
"Selamat ulang tahun, putra kesayangan mom."
Bibir merah yang dipoles dengan lipstik, mencium puncak kepala seorang anak laki-laki yang terbaring di atas ranjang.
"Sammuel, kau tidak mau meniup lilinnya?"
Anak laki-laki tersebut mengejapkan matanya. Dia menyingkap selimutnya sambil terus mengedipkan mata.
Sammuel melompat dari atas kasur. Memeluk kedua orang tuanya yang sudah berada di kamarnya dengan kue yang telah diberi lilin menyala.
"Terima kasih."
Sammuel meniup api - api kecil dari lilin.
Dia mencium kedua pipi ibunya, memeluk ayahnya dengan erat.
Tawanya yang kecil membuat candu.
Masson mengambil sebuah kotak kecil dari dalam saku celananya. Memberikan benda tersebut pada Samm sebagai hadiah.
Anak laki-laki tersebut menerima kotak kecil pemberian dari ayahnya. Dia tersenyum-senyum pada si ibu yang hanya memperhatikan ayah dan anak itu.
"Ada apa, Samm?" Tanya Rubby lembut pada Samm ketika anak laki-laki tersebut memijat lengan Rubby.
Sammuel hanya tersenyum, matanya melirik ke arah belakang Rubby.
"Um, baik-baik. Baiklah, ini untuk putraku yang sudah besar."
Sammuel tertawa senang melihat pemberian ibunya. Anak laki-laki tersebut memeluk kedua orang tuanya bersamaan.
Hari ini dia sangat bahagia, selalu merasa bahagia ketika bersama kedua orang tuanya. Matanya memejam erat sambil terus tersenyum.
Berharap agar dia bisa begini terus. Tapi apakah hal ini bisa terjadi selamanya?
><><><><><
Mata seorang anak laki-laki yang baru bangun tidur mengejap perlahan. Dia melihat sebuah kue besar yang berada di atas meja, tak jauh dari ranjang tempatnya duduk sekarang. Anak laki-laki tersebut tersenyum tipis, turun dari atas ranjang dan menyentuh kue itu. Benar-benar membuatnya senang setelah suara berat mengucapkan selamat ulang tahun padanya.
Anak laki-laki tersebut memeluk sang ayah. Dia datang bersama Laurent, Agatha, Dave dan juga Damian. Di tangan mereka ada kotak yang berisikan kado untuk Samm. Semua orang dengan kompak mengucapkan selamat pada Samm.
"Terima kasih banyak. "
Agatha mendekat dan memberikan pisau pemotong kue pada Samm.
Anak laki-laki tersebut segera memotong kuenya, mengambil potongan kue tersebut dan memberikannya pada sang ayah.
Masson memiringkan kepalanya ke kanan, melihat putranya yang tersenyum masam.
"Samm apa yang membuatmu tidak senang?" Bisik Masson sembari mengusap puncak kepala putranya.
__ADS_1
Anak laki-laki tersebut menggeleng.
Sambil memberikan potongan kue untuk yang lain, dia tersenyum membayangkan ibunya ikut hadir bersama mereka semua.
Ini akan terjadi hingga tahun-tahun berikutnya. Merayakan ulang tahunnya tanpa kedatangan sang ibu.
Dia akan terbiasa dengan hal ini. Mungkin.
><><><><><
"Mama!"
Teriak seorang anak kecil yang berdiri di depan sebuah gerbang. Anak itu berlari melebarkan tangannya, memeluk ibunya yang baru datang untuk menjemputnya.
Para ibu berdiri di sana dengan wajah senang dan harap-harap cemas menunggu anak-anak mereka yang tak kunjung datang.
Disisi lain, ada beberapa anak yang hanya diam melihat teman-teman mereka. Para anak perempuan yang sedang menunggu sesuatu tanpa menghiraukan teman-teman mereka yang sudah pulang semua. Seseorang yang mereka tunggu tak kunjung muncul. Padahal suasana sekolah sudah mulai sepi.
Anak-anak tersebut langsung tersenyum senang saat melihat seorang anak laki-laki yang mereka tunggu sejak tadi baru keluar dari kelas.
Mereka langsung mendekati anak laki-laki tersebut. Mulai bicara padanya dengan beberapa barang di tangan mereka.
"Sudah selesai? Apa kau mau makan bekalku? Aku sengaja tidak memakannya agar kau bisa mencicipinya."
Anak laki-laki tersebut menggeleng dengan wajahnya yang datar. Dia berjalan langsung keluar melewati gerbang.
Sammuel menatap sinis pada kotak yang diberikan oleh teman sekelasnya. Dia menolak pemberian itu sembari mengucapkan terimakasih.
Kelima anak berusia tujuh sampai delapan tahun tersebut memasang wajah kecewa ketika Sammuel tidak menggubris mereka. Anak yang baru pindah itu menarik napas dalam, meminta para teman barunya untuk berhenti mengikuti dia.
Sammuel berlari, kemudian masuk ke dalam mobil dengan kesal.
Dia menggeleng-gelengkan kepala sembari menggerutukan para anak perempuan yang selalu mengejar dirinya setiap pulang sekolah.
Anak laki-laki tersebut diam saat sang ayah hanya tersenyum padahal sudah melihat dan menunggu di dalam mobil sejak tadi.
"Bagaimana? Apa kau senang berada di sana?"
Sammuel mengangguki ucapan ayahnya yang fokus untuk menyetir.
Sebenarnya selama sepekan dia bersekolah di sana, dia merasa risih pada sikap anak perempuan yang mengejarnya.
Dia merasa terganggu dengan hal itu.
Anak laki-laki tersebut mengambil camilan dari dalam tasnya. Dia membuka bungkusan tersebut, mengambil satu keping keripik cokelat kemudian menyuapkannya pada sang ayah.
"Terima kasih." Masson tersenyum.
Sammuel hanya mengangkat kedua alisnya, memakan camilan miliknya itu.
__ADS_1
Laju mobil berhenti di persimpangan lampu merah.
Anak laki-laki tersebut melihat keluar, menatap seorang gadis kecil yang sedang duduk di tempat pemberhentian bus. Gadis kecil yang memegang camilan sama seperti yang dibawa Sammuel itu duduk tersenyum sambil mengayunkan kedua kakinya.
Sammuel hanya mengamati gerak gerik gadis kecil itu.
Hingga lampu lalu lintas sudah berubah warna dan mobil kembali melaju, Sammuel masih tidak melepas pandangannya dari gadis kecil itu. Dia baru kembali duduk dengan tenang saat gadis itu sudah tidak terlihat dari kaca spion mobil.
"Jangan gegabah pada sesuatu, Samm." Sammuel menoleh pada ayahnya yang tiba-tiba bicara begitu. Anak laki-laki yang tidak paham tersebut diam dan kembali fokus pada camilannya.
"Sammuel, masih ingin berada di dalam mobil?"
"Eh?"
Anak laki-laki tersebut segera melepas sabuk pengaman yang ia kenakan. Kemudian turun dari mobil. Masson berjalan memutar, memberikan tas milik Samm yang tertinggal di dalam mobil.
"Pergilah istirahat. Kau terlihat sangat lelah, nanti turunlah saat makan malam tiba."
Masson tersenyum melihat putranya yang berjalan masuk ke dalam.
"Astaga, dia sudah tumbuh besar."
Gumam Masson sembari menggeleng pelan. Laki-laki tersebut pergi ke dapur, mengambil segelas air minum untuknya.
"Oh, Laurent. "
Pria yang baru saja datang tersebut segera datang ke tempat Masson. Menyapa laki-laki yang duduk di sana.
Laurent dengan cekatan segera mengambil agenda milik Masson, membuka agenda tersebut untuk melihat kegiatan Masson yang perlu persetujuan ulang.
Dia mengetuk agenda tersebut dengan jari telunjuknya saat melihat kegiatan Masson selanjutnya.
"Tuan, ada pertemuan dengan tuan Froell yang diadakan besok sore. Jika anda berkenan untuk menghadiri acara ini, saya akan menyetujui pertemuan dari tuan Froell.
"Dalam rangka apa?"
"Pertemuan ini adalah jamuan makan malam yang ditujukan untuk meningkatkan solidaritas antar pebisnis yang bekerja sama dengan perusahaan tuan Froell. "
"Baiklah, setujui saja pertemuan itu."
Laurent mengangguk.
Masson mengangkat tangannya, meminta Laurent untuk pergi meninggalkan dirinya sendirian.
Laki-laki tersebut menatap air minumnya yang berada di dalam gelas. Terlihat tenang.
Berbeda jauh dengan pikirannya yang masih agak kacau setelah apa yang terjadi pada dirinya dan memengaruhi pondasi keluarga kecilnya.
><><><><><
__ADS_1