
"Wah hujan sudah mulai reda." kata Haku sambil menatap ke arah jendela. "Kita jadi pergi, Yuko?" tanyanya sambil menatapku dan tersenyum samar.
Aku menatap ke arah jendela. Dan ternyata hujan sudah reda. Matahari kembali memancarkan sinar hangatnya.
"Hhm. Boleh ..." sahutku lalu segera mematikan laptopku. Lalu segera bangkit dan bersiap.
"Hari ini kita mau kemana?" tanya Haku sambil memakai coatnya.
"Aku ingin pergi ke Taman Central Shinjuku / Shinjuku Chuo." kataku sambil mengambil slingbagku.
"Hhm. Boleh. Aku juga belum pernah pergi kesana sih. Aku juga ingin melihat air terjun Niagara-nya." sahut Haku bersemangat.
Akhirnya kita berangkat dengan menaiki taksi. Tidak butuh waktu lama akhirnya kita sudah sampai di Shinjuku Chuo.
Taman ini sebenarnya tidak kalah cantik dengan Taman Nasional Shinjuku Gyoen. Hanya saja kurang diketahui khalayak ramai. Shinjuku Chuo adalah Taman Sentral yang diapit di antara gedung pencakar langit seperti Gedung Pemerintah Metropolitan Tokyo dan banyak gedung apartmen. Taman ini juga memiki Air Terjun Niagara tersendiri, yang telah menjadi simbol taman tersebut. Di Taman ini juga terdapat puluhan ribu pohon untuk menambah kehijauan kota dan menciptakan tempat yang nyaman untuk berjalan, berspeda, atau sekedar bersantai.
Jalanan masih sedikit basah karena pagi tadi hujan turun dengan lebatnya. Aku melihat ke arah langit dan ternyata pelangi itu ada. Namun pelangi ganda yang aku lihat tadi pagi sudah tidak ada.
Haku ikut melihat ke arah langit karena dia melihatku yang terus menatap langit.
"Pelangi yang indah. Setelah hujan akan selalu ada pelangi yang indah ..." ucap Haku pelan.
"Hhm. Benar. Sangat indah." sahutku tersenyum lebar. Kini aku mengalihkan pandanganku menatapnya. "Apa tadi pagi kau melihat pelangi ganda, Haku?"
"Tidak. Aku tidak melihatnya."
"Sayang sekali. Padahal sangat indah."
Tiba-tiba saja mulai gerimis kembali. Terdengar suara deru angin dan gerimis di telingaku dan aku segera mencengkeram lengan Haku. Saat itu dia tersenyum dan menarik lengan yang sedang aku pegang erat-erat kemudian menarik tanganku dengan lembut.
"Ikuti aku ..." Dia menggiringku untuk mencari tempat berteduh.
__ADS_1
Angin yang bertiup terasa begitu lembut. Seperti sedang memainkan sebuah melody kehidupan disertai dengan gerimis hujan. Dia menuntunku selangkah demi selangkah berjalan dalam hujan.
Lambat laun aku seperti menangkap sesuatu yang sedikit berbeda.
"Berjalan di tengah hujan sangat berbeda dengan berjalan saat tidak hujan ..." ucapku pelan dengan menyunggingkan senyumanku.
"Apa bedanya,Yuko?" tanya Haku sedikit melirikku tetapi kita masih terus melangkah.
"Saat turun hujan. Kau selalu menggenggam dan menuntunku seperti ini ..." ucapku pelan dan sedikit tersipu. Aku melihat sedikit wajahnya yang sedikit memerah, tetapi dia semakin mempererat genggamannya.
"Lalu aku akan selalu menggenggamnya dimanapun kita akan pergi di masa depan. Jadi tidak akan ada perbedaan lagi." ucapnya dengan senyuman manisnya.
"Haku ..." ucapku tersipu malu.
Hujan di siang hari ini tidak hanya membuat sedikit percikan pada tubuh kita. Tetapi juga meninggalkan kenangan dan catatan manis dalam hati kita.
Setelah berteduh beberapa saat hujan itu berhenti dan langit kembali cerah kembali. Terlihat pelangi membentang di atas langit antara gedung-gedung pencakar langit itu.
"Yah, Sudah lama aku tidak melihatnya." ucap Haku sambil melihat pelangi itu. Dan hari ini aku melihatnya bersamamu."
Kita berdua terpesona dengan pelangi yang indah itu. Beberapa waktu kita terus memandanginya dari sebuah gazebo yang hanya ada kita berdua.
"Maaf pekan ini aku belum bisa memenuhi janjiku untuk pergi ke Sea Paradise, Yuko. Lain kali aku pasti akan membawamu kesana ..." ucap Haku memecah keheningan.
"Hhm ... Daijoubu, Haku. Kita bisa pergi lain kali kok." ucapku yang masih memandangi pelangi itu.
"Maaf ya kemarin sudah membuatmu sangat khawatir ... Dua hari aku tidak menghubungimu. Karena aku juga tidak ingin membuatmu khawatir. Kalau sebenarnya aku sedang sakit saat itu ..." ucap Haku pelan.
Kini aku mengalihkan pandanganku dan menatap Haku lurus-lurus.
"Kau sakit, Haku?"
__ADS_1
"Hhm. Kau ingat pagi itu aku demam? Aku tetap berangkat ke kantor. Tapi siangnya tiba-tiba saja aku sudah ambruk saat di kantor. Aku diantar pulang oleh salah satu karyawan disana. Dan saat itulah mungkin ponselku terjatuh."
"Kau tidak berobat ke rumah sakit?" tanyaku sangat cemas.
"Ayah meminta Dokter keluarga kita untuk datang ke rumah." Haku menatapku dan tersenyum lembut.
"Kenapa kau tidak mengabariku sama sekali, Haku?" tiba-tiba hatiku terasa sangat sakit mendengar dia sakit dan aku malah tidak mengetahui semua itu. Mataku kini sudah berkaca-kaca mendengar semua itu.
"Aku tidak mau membuatmu khawatir, Yuko. Kau harus melakukan semua rutinitasmu dengan baik. Kau masih harus kuliah, bahkan kau juga harus menjaga kak Zen. Aku tidak mau menambahi bebanmu lagi dengan memberitahumu jika saat itu aku sedang sakit, Yuko."
Tak terasa air mataku kini sudah meleleh saja. Bagaimana tidak? Haku sakit tapi aku malah sibuk dengan urusanku sendiri. Aku bahkan tidak menjenguknya saat itu! Aku merasa sangat buruk sekali.
"Jangan menangis ..." Haku meraih pelan tubuhku dan memelukku. "Sekarang aku sudah baik-baik saja kok. Kemarin hanya sedikit down saja. Mungkin terlalu kelelahan."
"Maaf Haku ... Disaat kau sedang sakit aku malah sibuk dengan urusanku sendiri saat itu. Bahkan aku tidak menjengukmu. Malah aku berfikiran yang buruk tentangmu. Maaf ..." kataku semakin terisak.
"Sudahlah. Tidak apa-apa kok. Yang terpenting sekarang aku sudah baik-baik saja." Haku berkata dengan sangat lembut dan semakin mempererat pelukannya.
"Lain kali jangan pernah seperti ini lagi. Katakan padaku saat kau sedang sakit. Aku juga ingin merawatmu. Aku juga ingin menemani setiap suka dan dukamu ..." ucapku pelan.
"Hhm. Baiklah ... Sekarang berhenti menangis ya ..." ucapnya begitu pelan dan lembut.
Aku segera menghentikkan tangisku dan mengelap air mataku.
"Apa kau benar-benar sudah pulih kembali, Haku? Seharusnya kau harus banyak beristirahat. Waktu istirahatmu pun sangat sedikit. Kau harus kuliah, dan kau juga harus bekerja. Aku tidak masalah kok kalau akhir pekan kau gunakan untuk istirahat. Kita bisa bertemu beberapa pekan sekali, atau sebulan sekali."
"Tidak, Yuko. Justru bertemu denganmu adalah salah satu cara untuk meringankan lelahku. Dan kau adalah semangatku. Bagaimana aku bisa bertahan jika tidak ada kamu?"
"Haku ..." aku kembali terharu dan langsung melempar tubuhku memeluknya.
Kau begitu baik Haku. Kau juga begitu mengkhawatirkanku. Aku merasa beruntung sekali bisa bersamamu. Aku tidak ingin berpisah denganmu! Aku mau selalu bersamamu, dalam setiap suka dan dukamu. Aku ingin selalu ada untukmu!
__ADS_1