My Little Prince

My Little Prince
Qipao


__ADS_3

Setelah Festival kembang api berakhir aku dan kak Zen memutuskan untuk segera pulang. Kak Zen mengajakku naik taxi untuk menuju kontrakanku, karena motornya masih di parkir di kontrakanku.


"Terima kasih untuk hari ini, Yuko. Karenamu kakak bisa melihat hanabi yang indah." ucap kak Zen saat sudah sampai di kontrakanku.


"Tidak perlu berterima kasih, Kak." ucapku tulus, "Aku sudah berjanji kepada kakak saat itu. Jadi aku menepatinya dan harus melihatnya bersama kakak."


"Ini adalah pertama kali kakak melihat bersama seorang gadis ..." ucap kak sedikit termenung. "Uhm ... Maksud kakak, bersama seorang bocah!" tiba-tiba kak Zen tertawa kecil.


"Bocah?" kataku tak percaya. "Aku sudah hampir 19 tahun, Kak!" kataku sedikit kesal.


Kak Zen masih saja tertawa, sesekali dia menutup tawanya dengan punggung telapak tangannya. Matanya terlihat sangat sipit saat dia tertawa.


"Kak. Ini sudah tengah malam. Kakak bisa dikira hantu!" celutukku asal.


"Ahahaha ... Sory sory. Kau sih terlalu imut untuk usia 19 tahun." ucap kak Zen yang masih sedikit menahan tawa.


"Setelah sadar dari koma kakak kenapa jadi sedikit menyebalkan ya? Jangan-jangan ada roh jahat yang merasuki tubuh ini. Oh My!" aku menatap waspada pria di hadapanku ini. Sedangkan dia hanya tersenyum lebar menatapku.


"Roh jahat?" ucapnya dengan mengangkat salah satu alisnya.


Aku masih menatapnya waspada. Sedangkan dia masih menatapku dengan ekspresi yang sama.


"Cepat masuk dan istirahat sana sebelum roh jahat dalam tubuh ini keluar menerkammu!"


Aku membulatkan mataku setelah mendengar ucapan kak Zen barusan. Benarkah dia kak Zen? Kenapa sedikit berbeda dari biasanya? Oh My! Aku sedikit merinding. Bagaimana jika memang benar ada roh jahat yang sedang memasuki tubuhnya?


Bagaimana jika sebenarnya di dalam tubuh itu bukan jiwa kak Zen? Pantas saja dia tidak mengingat masa kecilnya. Bagaimana ini? Saat malam dia mulai menampakkan dirinya yang sebenarnya. Aku terus menatapnya waspada.


"Yuko. Kakak hanya bercanda! Ini kakak yang biasanya! Memang tidak boleh ya kakak sedikit bercanda?" ucapnya dengan tersenyum samar. Namun aku masih terus menatapnya waspada.


"Apa buktinya?"


Kak Zen terdiam beberapa saat lalu dia melihat slingbagku dan sedikit menariknya. Aku sedikit terkejut dengan sikapnya kali ini.


"Lihat ini!" kak Zen menunjukkan sebuah gantungan dolphin yang tergantung manis di slingbagku. "Kakak memberikan ini saat kita sedang di bus. Saat itu kita pulang bersama."


Oh benar. Berarti dia memang kak Zen. Aku sedikit lega mengetahuinya.


"Bagaimana? Kini kau percaya?"


"I-Iya ..." kataku sambil nyengir kecil.


"Nah. Sekarang pulang dan istirahatlah! Kakak juga harus segera pulang."


"Okay. Hati-hati ya, Kak!" ucapku tersenyum lebar.

__ADS_1


"Yeap." kak Zen mulai menaiki motornya. "Udah sana masuk duluan." katanya lagi pelan.


"Hhm ..." kataku lalu segera meninggalkan kak Zen dan segera ke kontrakanku. Aku mendengar suara deru motor yang perlahan meninggalkan kontrakan ini.


Ah, konyol sekali aku berpikiran kalau ada roh jahat di dalam tubuh kak Zen. Kebanyakan nonton horor dan fantasy nih.


Aku melempar tubuhku di atas ranjangku. Aku tidak mandi deh kali ini. Rasanya mengantuk sekali. Dan aku terlelap dengan cepat. Bahkan aku tidak sempat ganti baju.


...***...


Ddrrtt ... Ddrrtt ...


Ponselku bergetar dan aku mulai mengerjapkan mataku. Aduh rasanya masih mengantuk sekali.


"Hallo ..." kataku tanpa melihat nama si pemanggil.


"Jam segini kamu belum bangun, Yuko? Anak gadis tidak boleh malas seperti ini!" terdengar suara yang sangat familiar dari seberang. Ibuku kenapa telpon pagi-pagi ya?


"Maaf, Ibu. Yuko ngantuk sekali soalnya ..." ucapku memelas.


"Sekarang bergegaslah mandi dan segera ke rumah paman Ishida!" kata Ibu memerintahku.


"Bukannya makan malamnya masih nanti malam, Ibu? Ini kan masih pagi ..." kataku sedikit malas untuk segera meninggalkan kasurku.


"Iya nanti malam acaranya. Tapi kamu juga harus membantu mereka memasak donk, Sayang!"


"Nah gitu donk. Anak ibu memang cantik dan penurut." kata Ibu memujiku dengan riang.


"Kalau gitu Yuko mandi dulu ya, Bu. Bye ..."


"Okay, Sayang."


Setelah mematikan panggilan itu aku dengan malas segera bergegas untuk mandi. Sebenarnya masih mengantuk sekali. Tapi apa boleh buat deh.


Aku mulai membersihkan diriku di kamar mandi. Setelah itu aku segera menggenakan dress selutut lengan panjangku berwarna putih. Aku membiarkan rambut tergerai begitu saja karena masih sedikit basah karena keramas.


Aku segera memakai riasan tipis. Lalu aku mencari baju ganti untuk acara makan malam nanti. Ehm ... Pakai apa untuk nanti malam ya? Apa aku pakai Qipao modern saja ya? Kayaknya manis juga deh ... Hehehe ...


Qipao merupakan baju tradisional dari China. Qipao yang asli berbentuk longgar dan besar, juga menutup tubuh dengan rapat dari ujung leher sampai ujung kaki. Baju Qipao bentuknya menggantung lurus dan bentuk roknya kecil di ujung atas dan melebar di ujung bawah atau di kaki. Baju yang tertutup ini memiliki tujuan supaya orang-orang tidak tahu yang memakai berusia berapa. Tapi setelah berjalannya waktu Qipao menjadi lebih modern dan muncul pertama di Shanghai yaitu dengan potongan ramping dan berbeda dengan Qipao yang tradisional.


Mungkin saja setelah mengenakan Qipao modern aku akan terlihat sedikit dewasa deh. Hehe ...


Well. Sudah aku putuskan! Nanti malam aku akan mengenakan itu saja. Aku memasukkan baju itu ke dalam tasku.


Tiba-tiba ponselku bergetar kembali. Aku segera mengangkatnya tanpa melihat nama si pemanggil karena aku masih sibuk menyiapkan bajuku.

__ADS_1


"Iya, Ibu! Sebentar lagi Yuko akan berangkat kok ..." Ucapku yang masih sibuk merapikan baju itu.


"Ibu? Yuko, Ini aku ..." terdengar suara seorang pria yang sedikit berat namun jernih dari seberang.


"Ah, Maaf. Aku kira Ibuku, Haku." sahutku lalu tertawa kecil.


"Memang tante menyuruhmu kemana, Yuko?"


"Ibu menyuruhku untuk membantu memasak dulu di rumah paman Ishida. Nanti malam kan kita mau makan malam bersama." ucapku.


"Oh begitu. Jadi nanti aku datang kesana sendirian?"


"Iya. Nanti akan aku kirim alamatnya padamu."


"Okay deh. Maaf tadi malam tidak sempat menghubungimu. Sampai di rumah aku malah ketiduran. Maaf ya ..." kata Haku pelan.


"Tidak apa-apa kok. Aku juga ketiduran semalam." kataku dengan tawa kecil.


"Bagaimana Festival kembang apinya semalam?"


"Sangat cantik. Sayang aku tidak melihatnya bersamamu deh ..."


"Lain kali kita akan melihatnya bersama deh."


"Janji ya!"


"Janji!"


Kita berdua tertawa kecil bersama.


"Bagaimana makan malam dan pesta karaoke semalam?" tanyaku sedikit antusias.


"Hhm. Biasa saja."


"Apa Pak Direktur Muda juga menyanyikan sebuah lagu semalam?" godaku.


"Tidak ... Aku hanya menjadi penonton saja kok." kata Haku dengan tawa kecilnya.


"Sungguh?" tanyaku menggodanya.


"Iya, Sayang ..." sahut Haku meyakinkanku.


"Iya deh. Percaya kok ..." sahutku dengan tawa kecil.


...***...

__ADS_1



__ADS_2