
Sebuah mobil Lamborghini putih sudah terlihat melakukan parkir di seberang jalan. Tak lama kemudian seorang pria terlihat turun dari mobil itu. Dia masih mengenakan pakaian formal sama seperti tadi siang.
Pria itu mulai menyebrangi jalan dan melenggang ke arahku.
"Hallo apa kabar?" sapa pria itu dengan ramah.
"Ah ... iya. Aku baik-baik saja. Uhm ... sebentar." ucapku lalu mencari sesuatu di dalam tasku.
Aku meraih sebuah kotak kecil yang begitu lembut berwarna merah maroon. Lalu aku memberikan kepada pria bernama Sean itu.
"Ini ... maaf baru menghubungimu dan mengembalikannya." ucapku.
"Tidak apa-apa kok. Terima kasih ya ... aku kira sudah hilang lo ..." ucap pria itu lalu sedikit membuk kotak kemerahan itu.
"Sama-sama."
"Oh ya. Kita belum berkenalan. Kenalkan, aku Sean." ucapnya sambil mengulurkan tangannya padaku.
"Yuko ..." ucapku sambil membalas uluran tangannya.
"Kamu tinggal di daerah sini, Yuko?" tanya Sean sambil melihat-lihat sekitar.
"Uhm. Iya. Aku tinggal di kontrakan diujung gang ini." ucapku sambil menatap gang itu.
"Kontrakan? Lalu keluargamu?" tanya Sean ingin tau.
"Orang tuaku tinggal di Sapporo."
"Wah. Sangat mandiri ya. Keren sekali!"
"Tidak juga kok ..."
"Kamu sekolah di SMU mana?"
Pertanyaan Sean sangat membuatku terkejut. SMU? Apakah aku benar-benar terlihat seperti seorang bocah?
"Aku sedang melakukan study di Todai." jawabku dengan jujur.
"Seorang mahasiswi ya?" gumam Sean mengkerutkan keningnya. "Ah ... iya! Benar juga! Saat itu aku hampir saja menabrakmu di depan Universitas Tokyo bukan. Ah ... ingatanku benar-benar buruk. Maaf ..." ucap Sean dengan tawa kecil.
"Tidak apa-apa kok. Orang-orang juga sering memanggilku bocah ..."
"Ah ... aku sungguh minta maaf. Aku benar-benar tidak tau." ucap Sean merasa tidak enak.
__ADS_1
"Yuko ... Sean ..." ucap seseorang tiba-tiba dan membuat kita menoleh ke arahnya.
Ternyata Ken sudah berdiri tidak jauh dari kita. Apa dia juga mengenal Sean?
"Oh hei, Ken!" Sean melambaikan tangannya. Ken segera melenggang mendekati kita.
"Kau sedang apa disini?" tanya Sean setelah Ken di hadapannya.
"Aku tinggal di dekat sini. Kamu sendiri apa yang sedang kamu lakukan disini?" Ken berbalik bertanya.
"Aku sedang menemui Yuko untuk mengambil sesuatu." jawab Sean dengan jujur.
"Kalian saling kenal? tanya Ken sedikit curiga.
"Tidak Ken. Kita baru saja kenal. Tadi pagi hampir saja Sean mau menabrakku dan dia menjatuhkan sesuatu. Dan ini Sean datang untuk mengambil barang itu." jelasku.
"Oh. Keu memang tidak pernah berubah ya. Selalu saja ceroboh!" ucap Ken menggoda Sean.
"Ahaha ... aku sedang buru-buru tadi pagi." ucap Sean membela diri.
"Karena kita sudah bertemu, bagaimana kalau kita makan bersama. Sudah lama sekali sejak SMU kita belum baru bertemu kali ini." ujar Ken.
"Boleh saja. Aku juga sedang tidak ada jadwal. Mau makan dimana?"
"Ayo! Kita cari tempat makan terdekat! Kau ikut kan, Yuko?" ucap Ken sambil menatapku.
"Benar sekali. Kalau aku mengajakmu, pasti Haku akan mengomeliku." jawab Ken dengan kekehannya.
"Ya sudah kalau begitu aku kembali pulang saja. Bye, Ken. Bye, Sean ..." ucap perpisahanku kepada mereka berdua.
"Bye, Yuko. Terima kasih sudah menyimpan cincin itu." ucap Sean.
"Sama-sama, Sean. Bye ... Aku pulang." ucapku lalu berbalik dan melenggang meninggalkan mereka berdua.
...***...
Hari demi hari berlalu dan kini tibalah hari yang selalu aku nantikan. Hari pernikahan yang begitu sakral dan sangat mendebarkan. Dimana kita akan mengikrarkan janji suci bersama.
Aku berada di sebuah ruangan, dimana beberapa orang mulai meriasku hingga membantuku memakaikan gaunku. Aku mengenakan sebuah gaun putih tanpa lengan yang panjang dan menjuntai hingga lantai. Setelah seorang gadis memberikan sentuhan ajaibnya untuk meriasku, kini seorang hair stylish mulai merias rambutku.
Dia mulai menyihir rambutku menjadi sedikit curly lalu mengikat sisi belakangnya dengan sangat cantik. Terakhir memakaikan sebuah hiasan rambut warna senada dengan gaunku.
Aku melihat seorang gadis dengan balutan gaun putih yang begitu manis. Senyumnya terlihat mengembang dan wajahnya terlihat begitu bersinar menandakan suasana hatinya sedang sangat baik saat ini.
__ADS_1
Beberapa saat terlihat seorang pria dengan setelan jaz yang sudah begitu rapi mulai berjalan mendekatiku dengan senyum menawan. Aku melihatnya dari pantulan cermin di hadapanku.
Yeap, pria itu adalah Haku. Haku terlihat begitu menawan dengan setelan jaz nya. Dia terlihat begitu bersinar hari ini melebihi apapun bagiku.
"Sudah siap?" ucapnya dengan senyum hangat menatapku.
"Hhm ..." aku mengangguk dan juga tersenyum padanya.
Haku mulai sedikit menaikkan tangan kanannya, memberikan ruang dan tempat untuk tanganku berada disana. Aku dengan sangat bersemangat menyambutnya lalu meraih dan menggandeng lengannya.
Kita mulai berjalan bersama diiringi oleh beberapa pendamping menuju sebuah altar putih yang begitu megah dan tentunya sangat kokoh.
Seorang bell boy berusia3 tahun yang begitu lucu dan menggemaskan mulai membunyikan loncengnya, menandakan pengantin sudah boleh memasuki chapel.
Senyum bahagia selalu menghiasi wajahku maupun Haku. Begitu pula dengan para tamu undangan. Mereka terlihat begitu berbahagia. Aku juga melihat beberapa teman-temanku menghadiri acara pernikahan hari ini.
Aku melihat Sora yang sedang kak Ave, senyumnya begitu mengembang melihatku dari kejauhan. Aku juga melihat Kanna, Mayu dan juga Kiro. Dan aku juga melihat seorang pria yang tidak aku kenal berdiri di samping Mayu, dan pria itu juga terlihat begitu akrab dengan Mayu. Aku juga melihat Ken, Kak Zen, kak Misha, maupun senior lainnya.
Kini kita berhenti di saat sudah sampai di depan altar putih yang begitu kokoh dan megah itu.
Haku sedikit menoleh dan menunduk menatapku, "Apa kau begitu gugup, Yuko?"
"Sedikit ..." jawabku yang juga mendongak menatapnya.
Haku meraih dan mengusap tanganku yang masih menggandengnya, "Tarik napas panjang, dan keluarkan perlahan ..." ucapnya dengan lembut.
Aku mengangguk pelan, lalu mengikuti instruksinya kali ini. Dan itu juga membuatku sedikit rilex. Setelah itu Haku mulai mendatangi ayah dan ibunya lalu mengantarkan mereka ke tempat duduk yang sudah disedikan.
Kini Haku kembali lagi padaku dan diikuti oleh dua orang anak yang begitu manis berusia 8 tahun. Masing-masing dari mereka membawakan lilin untuk menyalakan 2 tiang kaki. Dan masing-masing 7 lilin.
Seorang pendeta mulai memimpin untuk memasuki altar lalu diikuti olehku bersama Haku. Dan juga Mirae ternyata sudah bersama untuk mendampingi kita.
Kini seorang bible boy berusia 5 tahun yang begitu lucu dan mrnggemaskan mulai memasuki ruangan dengan membawa sebuah Al Kitab lalu diserahkan kepada pendeta.
Tak beberapa lama mulai bertaburan bunga-bunga di antara kita. Begitu indah seperti hujan bunga saja.
Kini pendeta itu segera melakukan khotbahnya, dilanjutkan dengan beberapa ikrar perjanjian pernikahan dan doa pemberkatan lalu diakhiri lagu The Prayer.
Jujur saja aku sangat merasa gugup luar biasa saat ini. Namun Haku selalu saja menggenggam jemariku dan selalu menenangkanku disaat kegugupan itu kembali hadir dan hadir.
Kini setelah hari ini, aku dan Haku adalah satu. Dan kita akan bersama untuk selamanya. Tidak peduli seberapa banyak kerikil yang akan kita lalui kelak, namun kita sudah saling berjanji untuk selalu bersama.
The End ...
__ADS_1