My Little Prince

My Little Prince
Bertemu Kak Zen


__ADS_3

Aku menyusuri jalalan dan segera pergi ke halte untuk menaiku busway. Di sepanjang jalan aku melihat daun-daun yang sudah berubah warna menjadi kemerahan, jingga, atau pun kuning sebelum beterbangan di udara lalu akhirnya jatuh berguguran. Indah sekali ...


Musim gugur adalah musim yang sangat indah, musim dimana saat daun pohon maple memerah dan daun pohon gingko menjadi kuning. Perubahan warna ini merupakan efek dari suhu dingin.


Orang-orang Jepang menantikan untuk menikmati pemandangan musim gugur di sekitar tahun ini dan pergi ke tempat-tempat wisata di seluruh Jepang. Mereka menikmati musim gugur dengan seluruh panca indera mereka.


Aku juga ingin pergi melihat beberapa festival musim gugur bersama Haku, aku ingin pergi ke Kyoto bersama Haku. Biasanya kan ada festival yang indah saat musim gugur nanti.


Aku menatap bingkisan yang berada di atas pangkuanku. Yeap, tadi pagi aku pulang dari rumah sakit dan beristirahat sebentar, karena ibu Haku dan Mirae sudah datang dan memaksaku untuk pulang dan beristirahat dulu.


Sore ini aku membuat puding dan berniat membawakannya untuk Haku. Semoga saja Haku suka.


Beberapa saat aku sudah sampai di rumah sakit. Dengan langkah yang seperti menari dan wajah bersinar aku mulai menyusuri sebuah lorong di rumah sakit. Aku segera menuju ke kamar dimana Haku dirawat.


Namun aku melihat lagi-lagi Anzu sedang berada di luar ruangan sedang mengobrol dengan Mirae. Mereka juga terlihat begitu akrab. Dan ... rasanya sedikit sakit hatiku saat ini. Apakah aku begitu takut Anzu akan merebut Haku dariku? Dan aku begitu cemburu saat Anzu dekat dengan keluarga Haku?


"Haku ..." ucapku lirih dan masih terdiam menatap Mirae dan Anzu dari kejauhan. "Aku tidak akan menyerah."


Tiba-tiba saja Mirae menoleh ke arahku. Dia tersenyum lebar dan melambaikan tangannya padaku, "Kak Yuko!"


Aku tersenyum menatapnya dan segera melenggang untuk menghampiri mereka berdua.


"Kakak sendirian?" tanya Mirae saat kita sudah saling berhadapan.


"Iya, Kakak datang sen ..." ucapku terpotong.


"Dia datang bersamaku." potong seseorang tiba-tiba yang membuatku sedikit terperanjat.


Aku segera menoleh ke belakang, dan ternyata di belakangku sudah ada seorang pria yang sangat tidak asing untukku. Seorang pria dengan badan tinggi, rambut kecoklatan dan sepasang mata kebiruan bak okavango blue diamond.


Kalian pasti tau siapa dia? Yeap, dia adalah kak Zen. Tapi yang membuatku bingung, sejak kapan dia bersamaku? Aku bahkan berangkat dari rumah sendirian. Dan aku juga naik busway sendirian. Lalu kenapa tiba-tiba bersamaan disini?


"Kapan kakak datang?" tanyaku sangat keheranan sambil menatap kak Zen.


"Kakak datang bersamamu. Bahkan kita satu bus. Dan kakak tepat duduk di belakangmu tadi. Karena kamu terlalu banyak fikiran mungkin, jadi tidak menyadarinya. Bahkan kamu tidak mendengar berulang kali kakak memanggilmu." jawab kak Zen dengan senyum manis.


"Ah ... begitukah? Maaf, Kak." ucapku meringis karena malu.


"Kebetulan kakak sedang ingin menjenguk Haku juga. Dan kakak melihatmu menaiki bus menuju rumah sakit."

__ADS_1


"Ah ... iya, Kak." lagi-lagi aku hanya meringis malu. Sedangkan Anzu masih terlihat menatapku seperti tidak suka.


"Oh iya, Kak. Kenalkan ini Mirae, adik Haku. Sedangkan ini Anzu rekan kerja Haku." ucapku memlerkenalkan Mirae dan Anzu kepada kak Zen.


"Mirae, Anzu ... ini adalah kak Zen. Senior sekaligus asisten dosen di kampus."


Mereka saling berjabat tangan dan memperkenalkan diri.


"Masuk saja, Kak. Ibu sedang bersama kak Haku di dalam." ucap Mirae dengan senyum lebar menatapku dan kak Zen secara bergantian.


"Mirae. Tapi kakak mau bertemu juga dengan kakakmu ..." sela Anzu tak mau kalah.


"Kak Anzu harus menemaniku ke kantin dulu! Yuk!" ucap Mirae lalu menggandeng lengan Anzu. Sedangkan yang digandeng hanya meringis tak bisa menolak permintaan Mirae.


"Bye, Kak Yuko dan kak Zen!" ujar Mirae sambil melambaikan tangannya dan segera meninggalkanku dan kak Zen.


"Ayo kita masuk, Kak." ajakku mulai melenggang ke kamar Haku.


"Hhm ... Yuko!" panggil kak Zen tiba-tibayang kini sudah berjalan di sampingku.


"Ya, Kak?"


"Iya, Kak. Aku ingin menjaga Haku dulu."


"Oh. Seperti itu ya? Pantas saja kakak tidak melihatmu sama sekali hari ini."


"Hhm. Kakak apa kabar?"


"Baik. Oh iya. Hari ini ada tugas dari Profesor Fuller. Nanti kakak akan kirimkan detailnya melalui pesan."


"Oh. Baik, Kak. Terima kasih banyak!" ucapku begitu tulus.


"Sama-sama. Dan akhir pekan juga akan ada acara bersama anak sastra."


"Acara apa ya?"


"Ke pantai bersama. Tapi belum ditentukan pantainya sih. Kamu ikut?" tanya kak Zen sambil melirikku.


"Aku belum tau, Kak. Apakah aku bisa pergi atau tidak."

__ADS_1


"Boleh mengajak orang luar kok. Ajak saja Haku." ucap kak Zen menyarankan dan tersenyum manis menatapku. "Kakak juga akan mengajak Misha."


"Serius boleh mengajak anak fakultas lain, Kak?" tanyaku begitu antusias.


"Hhm. Boleh kok."


"Baiklah! Aku akan coba ajak Haku akhir pekan."


"Yeap. Oh iya ... gadis bernama Anzu tadi ... apa kau kenal dekat dengannya?" tanya kak Zen yang kini sedikit membuatku mengkerutkan kening.


Mengapa kak Zen tiba-tiba menanyakan soal Anzu? Atau jangan-jangan kak Zen menyukai Anzu? Oh tidak! Itu tidak boleh! Kak Zen sangat baik ... sedangkan Anzu ... pokoknya kak Zen dan Anzu tidak cocok! Aku lebih mendukung jika kak Zen bersama kak Misha.


"Aku tidak terlalu mengenal Anzu, Kak. Aku mengenalnya hanya karena dia rekan kerja sekaligus sekretaris Haku." jawabku seadanya.


"Oh. Begitu ya?"


"Kenapa? Apa kakak menyukai Anzu?" tanyaku begitu saja.


Kak Zen sedikit terkejut mendengar pertanyaanku dan tiba-tiba saja dia tertawa kecil.


"Sudah berapa lama kamu mengenal kakak? Pasti kamu tau kakak orang yang seperti apa bukan?" ucap kak Zen sambil mengusap rambutku dan membuat sedikit rambutku berantakan.


"Eh? Iya sih. Hehe ... maaf, Kak." ucapku meringis malu.


"Kakak hanya merasa jika gadis bernama Anzu itu ... sedikit tidak menyukaimu. Apa kalian ada masalah? Setahu kakak, kau adalah anak yang tidak suka membuat masalah. Bahkan sangat jarang berinteraksi dengan orang asing."


Aku sangat terkejut mendengar ucapan kak Zen, ucapannya benar sekali! Kak Zen benar-benar keren bisa mengetahui itu semua hanya dengan sekali bertemu dan melihat Anzu.


Aku tersenyum lebar menatap kak Zen karena begitu takjub, "Kakak keren sekali! Bisa membuat kesimpulan yang tepat hanya dengan sekali bertemu dengan seseorang!"


Kak Zen hanya tersenyum tipis mendengar ucapanku, "Jadi, kalian ada masalah apa sebenarnya?'


"Hhm. Dia adalah teman sekolah Haku dulu. Dan sepertinya dia tidak menyukaiku, karena aku fikir dia juga menyukai Haku. Dan dia begitu menyalahkan aku tentang kecelakaan terhadap Haku kali ini."


"Hhm. Begitu ya ... berhati-hatilah. Yang terpenting adalah kau dan Haku saling percaya dan terbuka saja."


"Hhm. Iya, Kak!"


Kini kita sudah sampai di depan ruangan dimana Haku dirawat. Dan aku mulai menggedor pintu kamar Haku.

__ADS_1


__ADS_2