
Apa Haku baik-baik saja? Kenapa dia tidak bisa dihubungi?
Ketika aku sedang memikirkan jawaban dari pertanyaan-pertanyaanku tersebut, tiba-tiba ada suara bell yang familiar dari pintu. Menandakan sedang ada tamu.
Aku tersenyum lebar dan segera bergegas membuka pintu. Dan aku melihat sosok Haku dengan balutan setelan jaz abu-abu. Dia terlihat begitu rapi dan dewasa. Dia berdiri tegak di pintu dengan membawa beberapa bingkisan di tangannya.
"Uhm ... Selamat malam. Maaf aku sedikit terlambat." ucapnya dengan ekspresi meminta maaf.
Kini semua mata memandang ke arah Haku. Suasana menjadi sunyi beberapa saat setelah kedatangan Haku.
Haku terlihat sedikit bingung lalu dia menatapku. Aku berusaha untuk mencairkan suasana dan menghangatnyanya.
Aku segera menarik tangannya untuk masuk dan bergabung bersama yang lainnya.
Aku mulai memperkenalkan Haku kepada keluargaku.
Disaat aku memperkenalkan keluargaku kepada Haku. Aku menyadari jika Haku merasa sedikit gugup, walaupun senyumnya terlihat sangat jelas di wajah tampannya.
"Uhm ... Maaf aku tidak tau harus membawa apa. Jadi ..." Haku mengulurkan kotak-kotak itu kepada Bibiku.
"Oh. Ini hanya sebuah daging . Kamu sangat manis!" kata Bibiku sumringah. Bibi mengambil pemberian itu lalu menaruhnya di meja.
Ayana mulai membuka salah satu bingkisan itu.
"Suplement makanan dari Austalia? Wow! Ini sangat mahal! Aku melihat iklannya di TV setiap hari. It's nice ..." celutuk Ayana bersemangat.
"Tante sama Om kenapa tidak bilang saat datang ke Tokyo?" tanya Haku kepada orang tuaku.
"Ini juga mendadak kok." sahut Ayahku dengan senyuman ramah.
"Hei, Matsuo. Kalian kemarilah! Haku juga membawakan ini untuk kalian!" ucap Bibiku ceplas-ceplos.
Ayah dan Ibuku segera pindah tempat duduk di dekat tante.
Saat mereka semua sibuk membicarakan pemberian dari Haku. Aku berjalan ke arah Haku dan duduk di dekatnya.
"Terima kasih, Haku ..." ucapku pelan dan lembut.
"Terima kasih Tuhan mereka menyukainya. Aku berharap ini adalah awal yang bagus." ucap Haku sedikit merasa lega. Aku melihat dia tersenyum hangat menatapku lalu menatap keluargaku.
Saat dia menatapku, aku bisa melihat bayangan diriku di dalam matanya yang begitu jernih dan indah. Aku menatapnya wajahnya yang begitu serius namun juga hangat. Membuatku seperti kehilangan pikiranku untuk sesaat.
"Haku! Kemarilah!" Pamanku mulai memanggil Haku. Dia menepuk-nepuk sofa kosong di sebelahnya. Haku segera bangkit dan duduk di sebelah Paman. Sekarang mereka semua mengelilingi Haku.
__ADS_1
Apakah saat ini mereka sedang berusaha untuk mengintrogasi Haku? Haku duduk di antara mereka lalu dia sedikit berdehem dan menggosok leher belakangnya.
Tidak peduli bahaya apa saja yang pernah dia hadapi sebelumnya. Namun saat ini aku bisa merasakan dia sedikit tertekan. Dan aku mulai sedikit mengkhawatirkannya.
"Jadi. Berapa umurmu, Haku?" tanya Pamanku.
"Apa pekerjaanmu? Dan berapa gajimu, Haku?" tanya Bibiku.
"Apa kamu punya rumah? Mobil?" tanya Pamanku lagi.
"Oh ayolah Paman, Bibi! Bisakah kalian memberinya pertanyaan satu persatu?" ucapku menyela mereka.
Aku memandang ke arah Haku dan aku menunjukkan mataku dengan ekspresi meminta maaf padanya. Dia menatapku lalu tersenyum hangat padaku.
Paman, Bibi, dan Ayana saling berbisik lalu mereka tertawa untuk beberapa saat.
"Uhm. Tidak apa-apa, Yuko." Haku mengedipkan matanya dan tersenyum padaku. Membuatku merasa sedikit canggung.
"Umurku 19 tahun. Dan sebentar lagi akan 20 tahun. Aku sedang magang menjadi Direktur di Mizaki Corporation." ucap Haku pelan.
"Dan untuk gajiku ... Aku tidak tau pastinya. Tapi semua itu tercetak dalam bill dan untuk membayar tagihanku."
"Tagihan apa, Haku?" tanya Ayahku ikut-ikutan.
"Aku mengambil sebuah appartement, Om." sahut Haku ramah.
"Untuk kita tinggal saat sudah menikah nanti, Om..." lanjut Haku yang membuat wajahku memerah seketika. Sehingga aku lebih memilih menunduk untuk sedikit menutupi rasa maluku.
"Whoa ... Keren sekali! Kau terlihat bisa diandalkan. Tidak buruk! " sahut Ayana bersemangat.
"Bagus. Direktur di Mizaki Corporation ya? Perusahaan itu cukup berkembang dan maju." ucap Pamanku.
"Sudah ku bilang kan dia tampan dan sering berolah raga juga. Lihat dia sangat atl ... Oh lupakan! Itu tidak penting! Ahahaha ..." celutuk Ayana lalu tertawa terbahak-bahak.
"Jadi apa kamu punya mobil, jeeps besar atau motor, Haku?" tanya Bibiku sambil memandangi Haku.
"Yeap. Aku punya mobil. Tapi aku jarang memakainya." sahut Haku.
"Jadi kau jalan kaki saat pergi bekerja?" tanya Bibiku lagi.
"Aku pikir anak muda memang harus lebih sering berjalan kaki. Latihan ramah lingkungan. Bukankah begitu?" kata Ibuku ramah. Dia juga tersenyum hangat memandang Haku.
Aku melihat Haku sedikit menundukkan kepalanya dan tersenyum.
__ADS_1
"Uhm. Aku pikir makan malam sudah siap. Mari ke ruang makan!" ucapku untuk sedikit mencairkan suasana. Namun tiba-tiba Ayana menarikku untuk duduk di sofa kembali.
"Ronde baru dari introgasi akan segera dimulai!" ucap Ayana bersemangat.
"Kapan kalian mulai pacaran?" tanya Ayana antusias.
"Dari kecil kita sudah selalu bersama." sahut Haku.
"Dari kecil kalian sudah pacaran?" tanya bibiku tak percaya.
"Tidak, Bibi! Bukan seperti itu!" kataku cepat-cepat. Dan wajahku mungkin kini sedikit memerah.
"Kita sudah saling mengenal sejak kecil. Namun terpisah lama. Dan bertemu lagi setelah 12 tahun." ucap Haku."
"Oh begitu ya ... Paman kirain kalian sudah lama pacaran." sahut Pamanku.
"Mereka memang sudah dekat dari kecil. Bahkan Yuko hanya mau bermain bersama Haku saat itu. Saat menangis pun dia hanya mau diam saat Haku datang dengan membawakannya permen dan coklat." sahut Ibuku lalu tertawa kecil.
"Ah, Manisnya ..." celutuk Ayana.
"Tidak kusangka mereka akan bertemu kembali. Padahal Haku dan keluarganya sudah pindah ke Tokyo. Dan 12 tahun mereka tidak bertemu bahkan tidak saling berkomunikasi. Bukan begitu, Sayang?" ujar Ibuku tersenyum menggodaku.
Aku hanya tersenyum malu dan sedikit menunduk.
"Itulah jodoh. Walaupun saling berjauhan jika berjodoh makan akan dipertemukan kembali." sahut Pamanku.
"Jadi kapan rencana kalian untuk menikah?" tanya bibiku tiba-tiba. Membuatku yang sedang minum seketika tersedak.
"Pelan-pelan, Yuko ..." sahut Ayana yang duduk di dekatku.
Haku melirikku dan merasa sedikit kikuk. Tapi dia segera tersenyum kembali.
"Sebenarnya aku sudah sering mengajak Yuko untuk menikah ..." sahut Haku pelan dan dia sedikit melirikku.
"Wah, Benarkah itu?" tanya Ayana membulatkan matanya menatapku dan Haku secara bergantian.
"Tapi Yuko sering menolakku ..." Lanjut Haku dengan wajah sedikit cemberut.
"Apa itu benar, Yuko? Bukannya Ibu sudah sering meminta kalian untuk segera menikah? Tapi saat Haku mengajakmu kau malah menolaknya terus?" kini Ibuku seperti sedang memarahiku saja.
Haduh, Haku ... Aku kan bukannya bilang tidak mau. Dan aku juga tidak menolakmu ... Aku menatapnya dengan cemberut, sementara dia terlihat seperti sedang menahan tawa.
"Bukan seperti itu, Ibu ..." rengekku kepada Ibu
__ADS_1
"Lalu?"
Aku melirik Haku kembali dan dia masih dengan ekspresi yang sama. Dasar, Haku ... Aku harus bilang apa saat ini?