan mencoba satu dress lagi!" aku melambaikan tangan kepada Haku lalu segera pergi ke fitting room lagi.


Aku melihat Haku yang kembali duduk dan tak bisa menahan untuk tersenyum, dengan salah satu tangan bertopang dagu. Dia terlihat seperti telah melihat sesuatu yang begitu menggemaskan.


Apa yang sedang dia pikirkan saat ini ya? Aku tidak tau. Kini aku segera mencoba salah satu dress lagi di fitting room.


Setelah beberapa saat, aku telah memakai sebuah dress berwarna soft dusty pink tanpa lengan. Dan kini aku mulai mendatangi Haku lagi, namun dia terlihat sedang berbincang dengan seorang sales pria. Dan aku bisa mendengar sedikit percakapan mereka.


"Tuan, Apakah nona itu asalah kekasih anda?" tanya seorang salesman.


Namun Haku malah terdiam dan terus menatapku terus hingga aku sudah di hadapan mereka.


"Tuan ..." salesman itu menyadarkan lamunan Haku.


"Oh. Maaf ... Aku sedang tidak fokus tadi." ucap Haku sedikit gelagapan.

__ADS_1


"Gaun itu terlihat begitu fantastis ketika nona itu memakainya." ucap pengunjung pria yang sedang lewat.


"Itu karena nona itu begitu fantastis. Cantik dan manis. Lihatlah tubuhnya yang ramping ..." ucap pengunjung pria lainnya yang sedang lewat. Sepertinya mereka berdua adalah seorang pelajar SMU.


Meskipun mereka mengatakannya dengan pelan dan sedikit berbisik, namun masih terdengar oleh kita. Dan itu membuatku merasa sedikit risih.


Mendengarkan semua itu, Haku segera memelototi kedua anak itu dan tidak bisa menyembunyikan sorot matanya yang kini menajam menatap mereka.


Sepertinya Haku berhasil memberikan efek menakutkan untuk kedua anak itu karena kini mereka telah berpaling dan tidak melihat ke belakang lagi.


Kini Haku mulai menatapku kembali dan seketika memperlihatkan wajah hangatnya kembali padaku, "Ayo! Sekarang segera pergi untuk check out!"


"Hhm ..." aku mengangguk dan tersenyum padanya lalu segera kembali ke fitting room untuk berganti pakaian kembali.


Setelah itu aku dan Haku segera pergi ke kasir bersama untuk membayar dress itu. Dan Haku membelikannya untukku.


"Yuko. Dimana dress yang terakhir kau pakai?" tanya Haku sedikit bingung karena dia hanya menemukan 1 dress berwarna putih saja di dalam totebag itu.


"Uhm ... Aku tidak jadi mengambilnya ..." ucapku sedikit meringis menatapnya.


"Kenapa? Kau terlihat sangat cantik saat memakainya ..."


"Menurutku itu sangat cantik ..." ucap Haku sedikit mengerutkan alisnya dan cemberut.


"Uhm ....Tidak apa-apa kok. Kan aku sudah mengambil dress putih ini." ucapku dengan senyum lebar.


"Hhm ... Baiklah kalau memang kamu kurang suka dan kurang nyaman untuk memakainya."


Aku mengangguk dan tersenyu lebar menatapnya. Kita mulai meninggalkan toko pakaian itu dan menyusuri Keio Mall bersama.


"Mau nonton?" tanya Haku menawariku.


"Eh? Bolehkah? Tapi ini sudah jam 9.30 Pm? Apa tidak apa-apa untukmu?"


Haku mengangkat tangan kanannya dan mengusap pelan kepalaku, "Tentu saja tidak apa-apa ..." ucapnya dengan kekehan kecil.

__ADS_1


"Ehm. Baiklah kalau begitu." sahutku.


Haku mententeng belanjaan kita dan salah satu tangannya masih dengan hangat selalu menggandengku. Kita segera pergi ke teater dan membeli sebuah tiket. Kali ini aku yang memilih filmnya, sebuah film dengan genre action dan romance.


Kita mulai memasuki ruang teater yang masih belum terlalu ramai dan segera mencari tempat duduk kita. Kita menikmati pop corn dan capucino blend. Saat sedang menomton di teater, inilah yang menjadi minuman favoritku.


"Yuko ..." ucap Haku begitu pelan. "Apa kau tau sesuatu?"


"Hhm? Apa?"


"Hand gloves ini seperti kamu, Yuko ... Begitu lembut dan menghangatkan. Dan tentu saja seperti kamu yang memberiku keberanian dan kekuatan selama ini." ucap Haku begitu lembut dan menenangkan. Sambil memperlihatkan sepasang hand gloves yang telah aku belikan untuknya tadi.


"Aku tak bisa menahan diri untuk merasa semua itu begitu menggemaskan. Kau bahkan telah berusaha memberikanku sepasang hand gloves ini dan membelai jemariku ... Dan tak ingin membiarkan tanganku kedinginan." imbuhnya dengan hangat.


Aku tersenyum bahagia mendengarkan ucapannya. Terdengar begitu manis dan sangat menggemaskan.


"Kau sediri sudah seperti mentari untukku, Haku ... Tanpaku mungkin saja hidupku sudah sangat redup."


"Udah seperti mati lampu saja donk ..." candanya dengan tawa kecil.


Dan aku juga ikut tertawa bersamanya, "Kau mau?" aku menyodorkan pop corn padanya.


Haku menatapku dengan mata yang seperti sedang tersenyum lalu mengambil popcorn itu dan mulai memakannya.


Beberapa saat lampu ruangan teater mulai dipadamkan, dan kini ruangan menjadi sedikit remang-remang.


Film itu kini sudah dimulai, dan aku mulai menyaksikannya dengan sangat serius. Menatap hanya ke depan dan terus fokus.


Haku diam-diam menatapku dan sedikit tersenyum gemas. Salah satu tangannya sedikit menggenggam dan menutupi mulutnya yang sedang tersenyum.


"Haku! Film ini sungguh keren!" gumamku memberitau Haku. Namun pandanganku masih lurus menatap layar proyektor itu.


Kini aku menoleh padanya, dan tek sengaja aku menatap sepasang mata beningnya. Tatapannya begitu lembut dan hangat sama seperti biasanya.


"Benar ..." Haku menyauti dengan santai dan masih dengan posisi yang sama.

__ADS_1


Aku merasakan sebuah kehangatan di udara yang tiba-tiba saja menghampiriku. Namun aku segera berbalik dan berusaha untuk menyaksikan film itu kembali. Huuft ... Entah kenapa aku merasakan sedikit gugup kembali saat ini. Untung saja ini di dalam bioskop, dan sedikit remang-remang. Dan wajah maluku mungkin akan sedikit tak terlihat.


Walaupun aku seringkali bertemu dan bersama Haku, namun aku masih sering merasa malu dan gugup di hadapannya. Aku juga tidak tau, kenapa ini selalu terjadi padaku. Bersama dengannya selalu saja membuatku begitu berdebar.


__ADS_2