My Little Prince

My Little Prince
Returning From Coma


__ADS_3

Setelah melihat air terjun Niagara kita memutuskan untuk ke Rumah Sakit bersama. Ya, Haku mengajakku untuk mengunjungi kak Zen bersama. Kita berdua menaiki taxi untuk menuju ke rumah sakit. Tiba-tiba ponselku berdering, ternyata Ibuku yang menelpon.


"Siapa?" tanya Haku melirik layar ponselku.


"Ibu. Aku angkat sebentar ya." ucapku sedikit sumringah. Karena aku juga kangen sekali dengan Ibu dan Ayah.


"Hhm ..." sahut Haku dengan senyum tipis.


Dengan bersemangat aku mengangkat panggilan itu.


"Hallo, Okaa-san." sapaku bersemangat.


"Hallo anak Ibu yang cantik. Apa kabar?" sahut Ibu dari seberang. Aku sedikit terkekeh mendengar Ibu.


"Aku baik-baik saja, Bu. Bagaimana kabar Ibu dan Ayah?"


"Baik, Sayang. Oya kau sedang apa?"


"Aku mau ke rumah sakit, Bu."


"Siapa yang sakit? Apa kau sedang sakit, Yuko? tanya Ibu yang terdengar sangat khawatir.


"Bukan, Bu. Temanku yang sakit, Bu. Dia sedang koma saat ini."


"Wah. Kalau begitu kau harus selalu memberinya semangat ya, Sayang! Karena itu bisa meraangsangnya untuk berjuang dan berusaha untuk kembali lagi!"


"Hai, Wakarimashita!"


"Sayang, Kau ingat dengan paman dan bibimu yang dulu tinggal di Hokkaido? Paman Ishida dan keluarganya sekarang pindah ke Shinjuku lho."


"Benarkah itu? Wah sangat dekat dong dari sini berarti!" kataku antusias.


"Iya. Pekan depan mereka mengundangmu untuk makan malam bersama. Nanti Ibu akan kirim alamatnya."


"Hhm. Baik, Ibu!" sahutku bersemangat.


"Oh iya. Mereka juga ingin mengenal pacarmu katanya. Jadi undang Haku ya!"


"Oh ... Baik, Bu."


"Ya sudah. Hati-hati ya pergi ke rumah sakitnya. Ibu akan memasak lagi."


"Hai ..."


Setelah itu aku mematikan panggilan itu. Wah, sudah lama sekali aku tidak bertemu dengan Paman Ishida dan keluarganya. Anaknya juga seumuran denganku. Dia cantik tetapi sedikit tomboy. Namanya adalah Ayana. Saat keluargaku mengunjunginya di Hokkaido, Ayana selalu mengajakku untuk bermain bola dan juga game. Aku sama sekali tidak bisa memainkannya saat itu. Ahahaha ... Lucu juga.


"Ada apa, Yuko?" tanya Haku membuyarkan lamunanku tentang Ayana.

__ADS_1


"Pamanku baru saja pindah ke Shinjuku. Dan dia mengundang kita untuk makan malam di rumahnya pekan depan." jawabku berbinar.


"Aku juga diundang?" tanya Haku sedikit kebingungan.


"Hhm. Mereka bilang ingin mengenal kekasihku." aku menatap Haku dan tersenyum lebar menatap Haku.


"Baiklah. Aku akan datang ..." sahutnya dengan senyum lebar.


"Oh, Sudah sampai. Ayo turun!" ucapku saat menyadari Taxi yang sedang kita naiki sudah berhenti di depan sebuah rumah sakit.


Aku dan Haku segera memasuki Rumah Sakit itu. Di sepanjang jalan Haku selalu menggandeng tanganku. Kita segera menuju ke ruang ICU dimana kak Zen dirawat.


Kita melihat kak Sena, Kak Sano dan Kak Keisuke di luar ruang ICU. Mereka sedang mengobrol dan sesekali aku melihat mereka tertawa bersama.


" Sore, Kak." sapa Haku kepada mereka bertiga.


"Oh, Hai ..." sahut kak Sena tersenyum menatap kita.


"Kebetulan sekali kalian datang!" ucap kak Sano bersemangat.


"Memang ada apa ya, Kak?" tanya Haku mengernyitkan keningnya.


Mereka bertiga terlihat sangat bahagia sore ini. Ada apa ya?


"Zen sudah sadar! Tadi siang dia sudah kembali membuka matanya!" kata kak Keisuke bersemangat.


Rasanya lega dan bahagia sekali. Dan senyumku kini mulai mengembang. Aku menatap Haku dan dia juga tersenyum padaku.


"Syukurlah ..." ucapku sangat lega. Rasanya beban hidupku sudah sedikit berkurang.


"Kalian masuklah. Ada yang lain juga kok di dalam." ucap Kak Sano.


"Ayo kita masuk, Haku!" ajakku menarik Haku untuk masuk ke dalam ruangan ICU.


"Tidak, Yuko! Aku akan menunggu disini saja." ucap Haku dengan senyum manisnya. Aku sedikit terkejut mendengar ucapan Haku barusan. Kenapa dia tidak mau masuk?


"Tapi, Haku ..." sergahku sedikit keberatan.


"Kau masukklah dulu! Aku akan menunggumu disini. Aku mau menghubungi seseorang dulu." katanya dengan senyum manisnya.


"Baiklah ..." kataku dengan berat dan sedikit cemberut.


"Jangan seperti itu wajahnya ... Tersenyumlah!" katanya sedikit menunduk dan tersenyum padaku.


"Hhm ... Kalau begitu aku masuk dulu ya."


Haku mengangguk dan tersenyum padaku. Aku mulai berjalan menuju ruang ICU. Dan perlahan aku mulai membuka pintu kamar itu. Mengapa rasanya sedikit berdebar?

__ADS_1


Perlahan aku mulai memasuki ruangan itu. Di dalam ada kak Misha, Kak Ave, Kak Yuki, juga orang tua kak Zen. Mereka mengelilingi ranjang kak Zen. Sehingga aku tidak bisa melihat kak Zen.


Sesekali mereka sedang tertawa dengan candaan-candaannya bahkan mereka tidak menyadari kedatanganku.


"Sayang. Mama sama Papa akan mengurus administrasi sekalian mengambil beberapa barang di rumah dulu ya. Nanti malam kita akan datang lagi." ucap Mama kak Zen dengan senyuman merekah dan memandangi ke arah kak Zen.


"Kalian tolong jaga Li dulu ya! Tante sama Om akan kembali lagi nanti malam." ucap Mama kak Zen sambil menatap ke arah para seniorku itu.


"Baik, Tante. Kita akan menjaga Zen dengan baik!" sahut kak Ave yang terlihat sangat bahagia.


"Baik, Kalau begitu kita pergi dulu ya ..." ucap Mama kak Zen ramah lalu dia meraih tasnya dan segera berjalan ke arahku yang masih di dekat pintu.


"Yuko ..." ucapnya dengan senyumannya yang hangat. "Kenapa berdiri disini saja? Masuklah bersama yang lain ..." katanya lembut.


Para seniorku itu langsung melihat ke arahku. Dan sebenarnya aku sedikit merasa canggung. Apakah ini benar? Apakah kehadiranku disini ini benar? Kenapa rasanya sedikit aneh?


"I-Iya, Tante ..."


"Tante dan Om akan pergi sebentar dulu." kata Mama kak Zen ramah.


"Siapa, Ma? Teman Li juga?" tanya Papa kak Zen menatapku penasaran.


"Iya, Dia adalah juniornya." jawab Mama Kak Zen dengan seulas senyuman.


Papa kak Zen mengangguk-angguk menandakan dia paham. "Masuklah, Nak!"


"Iya, Om." kataku pelan dan berusaha untuk tersenyum.


Setelah itu mereka bergegas meninggalkan ruangan ini. Dan kak Yuki dengan heboh menyambutku.


"Hai, Yuko!" sapa kak Yuki dengan senyum lebar. Dia masih di dekat ranjang. Sementara aku masih di dekat pintu.


Aku hanya tersenyum dan sedikit mengangguk. Dan aku maju beberapa langkah.


"Oh astaga!" ucap kak Yuki tiba-tiba dan aku menghentikkan langkahku kembali.


"Ada apa, Yuki?" tanya Kak Misha penasaran.


"Aku lupa untuk mengambil sesuatu! Ave, Misha kalian harus membantuku sekarang! Karena aku tidak bisa mengurusnya sendiri sekarang!" ucap kak Yuki sedikit khawatir.


"Lalu Zen?" tanya kak Ave.


"Di luar masih ada Sano, Sena, dan Keisuke. Lagian disini juga ada Yuko." kak Yuki mulai melirikku. "Yuko! Aku nitip Zen dulu ya! Ada sesuatu yang harus kita kerjakan dulu."


"Uhm. I-Iya, Kak ..." sahutku sedikit canggung.


Setelah mengiyakan kak Yuki, mereka bertiga segera meninggalkan ruangan ini. Kini hanya ada aku dan Kak Zen di ruangan ini. Rasanya sedikit canggung. Dan aku tidak tau harus berkata apa pada kak Zen. Padahal aku sangat mengharapkan dia sadar kembali.

__ADS_1


__ADS_2