
Setelah sampai di kontrakanku aku segera turun dari mobil Haku, dan dia juga ikut turun.
"Haku, terima kasih sudah mengantarku ..." ucapku padanya.
"Aku sudah mengatakan sebelumnya. Tidak diperlukan terima kasih dan kata maaf." sahutnya dengan senyuman hangatnya.
"Hhm. Iya." sahutku tersenyum menatap wajah tampan itu.
"Sekarang pulang dan istirahatlah!"
"Baik ..."
"Aku pulang dulu ya ..." katanya pelan.
"Ehm ... Haku!"
"Ya?"
Aku hendak meminta ijin untuk melihat festival kembang api besok bersama kak Zen. Tapi aku merasa sedikit takut. Aku takut Haku akan berpikiran yang tidak-tidak lagi. Tapi aku sudah berjanji kepada kak Zen saat dia koma.
Aku takut akan menyakiti Haku lagi. Sepasang mata bening itu masih menatapku lekat-lekat dan dengan sabar menungguku untuk mengatakan sesuatu.
"Katakan saja! Ada apa, Yuko?" katanya pelan dan lembut.
"Apa besok aku boleh melihat festival kembang api di Shinjuku bersama Kak Zen, Haku?" tanyaku pelan dan hati-hati.
"Aku sudah berjanji padanya saat dia koma. Bahwa aku akan mengajaknya melihat Festival kembang api saat dia terbangun dari komanya." aku masih menatap manik-manik indah di hadapanku itu. Beberapa saat dia hanya menatapku dalam diam lalu perlahan sudut-sudut bibirnya mulai menyunggingkan sebuah senyuman.
"Kau boleh pergi. Tapi kau harus berhati-hati! Sebelum mengkhawatirkan orang lain kau juga harus memikirkan dirimu sendiri! Aku tidak mau kau kenapa-kenapa lagi ..." katanya begitu lembut.
"Hhm ..." Aku mengangguk dan tersenyum lebar. Rasanya sedikit lega.
"Sekarang masuk dan istirahatlah! Udara sudah semakin dingin."
"Kau hati-hati ya, Haku ..."
"Hai ..." sahutnya dengan senyum manis. Lalu Haku segera masuk ke dalam mobilnya kembali.
"Bye, Kak Yuko ..." teriak Mirae dari dalam mobil. Dia tersenyum manis dan melambaikan tangannya padaku.
"Bye, Mirae ..." balasku juga melambaikan tanganku padanya.
Setelah Haku dan Mirae pulang, aku juga segera memasuki kontrakanku.
Aku segera mandi dan segera bersiap untuk tidur. Rasanya juga sangat lelah dan mengantuk sekali malam ini. Oyasuminasai ... Tak butuh waktu lama aku sudah tertidur lelap saja.
...***...
__ADS_1
Sabtu pagi langit begitu cerah. Aku membuka jendela kamarku untuk melihat keindahan pagi ini. Tak terasa musim panas akan segera berlalu. Saatnya untuk bersiap menyambut musim gugur. Benar 3 hari lagi musim gugur akan segera tiba. Musim yang akan terasa sedikit lebih dingin dari musim panas.
Tiba-tiba ponselku bergetar. Ternyata ada sebuah pesan masuk dari Ibu. Ibu mengirimkan alamat rumah paman Ishida rupanya.
Sebenarnya sedikit berdebar hanya dengan membayangkannya saja. Ini adalah pertemuan pertama keluargaku dengan Haku, kekasihku. Selama ini hanya Ayah dan Ibuku yang masih mengenal Haku. Belum ada anggota keluargaku yang lain yang mengenal Haku.
Hari ini aku menyibukkan diri dengan menulis beberapa bab novelku. Dan aku berniat untuk mengunggahnya dalam sebuah plattfotm.
Uh, tiba-tiba terdengar suara perutku keroncongan. Oh iya ... Dari pagi aku belum makan rupanya. Kenapa bisa lupa? Dasar, Yuko!
Aku mencari sesuatu di dalam kulkas. Dan ternyata persediaan makananku habis. Ya ampun, Yuko! Itu pun kau tidak menyadarinya? Dengan malas aku segera mengambil sweater tipisku dan bergegas untuk ke minimarket depan kontrakan.
"Duh lapar ..." Aku juga belum memasak. Kalau aku masak dulu, itu akan memakan waktu lumayan lama. Lebih baik aku makan di cafe dulu lalu belanja deh. Hhm ... Begitu saja!
Aku pergi ke cafe yang di dekat kontrakanku untuk memanjakan perutku terlebih dahulu. Tapi tiba-tiba pandanganku tertuju pada sebuah pasangan yang sedang duduk di meja pojokan.
Sepertinya itu Ken deh. Sedang bersama siapa dia ya? Aku memicingkan mataku dan memfokuskan memperhatikan mereka berdua. Aku hanya melihat punggung dan rambut sebahu gadis itu.
Sepertinya aku mengenal postur tubuh gadis itu deh. Apakah dia ...
"Silakan, Nona ..." seorang waitress tiba-tiba datang mengantarkan makanan pesananku.
"Ehm. Terima kasih ..." sahutku ramah.
Baru sesaat saja aku tidak memperhatikan mereka, Ken dan gadis tadi sudah pergi begitu saja. Siapa gadis itu ya? Aku tidak melihat wajahnya ...
Ah, Lupakan! Sekarang kau harus makan dulu, Yuko! Dengan cepat aku segera memakan ramen yang baru saja aku pesan. Dan aku segera menghabiskannya.
Setelah itu aku segera pergi ke minimarket untuk membeli beberapa persediaan makanku. Wah tak terasa keranjang belanjaku sampai penuh saja. Ahahaha ... Kebiasaan deh. Padahal yang mau dibeli apa pulangnya bawa apa? Beginilah kalau tidak membuat daftar belanja.
Setelah itu aku segera kembali ke kontrakan lagi. Tak sengaja aku bertemu dengan Ken di bawah.
"Ken. Bukannya tadi kau sedang keluar?" tanyaku sedikit bingung. Bahkan pakaiannya masih terlihat sangat rapi. Namun raut wajahnya sedikit cemberut.
"Aku tidak jadi pergi, Yuko!" sahutnya pelan.
"Memang kenapa?" tanyaku sedikit penasaran.
"Kak Ave tiba-tiba menghubungi dan memanggilnya untuk segera ke perpustakaan kota."
"Kak Ave?" tanyaku sedikit tak percaya.
"Yeap."
"Jadi yang bersamamu tadi adalah Sora?"
"Iya. Apa kau melihat kita?" tanya Ken sedikit kebingungan.
__ADS_1
"Yeap. Aku melihat kalian saat di cafe. Memang kalian berencana mau kemana?"
"Kita mau mengerjakan tugas bersama. Kita mau nonton sebuah film."
"Tugas? Film? Oh benar juga ya. Kak Zen akan segera kembali ke kampus. Tugas itu akan segera dia tarik." kataku.
"Yuko. Apa Sora dan Kak Ave benar-benar pacaran?"
"Setahuku tidak kok."
"Lalu kenapa mereka sering bersama? Bahkan menurutku kak Ave selalu mengekang Sora."
"Ehm ... Itu karena ..."
"Karena apa?" potong Ken.
Karena Sora saat itu memuntahi coat mahal dan limited edition milik kak Ave. Dan Sora tidak bisa menggantinya, karena selain mahal coat itu juga limited edition. Mereka tidak menjualnya lagi.
Aku tidak bisa memberitahu padamu, Ken. Karena aku sudah berjanji kepada Sora untuk tidak akan mengatakannya kepada siapapun.
"Aku juga tidak tau sih. Tapi saranku, kalau memang kau menyukai Sora ... Maka ungkapkan semua itu padanya. Sebelum kalian saling menyesal." kataku pelan.
Ken menatapku sedikit bingung. Dia hanya diam dan mengerutkan dahinya beberapa saat.
"Kau yakin Sora akan menerimaku, Yuko?"
"Mungkin saja. Karena menurutku sebenarnya kalian ini saling menyukai." ucapku pelan dan hati-hati.
"Lalu kenapa tadi di kampus dia menghindariku?" ucap Ken sedikit mengernyitkan keningnya.
"Kau bilang tadi kau sudah menyukai seorang gadis. Dan mungkin saja dia kesal mendengar hal itu." kataku menyimpulkan.
Ken terdiam dan terlihat seperti sedang berpikir. "Padahal aku hanya mengatakannya asal. Agar gadis itu tidak mengharapkanku lagi deh."
"Jadi itu semua bohong?" ucapku sedikit tidak percaya.
Ken hanya mengangguk-anggukkan kepalanya kali ini.
"Ngomong-ngomong apa kau sering mendapatkan pernyataan cinta, Ken?"
"Sering sih tidak. Tapi ya pernah 8-10 kali ada kalau dihitung dari saat aku masuk di Todai."
"Whoa ..." kataku menutup mulutku dengan kedua tanganku. "Kau populer ya!"
"Itu tidak seberapa, Yuko. Bahkan Haku lebih sering. Hampir tiap hari ada yang mendekatinya. Bahkan pernyataan cinta setahuku sudah lebih dari ... Ehm ... Berapa ya kemarin ... Ah, Pokoknya banyak sekali deh!"
Aku hampir tidak percaya mendengar ucapan Ken barusan. Karena Haku tidak pernah menceritakannya padaku sih soal itu. Bahkan aku juga tidak tau hari-hari saat dia di kampus. Belum lagi saat dia bekerja di kantor.
__ADS_1
Aduh, berat sekali godaannya.
...***...