My Little Prince

My Little Prince
Beyond Imagination


__ADS_3

Aku mulai memasuki ruang ICU. Dan aku melihat kak Yuki yang sedang tertidur di sofa. Jadi aku membiarkannya saja. Mungkin dia terlalu lelah. Aku mulai mendekati ranjang kak Zen lalu duduk di sampingnya.


"Hallo, Kak Zen." sapaku pelan. "Kakak apa kabar?"


Tubuh itu masih terdiam tanpa bergerak sama sekali. Sudah 5 hari kak Zen terbaring dan tidak sadarkan diri. Dan sampai saat ini belum ada tanda-tanda keadaannya yang membaik.


Ya, Tuhan. Berilah kesembuhan untuk kak Zen. Jangan Engkau ambil nyawanya sekarang.


"Kak. Apa kakak sedang bermimpi sesuatu? Apa yang sedang kakak mimpikan saat ini? Beri tahu aku kak! Aku ingin sekali tau." ucapku pelan. "Oya, festival kembang api di musim panas hanya tinggal seminggu lebih lagi. Kakak harus segera bangun ya. Aku mau melihatnya bersama kakak. Kakak mau kan melihatnya bersamaku?" aku sedikit tersenyum memandang wajah pucat yang sedang memejamkan matanya itu. Masih terlihat begitu tenang dan seperti sedang tertidur dengan pulasnya


Walaupun aku tersenyum tapi sejujurnya hatiku masih terasa sakit sekali. Sangat sakit ketika mengingat semua yang telah terjadi pada kak Zen. Tak sengaja aku menatap gantungan kunci dolphin yang menggantung manis pada slingbagku. Dan aku tersenyum samar menatapnya.


"Gantungan kunci yang sangat lucu. Ngomong-ngomong ... Apa kakak juga suka dolphin? Atau kakak suka warna biru?"


Aku terus menatapi dan memilin gantungan kunci itu. Begitu lucu dan sangat menggemaskan.


"Itu adalah hadiah limited edition saat kita memecahkan sebuah puzzle di taman bermain." ucap seseorang tiba-tiba. Ternyata Kak Yuki sudah berdiri di sampingku.


"Saat itu kita bergi bertiga. Aku, Zen dan Ave. Dan kita bisa memecahkan teka-teki dan tantangan yang diberikan di Taman Bermain saat itu. Bahkan mereka juga mengukir nama kita." Kak Yuki merogoh sesuatu di dalam saku coatnya.


Dia mengeluarkan serangkaian kunci dan disitu ada sebuah gantungan dolphin biru sama persis dengan yang diberikan oleh kak Zen kepadaku. Kak Yuki juga memperlihatkan sisi belakang dolphin yang ada ukiran namanya.


"Wah ... Keren sekali, Kak." kataku takjub.


"Yeap. Ternyata Zen memberikannya padamu ya?" kata kak Yuki sedikit tertawa. "Ah, Dia tidak setia kawan deh ..." canda kak Yuki.


"Ah ... Maaf, Kak. Aku tidak bermaksud memintanya dari kak Zen." ucapku sedikit tak enak. Ternyata gantungan kunci itu memiliki sebuah cerita. Yeap, cerita mereka bertiga. Dan aku merasa tidak enak karena sekarang kak Zen telah memberikannya kepadaku.


"Tidak kok. Aku hanya bercanda, Yuko." kata kak Yuki lalu tertawa kecil. "Padahal saat itu Misha pernah memintanya lho. Dan Zen tidak memberikannya dengan alasan itu adalah lambang persahabatan kita. Dan ... Sekarang aku sudah tau alasannya sih. Mengapa dia bisa memberikannya padamu." kak Yuki tersenyum menatapku.


Aku hanya bisa tersenyum samar dan merasa sedikit tidak enak.


"Dunia sangat sempit ya. Dan sangat rumit. Bertahun-tahun Zen menununggu dan mencarimu. Tapi dia tak pernah menemukanmu sama sekali. Eh, tiba-tiba malah bertemu begitu saja di Tokyo. Aku tidak tau bagaimana kisah kalian nantinya. Tapi saat ini aku hanya ingin melihat Zen segera pulih kembali." kini kak Yuki menatap kak Zen yang sedang terbaring.


"Aku memang sahabatnya, dan tentunya aku sangat berharap dia bisa bisa menemukan kebahagiaanya." ucapnya lagi.

__ADS_1


Aku tidak bisa berkata-kata lagi. Aku hanya bisa diam saja. Bahkan aku juga tidak tau apa yang akan terjadi nantinya jika kak Zen sudah bangun kembali. Yang terpenting sekarang adalah Kak Zen harus bisa melewati masa ini!


...***...


Setelah dari rumah sakit aku langsung pulang ke kontrakanku. Dan aku masih belum mendapat kabar dari Haku. Dia tidak menghubungiku sama sekali. Bahkan ponselnya masih belum aktif. Dimana dia sekarang? Sedang apa dia sekarang? Kenapa dari kemarin dia menghilang? Sebenarnya apa yang sedang terjadi?


Aku merebahkan tubuhku di atas ranjangku. Pikiranku sedang melayang tak karuan. Atau aku hubungi Mirae lagi ya? Ah, sudahlah! Lebih baik aku tidur saja!


Belum lama aku mencoba untuk tidur, tiba-tiba ponselku berdering. Sontak aku langsung meraihnya dengan sangat bersemangat. Terlihat dengan jelas nama si pemanggil di layar ponselku.


Haku


Aku segera mengangkatnya dengan bersemangat.


"Hallo ..." sapaku pelan dan berusaha untuk tetap tenang.


"Hallo, Yuko. Maaf baru bisa menghubungimu." terdengar suara Haku dari seberang.


"Hhm. Tidak apa-apa kok. Tapi sebenarnya ada apa, Haku?" tanyaku hati-hati.


"Kenapa?" tanyaku sedikit curiga.


Saat itu bahkan Anzu yang mengangkat telponku. Apa mereka sedang bersama kemarin? Seharian bahkan sampai malam? Dan pergi kemana mereka berdua? Bahkan Haku tidak berusaha menghubungiku saat itu. Jujur saja, aku merasa sedikit kesal padanya. Tapi aku juga sangat khawatir padanya, apalagi saat itu dia sedikit tidak enak badan.


"Aku sedikit tidak enak badan. Makanya aku pulang." jawab Haku dari seberang.


"Lalu kenapa malah pergi bersama Anzu?" selidikku.


"Anzu? Aku tidak pernah pergi kemanapun bersamanya. Kemarin aku pulang dari kantor langsung pulang ke rumah kok."


"Tapi kenapa tidak menghubungiku sama sekali, Haku? Bahkan saat aku menelponmu malah Anzu yang mengangkatnya ..."


"Oh, Soal itu ya ... Kenapa? Apa kau mengira aku sedang pergi bersama Anzu saat itu, Yuko? Bahkan sampai tidak menghubungimu sama sekali?"


"Hhm ..."

__ADS_1


Bukannya menjawabnya Haku malah tertawa kecil beberapa saat. Aku sangat bingung dan sedikit kesal. Apa yang sedang dia tertawakan? Huft ...


"Yuko ... Jahat sekali kau berpikir seperti itu tentangku. Padahal kau tau sendiri pagi itu aku sedang demam."


Aku terdiam dan tidak menjawabnya. Memang benar saat itu Haku sedang sakit. Tapi dia menghilang begitu saja saat itu. Bahkan ponselnya bisa dipegang gadis itu.


"Sayang, kemarin ponselku tertinggal di kantor. Bahkan aku mengira kalau ponselku sudah hilang sih. Tapi ternyata Anzu yang menyimpannya. Dan saat aku sudah di rumah aku tidak sempat mengabarimu. Karena aku segera istirahat saat itu. Rasanya badanku sudah tidak bertenaga sekali saat itu. Dan kepalaku sangat pusing." jelas Haku pelan. "Maaf ya ..."


Oh, Jadi seperti itu ya. Aku sangat lega sekali mendengarnya. Syukurlah ...


"Ehm, Tidak apa-apa kok. Maaf kalau sudah berpikiran yang tidak-tidak. Aku sangat khawatir sekali saat itu." kataku pelan.


"Tidak apa-apa kok. Aku juga salah karena tidak mengabarimu sama sekali."


"Sekarang bagaimana? Apa masih pusing dan deman?"


"Tidak kok. Ini sudah agak mendingan."


"Syukurlah ..."


"Oh iya besok ibu memintaku untuk mengajakmu makan malam di rumah. Kau bisa kan, Yuko?"


"Besok?"


"Iya ..."


"Baiklah."


"Besok aku akan menjemputmu jam 6 pm. Aku akan langsung ke sana setelah dari kampus."


"Baiklah ..."


Obrolan kita terus berlanjut beberapa saat hingga akhirnya aku tertidur.


...***...

__ADS_1


__ADS_2