
Aku menaiki bus untuk pergi ke rumah sakit. Sepanjang jalan aku hanya memperhatikan pemandangan di luar dari jendela bus.
Sebentar lagi musim panas akan segera berakhir ... Tinggal dua minggu lagi dan akan berganti menjadi musim gugur. Semoga saja Kak Zen bisa segera bangun.
Ponselku berbunyi menandakan ada sebuah pesan masuk. Dan aku segera membukanya.
📱Hati-hati ke rumah sakitnya. Dan pulanglah sebelum jam 8 pm. Malam ini akan turun hujan, kalau bisa segeralah pulang nanti. Haku
Setelah membacanya aku segera membalas pesan itu.
📱Baik. Kau sudah di kampus, Haku?
Aku memencet tombol kirim dan kembali melihat pemandangan di luar. Padahal langit begitu cerah, aku tidak melihat ramalan cuaca hari ini. Jadi aku tidak tau kalau nanti malam akan turun hujan.
Ponselku kembali berbunyi, dan ternyata Haku sudah membalas pesanku.
📱Yeap. Sudah. Aku akan menghubungimu lagi nanti.
Aku segera bangkit karena di depan sudah terlihat sebuah rumah sakit dimana kak Zen dirawat. Dan aku segera turun dari bus.
Aku segera menuju ke ruang ICU dimana kak Zen dirawat. Setelah sampai di depan ruangannya aku melihat kak Yuki sedang bersama kak Ave duduk di bangku. Dan aku segera menghampiri mereka.
"Hai, Yuko." sapa kak Yuki padaku.
__ADS_1
"Hai, Kak." balasku. "Bagaimana keadaan kak Zen?"
"Tadi pagi baru saja operasi. Dan dia masih belum sadar." ucap kak Yuki ramah. Sementara kak Ave hanya menatapku dingin. Yah, dia memang selalu dingin sih.
"Di dalam ada siapa, Kak?"
"Ada Tante, masuklah. Tidak apa-apa kok." sahut kak Yuki.
"Tante?"
"Iya. Mama Zen baru pulang dari Hokkaido tadi pagi."
"Oh ... Nanti saja kak kalau begitu." ucapku pelan.
Akhirnya aku duduk di kursi itu. Kini kita bertiga.
"Kau pasti sangat ketakutan saat itu." ucap kak Yuki membuka pembicaraan kembali karena beberapa saat kita bertiga hanya terdiam.
"Benar, Kak." ucapku pelan.
"Jangan terlalu menyalahkan diri sendiri! Kita doakan saja semoga Zen segera melewati ini semua." ucap kak Yuki yang malah membuatku semakin bersedih.
"Iya, Kak." sahutku pelan dan menunduk. Aku melihat gantungan dolphin yang menggantung di tasku. Gantungan pemberian dari kak Zen saat itu. Ah, rasanya jadi ingin nangis lagi.
__ADS_1
Beberapa saat pintu kamar ICU terbuka dan seorang wanita paruh baya keluar dari kamar itu. Dan kita bertiga segera berdiri menyambutnya.
"Ave, Yuki. Tante akan pergi sebentar. Tante bisa nitip Zen dulu? Tante akan kembali lagi nanti malam bersama Om." sahut wanita itu.
"Iya, Tante. Kita akan menjaga Zen." ucap kak Ave ramah.
"Zen sudah seperti saudara kita sendiri. Jangan khawatir, Tante." imbuh kak Yuki.
Wanita tadi sedikit tersenyum meskipun wajahnya sedikit sembab yang mungkin saja dia sudah terlalu banyak menangis.
Tentu saja, ibu mana yang tidak akan terpukul melihat anaknya yang sedang berbaring lemah dan tidak sadarkan diri. Bahkan tidak tau kapan dia akan membuka matanya kembali. Tiba-tiba saja air mataku sudah tumpah kembali membasahi pipiku. Tapi dengan cepat aku segera menghapusnya kembali.
"Siapa gadis ini? Sepertinya Tante belum pernah melihatnya sebelumnya." tiba-tiba saja wanita itu menatapku dan sedikit mengkerutkan keningnya.
"Dia adalah Yuko junior kita, Tante." ucap kak Yuki.
"Iya. Salam kenal!" kataku ramah dan membungkukkan badanku.
Wanita itu tersenyum hangat menatapku.
"Baiklah. Kalau begitu tante pergi dulu ya."
"Baik ..."
__ADS_1