
Aku masih mengompress kening Haku, dan dia masih belum bangun.
Aduh, Kasihan sekali Haku. Bukankah hari ini dia harus berangkat ke kantor karena ada pertemuan dengan beberapa Koleganya. Bagaimana ini?
Beberapa saat Haku mulai membuka matanya perlahan. Lalu dia menatapku beberapa saat.
"Yuko ..." katanya sambil menyunggingkan sebuah senyuman. Sementara aku hanya cemberut menatapnya.
Haku berusaha untuk duduk, membuat kain kompres di keningnya terjatuh. Dan aku segera mengambilnya.
"Kenapa mengkompressku?" tanya Haku sedikit kebingungan.
"Kau demam tadi, badanmu sedikit panas. Aku khawatir sekali ..." ucapku sangat khawatir.
Haku malah tersenyum lebar menatapku.
"Tapi aku merasa baik-baik saja kok. Jangan terlalu khawatir seperti itu." ucapnya lembut. "Aku akan bersiap dulu ya." ucapnya lalu bangkit.
"Tapi, Haku ... Kamu demam ..." kataku lagi.
"Aku tidak apa-apa, Sayang. Nanti tinggal minum vitamin saja. Jangan terlalu mengkhawatirkanku ..." Haku tersenyum padaku lalu segera bergegas ke kamar mandi.
Apa Haku akan baik-baik saja? Tapi tadi panas sekali tubuhnya.
Setelah beberapa saat Haku sudah kembali lagi dan sudah memakai kemejanya. Aku mengambilkan coat dan membantunya memakaikannya.
"Kau yakin kau akan baik-baik saja, Haku? Jangan memaksakan diri. Aku khawatir sekali." ucapku sedikit cemberut.
"Aku akan baik-baik saja. Apa kau tidak percaya padaku?" jawabnya dengan senyum manisnya.
"Hhm, Baiklah. Kalau begitu ayo sarapan dulu." ajakku lalu kita bergegas untuk ke ruang makan.
Setelah sarapan aku dan Haku segera ke bawah. Dan di bawah sudah ada Ken dan Jessica yang menunggu rupanya.
"Selamat pagi Direktur Muda Haku!" goda Ken sambil tertawa cekikikan.
Haku yang mendengarnya hanya tertawa kecil.
"Lagi-lagi kau menginap di tempat Yuko, Haku? Wah ... Wah ... Wah ... Aku jadi iri. Kalian selalu bersama deh." celutuk Ken.
"Makanya cari kekasih dong!" canda Haku sambil tertawa kecil.
__ADS_1
"Ini juga lagi nyari. Tapi belum ada yang mau sama aku ..." sahut Ken asal lalu tertawa.
"Kan ada Jessica, Sora ... Atau masih banyak kan yang jomblo di fakultasmu." canda Haku lagi.
"Hehe ... Aku gak mau asal pacaran deh. Takut sakit hati. Apalagi gadis-gadis yang banyak disukai dan diincer pria. Pasti godaannya berat banget ..." kini Ken tertawa terbahak-bahak. "Dan mencari wanita yang baik dan setia itu sangat sulit, Haku. Bagaikan mencari jarum dalam tumpukan jerami."
"Tidak juga kok. Buktinya aku dapatin Yuko. Dia baik dan sangat setia ..." ucap Haku yang membuatku sedikit tersipu malu.
"Kau enak Haku karena kau sudah lama mengenal Yuko ..."
"Hhm ... Nanti aku bantu carikan cewek deh. Kau mau yang bagaimana? Atau kau mau ikutan kencan buta saja? Mana tau ada yang cocok." usul Haku.
"Ah, tidak deh. Aku nggak suka yang begituan. Aku maunya yang alami saja deh."
Tak terasa kita sudah sampai di halte saja. Setelah itu kita berpisah. Haku menaiki taxi untuk pergi ke kantornya. Sementara aku, Ken dan Jessica menaiki bus untuk ke kampus.
...***...
Hari ini setelah pulang kuliah, Sora dan Ken akan menemaniku ke rumah sakit. Kita bertiga menaiki bus untuk menuju rumah sakit.
"Pulang dari rumah sakit kita makan bareng ya. Nanti aku traktir kalian deh ..." ucap Ken saat di dalam bus. Dia duduk di belakangku. Sementara aku dan Sora duduk di depannya.
"Benarkah? Asyik ..." sahut Sora.
"Wah, Ken. Kau sungguh yang terbaik!" ucap Sora sumringah.
"Ah, Jangan begitu." sahut Ken sedikit malu.
Mereka berdua sibuk mengobrol sementara aku sibuk dengan ponselku. Hari ini Haku belum menghubungiku sama sekali. Apa dia baik-baik saja? Aku sedikit khawatir karena tadi pagi dia sempat demam.
Aku memutuskan untuk menelponnya karena seharusnya dia sudah berangkat ke kampus.
Tut ... Tut ... Tut ...
Aku menunggu beberapa saat sebelum dia mengangkatnya.
"Hallo ..." sapa seorang gadis dari seberang.
Suara seorang gadis? Kenapa bukan Haku yang mengangkatnya? Lalu siapa gadis itu?
"Hallo ..." sapa gadis itu lagi.
__ADS_1
Aku terdiam dan tak bisa mengeluarkan sepatah kata apapun. Hingga akhirnya gadis itu mematikan telponnya. Siapa dia? Kenapa ponsel Haku bisa dipegang oleh gadis itu? Sebenarnya apa yang terjadi?
Dan lagi ... Sepertinya aku pernah mendengar suara gadis itu. Suaranya terdengar sangat familiar. Tapi siapa?
Aku masih berusaha mengingat-ingat kembali. Dan beberapa saat akhirnya aku berhasil mengingatnya. Itu adalah suara gadis waktu itu. Gadis yang bernama Anzu itu. Ya, Aku yakin sekali.
Tapi kenapa dia bisa membawa ponsel Haku? Sebenarnya apa yang terjadi? Dan sedang berada dimana Haku saat ini? Apa dia tidak pergi ke kampus?
"Yuko. Kau kenapa diam saja dari tadi? Siapa yang kau telpon barusan?" tanya Sora yang membuyarkan lamunanku.
"Oh, tidak kok. Bukan siapa-siapa." jawabku berbohong.
Beberapa saat kita sudah sampai di depan rumah sakit dan kita segera turun dari bus.
Kita segera menuju ke ruang ICU. Disana sudah ada Kak Sano, Kak Yuki dan Kak Ave. Mereka sedang duduk di bangku depan ruangan kak Zen.
"Sore, Kak!" sapa Ken menyapa mereka bertiga. "Kita ingin mengunjungi kak Zen."
"Masuklah. Di dalam juga ada Misha.Tetap tenang saat di dalam ya ..." ucap kak Sano ramah.
"Baik, Kak." ucap Ken.
Kita bertiga segera bergegas untuk memasuki ruangan ICU. Tapi tiba-tiba ...
"Sora. Kau ikut denganku!" ucap kak Ave tiba-tiba.
Kita sempat berhenti saat mendengar ucapan kak Ave. Lalu aku segera menarik Ken untuk memasuki ruang ICU. Sementara Sora tidak ikut masuk bersama kita. Dia ikut bersama kak Ave.
Sepertinya ini soal kemarin. Entah hukuman apa yang akan kak Ave berikan untuk Sora. Aku sangat khawatir sekali. Bahkan kemarin aku melihat sendiri sikap kak Ave yang sangat menakutkan. Saat dia marah dan berteriak kepadaku.
Sora, semoga kau baik-baik saja. Aku khawatir sekali padamu.
Aku dan Ken segera memasuki ruang ICU. Aku melihat Kak Misha yang duduk di samping ranjang kak Zen. Saat mengetahui kedatangan kita dia segera cepat-cepat menghapus air matanya. Sepertinya kak Misha baru saja menangis.
"Eh, Kalian ..." ucap kak Misha menyambutku dan Ken.
"Iya, Kak. Kita ingin mengunjungi Kak Zen." ucap Ken ramah. "Apa kak Zen belum ada tanda-tanda untuk segera bangun kembali, Kak?"
Kak Misha menatap Kak Zen yang sedang terbaring. Dan dia menggelengkan kepalanya pelan.
"Belum ada perubahan. Kondisinya masih sama ..." katanya dengan nada sedih. Aku yang mendengarkannya juga sangat sedih.
__ADS_1
"Kita hanya bisa berdoa dan berharap ada sebuah keajaiban." ucap Kak Misha pelan. "Uhm Kalian disini saja dulu. Kakak akan keluar sebentar."
"Oh ... Iya, Kak." sahutku dan Ken bersamaan.