
Suara rintik hujan kali ini terdengar sangat memilukan menurutku. Setiap tetesan airnya seperti sebuah lara yang tak berujung. Aku kembali menumpahkan air mataku tanpa sadar. Dan aku mulai berjalan menuju halte dan sedikit kehujanan.
Namun tiba-tiba ada seorang pria yang datang dan mengkerudungiku dengan sebuat coat. Gelap dan sedikit kabur oleh rintikan hujan. Dan aku tak bisa melihatnya dengan jelas. Hingga tiba-tiba ada seberkas cahaya dari sebuah mobil yang sedang lewat dan menyinari wajahnya.
Pada saat itulah aku tau bahwa dia adalah Haku.
Terlihat wajah Haku yang terlihat sedikit cemas. Dalam hujan yang deras pemandangan wajahnya seperti mimpi yang menjadi kenyataan saja.
Mataku langsung menjadi basah. Aku tidak tau apakah ini adalah karena tetesan air hujan atau air mataku. Dengan hati-hati dia kembali merangkulku dan mengajakku berteduh menuju halte.
"Aku berusaha untuk tiba disini secepat mungkin. Apa kau baik-baik saja? Bukankan aku memintamu untuk pulang lebih awal karena akan turun hujan?" ucapnya saat kita sudah berteduh di halte.
"Maaf ..." ucapku pelan.
"Aku benar-benar sudah basah kuyup ..." katanya sambil melihat dirinya sendiri.
Aku menatapnya sejenak dan dia memang basah kuyup. Rambutnya juga basah dengan manik-manik kecil menetes dari ujung poninya ke bawah wajahnya sebelum melekat kuat pada lehernya.
"Daijoubu ..." ucapku sedikit menghiburnya.
"Kau bisa kedinginan jika seperti ini dan ..."
Sebelum dia menyelesaikan ucapannya aku segera melempar diriku dan memeluknya erat-erat. Haku terlihat sedikit terkejut saat ini.
"Dengan cara ini kita akan basah kuyup bersama." ucapku sedikit menghiburnya.
Tiba-tiba saja Haku tertawa kecil. Untuk sesaat kecemasan dan bebanku seperti meleleh saja. Mereka lenyap untuk beberapa saat.
Meskipun malam ini terasa dingin sedingin es. Tetapi pelukannya terasa begitu hangat. Pelukan yang terpancar dari pakaian tipis kita yang sudah basah.
"Ini tidak adil. Bagaimana kalau besok kau sakit, Yuko?" ucapnya pelan. "Aku sudah bersusah payah untuk melindungimu agar kau tidak basah. Tapi kau malah memelukku yang sedang basah kuyup seperti ini ..." katanya sedikit menggerutu.
"Dan aku akan merasa sangat tidak adil jika kau basah kuyup sendirian. Aku juga harus merasakan apa yang kau rasakan ..." ucapku menghiburnya.
"Dan kau juga akan berbagi denganku tentang semuanya kan? Kau akan membiarkanku merasakan juga apa yang sedang kau rasakan kan?" ucapnya yang membuatku sedikit terdiam.
Benar. Aku juga harus memberitahu Haku tentang masalah ini. Aku tidak akan menutupinya sedikitpun darinya. Aku harus menceritakan semuanya kepada Haku. Aku tidak mau dia salah paham lagi padaku. Aku harus mencari jalan keluar bersamanya.
Beberapa saat bus sudah datang. Dan kita segera menaikinya.
"Kau menginap lagi malam ini?" tanyaku saat di dalam bus.
__ADS_1
"Tidak. Setelah mengantarmu, aku akan segera pulang." sahutnya yang terlihat sudah sedikit kedinginan. Aku melihat hembusan nafasnya yang berwarna sedikit putih seperti embun.
"Tapi pakaianmu basah kuyup semua, Haku. Bergantilah pakaian dulu nanti di kontrakanku." ujarku sedikit memaksanya. Kalau tidak, dia bisa sakit nanti karena terlalu kedinginan.
"Baiklah ..." ucapnya lembut dan tersenyum manis.
...***...
Setelah sampai di kontrakanku aku memberikan baju ganti untuk Haku dan aku juga membantunya mengeringkan rambutnya.
"Bagaimana ini? Hujan masih belum reda. Malah bertambah deras saja." gumamku sambil melihat ke arah jendela.
"Bolehkah aku bermalam disini lagi malam ini, Yuko?" ucap Haku pelan.
Aku berbalik dan menatapnya lalu aku tersenyum padanya.
"Tentu saja boleh, Haku." ucapku pelan.
Tiba-tiba ponsel Haku berdering, menandakan ada yang sedang menelponnya. Dan dia segera mengangkatnya.
"Ya, Mirae. Ada apa?" ucap Haku yang masih berusaha mengeringkan rambutnya dengan salah satu tangannya. Aku mendatanginya lalu membantunya lagi mengeringkan rambutnya dengan handuk itu.
"Kakak tidak pulang lagi malam ini?" terdengar suara Mirae dari ponsel Haku karena dia menghidupkan loudspeaker.
"Kakak menginap dimana kali ini?" tanya Mirae lagi.
"Kakak ditempat Yuko. Tadi kita baru saja pulang dari Rumah Sakit." sahut Haku.
"Oh, tadi ayah bilang katanya kakak diminta berangkat pagi-pagi besok. Karena akan ada pertemuan dengan beberapa kolega."
"Baiklah. Kakak akan usahakan besok." ucap Haku sambil tersenyum melirikku.
"Oya. Salam buat kak Yuko ya. Aku kangen sekali padanya ..." rengek Mirae seperti anak kecil. Aku tertawa kecil mendengarnya. Aku juga sangat merindukan Mirae. Sudah agak lama aku tidak bertemu denggannya lagi.
"Hhm, Nanti akan aku sampaikan padanya."
"Oya, ibu juga meminta kakak untuk mengajak kak Yuko makan malam di rumah akhir pekan."
"Iya. Akan kakak usahakan nanti akhir pekan. Kakak akan ajak dia nanti. Udah dulu ya. Kakak capek, mau istirahat dulu."
"Ah, Okay."
__ADS_1
Setelah itu Haku mengakhiri panggilan itu. Dia meletakkan ponselnya di atas meja.
"Kau sudah makan sesuatu, Yuko?"
Aku menggeleng pelan. Setelah pulang dari kampus aku langsung pergi ke rumah sakit. Dan aku belum makan sama sekali. Bahkan aku lupa untuk makan.
"Kau ada sesuatu di dalam kulkas?" tanya Haku kembali.
"Ada. Tapi makanan instant. Kau mau? Aku akan menyeduhnya sebentar."
"Boleh ..." sahutnya sambil tersenyum padaku.
"Baik. Kau mau teh hangat juga?"
"Boleh ..."
"Baiklah. Tunggu sebentar ..." ucapku lalu bergegas untuk pergi ke dapur.
Aku menyeduh ramen instant dan membuat teh. Sangat cocok sekali menikmati mereka di saat hujan begini. Dan bukankah Haku juga pernah mengatakan jika dia suka memakan ramen dan meminum teh ocha saat hujan turun? Aku sedikit tersenyum membayangkannya.
Tapi aku kembali murung dan teringat dengan Kak Zen.
Aku harus menceritakan semua ini kepada Haku. Aku tidak boleh mengambil langkah sembarangan. Aku tidak mau menyakiti Haku. Tapi bagaimana dengan kak Zen? Apa yang harus aku lakukan?
Aku terus melamun hingga tak sadar teh ocha itu tersenggol olehku dan tumbah mengenai kakiku.
"Ahhh, Panas sekali ..." rintihku pelan.
"Ada apa, Yuko?" tiba-tiba saja Haku sudah ada di dapur.
"Kakiku tersiram teh ocha ..." kataku pelan.
Haku segera jongkok dan melihat kakiku yang tersiram teh panas tadi.
Haku segera menggendongku dan membawaku di sofa. Lalu dia mengambil sesuatu di dalam kotak P3K.
Aku duduk di atas sofa, sementara dia jongkok di hadapanku lalu mengoleskan sebuah salep pada kakiku. Dia terlihat sangat fokus untuk segera mengobati luka bakar di kakiku. Dan aku hanya terdiam menatapnya terus.
"Sudah. Apa masih terasa perih?" tanya Haku sambil mendongak menatapku.
Aku mengangguk pelan karena memang masih sedikit terasa panas dan perih. Haku sedikit mengangkat kakiku dan menahannya dengan tangannya. Lalu dia meniupinya. Dan terasa sedikit dingin saat dia meniupnya.
__ADS_1
Aku terus menatapnya. Pandanganku tak sedikitpun berpaling darinya. Dia sangat baik dan sering mengkhawatirkanku. Haku, aku tak pernah membayangkan sedikitpun untuk berpisah darimu. Aku takut sekali kali ini, Haku ... Sangat takut.