My Little Prince

My Little Prince
Okavango Blue Diamond


__ADS_3

Semua orang mulai berkemas dan meninggalkan kelas. Bahkan Sora juga terlihat sangat buru-buru.


"Sora. Kau beneran akan meninggalkanku?" kataku dengan wajah memelas.


"Maaf, Yuko. Kalau sudah berhubungan dengan kak Ave aku sungguh tak bisa berbuat apa-apa deh!" kata Sora dengan mimik wajah memohon maaf.


"Baiklah. Aku mau ke perpustakaan saja deh. Bosan di kontrakan terus." sahutku sambil memasukkan buku-bukuku.


"Maaf ya. Lain kali aku akan menemanimu." kata Sora lalu melirik jam tangannya. "Aku akan segera pergi. Bye, Yuko!"


"Bye ..."


Akhirnya aku sendirian deh! Huft ... Ken dan Jessica hari ini juga tumben kuliah sore. Tak sengaja aku menatap ke arah meja dosen dan ternyata kak Zen masih disana sedang merapikan beberapa barangnya. Dan tanpa sadar aku malah terus memperhatikannya.


Memang benar kata orang. Kak Zen sangat rapi, dewasa, cerdas, lembut dan juga tampan. Dia juga sangat baik dan suka menolong. Kenapa dia masih saja menunggu gadis kecilnya itu? Padahal dia bisa saja memilih gadis manapun sekarang yang dia mau. Terkadang aku merasa kesal sendiri deh.


Kalau saja aku ini adik kandungnya, aku tak akan membiarkan semua ini terjadi begitu saja. Dia terlalu baik ...

__ADS_1


"Yuko ..." tiba-tiba terdengar suara seorang pria yang sedang menggodaku. Aku segera menoleh ke sampingku, dan ternyata sudah ada seorang mahasiswa yang sedang bertopang dagu menatapku.


"Tumben sendirian saja? Kemana yang lain?" tanyanya lalu merangkulku. Sungguh aku merasa tidak nyaman sekali dengan semua ini.


"Iya. Teman-temanku ada urusan ..." kataku ramah dan berusaha menurunkan tangannya dari bahuku. Tapi dia malah kembali merangkulku lagi.


"Ya udah. Kalau begitu aku temani saja sekarang ya? Aku juga sedang sendirian nih." katanya semakin mendekatkan wajahnya padaku.


"Maaf. Tapi aku harus segera pergi ..." aku menurunkan tangannya lalu meraih tasku. Tapi dia malah menarik tasku dan menahannya.


"Sombong banget sih kamu, Yuko. Padahal aku hanya ingin berteman denganmu. Tapi kau malah seperti ini ..." katanya lalu menarik tasku dan merebutnya.


Disaat aku mau mengambil tas itu darinya dia malah semakin menjauhkannya sambil tertawa.


"Kau imut sekali sih ..."


"Kembalikan tasku!" aku masih berusaha merebut tasku darinya dan dia semakin menjauhkannya lagi.

__ADS_1


Dan tiba-tiba saja seseorang memegang tangan mahasiswa itu.


"Berhenti bermain-main! Apa kau kau tidak lihat Yuko sangat merasa tidak nyaman?" kata pria yang baru saja datang dan ternyata dia adalah kak Zen. "Daritadi aku sudah memperhatikanmu. Dan kau sangat tidak sopan." kata kak Zen pelan tapi tajam.


"Maaf, Kak. Aku hanya bercanda." kata mahasiswa tadi lalu mengembalikan tasku. "Maaf, Yuko ..."


Aku hanya terdiam menatapnya. Setelah itu dia segera bergegas pergi meninggalkan kita.


"Terima kasih, Kak!" kataku sambil membungkukkan sedikit badanku.


"Apa kau sering diganggu sama mereka, Yuko?"


"Tidak kok. Aku bahkan tidak pernah berbicara dengannya sebelumnya."


"Lain kali kalau ada yang seperti ini lagi kau bisa katakan pada kakak." kata kak Zen yang menatapku lurus-lurus. Matanya yang biru memantulkan bayangan di belakangku dan sinar matahari dengan cerah. Mata birunya terlihat begitu indah seperti Okavango Blue Diamond.


Sangat indah sekali ... Kenapa aku baru menyadari bahwa kak Zen memiliki mata yang seindah ini?

__ADS_1


"Yuko ... Kau baik-baik saja?" tanya kak Zen membuyarkan lamunanku.


"Ah. Iya ... Aku baik-baik saja, Kak!" sahutku cepat-cepat dan tersenyum padanya.


__ADS_2